Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 45 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


Pintu kaca di buka tanpa di ketuk terlebih dahulu, mata hitam legam miliknya menatap sang adik dengan pandangan tak percaya. Melangkah mendekati adik tampan nya. Masih sama seperti sembilan tahun yang lalu. Tidak tau apa yang membuat adiknya menjadi pria yang begitu aneh.


"Berhenti lah melihat seseorang tidak tergapai Kevin!" seruan keras mengisi ruangan kerja Kevin.


Benda persegi panjang miliknya melayang masuk ke tangan sang kakak angkat nya. Kevin berdecak kesal. Manik mata tajamnya dapat melihat foto gadis berambut sebahu yang tengah tersenyum menatap lensa kamera ponsel. Cih! Masih gadis itu.


"Kembali kan ponsel ku!" Kesal Kevin menengadahkan telapak tangan nya pada pria gagah di depan meja kerja nya.


Tidak ambil pusing, pria dengan perawakan tinggi 184 cm itu melangkah mendekati sofa di ruangan sang adik. Duduk santai masih menatap foto gadis yang sama sekali tidak memiliki daya tarik. Tidak secantik gadis-gadis negara nya. Kulit sawo matang, memiliki mata sipit seperti kebanyakan orang China. Bisa di pastikan gadis di foto adalah keturunan blasteran. Masalah nya saat ini adalah apa kah yang di foto masih gadis atau sudah berubah menjadi seorang wanita. Menikah, mungkin. Hingga tidak lagi di panggil gadis tapi wanita.


Kaki kursi beroda bergeser membuat gaduh dengan lantai. Pada akhirnya, pria itu berdiri dari kursi singa sananya. Melangkah mendekati pria bermata tajam itu. Merebut ponsel miliknya, sebelum menyimpan di saku jas miliknya.


"Apa yang membuat mu kesini?" tanya Kevin tanpa basa-basi pada pria lima tahun lebih tua darinya ini.


"Duduklah. Setidaknya bersikap sopan lah pada kakak mu ini. Dan cobalah memanggilku kakak jangan seolah-olah kita ini seumuran!" sebalnya.


Meski tidak suka. Kevin menuruti keinginan pria di depannya ini. Duduk berhadapan dengan nya.


"Katakan!" desaknya.


"Kau tidak punya pekerjaan yang dapat membuat mu kesusahan. Kenapa mendesak ku berbicara cepat. Tidak kah kau merindukanku?"


"Tidak. Katakan secepatnya, aku terlihat santai di mata mu. Karena kau tidak tau pekerjaan ku sebenarnya. Kau terlalu bebas tau apa tentang pekerjaan ku!"


Pria itu tersenyum lembut. Kevin masih ketus seperti dulu. Walaupun begitu ia yakin Kevin menyayangi nya seperti ia menyayangi Kevin.


"Aku hanya ingin berpamitan, mungkin akan pindah ke Jepang akhir Minggu ini. Tapi untuk pekerjaan selanjutnya akan tetap di bawah kendali ku. Kau tenang saja, aku akan tetap membantu mu dari belakang dan juga melindungi mu," ujarnya pelan.


Sebelah alis mata Kevin terangkat tinggi. Ia tak tau kenapa pria ini akan pergi dari Shanghai. Apa yang di inginkan oleh kakak angkatnya ini. Ada banyak pertanyaan yang bersarang di kepala Kevin.


***


Pandangan mata tajam dingin terlihat berkilat di malam hari di dalam penerangan temaram. Kolam luas dengan air hijau berlumut terlihat menjijikan. Senyum miring mampu membuat bulu tubuh merinding melihat bagaimana cara anak berusia sembilan tahun itu menatap para predator buas itu. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Banyakan betapa dinginnya, tapi anak ini hanya memakai baju oblong tanpa T-shirt dan celana hawai hitam selutut. Dua pisau di ke dua tangannya di ikat keras. Manik mata coklat kelam milik nya memindai Buaya mana yang akan di bunuh dini hari ini. Beberapa kali bola matanya berkeliaran melihat mana yang pas untuk nya. Ada lima buaya besar dengan beberapa ukuran. Mengingat Buaya ini adalah yang tertua di kolam khusus rumah besar Yakuza.


