Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 53 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


Mobil melaju membelah jalan Osaka, Jepang. Alunan lagu di radio menjadi pengisi di sela kekosongan. Sesekali Sean melirik sang ayah. Pria gagah itu mengemudi santai dengan raut wajah yang begitu datar. Dua manusia dengan sifat yang sama. Seolah ada dua kepribadian di dalam tubuh. Aura dingin, terkesan santai. Akan tetapi, seluruh panca Indra terbuka. Di luar rumah besar Yakuza, rasa awas lebih mendominasi.


"Hari Sabtu nanti apakah Papa ada jadwal di luar?" Sean membuka pembicaraan.


Hiro menoleh sebentar. Sebelum kembali menatap jalanan yang ramai lancar.


"Seperti nya kosong. Ada sesuatu yang ingin kau lakukan?"


"Sekolah mengadakan acara lagi. Dan yah, seperti biasanya. Orang tua di wajib kan hadir. Papa tau sendiri, jika Mama tidak akan bisa datang ke acara seperti itu. Dan itu karena siapa!" cibir Sean di akhir kata.


"Papa akan menghadirinya. Kau jangan khawatir jagoan! Tapi, kau jangan lupa saat libur akhir Minggu ini. Kau ada kegiatan di luar, sebisa mungkin jangan sampai Mama mu tau!"


Sean mengangguk pelan, sebelum membuang tatapan ke luar jendela mobil. Seperti bisanya, ia akan mendapatkan pelatihan lagi. Dan setiap pelatihan yang ia dapatkan tentu saja bukan hal yang mudah untuk tetap bertahan. Tidak ada kata lemah di dalam silsilah keluarga Yakuza. Mereka yang mengalir darah Yakuza adalah orang-orang yang sangat kuat dan tangguh. Sean Yamato sempat berpikir bagaimana caranya Hiro Yamato bisa melakukan hal seperti itu di umur yang lebih muda darinya. Bahakan sudah menguasai semua nya di usia kurang dari delapan tahun.


Beberapa kali ia berhenti menatap ke depan. Melihat betapa jauh dan panjang nya perjalanan yang akan ia lalui. Menjadi seorang penerus Yakuza yang benar-benar kuat dan tangguh. Meski sebenarnya, ia tak harus menjadi penerus Yakuza. Karena di sini keturunan Yakuza bukan hanya ada sang Ayah. Ada Leo Yamato, anak dari sang Paman juga bisa menjadi penerus Yakuza. Akan tetapi melihat bagaimana ketidak inginan Leo pada dunia gelap. Membuat Sean mau tak mau harus mengemban tanggung jawab besar. Semua nya tidaklah mudah.


"Kau takut?" seruan dari sang ayah membuat Sean kembali menoleh ke samping. Melihat wajah datar sang ayah.


"Entah lah. Aku sendiri tidak tau apakah aku takut, atau hanya khawatir?" Sean menjawab di sela senyum miring.


"Jika pun kau takut, kau tidak bisa mundur Sean. Kau satu-satunya harapan untuk tetap membuat semua nya seimbang!"


"Aku tau. Hanya saja, Mama——"


"Serahkan itu pada Papa. Di sini kau hanya perlu menjadi lebih kuat Sean. Tidak masalah jika nanti kau ingin menjadi pengusaha atau apapun. Karena yang penting di sini, kau akan tetap memegang kekuasaan Yakuza!"


"Aku akan melakukan nya dengan baik Pap! Hanya satu tahun bukan?"


Dari sudut matanya Hiro menatap raut wajah Sean. Ia mengangguk pelan. Sebelum berbelok sedikit memutar sebelum memelankan gas. Mobil mereka berhenti di depan gedung Sekolah Sean.


"Nanti Paman Yeko yang akan menjemput mu," tutur Hiro kala melihat sang putra meraih kotak bekal yang memang selalu di sediakan oleh sang istri.


