Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 28



Mohon Vote, Like dan Komentar di akhir cerita All!



.


.


Manik mata coklat dingin masih menatap lekat pintu kamar mandi, yang kini tertutup rapat. Menanti gadis yang beberapa jam lalu menjadi Istri nya. Menyandang marga Yamato di belakang namanya. Bibir merah merekah itu tersenyum lembut. Tuxedo putih gading telah di ganti dengan baju tidur dari dasar sutra lembut. Raut wajah yang selalu dingin, dengan kening mengkerut tak terlihat. Bola mata coklat itu terlihat begitu indah dengan cahaya kebahagiaan. Dan penantian berisikan rasa dan harapan terindah. Keinginan yang di rajut dalam ikatan yang tak ingin di putuskan dengan mudah.


Sejuta harapan keindahan yang ia impikan. Keinginan yang tak bisa ia dapatkan jikalau bersama dengan status yang sama.  Kekuatan, kekuasaan dan tahta tidak selalu mampu menghasilkan kebahagiaan. Hiro Yamato, belum pernah merasa sebahagia ini. Merasakan perasaan berdebar hanya karena sebuah rasa.


Jika di dalam kamar sang Suami menunggu dengan perasaan yang berbunga. Maka di dalam kamar mandi mewah itu. Sang mempelai wanita terlihat gelisah. Wajah yang sempat di tumpuk dengan make up telah di bersihkan. Gaun pengantin mewah, telah berganti dengan baju yang sama dengan sang mempelai pria.


Jika boleh jujur pada diri sendiri. Dera masih belum siap. Ia belum siap melayani Hiro. Atau apapun namanya ke depannya. Debaran yang di hasil kan bukanlah debaran asmara. Namun debaran takut! Ia takut salah bertindak membuat darah tumpah hanya karena amarah Hiro.


"Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Dera menatap pantulan wajah nya di cermin besar kamar mandi.


Helaan napas frustasi mengalun samar. Sudah tiga puluh menit ia berada di dalam kamar mandi. Selesai dengan ritual mandi, namun belum selesai dengan kerisauan hati. Melihat bagaimana wajah bahagia ke dua orang tuanya. Dan juga bagaimana senangnya adik-adik nya. Membuat Dera tak bisa mengatakan tidak pada mereka. Mengatakan jika ia tak ingin menikah dengan Hiro. Mengatakan siapa Hiro Yamato sebenarnya.


Sungguh. Dera tak menyangka jika Hiro mampu mencuri hati keluarga nya dengan mudah. Wajah kaku dengan senyum evil tak terlihat di matanya, di kala Bos Mafia itu bersama keluarga nya. Bahkan lelaki itu terlihat nyaris normal. Seperti orang-orang pada umumnya. Bukan seorang Bos Mafia yang ganas dan dingin. Ekspresi wajahnya berubah begitu cepat. Persekian detik, Hiro menjadi lelaki yang berbeda. Nyaris  Dera berpikir jika Hiro memilih dua kepribadian dalam satu tubuh. Kehangatan yang tak terlihat, senyum ramah yang tak tampak. Terlihat begitu alami di mata Dera.


"Ayo, De! Berpikir." Ujarnya dengan ke dua telapak tangan membingkai ke dua sisi wajah.


**TOK !


TOK** !


Dua ketukan di daun pintu sontak membuat Dera panik. Menoleh ke arah pintu kayu, mata sipit itu membesar. Wajah nya terlihat begitu kaku.


"De!" panggil Hiro dengan suara beratnya,"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Hiro cukup keras. Tak dapat menampik rasa khawatir yang ikut di sela nada yang di hempas kan.


"Tidak! Aku tidak apa-apa Kak! Sebentar lagi aku keluar," teriak Dera keras.


Meski panik gadis ini tidak mungkin tidak menjawab pertanyaan Hiro. Dengan langkah pelan penuh keraguan. Dera mendekati pintu kayu, memutar engsel pintu. Membuka nya perlahan. Bibir bawahnya di gigit pelan. Takut-takut Hiro melakukan hal aneh padanya.


Tunggu! Hal aneh? Bukan kah itu wajar? Mengingat status nya dan Hiro. Bukan dua orang asing lagi. Namun suami-isteri, apa salahnya di sini? Sudahlah. Tidak perlu di bahas lagi. Karena gadis ini tengah gugup sekarang.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Hiro dengan raut wajah khawatir.


Wajah istri nya terlihat aneh. Dera hanya menampilkan senyum di paksakan. Ia menggeleng pelan, menjawab pertanyaan yang di lemparkan padanya.


