Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 113. Pelatihan Sean dan Vian [Season 3]



Beberapa kali Leo menghela nafas. Pria gagah yang menjadi dosen disalah satu kampus negeri yang terkenal di Tokyo itu terlihat begitu lelah. Membuat anak lelaki yang berada di sampingnya mengerutkan dahinya.


"Apa apa denganmu Paman?" tegur Sean dengan wajah yang mencoba serius.


Leo menoleh ke arah anak setan satu ini. Bukannya menjawab, Leo malah kembali menghela nafas kasar.


"Paman Leo mungkin sedang putus cinta," seru si burung beo.


Sontak saja Leo dan Sean membawa atensi mereka masing-masing ke arah Cleo. Putri cantik dari pasangan Yeko dan Clara itu terlihat mengembang senyum lebar.


"Apa ada yang salah dengan perkataan, Cleo?" tanya Cleo dengan wajah polos.


Cleo menarik bangku. Duduk di meja bundar itu dengan wajah cerah.


"Kenapa Cleo ada di sini?" tanya Leo balik bertanya pada Cleo.


Cleo mendengus sebal. Sebelum melipat kedua tangannya di atas meja. Kedua pipinya mengembung. Membuat Leo gemas saja.


"Biasa beban hidup," jawab Cleo dengan memainkan nada.


BHAHAHA!


Sean dan Leo sontak tertawa keras setelah mendengar jawaban Cleo. Membuat beberapa anggota Yakuza langsung menoleh ke arah kedunya. Cleo semakin menggembungkan kedua pipinya. Karena malah mendapat tawa dari kedua keturunan Yamato beda usia itu.


"Apa ada yang salah dari perkataanku?" dumel Cleo dengan nada kecil.


"Owh! Astaga! Perutku keram. Tadi dia bilang apa? Beban hidup?" seru Sean.


Anak kedua dari Hiro dan Dera ini menekan perutnya. Kata-kata dengan nada serius dari Cleo membuat ia tidak mampu untuk tidak tertawa. Sedangkan Leo. Pria itu menghentikan tawanya perlahan-lahan. Kedua sudut matanya berair.


"Cih! Abang Sean mana tahu. Rasanya jadi anak pertama. Diabaikan karena Adik!" keluh Cleo dengan ekspresi dibuat merana.


Leo menghela nafas lagi. Entah sudah berapa puluhan kali ia menghela nafas hari ini.


"Cherry merebut perhatian Bundamu lagi?" tebak Leo.


Kepala Cleo mengangguk cepat. Cuma Leo Yamato saja yang paham dengan dan mengerti perasaan Cleo. Setidaknya itulah yang melintas di otak Cleo.


"Tidakkah Cleo melihat dua buntalan yang kini menguasai Mamaku?" tukas Sean.


Mereka serentak menoleh ke arah rumah. Yang tak jauh dari posisi ketiganya duduk. Terlihat Dera sedang dikuasi oleh si kembar. Apa lagi Laura. Balita satu itu terlibat begitu antusias bermain dengan Dera. Sedangkan si Launa cenderung kalem. Hanya diam saja. Sesekali menyesap ibu jarinya.


"Ah, iya juga ya. Launa dan Laura lebih menyita perhatian Mama Dera," ujar Cleo mengakui. Kepalanya terlihat menganguk-angguk kecil.


"Nah, belum lagi big baby yang kini mendekati Kakak Ipar cantikku," seru Leo ikut menimpali.


Kini terlihat bos besar Yakuza itu mendekati Ibu dan kedua balita kembar itu. Kini giliran Sean Yamato menghela nafas karena Hiro. Hiro adalah ayah sekaligus musuh terbesar Sean Yamato. Karena paling dominan menguasai perhatian sang ibu.


"Itu adalah musuh paling kuat sebelum si kembar!" Sean menunjuk sang ayah.


"Kita senasib, Bang!" ucap Cleo mulai mengklaim ia dan Sean senasib.


"Eh! Tidak. Enak saja. Aku dan kamu tentu saja berbeda. Aku punya banyak yang menghalangi dari Mama. Sedangkan kamu cuma ada Cherry saja," tolak Sean.


Anak lelaki satu ini ingin bilang ia adalah yang paling berat beban hidupnya. Leo yang menjadi pendengar terkekeh kecil. Bayangan berada diantara dua bocah kecil yang memiliki beban hidup yang berat.


Itu kata keduanya. Padahal yang paling berat adalah beban hidup dari dirinya. Vera sangat sulit untuk ditaklukkan.


"Hah!


"Hah!"


"Hah!"


