
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Bola mata Sean berotasi malas, sedikit delik kan tajam pada mata nakal yang terang-terangan menggoda sang ayah. Pria Yamato yang kini menggandeng tangan sang putra diam tanpa mengopen baik kediapan nakal atau senyum menggoda dari para wanita. Hari Sabtu kali ini adalah hari di mana di sekolah Sean melakukan beberapa perlombaan. Mengeratkan hubungan antara anak dan ke dua orang tua.
"Jaga mata mu, Pa!" Peringat Sean di sela langkah ke duanya menuju lapangan olah raga di pagi hari.
Hiro terkekeh pelan mendengar kata yang di lontarkan oleh sang putra. Sebegitu menyebalkan kah, pandangan para wanita padanya? Saat ia masih remaja sampai duduk di bangku Universitas. Pemandangan yang sama sering kali ia jumpai. Bahkan lebih dari ini pun pernah. Yang terpenting di sini adalah pria satu ini tidak akan pernah menanggapi godaan yang datang.
Setiap hubungan selalu ada orang ketiga. Wanita yang mengais celah di pintu rumah tangga. Mencoba merenggangkan hubungan yang sah. Mencoba masuk di antara dua orang yang memiliki status yang lebih sah di mata agama dan hukum. Ujian rumah tangga, tidak lah seringan kapas. Selalu ada ujian yang harus di hadapi. Dan pria ini, Hiro Yamato tidak akan pernah memberikan celah barang seinci pun pada orang ketiga.
Bukan kah, masuk nya orang ketiga dalam rumah tangga adalah di saat tuan rumah lah yang membukakan pintu? Hingga mereka bisa masuk. Menginjak dan bahkan berkuasa.
"Kenapa kau begitu takut dengan pandangan wanita itu pada Ayahmu ini, Son?" pada akhirnya Hiro menanyakan hal tersebut pada sang putra.
Meskipun Hiro berlagak tak tau siapa yang membuat para wanita yang terang-terangan menggoda nya menghilang di waktu malam. Pria ini tau dengan sangat jelas, sang putra lah yang melakukan hal seperti itu. Menghabisi dan menghilangkan jejak tanpa celah. Bermain bersih. Begitu lah Sean Yamato. Inilah salah satu alasan, mengapa Yeko terus merasa ngeri dengan sikap Sean. Meskipun, Sean bersikap begitu lucu dan polos kala di hadapan Dera. Akan tetapi, aura Monster terpancar kala wajah Dera Sandya lengah. Sungguh-sungguh mengerikan jika bisa melihat wajah lain pada Sean Yamato. Ini, tentu saja di akui oleh Hiro. Putranya, memiliki sifat alami seorang Yakuza.
Sean mengehentikan langkah kakinya. Menengadah melihat sang ayah. Wajah dingin dan pandangan yang kelam bak lubuk yang menenggelamkan.
"Berkaca pada Ayah mu, Pa! Beliau menikahi wanita lain di saat telah menikah dengan Nenek sihir itu. Setidaknya, saat gen perselingkuhan mengalir di darah mu. Kau bisa saja melakukan hal yang sama. Aku hanya mengatasi, hal yang tidak berguna itu. Aku tidak bisa melihat Mama ku tersakiti karena mu. Karena Mama sudah cukup tersakiti kala kehilangan keluarganya," papar Sean begitu lugas.
Hiro membeku. Sejauh itu kah pemikiran dan ketakutan Sean pada nya. Hiro tidak mampu menampik semua yang Sean paparkan. Karena semuanya adalah fakta. Dulu, Ia juga sangat membenci Zeo Yamato. Karena menduakan Kara, sampai wanita itu menggila. Setiap Kara menggila maka ia adalah tempat pelampiasan yang pas untuk Kara. Wanita itu akan memukulinya seperti orang gila. Sebelum menghancurkan diri dengan minuman beralkohol. Rasa sakit di kulit nya masih terasa saat mengingat bagaimana Kara menjabuk dan memukulnya.
Semua nya karena Zeo. Andaikan saat itu Zeo lebih baik pada Kara. Lebih mencintai wanita itu, maka Kara tidak akan menggila padanya. Sayangnya, Kara tidak mendapatkan apapun. Hingga ia yang harus menanggung semuanya. Tidak salah, jika Sean merasa kan ketidak percayaan pada dirinya. Seorang ayah yang berselingkuh, bukan berarti gen itu tidak akan menurun padanya.
"Begitu ternyata," lirih Hiro nyaris tak terdengar.
"Aku berharap itu hanya sebuah spekulasi saja Papa. Karena aku tidak menyukai keluarga yang hancur. Saat kau melakukan hal yang sama. Saat itu, aku lah yang akan membunuh mu," seru Sean dengan nada tegas tak terbantah.
Sean tubuh dengan kasih sayang yang lengkap dan kehangatan yang sempurna. Dirinya tak ingin, sewaktu-waktu keluarga nya hancur. Hanya karena wanita lain yang masuk di antara ke dua orang tuanya. Anak ini beberapa kali mendengar samar-samar sang Ibu menangis diam-diam. Di setiap tanggal kematian ke dua orang tua berseta adik laki-laki sang Ibu. Saat itulah, ia dapat mendengar tangisan terisak-isak Dera.
