
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....ππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ€π€
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
.
Mirabel tersenyum lebar, melihat dua orang yang di sekap dalam penjara bawah tanah. Vian memasang wajah dingin khas miliknya. Mirabel melangkah mendekati Leo. Ke dua tangan di borgol kaki di ikat kuat. Mata Leo nyalang menatap ke arah Mirabel. Wanita iblis satu ini harus mati di tangan nya. Apapun yang terjadi.
"Wah! Wah! Siapa yang menyangka kau datang sendiri pada kediaman ku," cibir Mirabel tajam,"Bagaimana kabar Hiroku?" lanjut nya.
Leo tersenyum miring."Aku ke sini hanya ingin membawa keponakan ku kembali pada keluarga nya," jawab Leo dingin.
Mirabel melirik Vian dari ujung ekor matanya. Wajah Vian masih datar dan dingin. Tidak ada raut wajah lain di sana.
"Putraku hanya akan bersama ku. Tapi kau tenang saja, Vian dan aku akan segera datang ke Jepang. Menyerang Yakuza, membuat Hiro berlutut di kakiku. Karena dia telah mencampakkan aku seperti sampah. Membunuh ke dua orang tuaku," tutur Mirabel pelan. Sebelum mendekatkan bibirnya ke daun telinga Leo,"Vian lah yang akan membunuh Dera dan Sean. Ke duanya akan mati di tangan Vian. Sebelum aku menghabisinya. Bukankah permainan ini mengasikan?" lanjut Mirabel dengan nada sangat pelan.
Ke dua mata Leo terbelalak mendengar bisikan Mirabel. Wanita itu menarik kembali wajahnya. Berdiri dengan bersidekap dada. Bibir tipis dengan lipstik merah maron tak mampu membuat wajah cantik nya untuk terlihat murahan. Wanita ini begitu anggun. Sayangnya, kemasan dan isinya berbanding terbalik. Kecantikan yang di dapat kan sangat lah sia-sia.
Mirabel membalik kan tubuh nya. Mendekati Vian, anak lelaki itu masih berdiri dengan pandangan mata menatap Adella yang menunduk dalam. Dahi Mirabel berkerut, sebelum menoleh kebelakang. Tidak! Vian tak boleh memiliki hati pada anak perempuan itu. Mirabel melangkah mendekati Adella.
"Kau berani nya melakukan pengkhianatan pada ku, huh!" Ujar Mirabel sembari berjongkok. Menarik keras rambut hitam legam panjang itu. Hingga pekikan keras terdengar. Wajah Adella mendongkrak, menatap langit-langit penjara nan kumuh. Bekas di wajah sebelah kanan nya terlihat.
"Inilah kenapa aku membenci gadis Indonesia. Berpura-pura lugu hanya untuk menggoda pria, huh! Kecil saja kau sudah menjadi wanita murahan!" Tarikan di rambut Adella kembali mengerang.
"Akkhh!!" Adella berteriak keras. Ia dapat rasakan rambut nya rontok. Dengan kulit kepala belakang terasa sangat perih.
Mirabel kembali melirik Vian. Raut wajah anak itu berubah beberapa detik sebelum kembali dingin. Mirabel memaki dalam hati melihat raut wajah Vian. Anak itu menyukai anak perempuan jelek itu. Leo mengamati keadaan sesekali menatap raut wajah Vian. Pria ini percaya pada darah Yakuza yang mengalir pada diri Vian. Anak itu akan tau mana yang benar dan yang salah. Siapa sejatinya dirinya. Meski membutuhkan banyak waktu.
***
Dera mengusap perlahan bibir Laura yang ada di gendongan nya. Bayi cantik itu selesai menyusui. Masih terjaga di dalam gendongan sang Ibu. Manik mata hitam Dera menatap lambat wajah mungil sang putri.
