
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
Lagu klasik mengalun mengisi ruangan Cafe bergaya Eropa klasik. Kopi hangat terhidang dia atas meja. Wanita cantik itu tersenyum lebar pada pria di depannya. Pria dengan baju serba hitam dan masker di wajahnya menyodorkan berkas ke pada Jihan. Dengan senang hati Jihan menerimanya.
"Bagaimana dengan perkembangan nya?" tanya pelan.
Jihan tersenyum lebar."Bapak tenang saja. Sebentar lagi Hiro akan bertekuk lutut di kakiku!"
Pria itu menyeringai di balik masker hitam miliknya. Membuat bekas luka di pipinya sedikit terangkat. Jihan meronggoh berkas yang di berikan padanya.
"Tapi apa ini?" tanya Jihan penasaran.
"Itu adalah susunan acara selanjutnya. Kau harus bisa membuat rumah tangga nya hancur. Bukankah kau menyukai Hiro?"
"Iya. Aku menyukai Hiro. Tapi kenapa tuan mau membantuku seperti ini?"
"Tidak perlu banyak bertanya nona. Ada yang bilang rasa penasaran yang besar bisa membunuh orang!"
Jihan merinding mendengar nada yang di keluarkan oleh pria misterius di depannya.
"Ah! Baiklah. Aku akan melakukan nya sesuai rencana. Dan memberikan tuan uang sebagai ucapan terimakasih."
"Tidak. Aku tidak butuh uangmu Nona!" tolaknya tegas.
Ke dua alis mata Jihan terangkat mendengar perkataan sang pria. Bagaimana mungkin pria ini tidak butuh uang darinya. Padahal ia telah membantu terlalu banyak urusan Jihan. Untuk bisa mendekati Hiro. Jihan sangat penasaran dengan pria di depan nya ini. Siapa pria ini, apa maunya, dan kenapa mau membantu nya. Akan tetapi, Jihan terlalu takut banyak bertanya. Pria ini terlalu menyeramkan baginya.
Tiba-tiba saja datang mengatakan akan membantu dirinya untuk bisa merebut Hiro. Hanya dia yang bisa meminta pertemuan mereka. Jihan tidak bisa menghubungi pria di depannya ini. Karena pria misterius ini mengunakan telepon umum. Tidak tau dari mana pria ini tau siapa dia dan apa maunya. Yang jelas adalah Jihan senang mendapat bantuan dari pria di depannya ini. Tak tau ada bahaya yang mengintai diri.
"Lalu——"
"Cukup dapat kan saja Hiro Yamato," potongnya cepat.
Jihan tersenyum lebar. Bodoh amat lah, yang terpenting di sini adalah pria ini memberikan ia banyak ke untungan. Tidak tau bukan untuk yang ia raih, tapi malah buntung pada akhirnya.
***
"Sebelum nya nona Sakura pernah memasak?" tanya Bian dengan nada meragu. Menatap aneh ke arah nona muda yang baru saja bangkrut.
Sebenarnya Bian merasa kasihan pada wanita di depannya ini. Wanita bar-bar dengan mulut ceplas-ceplos satu ini mengalami hal yang menyedihkan. Keluarga nya bangkrut. Ayahnya masuk penjara, Ibunya kabur dengan pria brondong tentunya dengan harta yang tersisa. Dan dia? Malah di tipu oleh pengurusnya selama ini. Begini lah jadinya sekarang.
"Aku hanya tau makan saja, Dokter!" jawabnya tanpa rasa malu.
"Kalau membersihkan rumah?"
"Aku bisanya memberantakkan nya saja."
"Lalu apa keahlian nona Sakura?"
Gadis berusia dua puluh tiga tahun ini diam. Seolah memikirkan apa keahlian nya ya? Ia meminta di Carikan pekerjaan pada Bian. Tentu saja pria gagah satu ini ingin tau apa yang ia bisa.
Seketika kepala Bian Winata pening. Bagaimana bisa cantik-cantik begini. Apa orang nona muda Jepang memang begini? Bisanya hanya itu saja. Keahlian yang luar binasalah ini, bukan luar biasa. Dan itu sepantasnya di banggakan? Bian tak mengerti.
"Apakah itu bisa di sebut dengan keahlian nona?"
"Tentu saja. Tak semua wanita di dunia ini mampu melakukan nya!" jawab Sakura semakin pongah.
Oke. Itu benar bukan? Tidak semua wanita di dunia ini mampu melakukan hal itu. Dan hanya Sakura yang mampu melakukan hal gila begitu. Meskipun begitu, setidaknya Sakura bukanlah gadis munafik yang sok polos hanya untuk di cap baik. Sakura adalah gadis yang salah jalan dan salah didikan dari ke dua orang tua.
