Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 76 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


Beberapa orang dewasa merasakan aura tak sedap. Namun sayangnya, Ibu satu ini malah biasa-biasa saja. Tertawa dan berbicara banyak hal di ruang tamu. Beberapa hari lagi, Sean dan teman-teman akan kembali masuk sekolah. Senyum tulus tak pernah bisa terhindar di bibir Kevin. Manik mata hitam itu tak pernah jemu menatap dan merekam raut wajah Dera. Yang duduk di depannya.


"Aku rasa dunia memang sempit loh ya kak. Ternyata Will adalah keponakan mu. Aku pikir nama belakang keluarga Zhao itu banyak. Siapa sangka ternyata itu adalah keponakan mu," seru Dera lagi.


"Aku pun tak menyangka jika Will bisa berteman dengan anak mu. Dia terlihat sangat tampan dan juga imut seperti Mama nya," balas Kevin masih menatap wajah Dera dengan intens.


GLEK!


Leo, Sari dan Clara merasa kesulitan meneguk air liur sendiri. Aura Hiro terasa sangat berbeda. Jika sekarang semua orang berada di dunia komik. Mungkin orang-orang bisa melihat di atas kepala Hiro Yamato berasap. Bau-bau gosong akan rasa cemburu dapat di cium oleh para orang dewasa. Lalu kenapa Dera tak mampu peka akan ketidak sukaan dan kecemburuan Hiro?


Pria itu memang tak marah dan menunjuk kan nya secara langsung namun dari tatapan nya terlihat menajam berkali-kali lipat.


"Kevin apa kegiatan mu sekarang?" seru Leo mengalun mencoba membuat manik mata Kevin beralih pada Leo yang berada di samping nya.


"Aku hanya libur beberapa hari saja di sini. Tiga hari lagi akan kembali terbang ke China," balas Kevin seadanya.


Ingin rasanya orang-orang memaki kesal. Apakah Kevin Zhao tak tau bagaimana nasibnya ke depannya. Berani-beraninya menatap seorang Dera Sandya. Istri dari Bos Yakuza yang benar-benar menakutkan. Pria bodoh, gila atau tak sayang pada umur itu menjawab pertanyaan Leo Yamato dengan mata masih menatap Dera.


Seolah-olah ia sudah rela jika ke dua bola matanya keluar dari tempat nya. Asalkan bisa menatap wanita yang sangat ia cintai. Saat tau, Willem berada di kediaam Yamato. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan untuk datang bertamu. Anggap saja Kevin menyelam sambil minum air. Begitu lah yang ada di otaknya.


"Kalau begitu sering-sering lah main ke sini. Aku sudah sangat lama tidak berbicara dengan Kakak," tawar Dera,"Bolehkah kan ya Kak?" Dera melanjutkan perkataannya menoleh ke samping kanan. Meminta persetujuan dari sang suami.


Sontak saja air wajah dingin dengan aura membunuh itu memudar. Hiro tersenyum lembut, mengusap pelan pipi chubby sang istri.


"Tentu saja sayang. Jika istri ku senang aku, tak masalah!" Balas Hiro menarik kebelakang rambut Dera mengingat nya pelan dengan ikat rambut yang entah ia dapat dari mana. Tersenyum lembut pada Dera.


Sialan. Hiro berkata seperti itu hanya topeng saja. Leo yang akan repot kedepannya. Clara hanya tersenyum meringis. Sedangkan Sari menatap Kevin penuh harap. Berharap pria tampan ini akan berkata ia akan sibuk selama di Jepang. Hingga tak memiliki banyak waktu untuk mampir.


"Baiklah kalau begitu!" jawab Kevin tak tau malunya.


PRANG!!!


Retak sudah harapan Sari kala ketidak tau maluan dari Kevin Zhao mengalun. Kakak iparnya akan sangat positif ke depannya. Akan sangat merepotkan.


"Aku senang kalau begitu," ujar Dera. Sebelum menyadarkan tubuh nya ke dada bidang sang suami.


Wanita ini senang jika ada banyak teman berbicara. Kevin adalah pria yang asik dalam obrolan. Meskipun begitu, bukan berarti jika Dera akan membagi rasa. Ia tau batas-batas dalam hubungan. Hiro mendesah pelan, mengusap pelan perut Dera. Perlakuan lembut Hiro tak luput dari pandangan mata Kevin.


Ah! Kevin sangat ingin berada di posisi itu. Namun sepertinya, ia hanya akan menyimpan rasanya rapat-rapat untuk Dera. Seperti saat ini, Leo menatap lambat wajah Kevin. Ekspresi yang di perlihatkan oleh Kevin saat ini. Sama seperti ekspresi nya kala menatap ke dua pasangan di depan mereka.


