
.
.
.
*Danau biru membentang luas. Ilalang terlihat menari di goda angin. Mata yang terpejam terbuka perlahan. Netra coklat itu menyapu sekitar. Tidak ada perumahan di sekitarnya. Yang menyapa netra coklat bening itu hanyalah luasnya ladang Ilalang dan di tepinya ada sungai biru yang begitu luas, menyuguhkan keindahan bagi ke dua mata.
Kaki kecil itu menyusuri hamparan Ilalang setinggi dada. Di dalam hati bertanya-tanya di mana ia kini berada. Wanita berambut sebahu itu, menyipitkan ke dua matanya. Guna memperjelas Indra penglihatan nya. Di depan sana, ia melihat keluarga nya. Sang Ayah dan Ibu terlihat tersenyum lembut padanya. Romi sang adik yang jarang menampilkan senyum lembut di wajah tampan nya. Kini terlihat begitu saja. Meski ada rasa bahagia, namun tidak menampik ada rasa nyeri di hati Dera.
"Kak! Sini!" Seruan keras dari Romi memanggil nya*.
*Dera berlari menembus Ilalang. Senyum di bibirnya semakin lebar. Kala kaki telah sampai di depan keluarga nya. Dera memeluk sang Ibu terlebih dahulu. Wanita kelahiran Mando itu mengusap perlahan punggung sang putri sulung. Sedangkan Sandy ikut mengusap puncak kepala sang putri.
"Dera, rindu Papa dan Bunda!" Ujar Dera semakin dalam membenamkan wajah nya*.
"*Kamipun merindukan mu sayang." Balas sang Ibunda tercinta dengan nada pelan.
"Hati-hati di sana. Kami senantiasa mencintai mu, De!" Ujar sang kepala keluarga kala usapannya di hentikan. Di gantikan dengan kecupan ringan di dahi Dera*.
*Amanda melepaskan pelukannya. Wajah mereka berubah menyendu. Tepukan di bahu membuat Dera membalikkan tubuhnya. Dan sedikit menengadah, mengingat adik tampan nya itu lebih tinggi dari dirinya.
"Maafkan Romi, Kak!" ujar Romi dengan nada lirih,"Romi memang suka menjahili Kakak. Karena Romi sayang Kakak. Maaf juga karena seperti nya Romi tidak bisa melindungi Kakak ke depan nya," lanjut nya membuat dahi Dera berkerut*.
"*Hei! Ada apa dengan mu? Ini seperti bukan dirimu? Dan di mana Sari?" Tanya Dera menatap sekitar. Tidak ia temukan adik bungsu nya.
Kala mata bulan sabit itu menoleh ke arah keluarga nya. Di sana sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Dera panik. Memanggil keluarga nya yang tiba-tiba menghilang*.
"Papa!"
"Bunda?"
"Romi*!"
Igauwan dengan tubuh bergetar membuat lelaki bertubuh kekar itu langsung menyentuh dahi sang istri. Panas! Dera demam.
"Sayang!" Seru Hiro panik mengguncang perlahan tubuh Dera.
Kelopak mata Dera terbuka dengan perlahan. Hiro mendesah pelan, apakah orang tua istri nya menghampiri mimpi nya. Apa yang di katakan oleh mereka pada sang istri. Sungguh! Hiro merasa resah dan gelisah.
"Kak?" seru Dera dengan nada serak nan dalam khas bangun tidur. Dera merasa tak percaya jika suami nya sudah berada di Jakarta lagi. Hiro tidak mengatakan kapan dirinya akan pulang.
Hiro turun perlahan dari rajang. Tangannya meraih gelas berisi air mineral. Sebelah tangan nya lagi membantu Dera duduk dan bersandar pada dasbor ranjang. Setelah merasa Dera nyaman dengan posisinya. Hiro menyodorkan bibir gelas pada bibir merah Dera, dengan perlahan-lahan wanita itu meneguk air mineral yang di sodorkan hingga tandas.
Hiro meletakan gelas pada tempat semula. Ibu jarinya menyeka bulir air yang bertengger di sudut bibir Dera dengan perlahan.
"Kapan Kakak sampai?" tanya Dera dengan nada berat.
Napas wanita ini tidak normal. Lantaran panas menyerang tubuh. Hiro mendekatkan tubuhnya pada Dera. Memeluk wanita nya dengan gerakan lambat dan lembut. Seolah kasar sedikit saja maka Istri tercinta nya kan hancur berkeping-keping. Dera dengan senang hati menerima perlakuan manis Hiro. Aroma maskulin menyeruak di Indra penciuman Dera. Tubuh bagian atas polos tanpa kain. Hanya celana jins yang melekat di bagian bawah. Menampakan otot-otot perkasa Hiro.
"Aku baru sampai di Rumah pukul satu dini hari. Maaf membuat mu khawatir." Tutur Hiro mengusap punggung belakang Dera yang basah di mandikan peluh.
"Kak!" seru Dera pelan.
Hiro melepaskan pelukannya pada Dera. Wanita itu menengadah menatap wajah tampan Hiro. Ah! Baru Dera sadari betapa tampannya pria ini. Hidup bagir nan tegak, bibir merah merekah seksi, alis mata tebal hitam berjajar rapi, bulu mata tak kalah tebal dan lentik, rahang tegas nan mempesona dan jangan lupakan netra coklat kelam tegas milik Hiro. Yang mampu menenggelamkan siapa saja pada pesonanya. Jika saja Hiro bukan Bos Mafia, maka sudah pasti akan banyak orang terjerat padanya. Dan pada kenyataannya banyak yang terjerat pada pesona dingin Bos Yakuza satu ini. Tanpa kata terkecuali.