"Mari kita lihat. Buaya mana yang paling besar perut nya. Karena Buaya yang paling besar perut nya adalah Buaya yang rakus dan harus di musnahkan. Bisa di bilang ada keberuntungan untuk nya karena akulah yang mengambil nyawanya!" Seru Sean dengan garis senyum yang tinggi.


Dapat! Sean menemukan target yang pas. Sebelum dengan kaki telanjang melangkah lebar. Masuk ke dalam kolam yang kedalaman air nya hanya sampai atas lutut kakinya. Buaya yang telah kenyang sehabis di beri makan malam tertidur nyenyak. Hingga tidak tau ada ancaman yang mendekati diri.


Bunyi keras di kandang Buaya mengalun. Grasak gerusuk membuat gaduh, suara tawa Sean mengalun menyatu dengan gerangan. Sungguh gila. Bahkan siapa yang menonton nya tidak akan tau mereka harus tertawa atau ngeri melihat bagaimana Sean mengejar satu Buaya besar dengan perut yang membuncit. Sedangkan empat Buaya lain nya yang terbangun karena terganggu oleh kegilaan Sean. Memilih berlari menjauhi satu teman nya yang di kejar Sean. Jangan katakan apapun! Buaya Sungai Amazon ini sudah sangat hapal dengan Sean Yamato.


Saat berusia dua tahun, anak itu sudah berkeliaran di kandang mereka. Hanya untuk sekedar memberikan makan atau mengejar mereka dengan menjadikan mereka kuda. Menaiki tubuh mereka dan mengikat tali di leher mereka. Menjadi kan mereka kuda. Sungguh tidak berkepri binatangan. Bagaimana bisa Sean Yamato saat kecil sudah memberi kan Buaya-buaya yang terkenal ganas menjadi seperti keledai yang ketakutan. Seperti saat ini, Sean beberapa kali tergelincir di kolam. Mengingat kolam tua dengan lumut yang tebal. Tawa keras mengalun seolah-olah yang terjadi adalah sebuah pemain yang mengasikan.


"Hei Jumbo! Jangan berlari. Kau akan membuat perut besar mu meledak. Lebih baik mati di tangan ku saja!" Seru Sean ikut berlari mengejar Buaya yang dilakukan beri nama Jumbo itu.


Jika Buaya itu bisa bicara maka ia sudah akan berkata tidak akan mau mati di tangan Sean. Permukaan air beriak, suara gaduh semakin besar saat Sean membanting stir karena si Buaya Jumbo tidak menyerah menghindari Sean meski perut besarnya membuat diri kesusahan. Hal hasil Sean memilih mengajar acak saja. Siapa yang tertangkap itu lah yang akan ia bunuh.


Hahahaha.........


Kembali tawa meledak kala untuk ke dua kalinya ia terjatuh. Bukan lantaran lantai kolam yang licin. Tapi karena kibasan ekor Buaya yang ia kejar membuat kakinya terpeleset. Luas kolam setengah hektar membuat Sean agak kewalahan.


"Kau nakal juga ya Jery! Berani mengibas kaki ku. Harus nya tadi malam aku berikan kalian makan sepuluh ekor sapi agar tidak bisa bergerak liar!" kesal Sean sebelum kembali berlari mengejar para Buaya yang berlari menyebar.


Bunyi gaduh di dalam kandang yang berada di belakang Rumah Bos Yakuza membuat orang-orang terbangun dari mimpi indah masing-masing. Jika di dalam kandang Buaya Sean Yamato tengah berjuang menaklukkan Buaya besar milik sang ayah. Maka beda lagi dengan Yamato yang lain. Hiro mendesah pelan kala bunyi keras dari bunyi tanda terjadi sesuatu yang berbahaya membuat ia mengerang pelan.


"Apa yang terjadi?" tanya Dera dengan nada serak baru satu jam ke duanya tertidur malah di kejutkan dengan bunyi keras dari tanda bahaya.


Hiro menarik ke atas selimut tebal menutup tubuh polos sang istri. Sebelum meraih baju serta jelan miliknya yang tercecer di lantai memakai asal.