Ayah yang sibuk dengan bisnis membuat ibunya mencari kebahagiaan lain dengan pria yang tampan. Yang usianya di bawah wanita itu. Membiarkan Sakura dengan keinginan nya. Mau itu mabuk-mabukan, menghabiskan banyak uang dan bertindak pongah. Karena para orang tua terlalu sibuk dengan diri mereka masing-masing. Dan beginilah anak mereka.
"Astaga! Bagaimana kau akan hidup ke depannya nona?" Keluh Bian memijat ke dua sisi keningnya.
"Entahlah. Kalau boleh sih aku mau jadi istri Dokter saja." celetuk nya dengan wajah polos.
God! Bunuh dirinya saat ini juga. Setidaknya itulah yang di inginkan Bian. Cantik-cantik bar-bar, dengan segudang kekurangan. Namun, tak menampik jika Nian merasa kasihan pada Sakura. Gadis cantik satu ini, kurang kasih sayang.
***
Willem melangkah menyusuri rumah besar sendirian. David dan Delta memilih menemani Dera bermain dengan Cherry. Merasa bosan ia memutuskan untuk berjalan-jalan. Willem tau dengan pasti bagaimana rumah besar seperti Mafia. Yang dijaga begitu ketat dan tentunya di awasi setiap gerak geriknya. Siapa yang peduli, toh ia tidak memiliki niat jahat atau tersembunyi. Hanya ingin mengikuti kemana niat hati ingin melangkah.
Willem merapat kan jaket tebal miliknya. Musim dingin sudah mulai masuk. Membuat udara sekitar tak lagi bersahabat dengan tubuh. Langkah kakinya terhenti kala indera dengar nya menangkap erangan dan suara keras Sean. Sejak pagi Sean menghilang dari rumah. Dera berkata jika Sean keluar dengan Hiro.
Dengan rasa penasaran yang tinggi Willem mendekati tuang pembatas. Tidak terlalu tinggi, hingga ia dapat melihat aktivitas di dalam lapangan yang sengaja di batasi.
"Astaga!" serunya syok.
Ke dua pupil mata Willem melebar melihat di sana. Sean benar-benar berusaha dengan keras menghindari beberapa serigala liar. Tembakan mengalun keras, Willem bahkan tak sadar jika telah berjalan terlalu jauh dari rumah besar Yakuza. Malah masuk ke dalam area latihan. Jadi, ini lah yang di maksud oleh sang guru. Jika pelatihan Yakuza tingkat kesulitannya lebih dari pada yang lain.
Tembakan beberapa kali di layangkan oleh Sean. Membidik target bergerak dengan aktif. Manik mata hitam tajam milik nya dapat melihat betapa banyaknya tubuh serigala di lapangan luas itu. Tubuh Sean di lengkapi baju khusus, meminimalisir terdapat banyaknya luka di tubuh Sean.
Jujur Willem sangat takjub dengan kehebatan Sean Yamato. Gerakan tubuh yang gesit, stamina yang besar, menjadi penembak jitu dan penuh perhitungan. Sebagai sesama tuan muda dari kelompok Mafia masing-masing. Latihan beratnya tidak ada apa-apa nya.
"Bukankah Sean hebat?" seruan berat di samping tubuh membuat Willem terkaget.
Hiro tersenyum miring. Membuat bulu tubuh Willem berdiri. Sejak kapan Hiro berada di samping nya. Bahkan Ayah sahabat nya ini begitu santai. Meskipun ia telah melihat seperti apa seorang Sean Yamato.
"Seperti nya Tuan besar Yakuza tidak terkejut dan waspada terhadapku?" tanya Willem mencoba setenang mungkin.
Hiro tersenyum lebar."Kenapa harus begitu?"
"Tuan tau siapa aku?"
"Tentu saja. Kau adalah teman Sean putraku. Aku selalu selangkah lebih maju untuk putraku. Kau adalah putra Carlos tuan muda Mafia Devil. Keponakan dari Kevin, tentu saja aku tau," jelas Hiro dengan tenang.
"Apa tuan tak takut aku berbahaya untuk Sean?"
"Tidak. Sean bukanlah anak bodoh, jika kau berbahaya baginya sudah pasti kau di singkirkan dari awal."
Sekarang Willem mengerti. Seperti nya ia salah sangka, buka ia yang tau jati diri Sean lebih dahulu. Tapi, temannya itu yang tau siapa ia terlebih dahulu. Tetapi berpura-pura bodoh. Keturunan Yakuza memang hebat. Willem tersenyum lebar. Di balas senyum lebar oleh Sean saat ia menoleh kembali ke depan. Seperti nya Sean sudah selesai membunuh semua serigala nya.
.
.
.
.Bersambung...