
Deburan ombak dengar jelas. Aroma pantai memasuki rongga paru-paru. Kedua kaki telanjang itu menyusuri pantai putih. Musim semi terasa sangat menyenangkan bagi negara empat musim. Jari jemari panjang itu mengisi ruas-ruas yang kosong. Tidak ada kata yang terlontar dari bibir masing-masing. Hanya menikmati kebersamaan mereka saja. Sudah sangat lama Hiro dan Dera tidak merasa waktu berdua saja. Hanya mereka tanpa anak-anak.
Rambut coklat gelap itu dibelai angin siang. Sesekali manik mata tajam itu melirik sang istri. Wajah manis yang membuatnya selalu jatuh cinta setiap harinya.
Kepala wanita itu mendongak membalas tatapan sang suami. Kala kedua berhenti di pohon besar.
"Kenapa Kakak menatap aku seperti itu?" tanya Dera dengan nada lembut.
Kedua sudut bibir itu di tarik ke atas. Melengkung membentuk sebuah senyuman kecil. Sebelah tangan yang kosong terangkat. Menarik kecil rambut Dera, menyelipkannya di belakang daun telinga.
"Aku menatap wanita yang memberikan kebahagiaan padaku setiap saat," imbuh Hiro jujur dengan nada beratnya.
Dera merona. Wanita ini benar-benar sudah jatuh dalam pesona pria berdarah dingin ini. Bos Yakuza yang begitu menakutkan ini. Membuat ia merasa spesial.
"Dari mana kira-kira suamiku ini belajar berkata manis begitu, hem?" tukas Dera dengan nada tertahan.
Ibu empat anak ini curiga dengan Hiro Yamato. Apakah sang suami mendapatkan guru belajar menggombali wanita? Karena setiap kata yang di lontarkan selalu saja membuat dirinya melambung tinggi. Hiro menarik sebelah sudut bibirnya. Tersenyum miring.
Ah, bukannya terlihat nakal. Pria ini malah terlihat semakin mempesona. Beruntung pantai tidak terdapat manusia lain selain mereka. Jika tidak, maka sudah pasti akan banyak orang yang terpesona dengan pria gagah ini. Terutama kaum Hawa yang begitu menggilai hot Dady satu ini.
"Itu naluri alami," dusta Hiro.
Hanya Sean dan dia yang tahu rahasia kecil tentang buku cara menaklukkan hati wanita. Sang putra bahkan meledek bos Yakuza satu ini. Lantara membaca buku yang dinilai aneh dan merepotkan itu. Bagi setan kecil itu, buku yang dibaca oleh sang ayah sangat lah menggelikan. Kenapa mereka yang harus mengerti tentang wanita? Atau bahkan cara menaklukkan wanita. Bukankah tanpa ditaklukkan pun, banyak perempuan yang takluk dengan ketampanan keluarga Yamato.
Tidak satupun perempuan di dunia ini yang bisa menolak pesona Yamato. Yeah, meskipun Dera adalah wanita yang dikecualikan. Karena wanita satu ini tidak terpesona dengan keturunan Yamato. Walupun wajah Hiro Yamato jauh di atas rata. Sangat tampan. Begitu pula Leo Yamato. Jangankan untuk tersenyum, pria itu menghela napas saja terlihat sangat tampan.
Dera mengeleng kecil. Tangan keduanya berayun pelan. Ponsel di saku celana bergetar. Hiro merogoh saku celananya mengeluarkan ponsel mahal itu. Pesan berupa foto membuat wajah Hiro berubah seketika.
"Kenapa Kak?" tanya Dera menelisik ekspresi wajah sang suami.
"Setan kecil," kesal Hiro.
"Setan kecil?" ulang Dera dengan ekspresi wajah tidak mengerti.
Hiro tersentak. Ia mengeleng cepat. Celaka dua belas jika istrinya tahu. Kalau Hiro melabeli Sean sang putra sebagai setan kecil.
"Kita harus bergegas pulang," ujar Hiro penuh dengan nada kecewa,"maaf kita tidak bisa berlama-lama sayang!" sesalnya.
"Tidak apa-apa, kita pulang sekarang. Lagi pula, kasihan Launa dan Laura." Dera mengingatkan sang suami dengan kedua putri cantik mereka.
Hiro mengangguk kecil. Meskipun jauh di dalam hati Hiro kesal, sangat-sangat kesal dengan foto yang di kirimkan oleh Sean. Bagaimana bisa putri cantiknya duduk di atas punggung Jumbo. Walaupun di foto Laura terlihat tersenyum lebar. Karena duduk di atas buaya tua itu.
...***...
"Berhenti menatapku, Pak Dosen!" tegur Vera.
Gadis manis yang tengah di kejar oleh Leo itu terlihat kesal. Ia memang memberikan Leo kesempatan untuk meyakinkan hatinya. Hanya saja, ia masih belum bisa membuka hatinya untuk Leo. Oke, anggap saja jika Vera sangatlah bodoh karena menolak lamaran Leo.
Saat di luar sana ada banyak wanita yang rela melepas seluruh pakaian mereka hanya untuk mereguk kehangatan dari pria gagah ini. Beda lagi dengan Vera. Wanita ini malah seakan menolak kehadiran Leo.