Tindakan yang ia lakukan kemarin cukup gila. Ia bahkan tak tau bagaimana bisa ia melakukan hal seperti itu. Ia bukanlah wanita yang kejam, untuk pertama kalinya amarah mampu membakar hati nuraninya. Rasa bersalah akan kematian ke dua orang tua berserta sang adik membuat Dera tak mampu menahan keinginan membunuh. Bahkan saat malam menyapa, ke dua tangannya masih bergetar hebat. Setelah sampai di rumah besar, ia berlari cepat menuju kamar mandi bawah. Menumpahkan isi perutnya. Tubuh yang basah dengan cairan kental nan amis membuat perut bergejolak.
"Mama!" panggilan di ambang pintu membuyar kan lamunan Dera.
Wanita itu menoleh dan tersenyum. Dua orang baby sister di sofa hanya menjadi penonton saja. Launa sudah terlelap di box bayi.
"Ayo, kesini!" titah Dera.
Sean melangkah mendekati Dera dengan wajah imut. Anak ini membuang jauh pemikiran pelik yang berkeliaran di otak cerdasnya. Baginya, bertingkah sok imut itu sangat di butuhkan oleh sang Ibu.
Salah satu Baby Sister mendekati Dera. Mengulurkan tangannya, ia tau sang nyonya ingin menghabiskan waktu bersama putra sulung keluarga Yakuza ini. Dera memberikan Laura pada sang baby sister. Sebelum mengusap pelan puncak kepala Sean.
"Mama! Malam ini tidur di kamar Sean ya," pintanya dengan nada dan gaya imut.
Dera tersenyum dan mengangguk."Ayo, ke kamar!" Ujar Dera menurunkan tangannya dari puncak kepala Sean.
Ke duanya melangkah keluar dari kamar si kembar. Melangkah menuju tangga, sembari berbincang hal-hal kecil. Tak butuh waktu lama untuk sampai di kamar Sean. Meski Sean dapat merasakan kegundahan hati sang Ibu. Anak lelaki tampan ini berusaha untuk memberikan ketenangan. Ke duanya merebahkan diri di atas ranjang.
"Mama peluk!" Ujar Sean meringsut masuk ke dalam pelukan Dera.
Dera memeluk Sean dengan erat. Sangat erat. Hatinya perih kala ia membayangkan bagaimana hidup putra pertama nya di luar sana. Apakah Mirabel memperlakukan anaknya dengan baik. Apakah Putranya baik-baik saja. Apakah anaknya makan dengan teratur dan tubuh dengan baik.
"Mama!" panggil Sean menengadah kepalanya.
"Hem!"
"Apa ada masalah?"
"Hah? Masalah apa?" kilah Dera dengan senyum lebar.
"Mama dan Papa terlihat aneh," jawab Sean pelan.
Dera diam sejenak. Apakah ia harus mengatakan nya pada Sean. Pelukan di tubuh Sean mengendur. Sean melepaskan pelukannya pada sang Ibu. Merubah posisi nya menjadi duduk bersila di atas tempat tidur. Di ikuti oleh Dera. Seperti nya sang Putra memang tak bisa di bohongi.
Dera menghembuskan napas pendek. Sebelum meraih tangan kanan Sean. Mengusap pelan punggung tangan sang putra.
"Baiklah. Mama akan cerita kan, dengan satu syarat. Jangan ada yang di potong dengarkan dengan seksama sampai selesai." Ujar Dera sembari menatap lekat ke dua manik mata indah sang putra.
Kepala Sean mengangguk cepat."Baik Ma!"
Dera menarik napas panjang sebelum menghembuskan nya perlahan. Ia akan menceritakan kisah yang cukup pelik ini kembali. Semoga Sean dapat mengerti dan memahami. Dera berpikir putranya hanyalah anak kecil pada umumnya. Wanita itu tidak dapat melihat sisi lain dari Sean. Anak ini lebih dewasa dari pada yang di pikir kan orang-orang.
Dera mulai menceritakan kejadian yang telah lama terjadi. Tanpa terlewatkan satu pun. Sean mendengar dengan baik.
***
Pergerakan rapi, beberapa orang berada di atas mobil memantau pergerakan. Team intelijen Yakuza telah menerbangkan kamera pengawas berbentuk Lalat. Tiga puluh Kamera mewah super canggih ini di terbangkan dan di pantau. Semua anak buah yang turun mengenakan earphone di satu sisi telinga mereka. Untuk mereka berkomunikasi. Jangan lupakan sniper yang di sebarkan di beberapa titik. Pohon-pohon yang menjulang di luar rumah besar Dragon sangat berguna sebagai pengawasan.
