
.
.
.
Tirai jendela melambai-lambai kala angin siang memasuki ruangan tak terlalu luas dengan nuansa putih gading. Anak rambut hitam ikut di belai perlahan. Manik mata sipit itu bersembunyi di balik kelopak mata sakura. Langkah kaki yang memasuki ruangan belajar tak dapat di tangkap oleh Indra pendengaran nya. Wanita yang tengah hamil itu terlihat menikmati waktu istirahat nya. Ah! Tidak. Ia terlihat ingin bermalas-malasan dengan belajar bahasa Jepang. Meski guru yang mengajari nya memiliki wajah yang begitu tampan. Wanita berambut hitam legam sebahu lebih sedikit itu sangat malas belajar.
Tangan yang di lipat di atas meja, menjadi alas wajah yang menyamping. Pintu di buka perlahan, decitan pintu terdengar lirih. Langkah kaki dapat di dengar dengan jelas. Manik mata coklat kelam menyoroti wanita yang telah menjadi istri kakak satu ayahnya. Langkah kaki semakin terlihat lebar mendekati meja. Sudut ekor matanya mengintip pintu depan. Dua lelaki bertubuh kekar terlihat berdiri tegap menatap ke luar ruangan. Ke duanya memang khusus di tempat kan di sisi istri Bos besar Yakuza.
Hembusan napas perlahan terdengar samar. Iris mata coklat kelam sempit itu kembali menatap wajah nyaman dari Dera. Wanita tengah hamil itu terlihat begitu nyaman. Di tambah godaan angin siang membawa masuk ke dalam mimpi semakin jauh. Sudut bibirnya terangkat tinggi. Wanita hamil memang terlihat berbeda. Terbukti, hati pria tampan ini bergetar keras kala menatap wajah manis Dera. Tangan Leo bergerak sendiri. Menyentuh anak rambut yang nakal menutupi wajah Dera. Senyum di bibir merah tebal seksi semakin terlihat jelas. Wajah Leo semakin mendekati wajah Dera. Wanita yang tengah hamil enam Minggu itu tak menyadari apa yang tengah terjadi. Mimpi terlalu indah untuk di tinggal kan. Manik mata coklat kelam terlihat menatap intens bibir pink basah Dera. Semakin lama jarak semakin di kikis dengan cepat.
"Hem!"
Deheman keras membawa wajah tampan itu menjauh. Nada berat itu sudah lama tak telinga itu dengar. Cukup mampu melumpuhkan beberapa Indra tubuh kekar Leo. Leo tak membalik kan tubuh nya ke adalah sang Ayah. Ia masih membelakangi tubuh Zeo. Tubuh pria yang memberikan dirinya kehidupan. Di ambang pintu Zeo terlihat memasang wajah datar. Bunyi sepatu pantofel terdengar jelas. Hingga tubuh kekar dengan beberapa bekas luka dan Irazume di tubuh kini telah berdiri di belakang tubuh Leo.
"Tidakkah kau mengerti, hukuman apa yang akan kau terima jika berani melihat Istri Bos Yakuza?" tutur Zeo dengan nada penuh intimidasi,"Apa lagi ingin menyentuh nya?" lanjut nya dengan nada tak bersahabat.
Senyum sinis di tarik dengan kasar. Atas dasar apa lelaki ini mengajarkan nya. Dia juga memiliki darah Yakuza tertinggi. Sama dengan Hiro.
"Ya. Tentu aku jelas tau akan hal ini. Namun sayang sekali, aku bukan bawahan Hiro." Ujarnya membalik kan tubuh menghadap ke arah sang Ayah untuk pertama kalinya. Setelah sekian lama sejak peristiwa berdarah.
**DEG!
DEG!
DEG**!
Ada getaran yang mengalir menyentuh jantung tua Zeo. Seakan netra coklat gelap yang kini menatap tajam ke arahnya tengah menghunuskan banyak rasa benci tepat ke dalam iris manik hitam tajam Zeo. Tidak ada nada yang terhempas kan. Tidak ada nada lain di ruangan luas itu. Hanya deru napas Dera dengar teratur. Dua pria dengan usia yang berbeda tidak mengungkap kata tersembunyi di balik dada. Leo dengan rasa benci yang mendalam. Berbanding terbalik dengan Zeo Yamato. Dimana lelaki berusia empat puluh delapan tahun itu seakan tengah mempertanyakan rasa yang tengah melanda diri.
Denting jam seakan menjadi nada indah di antara anak dan ayah yang telah lama tak bertemu. Erangan di belakang tubuh Leo membawa tubuh ke duanya berbalik menatap wajah Chubby Dera. Dera menguap perlahan, sebelum merenggangkan tubuh nya. Ia mengucek perlahan ke dua kelopak matanya. Sebelum menatap aneh Ayah mertua nya yang tampan di usia yang tak lagi muda. Sebelum mengalihkan tatapan ke arah Leo. Guru yang mengajar kan nya bahasa Jepang. Teman dari sang suami. Dahi Dera berlipat tipis, kala dirinya merasakan ada aura yang aneh antar ke duanya.
***
"Apa lagi yang kau mau?"
