
Mohon dukungan dan Like nya all❤️😍
.
.
.
.
Kelopak bunga bertebaran di udara bebas, menari bersama angin senja, desiran air menari bersama ikan koi di kolam. Uap teh Hijau mengepul menerbangkan bau khas, wanita dengan baju tradisional Jepang mengapit tembakau di sela jari tengah dan jari telunjuk. Gincu merah darah di bibir tebalnya tidak terusik sama sekali oleh rokok, mata tajamnya menatap lelaki berwajah dingin. Keduanya duduk saling berhadap-hadapan,
bagi lelaki berkulit pucat ini sudah biasa menatap wajah cantik bermata tajam itu dengan di temani oleh asap yang menusuk hidung.
"Aku dengar kau membawa perempuan ke sini." Serunya dengan hembuskan asap rokok ke udara.
Telapak tangan kasar yang sempat menyentuh badan cup teh hijau itu menatap sang ibu. Wanita yang telah melahirkannya itu terlihat tak bersahabat.
"Ya. Tidak ada yang spesial. Aku yakin Ibu sudah mendengarnya dengan jelas," jawab Hiro dengan nada acuh.
Ibu jari dan jari telunjuk mengapit cup teh sebelum menyesap isinya dengan perlahan. Wanita itu berdecak pelan, ia tak suka dengan ekspresi wajah sang putra.
"Dia bukanlah perempuan yang pas untukmu. Kau ingat posisi dan statusmu, Nak! Seorang Bos Yakuza yang harus bersanding dengan wanita yang hebat," peringatnya.
"Aku tidak harus menikah dengan wanita pilihanmu, Bu," bantah Hiro tak suka.
Kara Haruno tersenyum sinis, pernikahan seorang Yakuza tidak bisa begitu saja ditentukan oleh orang yang bersangkutan. Semuanya ada bisnis di dalamnya, jika ingin menikah dengan wanita yang dicintai. Banyak hal yang harus mereka korbankan, jabatan menjadi taruhan yang pasti. Namun, ada cara lain selain mengorbankan jabatan di sini. Seorang Yakuza bisa melatih wanita itu menjadi seorang wanita yang tangguh. Tahan banting di dunia yang gelap itu, tidak ada tangisan dan rengekan. Ia harus sekuat baca dengan ekspresi yang dingin.
"Kau siap menjadikan dia seorang wanita yang tak punya hati?"
Kara bertanya meletakan putung rokok yang ia sesap ke dalam asbak dari tanah liat.
Hiro bungkam, gadis itu bukanlah gadis yang tepat dalam dunia mafia. Gadis itu terlihat lemah, baik secara fisik dan psikis. Namun, Hiro menyukainya, tidak! Lelaki ini mencintai gadis itu. Meski tidak ada kata cantik dan seksi di dalamnya. Tidak ada kata kuat pada diri Dera.
"Kenapa diam? Kau tak bisa menjadikan dia menjadi kejam. Lalu kau ingin dia bersamamu, Nak?" cibir Kara melihat kediaman sang putra. "Jangan lupakan, dunia kau dan dia berbeda Hiro. Kita adalah perwujudan iblis sejati. Membunuh dan membantai bukanlah hal yang nakutkan. Melainkan sebuah kebiasaan untuk bertahan, tangan kau maupun aku penuh dengan darah yang berbau amis. Jika kau masih bersikeras menikahinya. Maka kau akan tumbang, kau bisa bersamanya, hanya menjadikan dia simpanan bukan istri," paparnya menjelaskan posisi Dera jika ingin tetap menempatkan gadis itu di sisinya.
"Aku adalah Bos Yakuza. Tidak ada yang boleh mengaturku. Apa yang aku mau dan apa yang aku butuhkan. Jangan lupakan apa yang membuat aku bisa bertahta di sini Bu! Aku bukanlah orang awam. Bukan pemuda bodoh tanpa ambisi. Meski aku menikahinya, tidak ada yang bisa menyudutkan aku. Meski itu Kau dan Ayah, Bu!" protes Hiro dengan nada yang berat dan dalam.
Bibir merah merekah itu terkatub rapat, tidak dapat mengeluarkan kata. Kara tahu dengan pasti bagaimana Hiro bermandikan darah. Mendapatkan Jabatan tertinggi di Yakuza meski ia adalah anak sah Yakuza. Jika ia tak kuat dan menakutkan, sudah pasti akan tersingkirkan dengan mudah. Putranya bukanlah anak sembarangan, banyak nyawa yang melayang di tangannya. Siasat yang ia lakukan selalu penuh perencanaan yang matang serta sempurna.
"Kita lihat saja ke depannya, bagaimana cara kau akan mengatasinya. Bisa saja dia yang menolak ikatan itu, ibumu ini tidak akan banyak kata. Kau bisa melakukan apapun yang kau mau. Dan atasi semuanya sebaik mungkin," sarkas Kara dengan nada berat. Wajah cantik itu terlihat mengelap. Ia tak suka dengan cara Hiro membantahnya.