"Hem!" Hanya deheman yang keluar dari mulut Sean. Anak itu turun dari mobil tanpa kata lagi.


Hiro hanya dapat menatap setiap gerak gerik dari sang putra.


"Harusnya, kau tidak perlu lahir di kehidupan yang seperti ini Sean. Maaf, jika ke depan nya Papa akan membuat mu lebih besar merasakan sakit lagi!" Lirih Hiro meremas kasar stir mobil.


***


Aroma kopi menguar memenuhi ruang kerja. Uap Kopi mengepul tergeletak di atas meja. Ke dua nya hanya diam setelah pembicaraan singkat.


"Berapa lama kau akan di sini?" tanya pria paruh baya ini dengan mata menatap lekat sang putra.


"Entahlah!" Serunya menenggelamkan punggung belakang nya di sandaran sofa empuk berharga fantastis mampu membuat dompet menjerit.


"Tidak kah kau ingin membangun kehidupan mu sendiri, Leo!"


"Aku maunya juga begitu Pa!"


"Lalu apa yang menghentikan mu begitu? Mulailah hal yang baru Leo!"


"Andaikan semudah itu!"


Zeo hanya mengulum senyum melihat bagaimana ekspresi sang putra.


"Kau ingin menjadi penerus Yakuza?"


"Tidak! Aku tidak ingin menjadi penerus Yakuza. Di sini masih ada cucu mu, Pa! Aku hanya ingin hidup bebas saja."


"Bebas melihat Kakak Ipar mu, begitu maksud mu bukan?" tebak Zeo membuat Leo hanya mampu mendesah kesal.


"Segitu terlihat nya kah?"


"Tentu. Hanya Hiro saja yang bodoh. Yang tidak dapat melihat bagaimana adik nya melihat istrinya. Aku tidak masalah kalian mau jatuh cinta pada siapa. Tapi, di sini dia adalah milik kakak mu. Kakak iparmu sendiri. Kau yang akan tersakiti Leo. Lupakan lah dia, cobalah membuka hati pada wanita yang lain," nasehat Zeo.


Ke dua kelopak sempit itu terlihat kala, Leo menutup mata. Apakah semudah itu membuka sebuah hati dan mengubur sebuah rasa? Seperti nya tidak begitu.


"Terdengar mudah Pa!" seru Leo pelan.


Zeo hanya tersenyum kecut. Pria tua itu meraih kuping Cup berisi Kopi miliknya. Meniup permukaan sebelum menyesapnya perlahan.


"Aku tidak ingin Hiro sadar suatu saat nanti Leo. Dan hubungan kalian akan hancur. Aku tidak ingin ke dua putraku begitu," tutur Zeo lirih.


Leo membuka ke dua kelopak matanya. Melihat wajah sang ayah dengan seksama.


"Bukan kah aku seperti ini juga karena mu, Pa! Kau bahkan tidak mampu melupakan Mama ku. Tapi berbicara seolah-olah mampu melakukan hal yang sama," cibir Leo.


Zeo terkekeh pelan. Benar juga apa yang di katakan oleh sang putra. Ia bahkan tidak mampu lepas dari bayangan wanita yang sangat ia cintai. Tapi, malah dengan mudahnya meminta sang putra melakukan hal yang sama. Zeo hanya ingin semua nya baik-baik saja. Banyak musuh dari luar yang ingin merobohkan anggota Yakuza. Namun, kehancuran dari dalam sangat menakutkan. Zeo tidak ingin, Leo menghancurkan keluarga nya sendiri. Saat perasaan tidak lagi mampu di tahan.


"Bagaimana kabar Sari?"


"Sari?" ulang Leo pelan.


"Ya, bukankah kau sempat dekat dengan adik bungsu Dera?"