Nada tanya tak senang tergambar dengan jelas. Manik mata coklat kelam tajam itu menatap tak suka ke arah wanita yang telah melahirkan nya. Wanita berambut merah maron terlihat mencabik. Mendengar pertanyaan yang tidak menyenangkan dari sang putra. Nomi berdiri tegap tanpa ekspresi di samping sang Bos.
"Apakah ini sambutanmu terhadap Ibumu?" sinis Kara keras.
Abu rokok bertebaran di udara. Perusahaan besar menjadi tempat yang pas untuk pertemuan ke duanya. Rahang tegas Hiro menggetat.
"Kau benar-benar membuat ku muak!"
"Apa? Hebat?" decak Hiro keras,"Ibu mana yang tidak memiliki perasaan pada anak nya. Ibu mana yang membiarkan anaknya hampir mati hanya untuk bisa mendapatkan lelaki yang tidak mencintai nya kembali!!!" lanjut Hiro dengan nada dalam.
Kara bungkam. Benar! Ibu mana yang memperlakukan anak mereka dengan kejam. Hanya untuk sebuah jabatan dan cinta sang Ayah. Jika ia benar-benar seorang Ibu, maka ia tak akan sekejam itu. Hanya karena kemarahan Zeo. Yang pergi dari Kara, atas pembunuhan yang terjadi. Hiro hampir meregang nyawa. Lelaki tampan ini hampir mati kala timah panas di lepaskan oleh Zeo. Saat mantan Bos Yakuza itu naik pitam. Melesatkan peluru menembus jantung Hiro. Anak yang masih berusia delapan tahun. Merasakan timah panas dari tangan Ayah kandung nya. Hanya karena ingin membuat Kara merasakan apa yang ia rasakan. Saat itu, wajah Kara tak terlihat ketakutan. Kala cairan merah merembes dari tubuh Hiro. Wanita berlipstik merah merona itu hanya menatap sekilas sebelum memerintahkan anak buahnya membawa dirinya ke Rumah Sakit khusus milik Yakuza.
Saat itu, Hiro kecil bertekad. Tidak akan pernah mengandalkan orang lain di hidup nya. Terutama sang Ibu, ia bertekad menjadi lelaki yang lebih kuat dan lebih kuat lagi. Meski saat itu, bibir pucat itu memanggil-manggil nama Kara. Ia berharap sang Ibu akan menggenggam tangan kecil kasar itu. Dengan air mata yang berlainan. Berdoa pada Tuhan, agar dirinya bisa selamat. Sayang, harapan hanya sesuatu yang kosong bagi Hiro kecil. Hingga anak malang itu membuat janji yang ingin ia tepati.
"Bukankah kau tau, posisi Ibu saat itu?" kilah Kara dengan nada melembut.
"Bagimu, kekuasaan lebih berharga dari pada aku. Dan saat ini aku memilih kekuasaan dan kekayaan yang tak bisa kau bayangan, Bu. Aku lah yang mengatur kehidupan ku. Kau tidak bisa ikut campur akan hal itu. Jangan lupa, aku masih tidak akan memaafkan mu atas kematian Keluarga istri ku." Ujar Hiro bangkit dari sofa mewah milik nya.
"Jika kau tidak memaafkan aku apa yang akan kau lakukan?" tantang Kara dengan nada tak suka.
"Tentu mencabut semua otoritas dan juga kekayaan mu. Hari ini kembali lah ke Jepang. Hanya ini yang bisa aku lakukan, sebelum kesabaran ku habis Bu!" peringat Hiro dengan tegas.
"Kβkau!!!!" teriak Kara keras dengan nada menggelegar.
"Silahkan keluar dari kantor ku dan negara istri ku!"
***
Pelukan hangat di tubuh mungil Dera, membawa senyum hangat dari wanita manis itu. Dagu runcing bertengger indah di bahu Dera. Sesekali telapak tangan kasar itu mengusap permukaan perut yang masih datar.
"Aku bahagia," seru Hiro dengan nada pelan.
"Bahagia?"
"Hem. Aku bahagia, karena kau di sisiku. Dan enam bulan lebih lagi, kita akan menyambut anggota baru." Jawab Hiro mengecup perlahan pipi kanan Dera dengan lembut.
"Aku juga merasa senang. Ibunda dan Papa berkata jika aku harus menjaga kesehatan. Saat hamil seperti ini aku merindukan Ibunda," ujar Dera dengan nada ceria.
Manik mata coklat kelam tajam itu terlihat sayu. Ia harus melakukan banyak hal agar sang istri tak tertekan. Sungguh! Hiro menyesali apa yang terjadi. Mungkin tak adil. Hanya karena Kara adalah Ibu nya. Hiro tak bisa melakukan hal yang sama pada Kara. Sejahat-jahatnya Kara, sebagai seorang anak. Hiro tak bisa membunuhnya.
"Maafkan aku, De!" Seruan lirih di dalam hati hanya mampu di bawa semilir angin malam.
.
.
.
Jangan lupa Like, Vote dan Komentar nya All..π₯Ίπ₯Ίπ₯Ίπ₯ΊππππππβΊοΈ Jangan lupa juga baca Novel-novel ku yang telah aku upload All... dan berikan dukungan nya selalu*^^