Dera tidak pernah menunjukkan betapa rindu dan terlukanya dirinya pada Hiro. Ataupun pada yang lainnya. Meskipun, Dera telah mencoba mengikhlaskan kepergian ke dua orang tua dan adik lelaki nya. Akan tetapi, ia terus di hantui rasa bersalah dan rindu yang mendalam. Karena kematian yang tak wajar dari ke tiganya. Ada rasa sesal di hati Dera. Jika saja ia tidak bertemu dengan Hiro. Maka semuanya akan baik-baik saja. Adiknya tidak akan kesepian dan masih memiliki ke dua sosok yang sangat penting itu.
Menjadi kuat adalah bentuk penembusan rasa bersalah pada ke dua orang tua dan adik-adiknya. Ia menjadi lebih kuat juga untuk melindungi Sari. Ia ingin Sari mendapatkan apapun yang adiknya butuh kan. Hingga Dera berperan menjadi seorang Kakak dan juga seorang Ibu untuk sang adik. Dan Sean tau dengan pasti akan semua rasa yang diam-diam di sembunyikan oleh sang Ibu. Menjadi anak yang manis untuk sang Ibu. Berbanding terbalik saat bersama Hiro. Saat bersama sang ayah ia akan menjadi seorang anak yang kuat.
Hiro Yamato mengulas senyum. Menarik ke dua sudut bibir nya. Tidak peduli teriakan dan pekikan tertahan dari para wanita saat ia tersenyum pada sang putra mampu melumpuhkan Indra dengar. Ia hanya ingin, Sean Yamato tau. Jika ia tidak akan melakukan hal seperti itu. Karena ia benar-benar mencintai Dera Sandya. Ibu dari anak nakal satu ini.
"Tentu, Papa tidak akan pernah mengkhianati Mama mu. Karena Mama mu adalah wanita pertama yang membuat Papa merasakan kenyamanan dan apa itu mencintai. Jika suatu saat kau temukan Papa mengecewakan ataupun melukai Mama mu. Papa sendiri yang akan mengakhiri kehidupan Papa! Papa janji!" Ujar Hiro menyodorkan jari kelingking nya pada sang putra.
Sean mengangkat tangannya. Mengaitkan jari kelingking kecilnya pada jari sang ayah. Sangat jauh berbeda, melihat jari panjang dan besar itu dengan jari memilik tuan muda Yamato satu ini.
"Baiklah! Aku pegang janji mu, Pa!" balas Sean.
Orang-orang memang tidak tau apa yang tengah Ayah dan anak itu bicarakan. Namun, orang-orang tau jika kedua nya tengah membuat janji. Entah janji untuk memenangkan setiap perlombaan. Entah apa. Yang pasti ke duanya terlihat begitu menggemaskan.
***
"Kau ingkar janji lagi Pa?" seruan keras membuat Carlos membalikkan tubuhnya.
Anak lelaki nya berdiri tak jauh dari posisi nya berdiri. Dengan wajah merah padam, Willem berharap sang ayah akan datang untuk kali ini. Tapi, pria ini malah sama sekali tidak dapat di hubungi dan tidak membalas pesannya. Hanya memerintahkan pengasuh nya untuk menganti kan dirinya.
"Maaf Son! Papa ada hal yang penting untuk di kerjakan selain acara itu," balas Carlos dengan santainya.
Ke dua manik mata hitam tajam Willem terlihat redup. Sebelum segaris senyum remeh tercetak di wajah tampan nya.
Carlos hanya menatap datar wajah Willem. Pria ini tau jika sang putra sangat kecewa padanya. Akan tetapi ia bisa apa. Ia hanya dapat melihat punggung sang putra yang selalu berbalik pergi dari nya. Meskipun, berkali-kali mengecewakan sang putra. Pria ini sangat menyayangi sang putra.
Carlos menghembuskan napas kasar. Ia tau, jika hubungan mereka jauh lebih buruk dari yang sebelumnya. Carlos sudah terlanjur memberikan pembatas untuk hubungan mereka. Pria ini hanya berharap sang putra akan jauh lebih kuat lagi. Tanpa siapa-siapa di samping nya. Sebentar lagi, ia juga akan menjadi penerus Mafia Devil.
"Aku pikir tanpa aku, kau akan menjadi anak yang lebih kuat Will. Karena menjadi lebih kuat itu butuh rasa kecewa dan rasa sakit." Monolog Carlos menutup ke dua mata nya.
Jika di rumah besar Carlos tengah terlihat suram maka berbanding terbalik dengan rumah Yamato. Rumah besar terlihat ribut dengan suara Sean dan Cleo. Anak perempuan dan anak lelaki Yamato tengah merebut remote Tv. Dimana Cleo ingin menonton serial Upin-Ipin sedang kan Sean ingin menonton serial pertualangan pria dengan para binatang buas.