"Begitu tenyata." Zeo mengangguk pelan."Nomi memiliki banyak teman di sini. Ia bilang ingin kau melakukan kencan buta. Setidaknya, mencoba terlebih dahulu. Bagaimana pun hasilnya nanti. Papa tidak akan ikut campur, Leo. Karena ini hidup mu dan hati mu. Papa hanya ingin melihat usahamu," lanjut nya.


Leo hanya memutar ke dua bola matanya malas. Pada akhirnya, ia datang jauh-jauh dari Jepang ke Belanda hanya untuk kencan buta. Sial sekali.


***


Ke dua mata wanita cantik itu terlihat bengkak. Menatap layar ponsel mahal milik nya. Di mana di sana ada pesan terakhir kali di kirim oleh pria yang ia cintai. Bayangan, bertahun-tahun ia menyimpan sebuah rasa. Namun saat ia mengungkap rasa yang bersarang di hatinya. Malah kekecewaan yang ia dapatkan. Pria itu menolak nya dengan dingin.


Tok!


Tok!


"Masuk!" Seru Jihan meletakan asal ponsel nya dia tas kasur.


Pintu kayu terbuka perlahan. Senyum lembut dari sang ibu langsung menyapa manik mata coklat milik Jihan Amelia.


"Sayang! Apakah masih merasa tidak enak badan?" Seru sang ibu masuk semakin dalam.


Wanita paruh baya itu duduk di pinggir ranjang. Mengusap pelan rambut coklat sang putri. Wanita yang telah melahirkan wanita cantik ini sangat tau jika sang putri bukan tidak enak badan. Akan tetapi sedang dalam pertengkaran.


"Mama dengar Bian ke Jepang, dari Mamanya."


Jihan sontak mengangkat wajahnya. Ia baru tau jika pria itu ke Jepang. Ia hanya berpamitan lewat pesan saja. Dengan sangat singkat tanpa mengatakan kemana ia pergi. Pesan yang begitu banyak ia kirimkan tidak satupun mendapatkan balasan. Beberapa puluhan panggilan pria itu abaikan.


"Jepang!" ulangnya pelan.


Tidak. Bian tidak boleh ke sana. Dan tidak boleh sendirian di sana. Bagaimana pun, Jihan tau di sana lah Dera berada. Wanita cantik ini tidak sengaja melihat wanita itu saat perjalanan bisnis ke sana. Meskipun Jepang luas, wanita satu ini yakin pertemuan akan terjadi. Dan Jihan tidak ingin, Bian kembali menatap wanita jelek itu. Tidak akan pernah.


Sedangkan di negara lain, yang di benci tengah tertidur dengan pulas.Derap langkah kaki terdengar sangat pelan mendekati ranjang. Manik mata coklat kelam itu terlihat menatap intens wajah sang istri. Dera tertidur dengan sangat pulas, waktu menunjukkan pukul dua belas tengah malam. Pria ini meminta agar Dera tidur lebih awal tidak menunggu nya pulang dari tempat latihan bersama Sean. Tempat tidur memberat, kala Hiro duduk di pinggir ranjang. Jari jemari, Hiro menarik anak rambut nakal yang menutup sebagian wajah sang istri.


Tidak ada kata keluar dari bibir Hiro. Pria ini hanya menatap wajah sang istri, sebelum merubah posisi. Merebahkan tubuhnya di samping Dera. Mengecup perlahan, dahi sang istri. Telapak tangan besar milik nya mengusap perlahan perut datar sang istri. Segaris senyum tercetak di wajah tampan nya. Untuk ke dua kalinya, Hiro akan menjadi seorang ayah. Bos besar Yakuza ini akan melakukan apapun hanya untuk keluarga nya. Dan untuk wanita satu ini. Meskipun ia harus mengorbankan hidupnya. Hanya untuk kebahagiaan keluarga nya.