"Habisnya, kamu malah begitu santai menatap barisan angka itu. Seolah-olah aku ini tidak lebih menarik perhatian dari pada buku," protes Leo dengan nada manja.
Lenguhan bergemuruh. Banyak orang yang sengaja belajar di perpustakaan kampus. Hanya untuk melihat wajah tampan dosen muda Yamato. Pria yang mengajarkan pelajaran matematika itu.
"Hah!" Vera menghela nafas letih. Ia menutup buku bacaannya.
Jujur saja tidak mudah menaklukkan gadis Indonesia ini. Ada banyak penolakan yang dialami oleh Leo. Bahkan lebih sadis lagi, ia hampir dibenci oleh Vera. Lantara memberikan gadis itu hadiah mahal. Tas dengan harga fantastis.
Masih melekat di ingatan Leo. Vera marah. Gadis itu mengatakan jika Leo sebaiknya mengejar wanita matre saja. Sejak saat itu, Leo tidak pernah merebut hati Vera dengan barang-barang mewah.
"Sudah selesai?" Leo bertanya dengan semangat empat lima.
Vera mengangguk kecil. Ada baiknya Vera mengalah saja untuk saat ini. Vera bermaksud membuat Leo mudur dengan sendirinya. Vera cukup sadar diri saat pria ini membawanya masuk ke dalam kediaman keluarga Yamato. Rumah mewah dengan begitu banyak pasukan keamanan. Yang terlihat berjaga-jaga. Bahkan masuk ke dalam rumah saja cukup jauh ke dalam. Luas tanah rumah keluarga Yamato saja tidak mampu di hitung oleh Vera.
Berkaca pada dirinya sendiri. Gadis bias saja. Tidak cantik, tidak dari keluarga kaya, tidak pula berotak cerdas. Gadis ini hanyalah wanita biasa saja. Yang mencoba merubah nasib hidup keluarganya. Dengan tangannya sendiri.
Ia takut. Teramat takut jatuh dalam pesona dari Leo Yamato. Jika ia jatuh pada pria sempurna ini. Ia takut suatu saat, perasaan Leo hilang. Maka ia akan dicampakkan dengan begitu sadisnya. Vera tidak ingin dicampakkan. Atau di rendahkan.
"Ayo! Berdiri!" Leo mengulurkan tangannya pada Vera.
Vera meraih tangan besar Leo. Hangat. Kadang Vera merasa terlena dengan kehangatan yang diberikan oleh Leo. Sekuat tenaga ia menolak pesona Leo Yamato.
...***...
Vian dan Sean terlihat merebahkan kepalanya di paha sang ibu. Dera mengusap kepala keduanya. Hiro merenggut dari jauh. Bibir atasnya terangkat tinggi. Ini sudah malam, sudah pasti sudah saatnya jagoan mereka kembali ke kamar mereka. Sialnya, setan kecil itu malah merengek untuk tetap di kamar utama. Menggatas namakan Vian yang ingin tidur bersama Dera.
"Enak sekali menguasai istri orang," dumel Hiro dengan intonasi suara rendah.
Senyum setan dikembangkan oleh Sean. Anak lelaki bertelinga tajam ini mendengar dumel kekesalan Hiro yang duduk di sofa tak jauh dari mereka. Terlihat mengasuh si kembar. Laura yang sedari tadi mengusap-usap rambut Hiro. Tak jarang ia menarik kasar rambut sang ayah. Tidak ada kemarahan dari Hiro. Meskipun tuan putrinya satu ini sangat mengesalkan. Launa yang duduk di perut paha Hiro tidak banyak tingkah seperti sang adik.
"Ma!" panggil Sean.
"Hem!"
"Mama kapan kencan denganku dan Abang?" ujar Sean dengan nada penuh harap.
Vian melirik adiknya sebelum membawa matanya ke arah sang ayah. Wajah Hiro cemberut seketika. Vian terkekeh. Inilah yang dia sukai dari Sean. Adiknya ini sangat jahil dan suka membuat ayah mereka berwajah masam. Begitu juga sebaliknya.
Dera mengerutkan dahinya. Seolah-olah tengah berpikir keras.
"Vian dan Sean maunya kapan?" Dera malah balik bertanya.
Sean mengulas senyum liciknya. Semakin besar Sean semakin terlihat mengesalkan.
"Besok. Kita bertiga kencan ya, Ma!" usul Sean.
Hiro mengeleng. Memberikan kode untuk Dera menolak. Dera melirik sang suami. Tersenyum kecil.
"Oke!" balas Dera setuju. Hiro mengerang kecewa. Kalau sudah Sean yang menguasai sang istri. Sudah pasti Launa dan Laura dialah yang asuh.
Hiro kan juga ingin kencan. Vian terkekeh melihat wajah mengiba sang ayah. Pria itu meminta Vian untuk mempengaruhi Sean. Agar anak lelaki itu mau membawanya ikut serta.
Bersambung....
Mohon Like dan Komentarnya kakak-kakak.πβΊοΈ gak usah vote koin atau vote poin. Cukup apresiasi dengan like dan komen aja. πππΌ Kisah kecil keluarga Yamato akan ditampilkan yang manis-manis saja kedepannya. Karena konflik di S1-S2 sudah sangat menakutkan.