Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 22



All..Mohon Like nya dong biar tambah semangat 😓😓 biar ada Semangat buat crazy update



.


.


.


.


.


.


"Sana pergi!" Usir Keyra dengan wajah sombong di depan gerbang.


Di samping gadis remaja itu Luna berdiri angkuh menatap wajah Dera. Gadis itu menghembuskan napas dari mulut dengan kasar. Beruntung kakak gadis itu baik padanya. Jika tidak mungkin sepatu Sneaker nya melayang pada wajah cantik gadis remaja itu. Sayang sekali kecantikan yang Tuhan berikan mubasir di berikan pada remaja dan wanita sombong itu.


Dera membalik kan tubuh nya. Melangkah lebar, terik matahari terasa mengigit kulit. Bahkan baru tiga menit di bawah matahari saja, Dera dapat merasakan puncak kepalanya panas. Gadis berambut sebahu itu menatap sekitar, sial sekali. Perumahan mewah bilangan Jakarta Selatan memang harus berjalan jauh hanya untuk bisa sampai di gerbang utama pintu keluar.


Ingin rasanya Dera memaki seluruh isi kebun binatang. Pasalnya, gadis ini sungguh sulit mengingat arah jalan. Meski sudah beberapa kali Bian membawanya keluar masuk perumahan mewah ini. Tetap saja Dera tak tau jalan keluar nya dimana. Dan dia harus belok kemana. Entah ke kanan, ke kiri atau harus lurus saja?


God! Gadis itu berdiri di tengah di tiga persimpangan. Cukup lama ia berdiri di tengah jalan. Mencoba mengali ingatan lamanya. Memang benar, jika buta arah beginilah jadinya. Akan tersesat. Bukan hanya itu, melihat dari satu rumah ke rumah yang lainnya terlihat sama. Hanya nomor saja yang membedakan pemilik rumah. Gadis ini bisa gila.


"Sudahlah! Mari kita pakai teori lama!" ujar Dera frustrasi,"Cap! Cipcup pilih mana yang mau di cup!"


Gadis itu bernyanyi dengan tangan menunjuk arah jalan. Tangan kanannya berhenti ke belokan kanan."Ayo! Ke kanan!" Seru Dera dengan penuh semangat.


Gadis itu melangkah menyusuri jalan. Baru sepuluh menit melangkah. Dia di hadapkan lagi dengan dua tikung yang berbeda. Gadis itu mengeram kesal. Ingin rasanya ia menangis saat ini. Matahari terasa membakar kulit. Kulitnya yang kuning Langsat bisa berubah lagi menjadi kecoklatan kalau dia lama-lama berdiri di bawah sengatan matahari. Sia-sia Hiro memaksakan dirinya untuk melakukan perawatan kulit yang menyiksa.


Ah, saat kata Hiro melintas di otaknya. Tiba-tiba hatinya di hantam rindu. Dera rindu Hiro, ia rindu lelaki Mafia itu. Saat bersama Hiro, ia punya Yeko yang selalu melindungi nya. Punya Clara yang selalu bisa dia ajak bicara. Dan punya Hiro yang selalu membuat ia merasa aneh. Tapi saat ini menyesal pun tidak ada gunanya bukan? Karena ia yang memutuskan untuk pergi dari Hiro.


Jika boleh gadis ini jujur, Ia tidak akan nekat meninggalkan Hiro. Jika saja tidak ada insiden dua Minggu yang lalu. Jika saja Mirabel tidak segila itu. Ia tidak akan meninggalkan Hiro. Jika ia tetap berada di samping Hiro. Maka bukan hanya kegadisan nya yang terancam. Namun nyawanya pun ikut terancam. Ia tau betapa gila nya anak Mafia itu. Seakan nyawa orang lain tidak ada harganya. Tidak lebih berharga dari pada semut.


Tanpa ia sadari, Hiro lah yang bisa melindungi nya melebihi apapun. Berada di sisi Hiro lah yang akan membuat ia aman. Lelaki itu yang bisa membuat Dera bahagia. Bukan lelaki lain. Dera berjongkok, melipat ke dua tangannya di paha dengan posisi kepala bersembunyi di balik lipatan. Ia menangis pelan.


"Tuan Hiro!" Serunya dengan nada pecah. Ia terisak-isak pelan. Hati kecilnya berharap ada Hiro di sini. Ada lelaki itu di sisinya. Yang akan memeluknya dengan hangat."Temukan aku." Ujarnya semakin terisak.