Suara helaan nafas serentak dari ketiganya terdengar. Serentak saja mereka saling adu tatap sebelum tertawa keras setelahnya.


...***...


******* nada rendah terdengar. Gerakan gesit dari pemilik tubuh melayangkan pedang dan menebas terdengar keras di malam yang sunyi. Hembusan nafas memburu.


"Lebih kuat lagi. Jangan pikirkan saat ini di depan kalian adalah saudara. Tapi pikiran masing-masing dari kalian adalah lawan!" instruksi Hiro terdengar nyaring.


HYAT!


Suara pedang kembali beradu. Hiro menatap dengan manik coklat kelam itu. Memperhatikan setiap gerakan tubuh kedua putranya. Puluh sudah bercucuran membasahi pakaian keduanya.


Baik Sean maupun Vian seperti orang yang habis kehujanan. Kedua pergelangan tangan Vian sudah tidak mampu lagi menahan serangan yang dilayangkan oleh Sean.


HYAT!


BRAK!


Pedang Sean membentur pedang Vian tanpa ampun. Gerakan tubuh memutar. Hingga tebasan yang di arahkan pada Vian. Membuat sang kakak sudah benar-benar kehilangan kekuatan sendi kedua tangannya. Katana di tangan langsung melayang dan tergolek dilantai.


Ujung panjang katana langsung diarahkan ke arah leher Vian. Vian mengangkat sebelah tangannya. Hiro mengulas senyum miringnya.


PROK!


PROK!


Tepukan tangan yang didapatkan dari Hiro membuat Sean mengembangkan senyum miringnya. Terlihat begitu pongah pada sang ayah. Nafasnya tersengal-sengal. Sean melepaskan pedang. Mengeluarkan sebelah tangannya yang memerah ke arah Vian.


HAP!


"Ha! Terima kasih, Sean!" ucap Vian dengan nafas tersengal-sengal.


Sean tersenyum dan mengangguk. Hiro melangkah lebar mendekati anak-anaknya. Ia tersenyum bangga pada keduanya. Setiap anak memiliki bakat masing-masing. Sean dengan jiwa pertarungnya. Sedangkan Vian tidak begitu. Anak ini lebih menyukai zat-zat beracun. Mengembangkan racun mematikan dan penawarnya.


"Kau harus banyak berlatih lagi, Vian!" ujar Hiro.


Ayah satu ini mengulurkan tangannya yang diselipkan handuk leher. Dengan telaten Hiro mengusap peluh dari leher sang putra sulung. Sean melangkah mendekati Yeko yang duduk sedari tadi menyaksikan pertunjukan menarik itu.


"Mau kemana kau?" teriak Hiro melihat Sean melangkah keluar.


"Mau mandi. Beberapa jam lagi akan terbit matahari. Bisa gawat jika Mama tahu aku tidak tidur karena Papa!" Sean menjawab tanpa menghentikan pergerakan kakinya.


Sebenarnya anak ini mau mandi dan menyelinap ke kamar sang ibu. Mau tidur bersama Dera dan adik-adiknya. Senyum miring itu terbit di bibir Sean.


"Aku kunci sekalian pintunya, ah!" monolog Sean dengan w


ekspresi wajah jahil.


Peduli amat Sean dengan Hiro yang akan marah-marah padanya. Yang penting ia tidur dulu.


Sedangkan di tempat latihan. Hiro menatap lambat ke wajah sang putra.


"Besok ada acara?" tanya Hiro.


Ayah muda satu ini terlihat berhatian pada si sulung. Vian mengeleng kecil. Vian Yamato bukan tipikal anak yang banyak omong.


"Tidak, Pa!" jawabnya.


"Kalau begitu besok ikut Papa keluar. Ada tempat yang ingin Papa kunjungi. Tempat yang mungkin akan kamu sukai," ucap Hiro dengan nada suara bertanya.


Kepala Vian mengangguk kecil."Baik, Pa!" balasnya lagi.


Hiro menepuk pelan punggung belakang Vian yang basah.


"Hari ini kamu melakukannya dengan sangat baik!" puji Hiro.


"Aku kembali ke rumah dulu, Pa!" pamit Vian.


Yang membuat ekspresi wajah Vian geli. Anak itu melangkah cepat menuju pintu keluar dengan cepat. Hiro mengerutkan dahinya. Kata buku, anak-anak akan merasa senang jika dipuji. Tapi kenapa wajah putranya terlihat geli pada pujiannya. Ah, entahlah.


Bersambung....


Hem...Hem... ada yang kangen nggak nih sama aku? 😆😆😆😆🤭


...


...