Hiro menarik tubuh sang istri lebih dekat. Memeluk nya dengan perlahan. Dapat di dengar erangan terganggu dari sang istri. Hiro terkekeh ringan kala mendengar erangan serak sang istri. Telapak tangan kirinya mengusap perlahan punggung belakang sang istri. Menepuk-nepuk pelan, sebelum ia ikut menajamkan ke dua matanya. Hiro kembali melayang kan kecupan di dahi sang istri. Perlahan kelopak matanya menyelimuti manik mata coklat kelam miliknya.


Ruangan kamar utama di rumah besar mulai tenang. Hanya ada hembusan napas teratur dari ke duanya. Hiro Yamato merasa sangat beruntung kali ini. Karena anak kedua mereka saat ini sangat damai. Tanpa banyak keluhan seperti ibu hamil biasanya. Tidak adanya keributan karena sang istri muntah di pagi hari. Atau acara menggindam yang ekstrim.


***


"Berapa lama kalian berteman?" tanya Delta terlihat penasaran pada ke dua teman nya.


David menoleh menatap Sean. Berapa lama ya mereka saling mengenal dan berteman mungkin kurang lebih lima tahun. Tapi lebih dekat baru tiga tahun. Setidaknya itulah yang melintas di otak David.


"Lima tahun, benarkan Sean?" Tanya David mengalungkan tangannya di leher Sean.


"Turunkan tangan mu!" titah Sean dengan wajah dingin.


David hanya meringis melihat wajah dingin Sean. Sebelum menurunkan tangan nya. Delta terkekeh melihat kelakuanku David. Willem hanya menjadi pendengar yang baik saja.


"Seberapa lama berteman apakah itu penting?" tanya Sean menatap anak perempuan yang duduk di depan nya.


Delta mengangguk cepat."Tentu saja penting. Karena itu akan membuat ikatan lebih kuat dan saling mengenal."


"Aku pikir itu tidaklah penting, Del! Karena yang terpenting adalah seberapa setia teman tersebut. Percuma berteman sepuluh tahun lamanya jika tidak ada kata setia kawan di dalamnya!" timpal Willem.


Seluruh pasang mata menatap Willem dengan pandangan berbeda-beda. Sebelum tepukan tangan dari David dan Delta mengalun. Sedangkan Sean hanya tersenyum tipis mendengar jawaban dari teman barunya ini.


"Kau hebat juga berkata-kata, Will!" puji David tersenyum lebar. Memperlihatkan deretan gigi putih rapinya.


"Aku ingin memiliki hubungan pertemanan yang kokoh seperti itu!" seru Delta semangat.


"Kalau begitu bagaimana kita menjadi kan kelompok ini menjadi persahabatan sampai kita tua nanti?" Usul David menatap satu persatu teman-teman nya.


Mereka semua saling lirik sebelum tersenyum mengangguk bersama. Kepolosan yang di ciptakan oleh ke empat nya. Tawa mengalun dari ke empat-empatnya.


"Dan untuk Delta. Kami bertiga akan menjadi kakak untuk mu. Melindungi mu, karena kau satu-satunya anak perempuan di sini," seru David membuat Dalta salah tingkah.


"Aku setuju!" seru Willem ikut serta.


"Aku tak masalah. Asalkan tidak ada yang namanya romansa di pertemanan kita!" Pada akhirnya Sean angkat bicara.


Delta menatap satu persatu wajah trio tampan itu. Tersenyum lebar.


"Tentu saja. Aku akan menganggap kalian bertiga seperti anak perempuan lain nya," canda Delta membuat ke-tiga nya memutar bola mata malas.


Kembali pembicaraan ke empat nya meluncur pada banyak tema. Delta dengan ke ramahan dan senyum lembut. Setidaknya, anak perempuan satu ini tidak merepotkan seperti anak-anak perempuan yang lain. Mereka berempat punya harapan besar untuk hubungan pertemanan mereka. Tidak ada yang tau, bagaimana alur yang akan berjalan. Entah bagaimana persahabatan mereka ke depannya.


.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???