"Tidurlah. Aku akan melihat nya!" seru Hiro lembut.


Baju kimono tidur terpasang di tubuh kekar Hiro. Meski pun suara gaduh di luar sana dapat di dengar dengan keras. Hiro seakan tidak peduli, ia melangkah mendekati ranjang. Mengecup dahi Dera lambat. Sebelum mengusap pipi chubby sang istri.


"Cek kamar Sean dahulu. Dia pasti juga terkejut dengan bunyi sarine nya," jawab Dera pelan.


"Ya," balas Hiro lembut.


Dera memilih menutup ke dua matanya. Ia percaya pada sang suami, jika Hiro berkata tidak ada apa-apa maka semuanya akan baik-baik saja. Selain itu tumbuh nya terasa tak enak di gerakan, ulah sang suami. Lebih baik pasrah saja. Sebelum besok pagi Sean akan membuat nya menjadi pusing dengan ulah Sean yang akan menerornya dengan banyak pertanyaan. Karena kamar nya terkunci dari jam sembilan malam dan tidak di buka meski di ketuk beberapa kali.


Hiro mengunci pintu kamarnya dari luar. Jika pun ada bahaya, Dera akan terlindungi. Kunci di masukan ke dalam saku Kimono nya. Hiro melangkah cepat menuju kamar di dekat tangga tak jauh dari kamarnya dan Dera. Belum sempat telak tangan nya menyentuh engsel pintu kamar sang putra. Suara seruan di belakang tubuh membuat ia membalikkan tubuhnya.


"Bos! Tuan muda Sean!" seru Yeko tidak tau harus berkata apa.


"Di mana ia sekarang?" tanya Hiro panik.


Seolah tau kemana yang ingin di katakan oleh sang bawahan.


"Di kandang Buaya!" ujar Yeko pelan.


Tanpa banyak kata. Hiro Yamato berlari menuju tangga, menuruni anak tangga dengan cepat. Di ikuti oleh Yeko. Hiro berlari sangat cepat, membuat Yeko kewalahan. Mengingat Ayah dua anak ini sudah berlari mendekati rumah besar dari kandang Buaya. Dan sekarang ia harus berlari lagi di belakang Hiro. Beberapa anak buah membungkuk kala sang Bos berlari melewati mereka.


Sepuluh menit Hiro sampai di pintu kandang Buaya. Air kolam yang hijau berubah warna menjadi merah kehitaman. Beberapa anak buah Hiro lain nya membungkuk dengan wajah ketakutan. Hampir kaki Hiro lemas, kala melihat air yang berdarah. Namun yang terjadi adalah tawa meledak di ruangan.


Lihat lah Sean Yamato, duduk di atas Buaya yang tewas dengan senyum miring padanya. Tubuh sang putra dimandikan darah. Membuat Hiro tak mampu menahan tawanya. Melihat pose Sean Yamato bak Model motor gede saja, menepuk-nepuk perumukaan kulit buaya dengan wajah pongah.


"Bagaimana Papa! Aku juga bisa kan keren seperti mu. Kau membunuh Buaya payah tidak dengan tangan mu. Tapi aku bisa membunuh nya dengan tanganku. Dan aku akan membuat sepatu dari kulit Buaya yang lebih bagus dari pada buatan mu untuk Mama!" Serunya dengan bangga.


Yeko tersenyum geli. Ia tak menyangka karena di goda oleh istri nya. Yang mengatakan Dera mengunci pintu karena Sean tidak bisa memberikan sang Ibu sepatu dari kulit Buaya seperti sang Ayah. Siapa sangka, Sean Yamato malah membuat gaduh di waktu dini hari. Hanya untuk membuktikan ia bisa lebih dari Hiro Yamato sang ayah.


