
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
.
.
Hiro memutar malas ke dua bola matanya. Kasur berukuran King Size di duduk oleh keluarga kecil Yamato. Dera bersandar di kepala ranjang mengusap-usap pelan puncak kepala sang putra. Sean terlihat antusias mengusap permukaan perut sang Ibu.
"Berapa lama lagi lahirnya Mama?" tanya Sean menengadah menatap wajah Dera.
"Tujuh bulan lagi kurang lebih sayang. Kenapa? Sean sudah tidak sabar kah?"
"Iya. Aku juga mau membanggakan adik ku pada teman-teman ku, Ma!" jawab Sean antusias dan Hiro hanya menjadi pendengar yang baik antara Ibu dan anak ini.
Dera mengulum senyum."Nanti jika adik nya sudah lahir. Sean harus jadi Abang yang baik ya, yang bisa melindungi adik-adik dan juga menyayangi nya," ucap Dera penuh harap.
Ibu hamil ini sangat berharap jika Sean, putra sulungnya bisa menjadi seorang kakak yang hebat. Mampu melindungi adik-adik nya dan juga penuh kasih sayang. Mungkin sedikit mengurangi sifat manjanya. Karena saat sudah ada yang ke dua atau ketiga. Anak sulung cenderung merasa tidak di sayangi. Karena perhatian ke dua orang tua nya telah beralih pada adik yang lahir. Dan Dera tidak ingin Sean merasakan perasaan seperti itu. Sebisa mungkin Dera melibatkan Sean untuk ke depannya. Mengurus bayi yang akan lahir nanti.
"Tentu saja Mama. Sean akan menjadi Abang yang hebat untuk adik-adik yang lahir. Dan juga menjadi lelaki yang bisa melindungi Mama ke depannya," balas Sean dengan begitu pongahnya.
Mata Hiro mendelik mendengar perkataan sang putra."Hei! Di sini ada Papa mu. Papa mu inilah yang akan melindungi Mama mu. Kau lindungi saja adik-adik mu, Son!" timpal Hiro protes.
Sean mencibir."Mana bisa. Aku ini adalah seorang lelaki Papa. Beberapa tahun lagi akan besar. Aku yang akan melindungi Mama dan adik," balas Sean begitu saja.
Sungguh Hiro Yamato merasa kesal pada sang putra karena di merasa tidak di ikut sertakan.
"Hei! Lalu Papa harus melindungi siapa?" kesal Hiro.
"Papa lindungi saja Jumbo dan Jery!" Kelakar Sean sebelum membebaskan tawa bersama Dera.
Ibu dan anak itu tertawa keras. Di tambah melihat wajah masam Hiro Yamato. Hilang sudah wibawa Hiro Yamato. Hiro berdiri dari posisi duduknya. Mendekati Sean yang berada di samping sang istri.
"Sean harus di hukum!" Seru Hiro menahan Sean.
Dera hanya tertawa melihat bagaimana Hiro menyerang Sean. Anak lelaki itu tak mampu melawan kekuatan sang ayah. Jurus mengelitik di perlihatkan. Hiro mengelitik pingang Sean, membuat anak lelaki itu tak tahan. Memberontak di dalam kekunggan Hiro.
"A—ampun Ppaaaa!!!!" Teriak Sean dengan tubuh menghindar gelitikan Hiro.
"Tidak ada ampun bagi mu, Son!" Seru Hiro semakin melanjutkan kegiatan nya.
Dera terkekeh pelan melihat kegiatan ke duanya. Memilih turun dari ranjang. Melangkah duduk di kursi rias, menghadap ke arah ranjang. Wanita ini jaga-jaga, takut kegiatan mereka membahayakan sang janin. Berbahaya juga bukan, saat seperti itu malah ke tendang perutnya oleh Sean.
Dera meraih benda persegi di saku dress nya. Membuka kamera dan merekam aksi ke duanya. Meskipun Sean sudah meminta ampun di sela berontak nya. Hiro seperti nya masih asik dalam kegiatan nya menggelitik sang putra. Tempat tidur bergoyang oleh ke duanya. Sampai alas tempat tidur tak berbentuk lagi. Yang mengvideo tertawa keras kala kaki Sean berhasil menerjang perut Hiro. Membuat pria itu terhempas ke belakang. Sean tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia menduduki perut Hiro dan membalas gelitikkan sang ayah.
Kini, Hiro Yamato lah yang meminta ampun. Tidak ada yang menyangka anak ini mampu merobohkan Bos Mafia Yakuza satu ini. Berhasil kembali kan ke adaan yang ada. Membuat Hiro tertawa lantang karena gelitikkan nya.
"Terima ini Papa!!" Teriak keras Sean masih menggelitik pinggang Hiro.
Sungguh pemandangan yang menghibur.