Dera menunduk perlahan. Membuat Hiro merasa gemas saja. Tangan Hiro menarik Dera perlahan masuk ke dalam pelukannya. Detak jantung dengan irama cinta mampu masuk ke dalam Indra dengar Dera. Aroma maskulin Hiro Menyeruak masuk memenuhi rongga paru-paru Dera.


"Aku!"


"Aku!"


"Kau duluan," ujarnya dengan lembut.


Dera menengadah melihat wajah sang suami."Aku belum siap." Tuturnya pelan sebelum kembali membenamkan wajah nya yang memerah ke dalam dada bidang Hiro.


Tawa Hiro mengalun keras. Hatinya tergelitik mendengar perkataan Dera. Tawa yang hadir semakin membuat wajah merah itu terbenam sempurna. Ke dua tangan Dera memeluk erat pinggang Hiro.


"Apa kau lama di dalam kamar mandi hanya karena ini?" seru Hiro setelah tawanya mereda, Hiro menggoda Hiro mampu membuat jantung Dera menggila. Tanpa jawaban Dera malah mencubit pinggang Hiro. Membuat Lelaki itu menggaduh pelan.


***


"Bagaimana makanannya Nak Hiro?" tanya Amanda dengan nada pelan menatap wajah menantu pertama nya.


Sontak saja seluruh orang yang ada di meja makan langsung menoleh ke arah Hiro. Lelaki tampan itu meletakkan sendok yang di genggaman tangannya di atas piring.


"Enak Bun! Masakan Bunda dan Dera sungguh sangat enak." Puji Hiro tak lupa mengulas senyum lembut.


Wajah tua itu terlihat sumringah. Sedangkan Ali, Ayah dari Dera hanya tersenyum lebar mendengar pujian menantunya untuk sang istri dan sang putri.


Masakan sang istri memang sangat enak. Amanda begitu hebat dalam hal masak memasak. Dan itu menurun pada sang putri.


"Ayo tambah lagi, Nak!" Tutur Amanda meletakan rendang di atas piring Hiro.


Bos Mafia itu mengangguk dan menyuapi makan yang di letakan di piring nya ke dalam mulut. Mengunyah perlahan, membuat Dera semakin merasa aneh. Melihat ekspresi wajah Hiro yang polos dan jujur. Tidak ada topeng yang ia pakai.


"Kak Hiro! Kenapa Kakak mu pada Kak ku yang jelek ini?" tutur Romi mampu membuat Dera tersedak dengan penghinaan adik lelaki nya.


Sandy dan Amanda hanya menggeleng sedangkan Sari anak ketiga dari Sandy-Amanda hanya menggeleng kan kepalanya pelan. Ia tau, Kakak lelaki nya itu sungguh suka membuat Dera kesal.


Hiro mengulum senyum. Sedangkan Dera mendelik tajam pada Romi. Adik yang berjarak lima tahun di bawahnya itu terlihat biasa saja. Tidak ada ekspresi selain ekspresi menyerigai khas nya. Romi Sandy memang lelaki yang gagah dengan kulit sawo matang. Mata sipit, bulu mata tebal lentik, hidung mancung. Membuat ia terlihat begitu jantan. Terlihat tampan meski tidak memiliki kulit yang putih.


"Kakakmu adalah gadis yang sangat baik dan juga hebat. Soal cantik dan tidak itu bukanlah acuan," tutur Hiro,"Aku tau kau pun pasti tidak menilai wanita dengan apakah dia cantik atau tidak bukan?" ujar Hiro di akhiri dengan pertanyaan.


Romi yang memberikan senyum iblis pada sang kakak perempuan nya. Kini menoleh ke arah Kakak Iparnya. Romi hanya mengangguk pelan, sebenarnya meski sang kakak tidak di kategori kan cantik. Namun di mata Romi, kakaknya yang paling cantik ke dua setelah Ibunya. Dan juga adik terakhir nya. Namun ia memang suka membuat sang Kakak kesal.


"Tentu, aku tidak melihat perempuan dari wajah nya," jawaban nya dengan nada serak basah,"Tapi jika itu wanita selain kakakku," lanjut nya mempu menciptakan tawa di meja makan.


Dera merenggut kesal. Mendengar jawaban Romi, adik keduanya itu benar-benar meledeknya di depan banyak orang. Bahkan Clara juga ikut tertawa. Sedangkan Yeko hanya tersenyum tipis. Meninggalkan ekspresi dingin khas nya.