"Penjagaan di gedung barat terlihat lebih ketat Bos!" seru pria yang menatap monitor.
Kamera perekam berbentuk lalat itu terbang memasuki celah kecil besi pintu. Resolusi suara bahkan dapat di tangkap dengan jelas.
"Cari keberadaan pasti untuk Leo dan putraku!" Titah Hiro menekan pelan permukaan earphone di telinga kanannya.
"Baik Bos!"
Hiro dan Yeko melangkah perlahan. Salju deras, Hiro memberikan kode pada bawahannya untuk pecah menjadi dua group.
"Kalian habisi orang-orang yang ada di rumah besar." Titah Hiro dengan mata coklat dingin menunjuk arah rumah besar.
"Laksakan Bos!"
Seru mereka serentak. Sebelum melangkah dengan penuh perhitungan. Sedangkan Yeko berkomunikasi dengan para snipers yang tersebar mengelilingi rumah besar. Hiro melangkah ringan. Mata coklat kelam itu menajam menatap gedung-gedung yang tersebar di dalam hutan Pinus.
Ia akan mengunakan hati untuk menemukan sang Putra."Yeko!" panggil Hiro.
Yeko menoleh."Selamatkan Leo di penjara bawah tanah. Untuk Putraku, aku akan mengurusnya!" titah Hiro.
"Tapββ"
"Laksanakan!" potong Hiro cepat.
"Baik, Bos!" pada akhirnya Yeko mengalah. Suara mereda di earphone masing-masing. Kala keberadaan orang-orang yang mereka cari di ketahui.
Laser merah menyala di beberapa titik. Kala bunyi tembakan nyaring. Teriakan dan bunyi pecah terdengar keras. Hiro menyelinap sesekali melancarkan serangan. Timah panas menggema membawa keributan. Cairan merah terjibrat ke banyak tempat.
"Penyusup!"
"Penyusup!"
"Lindungi Bos!"
Door!
Akkh!!
Door!!
Sangat gaduh. Hiro melangkah menaiki satu persatu tangga ruangan atas. Di mana Vian duduk di kuris membelakangi pintu masuk.
Kreet!!
Vian tak menoleh kebelakang. Ia tau, anak itu hanya menatap lautan darah dan pekikan menggema di luar sana. Mirabel terlihat berlari dengan pengikut nya di lorong rahasia. Wanita gila itu bahkan lupa dengan Vian.
"Kau datang?" seru Vian sebelum kursi yang ia duduki berputar.
DEG!
DEG!
DEG!
Debaran rasa tak mampu berbohong. Wajah, mata dan cara tatapan itu miliknya. Milik Hiro Yamato. Tatapan dingin dan kelam.
"Putraku!" nada yang di keluarkan oleh Hiro bergetar.
Vian menyungging kan senyum miring."Selamat datang pada kematian Papa!" Serunya menyodorkan pistol pada sang Ayah.
Hiro tercekat. Sebenci itukah sang putra pada dirinya? Tatapan Hiro menyendu, ia ingin merangkul tubuh kecil sang Putra. Seperti ia merangkul Sean putra ke duanya. Ia juga ingin bermusuhan dengan anak ini untuk merebut perhatian Dera.
"Vββvian!" panggil Hiro untuk pertama kalinya. Bibirnya bergetar air matanya meleleh begitu saja.
Vian diam. Anak ini menatap dingin Hiro. Kenapa baru sekarang! Kenapa baru sekarang Hiro tau akan dirinya? Kenapa? Hatinya telah terlalu letih. Bertahan dan bertahan. Manik mata coklat itu bergerak. Meski wajah masih terlihat datar dan dingin.
.
.
.
.
Bersambung......
Hem Hem...ππππ³tegang......
Jangan bilang dikit. karena ini udah lebih dari biasanya!!!πππ
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....ππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ€π€
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???