Decitan ban mobil mahal dengan aspal membawa makian pelan di bibir merah itu. Sang pengendara keluar dari dalam mobil. Memaki kasar, gadis yang tidak tau diri itu. Gadis gila yang menangis di tengah jalan. Apa dia tidak tau waktu lelaki tampan ini berharga.


"Hei! Menyingkir lah dari jalanku sialan!" Kesalnya kala berdiri di belakang tubuh Dera.


Gadis itu tidak peduli. Ia menangis semakin keras. Sekeras makian dari lelaki tampan itu.


Lelaki itu mematung kala sadar tangan siapa yang ia tarik dengan kasar. Mata Dera terlihat bengkak di penuhi genangan air mata.


"Dera?" Serunya menatap Dera tak percaya.


Mendengar namanya di serukan begitu saja. Dera menengadah, mengingat tinggi tubuh nya dan sang pria sangat jauh. Pupil matanya melebar, kala manik mata menatap siapa yang berada di depannya. Bukan berhenti mengalir, air mata Dera semakin deras. Lelaki tampan itu menarik masuk tubuh Dera. Mengusap pelan punggung belakang Dera.


"Maafkan aku!" Sesalnya dengan usapan pelan.


Sedangkan di lain tempat dengan waktu bersamaan benda-benda di ruangan mewah itu pecah. Clara menunduk dalam, sedang Yeko tidak banyak kata. Lelaki dingin itu tampak murka. Rahang tegasnya terlihat begitu keras.


Bagaimana bisa? Setelah mendapat posisi Dera. Gadis itu di kabarkan tidak lagi bersama Dokter sialan itu.


"Bos!"


Seru Clara dan Yeko serentak kala Hiro hampir terhuyung ke depan. Beruntung gerakan refleks lelaki berdarah Jepang itu lebih cepat tangan kirinya bersandar di dinding. Sedangkan sebelah tangan nya lagi menyentuh dadanya. Ada rasa nyeri menghantamnya.



Bos!" seru ke duanya serentak.


"Aku tidak apa-apa. Kalian cepat lacak lagi dimana keberadaan Dera," titah Hiro dengan nada berat.


"Dari mana nya Bos tidak apa-apa? Bos sudah tidak makan berhari-hari. Dan bahkan kurang tidur," bantah Clara untuk pertama kali nya.


Kelopak mata Hiro melebar. Menutup manik mata dingin agar tak menyebar kata sesak. Memang benar, Bos Yakuza ini tidak memberikan asupan makan untuk tubuh nya. Bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan nya.


"Dera pasti baik-baik saja. Sebelum kita menemukan Dera. Bos harus baik-baik saja terlebih dahulu Bos!" pinta Clara dengan wajah memelas.


"Benar Bos. Aku bersumpah! Jika tidak bisa menemukan Dera dalam waktu empat hari lagi. Aku akan melakukan hukuman tingkat satu!" kini giliran Yeko angkat suara. Clara tercekat.


Ia menoleh ke arah Yeko, lelaki berwajah dingin itu terlihat tanpa ekspresi. Hukuman tingkat satu bukanlah hukuman yang ringan. Setelah menyelesaikan hukuman maka orang itu sudah pasti mati. Karena memang itulah tujuan hukuman itu. Dan Clara tidak akan rela, melihat Yeko mengakhiri kehidupan nya. Jika Yeko, mati maka ia juga akan mati. Lelaki di samping nya inilah alasan nya untuk hidup. Juga alasan dia masuk ke dalam Yakuza. Menahan panasnya pembuatan tato keanggotaan.


***


Burung-burung berkicau' di pagi hari, terbang menggoda pasangan masing-masing. Mentari terlihat malu-malu bersinar. Celah-celah Jendela menyelusup masuk cahaya matahari. Lelaki yang berada di atas ranjang terlihat tak jemu-jemu memandang gadis yang masih terlelap.


Kala erangan kecil terdengar. Dengan sigap ia menutup ke dua matanya. Tidak ingin terlihat oleh gadis itu jika ia tengah memandang wajah manisnya.



"Kenapa dia di sini?" seru Dera serak khas bangun tidur.


Dengan perlahan Dera bangun dari posisi tidurnya. Menggeliat pelan sebelum menatap sekitar. Setahu nya kemarin kamar yang ia tempati tidak seperti ini. Warna nya juga berbeda. Samar-samar ia dapat mendengar orang-orang berbicara bahasa Mandarin. Tunggu! Tidak mungkin Kevin membawanya ke Shanghai bukan?