Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 40



Vote dan juga Komentar nya ya all.. sebagai penyemangat^^


.


.


.


"*Hitung!!"


Seruan keras menginstruksikan agar bibir mungil pucat kering itu menghitung. Rasa sakit yang akan ia rasakan. Meski tubuh kecilnya tak akan mampu menahan tiap cambukan yang di layangkan. Bibir merah maron itu tak akan menghentikan instruksi untuk anak buahnya*.


"*L——lima puluh satu!"


CETAR!!!!


Tapi cambuk mencium punggung belakang anak lelaki berumur tujuh tahun itu. Sekuat mungkin bibir kering itu tak mengerang. Jika tak ingin ada tambahan untuk diri. Punggung belakang nya telah basah di balik baju kemeja kotak-kotak. Bau anyir tak mampu menghentikan pukulan yang akan kembali di layangkan.


CETAR!!!


"Li—ma puluh dua," nada mengalun sumbang*.


Tangan Kara terangkat menghentikan cambukan yang akan di layangkan. Sepatu mahal milik wanita cantik itu berdecit kala bergesekan dengan lantai gudang yang tak lagi rata. Mengikis jarak antara ia dan putranya. Kara menunduk pelan mengangkat dagu kecil dengan jari telunjuk nya. Iris mata gelap milik Hiro terlihat begitu letih.


"*Jangan lemah! Mana mata yang aku sukai?!"


Hiro kecil mengeratkan ke dua sisi rahang nya. Meta coklat tajam yang meyendu kembali membara. Memperlihatkan kemarahan dan ketakutan bersamaan. Gelak tawa besar menggelegar mengisi gudang kumuh belakang rumah besar milik Yakuza. Wanita ini gila! Sungguh gila. Menyiksa anak yang masih kecil tidak tau dengan dunia yang ia tempati. Hanya karena kemarahan akan kepergian Zeo. Bos Yakuza besar itu pergi meninggalkan Kara dengan kemarahan besar. Kematian wanita Cina yang begitu memecahkan hatinya. Berimbas pada Hiro. Anak lelaki yang begitu mirip dengan Zeo. Lelaki yang begitu di gilai oleh Kara. Wanita gila ini rela pura-pura hamil dengan Zeo. Agar suaminya tidak meninggalkan dia. Rela tak melahirkan seorang keturunan. Hanya karena tak ingin menghancurkan tubuh langsing dan juga kecantikan nya*.


Sayangnya, Zeo Yamato. Tidak akan pernah melihat Kara sebagai seorang Isteri. Melainkan seorang perempuan gila yang melahirkan keturunan sah Yakuza. Zeo pergi dengan kekuasaan yang besar. Membatasi Kara dalam pergerakan dan kekuasaan akan Mafia. Meski perempuan ini, masih menguasai dua puluh lima persen kekuatan dan kekayaan Yakuza. Hanya dikarenakan, Kara adalah Ibu calon Bos besar Yakuza. Hanya karena itu.


Kara melepaskan jari telunjuk lentik nya dari dagu kecil Hiro. Berdiri tegak, melipat ke dua tangan di depan dada. Menatap tajam Hiro yang masih menatap dengan pandangan sangar. Hiro harus menjadi anjing gilanya. Menjadi anak yang akan mengigit siapa saja yang menjadi musuh Kara. Itulah harapan Kara dari Hiro Yamato.


"*Ingat! Jati dirimu Hiro. Jangan pernah lepaskan mata tajam itu. Kau adalah putra seorang Zeo Yamato. Bos besar Yakuza!! Ibu tidak akan pernah melahirkan mu tanpa sebab!" Ucapnya dengan seringai yang menakutkan.


Hati kecil Hiro berdenyut sakit. Apakah hanya karena itu sang Ibu melahirkan nya. Hanya menjadi sebuah alat. Sebagai tameng melindungi diri dari kemarahan sang Ayah. Meski sakit, tidak ada erangan dan air mata. Ia tak boleh menunjukkan kelemahan nya. Seperti yang wanita di depannya ini katakan. Ia adalah anak seorang Mafia. Yang tidak boleh menatap dengan penuh cinta. Atau bahkan menatap kasihan orang-orang. Ia tak boleh lemah. Mata coklat milik nya harus memberikan tatapan tajam*.


Di belakang tubuh Kara. Nomi, mengertakan gerahangnya. Menahan sakit dari pemandangan yang menyiksa mata. Ke dua tangannya terkepal di belakang tubuh. Meski air wajahnya terlihat begitu datar tanpa emosi. Jika boleh Kara ingin menghentikan setiap cambukan yang di layangkan pada punggung belakang Hironya. Putranya tak pantas mendapatkan perlakuan tak berperikemanusiaan seperti saat ini. Hiro *adalah anak Zeo Yamato. Bos dari Yakuza. Ia memiliki kekuasaan dan kekuatan yang tak harus mendapatkan perilaku seperti ini.


"Aku mengerti, Bu!" jawab Hiro dengan nada dingin*.


"Bagus!" Kara tersenyum lebar.


"Aku mengerti, Bu!" igauwan dengan tubuh bergetar. Membangunkan wanita yang memang agak kesulitan dalam tidur.


