Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 15



MOHON LIKE, VOTE dan Komentar NYA, ALL



.


.


.


.


Gadis berambut sebahu itu terlihat gelisah, sedangkan dua orang berlainan jenis yang duduk bersamanya diam dengan manik mata yang begitu dingin membekukan. Jika dipasangkan menjadi pasangan, tidak ada yang lebih serasi antara Hiro Yamato dengan Mirabel Nakano. Wanita di depannya itu hanya butuh satu kata untuk mewakili diri, yaitu sempurna. Kata itulah yang ada di otak Dera, gadis itu bahkan menatap penuh damba pada Mirabel.


Manik mata tajam nan tegas, wajah oval dengan garis sempurna, bibir merah merekah, bulu mata lentik, dan alis tebal sejajar. Hidung bangir bak perosotan, kulit yang begitu halus dan bentuk tubuh yang ideal. Sungguh! Idaman para Hawa di dunia. Tidak salah jika, ia menjadi calon istri Hiro



"Kau memiliki hubungan dengan Hiro?" tanyanya dengan nada agak aneh. Mirabel menguasai banyak bahasa. Dan bahasa Indonesia merupakan salah satu di antaranya. Manik mata hitam dingin mampu menenggelamkan Dera seketika. Nada suara yang dingin, begitu tegas.


"Eh!" seru Dera tidak sadar.


Kala bibir Dera akan terbuka, tangan hangat menyentuh punggung telapak tangannya dengan pelan. Lelaki di sampingnya itu tidak menoleh pada Dera, hanya menatap sang wanita cantik di depannya ini. Pandangan dingin yang di balas pula dengan pandangan dingin.


"Anda tidak punya hak untuk bertanya hal itu padanya," balas Hiro dengan nada berat khasnya.


Mirabel menyandarkan punggung belakang pada sandaran sofa mahal apartemen mewah Hiro, siapa bilang wanita ini tidak bisa menemukan Hiro dengan mudah. Ia bukanlah wanita biasa, apalagi ada hati yang terlibat di sini. Meski lelaki dingin ini tak merasakan hal yang sama pada wanita sesempurna Mirabel.


"Benarkah?" tanya Mirabel dengan sebelah alis di maikan ke atas dengan nada meremehkan. "Sepertinya kau melupakan statusmu dan aku, Tuan Yamato," lanjut Mirabel sebelum menelengkan kepalanya.


Dera mengintip diam-diam ekspresi sang bos mafia, apakah lelaki yang kini menggenggam tangannya ini akan mengeluarkan ekspresi lain selain wajah datar dingin itu. Setelah mendengar kata dari Mirabel. Tidak ditemukan oleh manik coklat Dera ekspresi lain di wajah tampan Hiro, lelaki itu masih memasang wajah yang sama. Manik mata Dera beralih pada wajah Mirabel, wajah wanita itu tampak biasa saja. Meski ketajaman mata menatap tangannya yang digenggaman Hiro bereaksi beda, ada rasa tak rela dengan kemarahan tersembunyi.


"Aku belum menerima hal itu, Nona. Lagi pula kedua pihak hanya menjalin hubungan saling menguntungkan. Tanpa ada ikatan lebih," papar Hiro.


Benar, hubungan mereka belum ada kata lebih dari rekan. Hanya ayah mereka saja yang merencanakan pernikahan keduanya. Mirabel ingin lelaki ini! Lelaki yang sempurna dan setara dengannya. Tidak ada lelaki lain selain Hiro yang pantas bersama dirinya yang sempadan. Bukankah orang yang sempurna di ciptakan untuk orang yang sempurna pula? Itulah pemikir Mirabel. Hiro Yamato adalah lelaki yang dikaguminya sejak kecil, meski banyak lelaki yang mengejar-ngejar secara langsung. Menawarkan banyak hal, Mirabel tak teralihkan. Saat dunianya adalah Hiro Yamato, bukan yang lain!


Bibir Hiro tersungging sinis, terlalu percaya diri. Itulah yang ditangkap oleh Hiro. Bagi Hiro kecantikan bukanlah poin utama untuk menjatuhkan hati pada wanita, Hiro banyak melihat wanita cantik secara fisik. Ibunya pun sama sangat cantik dan bengis. Sejak kecil ia di kelilingi oleh wanita cantik, bahkan ia sudah melihat seluruh aset wanita secara langsung dan suka rela. Mereka menawarkan tubuh tanpa digoda, naik ke atas ranjangnya dengan banyak cara. Sayang, Hiro bukan penjahat kelamin. Hingga akan tergoda dengan kemolekan tubuh wanita.


