Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 19




.


.


.


.


.


.


Manik mata coklat hangat itu masih terlihat enggan memindahkan netra coklat miliknya dari langit-langit kamar yang ia tempati, rumah dokter tampan itu begitu besar. Berada di perumahan mewah salah satu bilangan Jakarta Selatan. Kemarin lelaki itu secara tidak langsung mengungkapkan perasaan pada dirinya jika, boleh jujur ada rasanya yang membuncah kala kata yang ditunggu menjadi nyata. Bak khayalan berubah menjadi kenyataan, Dera menginginkan kehidupan sederhana dari lelaki yang ia cintai. Kehidupan yang tidak banyak mempermainkan hati dan pikiran.


Ketukan pintu di luar kamarnya, membuat tubuh yang direbahkan senyaman mungkin langsung bangkit dari ranjang. Dera turun dari ranjang dan melangkah menuju pintu kayu, membukanya perlahan. Kala daun pintu terbuka lebar, saat itu Dera dapat melihat tubuh kokoh dengan senyum hangat dari Bian membuat ia merasa berdebar.


"Kakak hari ini pulang cepat?" tanya Dera mencoba membuka pembicaraan terlebih dahulu.


"Ya, karena, kan hari ini kita akan ke mall terlebih dahulu. Kita akan membeli baju untuk malam nanti," ujar Bian dengan nada ceria.


"Ah! Benar. Aku hampir lupa," jawab Dera sebelum menunduk malu. Rona merah menjalar di kedua tulang pipinya.


Melihat perubahan wajah Dera, kekehan renyah dari dokter muda itu terdengar menyejukkan. Bian menyukai ekspresi yang dikeluarkan oleh Dera, gadis itu terlihat begitu manis di mata Bian.


"Apakah, kedua orang tua Kakak akan menerimaku. Karena aku tidak setara denganmu, Kak!" Dera berseru sembari menegakkan kepalanya kala sesuatu yang mengganjal di hatinya ia utarakan. Awalnya ia tak berpikir sampai ke sana. Namun, tiba-tiba saja pikiran ketidak setujuan orang tua lelaki itu langsung melintas.


Bian tersenyum tipis, telapak tangannya mengusap pelan puncak kepala Dera. "Orang tuaku bukanlah orang yang gila harta, De," ujar Bian. "Mereka pasti menerimamu, karena kau adalah wanita pilihanku." Bian masih membelai puncak kepala Dera dengan lembut.


"Begitukah, aku agak was-was," lirih Dera.


"Ya. Tentu saja. Mama dan Papa berasal dari keluarga yang sederhana sebelum memiliki kekayaan seperti sekarang," papar Bian menurunkan tangannya dari atas puncak kepala Dera.


Dera mengembangkan senyum bibirnya. Menular senyum yang sama pada lelaki yang berdiri di depannya.


...***...


Ketukan jari telunjuk di atas meja kerja dengan wajah berkerut, lelaki itu terlihat begitu kusut. Sudah dua hari keberadaan gadis itu tidak diketahui, ia menyesal karena telah melepaskan gelang kaki pelacak pada pergelangan kaki Dera. ******* kasar menjadi pengakhir ketukan di atas meja, sebelum kursi kerjanya diputar kebelakang. Membuat ia menatap gedung tidak kalah mewah di depan gedung miliknya.


"Di mana kau berada?" monolognya dengan nada berat.


Kelopak mata menutupi manik mata coklat kelam yang kini tengah resah, hatinya tak berhenti menyalahkan diri sendiri. Bagaimana bisa ia kecolongan, membuat gadis itu menghilang begitu saja. Hiro tahu, itu tidak bisa meremehkan Mirabel. Wanita itu benar-benar membuat Hiro muak. Sangat muak! Jika terjadi sesuatu yang di luar pemikirannya. Maka, Hiro tidak akan tinggal diam. Membunuh bukanlah pantangan baginya. Meski harus membunuh putri dari rekannya. Akan ia lakukan, walaupun nanti akan berimbas besar pada hubungan mereka. Ia tak peduli, sungguh tidak peduli. Jika ingin melihat bagaimana setan yang menampakkan wujudnya. Maka akan Hiro perlihatkan, dinginnya bukanlah hal menakutkan. Namun, kemurkaan lebih menakutkan daripada kematian.


TOK ! TOK ! TOK!


Tiga ketukan sebelum pintu kaca transparan itu terbuka Yeko masuk dengan membawa beberapa kotak makanan. Bos mereka belum memakan apapun sejak kemarin, lelaki itu seakan sangat enggan mengisi perutnya.


"Bos!" Seru Yeko meletakan bekal di atas meja.


Kursi singgasana kebesaran Hiro berputar. Hiro menatap Yeko dengan wajah kusut. "Apa ada berita baru?" tanya Hiro dengan wajah dingin namun, dengan nada penuh harap.


"Maaf, Bos! Kami masih belum tahu di mana keberadaan Nona Dera." Yeko menjawabnya jujur dengan kepala menunduk.