Perut buncit yang sudah berkompromi hanya untuk sekedar beristirahat. Dera membuka ke dua kelopak mata sempit nya. Duduk perlahan, mengusap peluh yang membanjiri dahi sang suami. Gerakan pelan, membawa ke dua mata coklat tajam itu terbuka cepat. Senyum tipis yang memberikan kenyamanan membawa rasa hangat menjalar ke seluruh saraf tengang milik Hiro.


"Kakak bermimpi buruk lagi." Seru Dera mengusap dahi yang berlipat tipis.


Tidak ada jawaban dari sang suami. Pria tampan bak animasi saking tidak nyata ketampanannya itu hanya mampu menghembuskan napas pendek. Mencoba merilekskan tubuh nya. Mimpi menakutkan merupakan momok yang tak bisa ia hindari. Selalu menghantuinya setiap malam menyapa. Hingga membuat pria Yamato ini kesulitan hanya untuk menyimpan ke dua iris mata coklat tajamnya bersembunyi di balik kelopak mata.


Gerakan dari janin di dalam kandungan Dera. Membawa hati yang kacau kembali membaik begitu saja. Sudut bibir Hiro terangkat tinggi. Hiro memiringkan tubuhnya. Dengan tangan bergerak nakal menyentuh permukaan perut Dera di balik baju tidur berbentuk dress khusus di pergunakan oleh Ibu hamil.


Ia terkekeh pelan. Gerakan calon anaknya begitu menggemaskan. Dimana janin di perut Dera terlihat menghindari setiap sentuhan yang di layangkan oleh Hiro. Tak jarang kaki kecil sang janin menenangkan perut sang Ibu. Dera tak terlihat meringis ngilu. Meski sebenarnya, ia ingin mengerang pelan. Saat tendangan keras janin membuat nya merasa ngilu. Melihat bagaimana ekspresi sang suami yang tersenyum dan sesekali terkekeh renyah karena interaksi mereka. Membuat Dera menahan ngilu.


"Dia begitu lucu ya?" Seru Hiro masih asik dengan kegiatan nya.


Dera mengusap pelan puncak kepala sang suami yang tengah mengusap perut nya dengan gerakan lembut."Tentu. Saat lahir dia pasti akan lebih lucu lagi, Kak!"


"Apakah dia akan mirip dirimu?"


"Tidak. Dia pasti mirip Kakak. Karena dia adalah calon jagoan kita!"


"Mirip aku?" tanya Hiro menghentikan pergerakan tangannya di perut Dera. Kepala Hiro nenengadah menatap wajah manis sang istri.


Dera mengangguk cepat."Tentu saja. Aku ingin, dia setampan Papanya!"


"Setampan aku?"


"Ya."


"Apakah aku tampan?"


Dera cenggo. Bagaimana bisa sang suami tak percaya dengan perkataan nya. Hiro Yamato adalah pria tampan dengan kadar di atas rata-rata. Lihat lah! Manik mata tajam almond menyala miliknya, hidung mancung dengan bibir merah merekah tipis, alis mata hitam lebat terusan dengan rapi. Bulu mata panjang tebal nan lentik, rahang tegas dan hidung bangirnya. Ah!! Hiro lebih terlihat seperti tokoh animasi kartun dari pada manusia biasa.


"Suamiku adalah pria paling tampan!" Ujar Dera mengusap sebelah pipi Hiro.


Pria Yamato itu memejamkan ke dua matanya. Merasakan sentuhan dan usapan lembut dari sang istri.


"Istriku juga wanita paling cantik di dunia ini." Ujar Hiro membuka ke dua matanya. Menatap intens ke dua manik mata indah sang istri. Dera merona.


***


"Kelahiran anak itu paling cepat adalah akhir bulan ini, Bos!" seru anak buah Kara memberikan informasi penting.


Kara menghentikan gerakan kisapnya. Seringai tampil di bibir tebal dengan gincu merah maron. Punggung belakang nya di sandarkan di sofa. Ia terlihat begitu menakutkan. Dengan perencanaan gilanya. Perempuan ular itu tak pernah berhenti dengan kegilaan nya.


"Saat anak itu lahir. Maka penjagaan dalam keadaan yang lemah. Saat itu jalankan rencana kita!" tutur Kara setelah diam cukup lama.


"Kali ini akan sulit Bos. Karena mata-mata kita sudah tidak tersisa lagi di sana."


"CK! Kau bodoh. Apa hanya itu saja senjata yang bisa kita main kan. Ada banyak peluru di tanganku!"


"Maksudnya Bos?"


"Bodoh." Teriak Kara marah berdiri dari posisi duduknya."Kau bodoh. Kita masih ada rencana B meski mata-mata kita tak lagi ada."


Nomi menajamkan ke dua telinga nya. Tidak! Tidak akan ia biarkan Kara melakukan hal yang menyakiti sang putra. Apapun resikonya. Ia akan mengorbankan dirinya hanya untuk Hiro. Untuk putranya dan cucunya. Hiro begitu bahagia dengan Dera. Wanita asli Indonesia itu. Nomi akan menjadikan harapan dan impian Hiro menjadi nyata.