***
Denting sendok dan garpu beradu membawa bunyi gaduh di meja makan. Ayah dan anak ini masih bungkam. Membiarkan ke sunyi menyelimuti mereka tanpa nada suara vokal. Sesekali Carlos menatap sang putra yang terlihat benar-benar marah dengan apa yang terjadi. Namun diri terlalu ego hanya untuk menyatakan jika dirinya bersalah di sini.
Willem terlalu kecewa dengan keadaan. Di sini hanya Carlos yang ia punya, sebagai orang tua tunggal. Mengingat sang Ibu telah tak lagi berada disisinya. Akan tetapi, Carlos malah selalu mengecewakan nya. Ia sudah menjalan kan ke wajiban nya sebagai seorang putra dari seorang Mafia. Menjadi tuan muda yang di latih sangat keras oleh Carlos. Tidak mengeluh, sama sekali. Meskipun latihan mampu membuat anak berusia sembilan tahun ini lelehan.
"Bagaimana persiapan latihan mu, Will?" tanya Carlos pada akhirnya membuka suara.
Gerakkan tangan Willem terhenti. Ia menunduk tidak mengangkat wajahnya menatap wajah sang ayah.
"Berjalan sesuai ke ingin mu, Pa!" jawab Willem enteng.
"Kau tau bukan sebentar lagi umur mu akan masuk pada usia puncak. Ada latihan uji coba besar yang harus kau lewati sebelum mendapatkan status sah sebagai seorang tuan muda Devil."
Willem merasa kehilangan selera makan nya. Apakah hanya ini yang bisa mereka bahas? Lagi-lagi tentang anggota. Menjadi tuan muda dari anggota Devil. Mafia China yang telah begitu berjasa pada sang ayah.
"Aku akan melakukan nya sesuai dengan keinginan mu, Papa. Jadi kau tenang saja, tidak ada yang tidak berjalan sesuai dengan keinginan mu bukan!"
"Bagus lah kalau begitu," jawab Carlos begitu saja.
Sial. Bukan kata ini yang ingin Carlos katakan. Pria ini hanya ingin berkata untuk sang putra bisa menjaga diri. Karena latihan uji coba sangat lah berbahaya. Karena ini hampir sama dengan tes yang sebenarnya. Carlos ini mengatakan ia khawatir pada sang putra. Tapi kenapa mulutnya tak mampu berterus terang. Malah semakin membuat Willem kecewa padanya. Benar-benar bodoh. Carlos hanya mampu memaki di dalam diam.
"Aku sudah selesai makan, Pa!" Seru Willem kelayakan sendok dan garpu di atas piring.
Sontak Carlos menatap makanan yang ada di atas piring sang putra. Hanya tersisa sedikit saja. Hati kecil pria ini tertampar melihat bagaimana ketidak nyamanan sang putra saat ini. Sudah terlambat untuk meralat perkataan permintaan maaf. Dan meluruskan maksud perkataan nya. Benar-benar bukan orang yang bisa mengungkapkan isi hati dengan baik
Willem berdiri dari posisi duduknya. Membuat kaki kursi berdecit kala bergesekan dengan lantai marmer. Tidak ada kata yang mampu keluar di bibir Carlos. Pria ini hanya menatap punggung belakang sang putra. Lagi dan lagi, mereka seperti ini. Apa yang harus Carlos lakukan untuk Willem. Putra semata wayangnya satu ini.
Carlos Zhao bukanlah pria yang mampu merangkai kata-kata indah. Atau bertindak seperti seorang ayah. Pria ini terlalu kaku.
***
Decak kagum dari dua orang yang duduk di bangku mobil belakang sedan hitam itu hanya mendapatkan tatapan biasa dari Willem. Anak lelaki ini sudah terbiasa dengan hal seperti saat ini.
"Tamannya saja terlihat begitu cantik. Di awal masuk melewati gerbang kita di sambut dengan pohon Sakura. Dan di sini kita di sambut dengan pohon Blueberry," kini suara Delta terdengar.
Pada akhirnya, ke tiganya di percaya oleh Sean untuk bermain ke rumah besar Yakuza. Tentu saja setelah minta izin pada sang ayah. Dan beruntung Hiro mengijinkan nya setelah di bujuk oleh sang ibu.
Yeko di kursi pengemudi hanya terkekeh pelan mendengar seruan takjub dari anak-anak ini. Orang-orang biasa tentu akan takjub dengan Rumah besar Yakuza. Selain luas yang di hiasi beberapa pohon. Rumah besar Yakuza memiliki fasilitas yang lengkap. Dan tentu nya di jaga ketat dari beberapa sisi yang ada. Hebat nya, mereka tidak akan terlihat jika sedang menjaga rumah besar Yakuza.
"Apakah kami akan langsung ke rumah, Paman?" tanya Willem pada Yeko.
