Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 85 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


Ruangan inap Rumah Sakit milik Yakuza itu terlihat bak kamar Hotel mewah bintang lima. Satu kamar inap dengan dua bagian. Satu di gunakan untuk keluarga pasien yang di beri pembatas. Dengan ruangan tamu. Sedangkan ruangan rawat untuk sang pasien lebih luas dari pada ruangan keluarga pasien.


Pagi-pagi sekali, ruangan sudah sangat gaduh ulah duo kembar yang saling bersautan menagis keras. Membuat si Abang kalang kabut, Sean terlalu lucu untuk penjaga bayi. Dua orang suster khusus hanya terkekeh pelan melihat mengemasnya Sean Yamato membujuk si kembar.


Ke dua Suster menukar popok ke duanya. Sean masih memperhatikan dengan muka bantal. Anak satu ini memilih tidur di sofa. Sengaja menarik sofa di sudut ruangan untuk berada di tengah-tengah box bayi. Benar-benar seorang kakak yang memiliki kasih sayang yang besar. Tadi malam, Dera sempat mengalami demam tinggi. Penanganan cepat dari sang Dokter. Mampu membuat Nyonya besar Yakuza itu kembali ke suhu normal. Meski mereka mendapatkan beberapa kecerewetan Hiro. Bos Yakuza satu ini akan menjadi pribadi yang berbeda jika itu menyangkut sang istri. Tak segan-segan menceramahi Dokter hebat.


Di atas ranjang Dera masih tertidur lelap. Setelah satu jam meminum obat. Hiro memaksa sang istri untuk mengistirahatkan tubuh nya. Dan ia lah yang akan turun tangan untuk si kecil. Derap langkah kaki terdengar mendekati ke dua box bayi.


"Siapa mereka Pa?" tanya Sean menatap dia wanita berganti-gantian.


"Mereka akan menjadi Ibu susu untuk Launa dan Laura." Jelas Hiro memberikan kode pada kedua nya untuk menyusui ke dua putrinya.


Wajah tampan Hiro terlihat sang letih. Semuanya ia kerjakan sendiri. Mulai dari mencari Ibu susu untuk ke dua buah hatinya. Menimbang-nimbang Dera tidak akan mampu memberikan asupan gizi pada ke duanya. Jikapun bisa, maka salah satu dari ke dua putrinya akan kekurangan asupan.


Hiro telah membicarakan ini pada Dera. Awalnya, tentu Dera menolak ide Hiro. Memberikan wanita lain untuk menyusui ke dua putri mereka. Namun dengan lembut Hiro menjelaskan apa alasan nya. Tiga bulan sebelum melahirkan ia sudah mendiskusikan ini pada sang istri dan Dokter yang menangani sang istri.


Dokter menyambut dengan baik bagaimana cekatan nya Hiro Yamato. Banyak pria di luar sana yang tak mengerti sulitnya mengurus dua bayi kembar. Bukan lantaran mengurus sehari-hari saja namun juga untuk gizi. Banyak yang menganggap gampang mengurus dua bayi kembar. Pada akhirnya, hanya istri lah yang menjadi tumpuan. Meski kesepakatan merawat bersama-sama di awal di lakukan.


Pria cenderung akan marah-marah kala di hadapi dengan tanggung jawab mengurus anak. Kesepakatan mengurus bayi kembar hanya akan menjadi akar pertengkaran bagi sebagian orang. Setelah pulang dari kantor, atau tempat kerja lainnya. Pria merasa sangat lelah, mendengar kan tangisan bayi bisa membuat tekanan darah meningkat. Pada akhirnya, istri lah yang di tuding tidak becus dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka.


Sedangkan Hiro. Pria ini memikirkan banyak hal ke depannya. Untuk anak-anak mereka dengan sangat baik. Lebih cekatan menangani si kembar. Meringankan beban Dera, wanita itu telah sangat berjasa mengandung sampai persalinan. Hiro tak pernah menganggap enteng wanita. Apa lagi wanita yang telah melahirkan tiga orang anak untuk nya. Saat hamil sampai melahirkan saja itu sudah sangat berat. Lalu apakah Hiro akan sangat tega membiarkan Dera melakukan nya sendiri lagi setelah si kembar yang baru lahir? Tidak. Hiro tak akan pernah membiarkan Dera dengan banyak kesususahan.


Sean berdiri dari posisi duduk nya. Melangkah mendekati Hiro yang tengah melangkah mendekati ranjang Dera.


"Kenapa harus memakai Ibu Susu, Pa?" tanya Sean penasaran.