"Terserah apa yang kau katakan Nona. Karena yang pasti tidak ada yang bisa mengatur kehidupanku," ujar Hiro dengan nada yang benar-benar berat dan dalam. Bahkan pandangan matanya menajam berkali-kali lipat.


Ih! Bulu kuduk Dera langsung berdiri kala aura mematikan keluar dari tubuh Hiro. Saat ini Dera hanya berdoa, berharap tidak akan ada timah panas atau adegan darah yang mengalir di lantai.


...***...


Kicauan burung bernyanyi di pagi hari menemani sang mentari bertahta malu-malu di atas sana, angin pagi menari bersama gorden jendela yang terbuka lebar. Hembusannya menggelitik pipi chubby gadis yang masih berada di alam mimpi. Ia tak terganggu dengan jari jemari yang mengusik anak rambutnya. Jari telunjuk yang memilin-milin anak rambut yang bebas.


Manik mata coklat tajam dingin itu menatap wajah Dera dengan pandangan bahagia, Hiro merasa hangat kala bersama Dera. Gadis itu memang di nilai biasa saja. Namun, di hati Hiro, Dera lebih dari kata biasa. Memang kenapa jika Dera tidak cantik? Memang kenapa jika Dera tidak seksi? Apakah itu semua penting?


Tidak. Bagi Hiro itu semua tidaklah penting. Tidak hanya wanita yang cantik dan sempurna yang selalu menjadi tokoh utama dalam hidup. Karena manusia sejatinya adalah tokoh utama, dalam kisah hidup mereka sendiri. Begitu juga dengan Dera dan Hiro. Dua orang berbeda kehidupan, kebiasaan dan penampilan. Merupakan bintang utama dalam kehidupan mereka masing-masing.


Tidak semua wanita cantik di dunia ini menawarkan kehangatan dan juga kenyamanan. Meski mata condong pada yang cantik dan yang tampan. Namun, hati akan berubah dan berpaling pada kenyamanan serta kehangatan yang mampu diberikan. Erangan membawa bibir merah tebal seksi itu membingkai senyum geli. Sepertinya gadis ini akan di bawa kembali dari alam mimpi ke alam nyata. Manik mata Dera terbuka kala erangan untuk ketiga kalinya terdengar. Mata bulan sabit itu beberapa kali berkedip, merasa silau menerima sapaan cahaya yang begitu terang. Sebelum netra coklat bening itu membulat saat sadar lelaki tampan itu berada hanya lima belas cm dari wajahnya. Lengkungan senyum lebar menyapa Indra penglihatan nya terlebih dahulu. Sebelum jari telunjuk Hiro mengusap permukaan hidung Dera dengan gerakan pelan.


"Pagi, my love!" Serunya dengan deretan gigi putih rapinya.


Senyum yang begitu lebar dan cerah. Tunggu! Apa yang di katakan Hiro tadi? gendang telinganya menyaring suara yang masuk. Hiro berkata my love bukan? Lelaki ini menyapanya dengan panggilan yang begitu lembut dan romantis. Sial! Ada rasa aneh yang menyentuh hatinya. Biasanya lelaki itu akan menyapanya dengan kata kucing nakal. Namun, sekarang sudah menjadi panggilan yang lebih baik. Sejak kapan? Pertanyaan itu ada di otak Dera.


Ah! Dera ingat. Semenjak lelaki itu mengungkapkan rasa padanya. Hiro mulai berubah, menjadi lebih hangat dan juga romantis. Dera tak menyangka ada sisi romantis di diri Hiro. Jika begini terus, apakah ada hati yang akan tetap bertahan? Oh, ayolah. Hiro Yamato bukanlah lelaki biasa. Lelaki ini adalah lelaki sempurna. Dan sekuat-kuatnya hati, akan rapuh jika terus dikikis dengan kehangatan. Dokter Bian! Lelaki itu akan bisa terdepak cepat dari hati Dera. Jikalau masih tidak ada pergerakan lebih.


"Pa——gi," jawab Dera tergagap setelah temenggung sesaat.


Hiro mendudukkan tubuhnya. Merubah posisinya yang tidur menyamping menghadap Dera, yang juga menyamping. Dengan gerakan pelan Dera ikut duduk.


"Tuan!" seru Dera pelan.


Hiro menoleh menatap Dera.


"I——tu, soal tidur. Bisakah kita tidak tidur satu ranjang lagi?" tanya Dera ragu dan mencicit di akhir kata.