Dera menatap ke duanya berganti-ganti. Clara dan Yeko sedang tidak di rumah. Ke duanya sedang berada di Rumah Sakit. Lantaran Clara mulai mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan. Untuk Leo, pria itu masih berada di Belanda. Entah kapan akan kembali ke Jepang. Hiro Yamato, pria itu sedang di kamar mandi membersihkan diri. Hanya ada tiga orang di ruangan keluarga.
Meskipun Hiro mampu membeli banyak Tv untuk rumah besarnya. Namun, ia lebih suka membeli satu Tv saja untuk merasakan ke bersamaan. Waktu berkumpul yang sangat menyenangkan. Saat-saat satu keluarga mengeluarkan suara akan tontonan. Seperti saat ini, meski terlihat menyebalkan. Namun saat-saat seperti ini akan sangat di rindu oleh mereka.
Jika satu kamar satu TV. Tidak akan ada waktu berharga sebagai keluarga. Karena anak-anak akan cenderung menonton dan menghabiskan satu harian di kamar. Sampai dewasa. Saat itu terjadi, saat tua nanti para orang tua akan menyesali nya. Tidak ada waktu berkumpul dengan kebersamaan.
"Cleo tidak suka melihat Buaya. Buaya jelek, Abang!" protes Cleo kala benda panjang itu berpindah tangan pada Sean.
"Cleo adek, Abang yang paling cantik. Di sini kan bukan cuma ada Buaya. Ada juga ular piton, Harimau dan juga Ikan Piranha!" tolak Sean akan perkataan Cleo yang mengatakan ketidak sukaan anak ini pada Bintang menakutkan itu.
Cleo memangku tangan. Menoleh kebelakang. Jika Sean tidak bisa di bujuk oleh nya. Maka Dera lah menjadi target anak perempuan ini. Dengan senyum lembar. Cleo bergeser pada Dera. Wanita yang tengah hamil ini terlihat sibuk dengan ponselnya. Bertukar pesan dengan Sari.
"Mama Dera!" Seru Cleo menyandarkan kepalanya di lengan Dera.
Dera melepaskan pandangannya dari ponsel pada wajah imut Cleo. Ia tersenyum lembut, mengusap pelan pipi chubby Cleo dengan penuh kasih sayang. Membuat Cleo tersenyum lima jari.
"Ada apa sayang?" Tanya Dera mengusap pelan pipi Cleo.
Sean mulai memutar malas ke dua bola matanya. Mengadu sudah itu, Sean tidak tau kenapa anak perempuan sangatlah suka mengadu pada orang dewasa saat kalah debat. Sudah tau mereka yang salah. Tetap saja para lelaki yang di paksakan mengalah. Sean tidak tau dosa apa kaum nya dahulu. Sampai selalu saja mengalah dan salah di mata wanita.
"Cleo ingin nonton film Upin-Ipin kesukaan Mama Dera. Tapi Abang malah menonton keturunan Jery dan Jumbo. Sudah tau Mama Dera tidak suka dengan makhluk itu. Tapi Abang bersikeras menonton nya!" Adu Cleo dengan wajah teraniaya.
Dera tersenyum lebar. Sebelum membuang tatapan nya pada sang putra. Hampir saja Dera menyemburkan tawa melihat bagaimana ekspresi Sean saat ini. Anak lelaki nya memonyongkan mulutnya. Bergaya genit pada Dera dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mama! Sean hanya ingin mengintip saja kok. Hanya lihat-lihat, siapa tau mau menambah koleksi baru. Mama tau kan Sean telah membunuh salah satu Buaya betina di kolam. Kasihan jika Si Jery atau Jumbo menjadi jomblo tidak punya pasangan!" bela Sean pada dirinya. Dengan wajah yang berubah sangat imut.
Kini giliran Cleo memutar ke dua bola matanya malas. Abang nya satu ini selalu saja punya seribu satu cara untuk bisa menang. Tidak bisa. Cleo harus menang dan di bela oleh Dera.
"Mama Dera, kita nonton Upin-Ipin dulu. Nanti saat ada iklan kita tukar Chanel nya ke acara yang di sukai Abang!" Bujuk Cleo semakin merapat pada Dera.
Dera terkekeh pelan melihat bagaimana ke duanya saling membujuk dan beradu argument. Dera meletakkan asal ponsel mahal milik nya. Memeluk Cleo di samping kanan. Dan memberikan kode pada Sean untuk mendekati nya. Tidak perlu memakai banyak waktu untuk anak lelaki ini mendekati Dera. Ia duduk di samping kiri.
"Abang tidak boleh begitu pada Adek Cleo. Sebagai Abang Sean harus mengalah pada adeknya sendiri. Sebentar lagi jadi Abang beneran loh!" Nasehat Dera mengusap puncak kepala sang putra.
Pada akhirnya Sean mengangguk pelan. Dengan tangan menyorot kan remote pada Cleo. Tentu dengan senang hati Cleo menerima dan menukar chaneel. Di anak tangga, Hiro memperhatikan ke tiga nya. Melihat bagaimana Dera mendidik Sean yang sebenarnya lebih keras dari pada yang terlihat patut di acungi jempol. Begitu pula sang putra, ia tau menempatkan di mana saatnya harus keras kepala dan sok berkuasa. Dan dimana saat nya mengalah.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???