Hiro menepuk permukaan Sofa di samping kanannya. Sean duduk di sofa di dekat ranjang. Hiro mengusap pelan puncak kepala Sean. Kebiasaan yang membuat ia merasa tenang kembali. Anak sulungnya adalah tangan kanannya yang lebih pasti. Yang akan meringankan bebannya dan Dera, kedepannya. Sean cukup mampu di andalkan. Meski terlihat polos dan lucu. Sean memiliki otak yang tajam, mampu mengerjakan pekerjaan orang dewasa. Dan Sean telah sangat terlatih tentunya.


"Mama tidak akan bisa menyusui di kecil dengan baik. Mengingat ada dua bayi. Berbeda dengan mu, saat itu hanya ada dirimu!" Ujar Hiro mengembangkan senyum letih.


Ke dua sudut bibir Sean terangkat tinggi."Berati aku adalah anak yang paling di sayangi oleh Mama, ya?"


Hiro terkekeh pelan. Baru saja ia berpikir Sean lebih dewasa dan mampu di andalkan. Malah pemikiran anak kecil yang ia dapatkan. Sean memang sangat menyukai perlakuan berbeda dari Dera.


"Bisa di bilang begitu." Jawab Hiro sembari menyandar kan tubuh nya di sofa.


"Asik! Sean anak yang spesial!" Ujarnya dengan semangat empat lima.


"Makanya, Sean harus lebih memperhatikan adik-adik. Ikut merawat ke duanya. Launa dan Laura tak dapat sepesial Sean. Jadi, Sean harus bisa menjadi Abang yang hebat ya!" nasehat Hiro dengan tegas.


"Siap, Papa!!" Jawabnya semangat memberikan hormat pada sang ayah.


"Kau sekolah hari ini?"


Hiro terkekeh renyah. Itu benar, suaranya tadi malam cukup menganggu si kecil. Karena kemarahan. Hiro juga lelah. Ia butuh istirahat. Namun enggan meninggalkan Dera pada ke dua Perawat.


Begini lah penderita suami yang cinta akut.


***


Gadis cantik itu membelit ujung gaun nya. Menatap penuh harap Dokter tampan yang terlihat sedang menyesap sup iga sapi yang baru saja ia buat. Bantuan tutorial dari YouTube. Seakan ia tengah di hadapan dengan juri juru masak.


Khuk!!!!


Sontak saja Sakura bergerak cepat memberikan segelas air putih ke tangan Bian. Pria itu meneguk sampai habis, tak di biarkan tersisa satu tetes pun. Pangkal kerongkongan dan hidungnya terasa sangat panas.


Bahkan matanya memerah menatap ke depan gadis cantik itu. Sakura hanya menampilkan senyum lima jari pada Bian.


"Apa yang kau isikan dalam sup nya?" tanya Bian dengan nada rendah.


Ke dua bola mata Sakura bergerak acak. Ke duanya tak lagi mengunakan bahasa Formal untuk berbicara. Mengingat sudah lima bulan ke duanya bersama. Dan selama lima bulan pula Bian telah di hadapkan dengan tingkah ceroboh mantan nona muda ini.


"I——itu, hanya bahan bumbu sup siap yang sudah di giling dengan daun sup dan seledri!" jawabnya ragu.


Dahi Bian berlipat dalam. Ke dua manik mata sipitnya terlihat menyelidik. Sakura mengaruk pelan tengkuk belakang nya yang tak gatal. Mengingat perlahan bibir bawahnya.


"Kau yakin hanya itu saja?" selidik Bian.


"Iya."


"Berapa yang kau masukan?"


"Ka——katanya secukupnya. Aku pikir semakin banyak bumbu sup nya akan semakin nikmat. Jadi aku masukan sepuluh bungkus bumbu sup yang telah di giling itu," jelasnya dengan tergagap.


God. Bian benar-benar tak tau bagaimana bisa seperti ini. Terlalu parah. Pantas saja rasanya begitu menyengat, bukan Kuah sup yang di rasakan oleh lidah. Tapi bumbu sup yang di larutkan di dalam air.


"Memang tidak ada yang beres. Masa telur mata sapi malah menggoreng telur dengan Cangkangnya!"


"Aku pikir pas di goreng cangkang nya akan terbuka sendiri!" bela Sakura atas kesalahannya.


Bukan malah semakin marah. Bian malah tertawa keras. Bian tidak tau bagaimana bisa ada wanita sebodoh ini dalam hal gampang.


.


.


.


.


Bersambung.....


Ada gak nih yang goreng telur se hebat Sakura????🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣atau bahkan lebih hebat lagi?


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???