"Sean mengatakan untuk membawa kalian ke gedung barat. Di sana adalah tempat bermain khusus yang sengaja di bangun." Jawab Yeko di sela mengemudi.
Sontak ke tiga nya ber O ria saja. Gedung khusus yang di bangun oleh Hiro. Yang awalnya tentu nya di tunjuk kan untuk Dera. Karena wanita manis itu sangat suka permainan. Ada empat lantai. Semuanya berisi arena permainan yang begitu di sukai dari kalangan anak-anak sampai dewasa. Ada banyak permainan di sana. Untuk merasa benar-benar sedang berada di luar rumah. Maka mereka akan benar-benar membeli tiket untuk setiap permainan.
Dan mendapatkan hadiah jika mendapat banyak kartu. Terasa sang mengasikan kan. Jika di main beramai-ramai jika hanya berdua rasanya sangat sunyi. Yeko membelokkan kan stir mobilnya ke kiri di persimpangan jalan. Tak butuh waktu lama, mereka sampai di gedung khusus.
Kembali ke duanya berdecak kagum melihat gedung besar tinggi. Seperti mall sungguhan.
"Turunlah. Tuan muda Sean berada di dalam gedung," ujar Yeko kala mobil telah berhenti di depan gedung.
"Baik. Terimakasih Paman!"
"Terimakasih Paman."
"Hem! Terimakasih Paman Yeko!"
Ujar mereka serentak dengan dengan perkataan berbeda. Ke dua sisi mobil di buka oleh dua orang pria berpakaian serba hitam. Ke tiganya turun dari mobil. Wanita cantik menghampiri mereka.
"Mari ikut saya para tuan dan nona muda. Tuan muda Sean sudah menunggu di dalam," ujarnya pada ketiga nya.
Serentak ketiganya mengangguk. Mengikuti wanita cantik dengan rambut sebahu. Yang melangkah lebih dahulu dari ke tiga nya. Decak kagum tak pernah berhenti terdengar saat ke tiganya memasuki gedung mewah milik Yakuza itu. Mereka semakin masuk ke dalam gedung.
Satu harian akan di habiskan di dalam sana oleh anak-anak itu. Setidaknya mereka melepaskan penat yang mereka rasakan. Atau kecewa yang menyesakkan dada.
***
Rumah besar Yakuza terasa sangat berisik. Mengingat ada tiga orang tamu yang menyambangi rumah besar itu. Sore hari, Dera menghentikan kegiatan anak-anak dari bermain. Meminta Yeko menjemput mereka mengantarkan ke rumah besar. Tentu wanita ini telah menyiapkan berbagai macam makanan dan juga makanan penutup untuk anak-anak itu.
Cleo juga ikut bermain. Menemani ketiga anak lelaki itu. Membuat Delta memiliki teman berbicara. Cleo yang agak cerewet, membuat Delta melupakan umur Cleo yang masih baru berusia enam tahun.
"Selamat makan!"
Seruan serentak dari anak-anak di meja makan membuat Dera tersenyum lembut. Leo duduk di tengah-tengah Cleo dan Sean.
"Ayo makan yang banyak," seru Dera.
Mendapatkan senyum polos dari anak-anak di meja makan. Dera menatap Willem lambat. Sean berkata teman nya satu ini tidak memiliki Ibu. Membuat Dera kasihan padanya. Mengingat kan dirinya juga sama. Anak ini pasti kesepian dan juga merindu.
Dera meraih sup daging sapi. Meletakan nya di piring Willem. Membuat anak itu sedikit menengadah melihat wajah Dera.
"Makan yang banyak ya, Will!" Seru Dera mengusap lembut puncak kepala Willem.
Willem diam. Apakah begini rasanya mendapatkan usapan penuh kasih sayang dari sosok seorang Ibu? Willem sudah sangat lama tidak merasakan nya.
"Te——terimakasih, Tante!" balas Willem tergagap.
"Panggil Mama saja," balas Dera.
"Bolehkah?" tanya Willem melirih.
"Tentu saja boleh," jawab Dera cepat,"Benarkan Sean?" kini Dera melemparkan pertanyaan pada sang putra.
Sean menoleh. Ia mendengar percakapan antara Willem dan sang Ibu. Sean tersenyum lembut.
"Tentu saja Ma!" jawab Sean.
"Kalau aku juga boleh memanggil Tante dengan panggilan Mama Dera?" kini giliran Delta bertanya.
"Tentu," jawab Dera mengulas senyum.
"Aku juga boleh kan ya?" timpal David.
"Tidak!!!"
Sontak saja ketiga nya menjawab membuat David cemberut mendengar penolakan Sean, Willem dan Delta. Dera tertawa pelan. Tawa yang selalu mampu membuat Leo tersenyum tipis. Menyenangkan mendengar kan wanita yang ia cintai ini tertawa. Sungguh. Ruang makan terasa begitu hangat.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???