"Jangan terlalu banyak tingkah Kevin!" bisik Leo pelan.


"Tenang saja. Aku tak segila itu, tapi cukup menyakitkan di posisi ini. Lalu bagaimana dengan mu," balas Kevin pelan. Hanya cukup di dengar oleh mereka berdua saja.


Leo bungkam. Terlalu letih berbicara perihal rasa. Sungguh! Leo Yamato mati rasa.


***


"Bagaimana dengan yang ini saja Will?" Tanya Sari menyodorkan baju kemeja lengan pendek pada tubuh Willem.


"Bagus!" Jawab Willem mantap wajah Sari."Ternyata beginilah rasanya ya jika membeli baju dengan di pilih kan," lanjut nya pelan.


Sari terenyuh. Sari juga sudah lama tidak mendapatkan perhatian seperti ini. Saat ibunya pergi bersama sang ayah dan kakak lelaki nya. Saat itu, sari masih SMP. Ia lupa kelas berapa saat itu. Yang pasti, setelah itu. Dera lah yang mengantikan peran ke dua orang tuanya.


"Mama Sari! Bolehkah aku memanggil Tante begitu?" tanya Willem pelan.


Sari mengangguk begitu saja tanpa sadar."Will bisa memanggil dengan panggilan Mama. Willem anak baik, jika ada masalah atau kebutuhan apapun. Willem bisa menghubungi Mama Sari dan Mama Dera," ucap Sari lirih.


Willem mengangguk antusias. Ke dua mata nya berair. Sari merasa sedih, Sean tersenyum lembut. Anak lelaki itu itu ingin menunjukkan baju yang ia pegang pada Willem. Bermaksud memakai baju jaket sama dengan Willem berserta ke dua temannya. Siapa sangka ia dapat melihat hal yang mengharuskan seperti ini. Willem juga berhak berbahagia seperti dirinya.


Setelah tau banyak tentang Willem, ia merasa ikut sedih untuk Willem yang tak pernah mendapat banyak cinta dari orang sekeliling nya.


"Ku harap kau akan berbahagia kedepannya, Will!" seru Sean pelan.


***


Bian mengembuskan napas gusar. Sedangkan Sakura tersenyum lucu pada Bian. Dokter tampan satu ini meminta Sakura memaksakan makanan. Hanya bubur siap saji saja, tapi yang terjadi adalah air bubur sangat banyak membuat bubur menjadi seperti kuah sup.


"Bukankah ini tugas paling mudah Nona?" tanya Bian tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Sakura terkekeh tak enak."Aku tidak tau berapa takaran air untuk memasak bubur, Dokter tampan!"


Ke dua kelopak mata Bian menyelimuti manik mata indahnya. Menahan ketidak sukaan nya pada pekerjaan Sakura. Oke, wanita ini memang sangat cantik. Namun cantik tidak bisa apa-apa, akan sangat sulit. Mengingat dunia ini kejam, percuma cantik jika tanpa keahlian. Paras wajah akan mengerut seiring berjalan nya waktu.


"A——aku akan belajar dengan baik lagi ke depannya, Dokter. Tolong biarkan aku tinggal dan makan gratis!" Pintanya tergagap dengan menyatukan ke dua tangan mengiba.


Bian Winata membuka mata. Menatap wajah mengenaskan Sakura. Apa boleh buat, ia terlalu memiliki hati lemah. Melihat Sakura begitu kasihan.


"Baiklah. Kau kerjakan saja tugas


Bersih-bersih apartemen seja. Kita memesaan makan saja dari luar!" ujarnya pada akhirnya.


Sakura tersenyum lebar. Meskipun Sakura sebenarnya merasa tak enak pada Bian yang sangat baik pada nya. Tapi, ia tak bisa apa-apa karena tidak punya tempat berlindung dan bergantung. Sang Ibu entah sudah di maka sekarang.


Di tempat lain, Jihan Amelia telah melakukan pekerjaan lain. Menatap beberapa kamera tersembunyi di dalam ruangan Hiro. Perusahaan besar terlihat sunyi, mengingat jam kerja telah usai.


"Sekarang saatnya beraksi melakukan apa yang telah di susun. Hiro Yamato kau akan berada di dengan ku di atas tempat tidur. Tunggu saja sayang!" Ujarnya dengan mengelus pelan figuran foto Hiro di atas meja. Foto Hiro dan Sean yang di ambil empat tahun lalu.


Jihan tersenyum lebar. Ia tak sabar menjalankan rencana nya. Membuat Hiro menceraikan Dera karena pria gagah itu jatuh cinta padanya.


"Sedikit lagi saja. Aku akan bersabar!" ujarnya lagi.


.


.


.


.


.


.


Bersambung......


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???