Namun, tak bisa terlalu mengekang keputusan Hiro. Karena jabatan putranya lebih tinggi dari pada jabatannya dan sang suami. Hiro berdiri dari posisi duduknya, melangkah tanpa penghormatan. Terlalu kecewa dengan sang ibu. Ia pikir ibunya akan mengerti keputusannya, akan berada di sisinya kala ada yang menyudutkannya. Namun, sepertinya wanita yang melahirkannya memiliki sudut pandang yang lain.Pintu kayu digeser kasar, Yeko menunduk pelan kala sang Bos keluar dari ruangan pertemuan rumah besar.
"Baik, Bos!" seru Yeko tanpa harus bertanya kenapa sang bos mempercepat kepulangan mereka ke Indonesia.
Hiro melangkah meninggalkan lorong di ikuti oleh Yeko. Lelaki itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Mempersiapkan kepulangan mereka kembali ke Indonesia.
...***...
Erangan pelan di samping tubuh lelaki berwajah bak animasi itu dengan samar. Dera menguap pelan, mengucek kedua matanya. Pinggang dipeluk erat, seakan mempenjarakan tubuhnya. Aroma khas permen karet menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, jantung yang berdetak normal dan hembusan napas menyentuh puncak kepalanya terasa begitu hangat.
Mata coklat Dera di hadapan dada bidang keras di balik kemeja putih. Kebiasaan yang cukup ekstrim bagi gadis perawan satu itu. Namun, apa boleh buat protes akan menjadi kematian. Bungkam dan patuh akan mendatangkan ketenangan, gadis ini memilih ketenangan agar ia bisa bernapas normal.
Tubuh kecil itu bergerak pelan di dalam pelukan Hiro. Netra matanya menatap ke samping, ia baru sadar jika sudah di dalam kamar yang sangat ia kenal. Hatinya lega, akhirnya ia kembali lagi ke tanah kelahirannya. Indahnya Jepang hanya untuk berlibur bukan untuk menetap. Dengan perlahan garis bibir terukir, perlahan dan lembut. Dera menyingkirkan tangan kekar yang melingkar di pinggangnya. Sialnya, bukan malah lepas malah semakin kuat dan mengencang lilitan di pinggangnya.
"Bos," lirih Dera dengan nada serak khas bangun tidur.
Hiro hanya bergumam berat, lelaki satu ini memang begitu sulit untuk diminta melepaskan dikala pagi. Selalu saja mengencangkan pelukan lnya saat di minta untuk dilepaskan.
"Aku ingin mandi dan memasak. Aku sangat lapar," ujar Dera pelan.
Dera tahu, Hiro dapat mendengar dengan jelas. Meski lelaki itu tengah tertidur. Pendengarannya sangat tajam, mawas dirinya di atas level manusia pada umumnya.
"Bos," rengek Dera lagi.
Hiro mengerang kasar sebelum melepaskan tubuh mungil itu. Dera tersenyum lebar. Kala belitan dilepaskan, ia turun dari tempat tidur king size itu dengan girang. Melangkah menuju lemari memilih baju dan dalaman yang akan dipakai untuk hari ini. Sebelum menutup lemari pakaian, ia melirik ke belakang. Menatap lelaki yang masih memejamkan mata dengan deru napas teratur.
Decitan lemari terdengar kala ia menutup pintu lemari. Melangkah menuju pintu kamar mandi. Tidak butuh waktu lama hanya untuk mandi. Waktu yang dihabiskan hanya sepuluh menit menyelesaikan ritual pagi. Derap langkah kaki mendekati meja rias dapat ditangkap dengan jelas, Hiro membuka perlahan kelopak matanya. Manik mata coklat gelap nan dingin langsung berbenturan dengan punggung belakang Dera. Hiro tak bersuara hanya menatap tanpa banyak kata. Dapat ia lihat gadis itu tengah menyisir rambut sebahunya. Sebelum membalikkan tubuh menghadap ke arahnya.
"Bos! Selamat pagi," sapa Dera pelan. Tak lupa ia memberikan senyum seperti biasanya.
"Hem. Pagi," balas Hiro dengan lembut. "Apa yang akan kau masak pagi ini kitty?" tanya Hiro masih menatap Dera.
"Bos mau apa?" tanya balik gadis itu.
"Nasi goreng. Buatkan aku nasi Goreng," jawab Hiro dengan cepat tanpa berpikir.
"Baiklah," jawab Dera pelan.
Sebelum kaki itu melangkah seruan di samping tubuhnya membuat langkah itu terhenti.
"Kau dan aku lebih seperti seorang suami-istri Dera," gumam Hiro dengan santainya. "Bagaimana jika aku menikahimu, agar itu lebih terlihat nyata?" tanya Hiro mampu melumpuhkan seluruh saraf yang ada di tubuh Dera.
............................................
Jangan lupa Komentarnya ya All.. agar lebih semangat lagi untuk update 😉❤️