***


Ruang keluarga di kediaman Bos Yakuza itu terdengar tawa menggelegar dari beberapa wanita. Bahkan ke dua sudut mata Dera berair saking kerasnya tawanya. Ia tidak menyangka bagaimana bisa sang putra membuat orang-orang terbangun di pagi hari buta. Hanya karena gilaan sang putra. Yang menjadi pembicaraan tidak malu, malah ikut tertawa pelan. Sebenarnya ia tidak tau apa yang membuat Ibunda tercinta tertawa mendengar cerita dari Yeko. Namun meskipun begitu ia senang melihat bagaimana Ibunya tertawa. Sangat cantik di matanya.


"Owh... Astaga, bagaimana bisa kau begitu Sean?" tanya Dera mencoba meredakan tawa yang mengalun.


Ke dua ibu jari Hiro mengusap pelan lelehan air mata Dera. Karena tawa besar nya tadi. Tak tau malunya, Hiro membawa kepala Dera masuk ke dada bidang nya membuat Sean mencibir.


"Sean begitu agar bisa menang dari Papa!" balas Sean bangga.


"Menang dari Papa?" Ulang Dera setelah menengadah menatap wajah taman sang suami yang kini malah memeluk perut ramping nya. Tidak seperti dulu ada lemak di perut nya. Sekarang sudah sangat langsing.


"Iya! Tante Clara bilang Papa dengan gagahnya membuat Mama sepatu dari kulit Buaya. Dan Mama simpan di lemari khusus karena saking sukanya dengan sepatu buatan Papa. Tante bilang Mama juga suka dengan kulit Harimau dan kulit Ular Piton!" papar Sean menggebu-gebu.


Pupil mata Dera membulat sempurna. Sebelum menghunuskan pandangan mematikan pada Clara yang membuang tatapan nya dari pandangan membunuh Dera. Wanita ini menghembuskan napas pelan. Siapa juga yang menyukai kulit bintang itu. Alasan kenapa sepatu buatan Hiro masih berada di lemari adalah, wanita ini tidak suka dengan apa yang di berikan oleh Hiro. Karena takut Hiro marah, ia memberikan alasan seperti itu. Lah! Siapa sangka jika sang putra malah mendengar kan perkataan dari Clara.


"It——itu, bagi Mama lebih suka kado bunga dari Sean. Karena putra Mama yang berharga tidak boleh menyentuh benda tajam. Sean masih sangat kecil untuk beda-beda itu. Dan untuk kulit Buaya," Dera tergagap di awal kata dan menjeda perkataan nya menengadah sedikit melihat tatapan intens sang suami. Sebelum beralih pada sang putra."Mama tidak suka kulit bintang!" lanjut nya.


Ok. Baiklah, biarkan saja Hiro murka. Asalkan Sean nya tidak melakukan hal aneh begitu. Meski agak lucu sih, melihat rekaman ulang cctv di kandang Buaya. Tidak tau kenapa bisa, bintang buas itu malah takut pada putranya. Padahal putranya ini sangat manis dan imut di mata nya. Ok, di mata sang ibu saja ya. Karena Dera tidak tau seberapa menakutkan nya Sean Yamato. Sama seperti Hiro Yamato sang ayah.


"Ah? Jadi Mama tidak suka ya? Wah! Sia-sia dong ya, Papa membuat sepatu nya!" kini Sean memanas-manasi sang ayah. Siapa suruh pria ini mengunci pintu kamar. Membuat ia menggedor berulangkali. Menunggu beberapa menit di luar. Sebelum ke ruangan keluarga. Di mana masih ada Clara dan Cleo, putri sulung dari Clara dan Yeko. Anak perempuan berusia enam tahun. Yang begitu imut.


Senyum miring Hiro tercetak jelas."Jadi, isteriku tidak suka ya sepatu buatan ku. Dan membohongi ku. Kira-kira hukuman apa yang harus dirimu jalani my love?" bisik Hiro di telinga Dera.


Glek!


Dera sudah payah menelan air liur nya sendiri. Sedangkan sang putra menatap aneh ke dua orang tuannya.


"Sean juga mau ikutan main bisik-bisik nya!" seru Sean membuat tawa kembali mengalun. Bukan dari pasangan Yamato.


Melainkan dari Clara dan Yeko, melihat bagaimana polosnya Sean.


.


.


.


Bersambung.......


Seberapa lucunya cerita kali ini???🤣🤣🤣🤣


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???