Rahang Hiro mengeras. Sungguh, sangat menyebalkan. Bagaimana bisa orang-orangnya masih saja belum menemukan keberadaan gadis itu.


"Keluarlah." Hiro membalikkan kursi kerjanya seperti semula.


"Aku lebih suka ini." Dera menjawab sembari menunjuk baju gaun bawah lutut dengan lengan panjang polos tanpa motif.


"Apa mau yakin hanya ini?" tanya Bian pelan.


"Ya. Lagi pula hanya untuk malam ini saja," jawab Dera penuh keyakinan.


Bian tersenyum lembut lelaki ini tahu dengan pasti kenapa gadis ini hanya meminta satu baju saja. Padahal, Bian bisa memberi lebih untuknya. Dari awal masuk beberapa tokoh baju, gelagat gadis ini sudah dipantau. Yang begitu lucu menurut dokter tampan ini. Beberapa kali ia memegang baju dan diam-diam melihat harga baju yang tertera dilebel. Yang hampir membuat Bian menyemburkan tawa adalah kala retina Dera melebar. Dan dengan pura-pura mengatakan ia tak suka baju yang dipegang dengan alasan ini dan itu.


Jika gadis lain, mereka malah akan sangat bangga dengan harga yang melebihi baju yang biasa mereka beli. Semakin mahal harganya, maka mereka akan semakin percaya diri memakainya. Sedangkan gadis ini, semakin mahal harga sebuah baju. Maka semakin berat memakainya.


"Kita bisa punya beberapa keluaran baru Nona, mungkin ingin mencobanya?" tawar sang pelayan tokoh dengan ramah.


Sontak saja Dera dan Bian langsung menoleh ke samping. Gadis cantik berambut sebahu itu tersenyum cerah. Berharap sang pelanggan bisa membeli banyak baju di toko itu.


"Tidak saya——"


"Boleh. Tolong antar kan beberapa baju model terbaru yang sama ukurannya dengan baju ini. Jika bisa yang sopan, jangan terlalu terbuka," sahut Bian memotong bantahan dari Dera.


Senyum indah langsung terkembang oleh sang pegawai toko, tanpa banyak kata ia langsung menuju ke arah rak baju terbaru, tentu saja dengan harga yang mampu membuat dompet menjerit.


"Kak!" rengek Dera dengan nada pelan.


"Tidak usah merengek, De!" ucap Bian. "Kita ke sini untuk membeli baju bukan mencari baju yang berharga miring. Jika hanya untuk satu baju saja. Untuk apa kita ke mall besar," lanjutnya membuat Dera merenggut pelan.


"Satu baju jika harganya delapan ratus ribu untuk yang standar mah bisa menutupi biaya makan selama dua minggu," gerutu Dera pelan.


Meski pelan. Bukan berarti Bian tak dapat mendengar dengan jelas. Lelaki itu hanya tersenyum lucu.


"Ini adalah gaun terbaru dan sopan tidak terbuka," sela pegawai tokoh yang menyodorkan beberapa stel pakaian ke arah Dera. Mau tak mau gadis itu menerimanya dengan senyum lembut.


"Sana coba," titah Bian.


Dera melangkah tanpa kata masuk ke dalam salah satu bilik ganti. Tak butuh waktu lama hanya untuk mengganti baju. Dera keluar dengan gaun putih gading berenda bunga polos selutut dengan pendek lengan.



"Bagaimana?" tanya Dera pada Bian. Pandangan yang di berikan oleh Bian tak terbaca.


"Apakah jelek?" tanya Dera kembali kala tidak mendapatkan jawaban dari Bian.


Lelaki itu tersenyum sebelum menggeleng kecil. "Tidak, itu pas," sahut Bian dengan senyum ramah seperti biasanya.


...***...


Selesai membeli beberapa potong pakaian dan mengisi perut keduanya memilih untuk mengakhiri menjelajah mall. Sesekali mereka tertawa pelan, dengan banyaknya topik sebelum langkah kaki Dera tertahan. Membuat langkah kokoh Bian juga terhenti. Manik mata Dera membesar kala melihat dari arah pintu masuk mall lelaki yang paling tidak ingin ditemui ada di sana.



"Sial," desis Dera kala matanya menangkap seluet Leo.


"Apa?" tanya Bian memperjelas apa yang baru saja digumamkan oleh Dera.


"Tidak. Aku merasa sakit perut, ayo kita balik ke belakang. Sepertinya di samping tokoh es tadi ada toilet umum," tutur Dera dengan cepat.


Belum sempat Bian menjawab Dera sudah menarik lelaki itu untuk berbalik sedangkan di depan sana, Leo sama sekali tidak melihat keberadaan Dera. Jika lelaki itu melihat Dera, maka sudah pasti besoknya mungkin Dera langsung berada di dalam rumah mewah Hiro. Membayangkannya saja membuat Dera ngeri.