Pesona yang begitu dalam di balut dengan CEO besar. Perusahaan yang berkembang pesat di Indonesia. Meski seorang Mafia, bukan berati Hiro pasrah pada satu tempat saja. Bagi Hiro, ia lebih suka bermain bursa saham dan buku. Dari pada pedang, darah dan tahta. Jika bukan karena obsesi Ibunya, Hiro lebih memilih menjadi pengusaha besar. Dari pada menjadi Bos besar.
"Apa sudah selesai mengagumi wajah tampan suami mu ini, Nyonya Yamato?" Goda Hiro memberikan gerlingan mata pada sang istri.
Sontak saja, Dera tersadar dengan keanehannya. Roma merah terlihat samar di wajahnya. Wanita cantik ini menunduk dalam rona. Seketika ia bleng. Pesona Hiro Yamato harus di waspadai. Harus!
Hiro terkekeh samar. Meski otak cerdas itu tengah kusut dengan kematian keluarga istri nya. Dan mayat serta bangkai mobil saja belum di temukan. Ia harus kembali ke Jakarta, bukan lantaran menyerah. Namun tidak ingin Dera curiga kepadanya. Jika boleh jujur, Hiro tau jikalau Dera mampu merasakan perasaan tak enak akan kehilangan.
***
Ketukan jari telunjuk ringan di atas meja kerja dan kerutan halus di dahi membuat Hiro begitu mempesona dan jantan. Yeko, berdiri tegak di sisi kanan Hiro.
"Apakah kita akan menghentikan pencarian ini, Bos?"
Hiro mengentikan kegiatannya. Mengerang keras. Sialan! Jika saja Kara bukanlah Ibu kandung nya. Sudah lama ia menebas kepala wanita cantik itu. Beruntung Kara adalah Ibu kandung nya. Wanita yang begitu terobsesi pada kekayaan dan kekuasaan. Terobsesi menjadi wanita hebat di mata Zeo Yamato. Lelaki yang sudah mengkhianati sang Ibu. Membuat wanita itu menggila.
Delapan tahun! Saat usia delapan tahun pertengkaran hebat antara Kara dan Zeo. Dapat ia dengar samar-samar betapa murkanya Zeo. Saat sang Ibu menghabis wanita yang di cintai nya. Dan juga anak! Ah! Anak. Sungguh menggelikan bukan? Ayahnya memiliki putra lain selain dirinya. Dan begitu di cintai melebihi dirinya.
Kara memaksakan nya berlatih beladiri di usia lima tahun. Tak jarang mengurung Hiro di dalam kandang buaya. Kala Hiro kecil kalah dalam latihan. Menangis dalam kegelapan malam, dan erangan Buaya lapar. Anak berumur lima tahun harus tanggung? Bukankah itu gila namanya?
Di umur enam tahun ia bahkan menguasai beladiri, menembak, memanah dan juga pengetahuan. Ia di paksa dan di asah. Tidak peduli apapun. Yang terpenting Hiro Yamato harus bisa lebih. Meski sudah berjuang keras, masih saja belum cukup di mata Kara.
Hanya karena Zeo, sang Ayah tidak memuji apa-apa saat Hiro memenangkan pertandingan. Bergulat dengan para anggota Mafia yang telah terlatih. Lucu! Saat itu terjadi Hiro harus merasakan sakitnya pecutan tanpa harus berteriak dan menangis. Saat itu umurnya baru tujuh tahun.
Yang paling membuat Hiro muak adalah kala sang Ibu berkata. Jika ia adalah anak keturunan Mafia. Keturunan sah dari Yamato. Lelaki Mafia Hebat dan tampan. Harus bisa seperti ayahnya. Harus bisa membuat Zeo meliriknya. Sayang! Zeo masih tidak melirik nya.
Sampai sang Ibu mencium bau keberadaan Shan Shan dan keluarga nya. Wanita gila itu menghabis Keluarga Wu. Tanpa sisa, dan berakhir berpisah dari Zeo. Dalam dunia Mafia tidak ada perceraian. Jika pun ada hanya dengan cara kematian. Zeo hanya pergi tanpa mau di temui oleh Kara. Sampai saat ini. Zeo tak pernah dan tak ingin bertemu dengan Kara maupun dirinya.
Dan Kara masih memaksa kan kehendak padanya. Sampai merenggut nyawa orang yang berharga bagi Dera. Sungguh! Mengerikan.
"Jangan hentikan perca—"
"Bos!" Seruan keras menghentikan laju perintah Hiro.
Wanita cantik itu terengah-engah kala sampai di depan meja kerja sang Bos.
"Bangkai Mobilnya di temukan. Dan sekarang sedang di indentifikasi." Ujar Clara di sela napas yang memburu.
Hiro langsung bangkit dari posisi duduknya."Cepat siapkan pesawat pribadiku!" Titah Hiro cepat melangkah meninggalkan ruangannya di ikuti oleh Yeko.
"Bos!" Panggil Clara cepat.
Hiro berhenti dan membalikan tubuhnya. Wanita cantik itu tersenyum haru."Sari selamat, ia di dapati di peluk erat oleh Ibu dan Ayahnya." Ujar Clara dengan air mata yang mengalir.
Desahan lega mengalun pelan. Setidaknya adik Dera masih hidup. Ini patut di syukuri.