Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 38



Mohon Like, Vote dan Komentar nya ya AllπŸ™πŸ™πŸ™β˜ΊοΈβ˜ΊοΈβ˜ΊοΈ Mohon dukungan nya selalu agar aku bisa Semangat untuk update setiap hari☺️☺️😊 dan Mohon dukungan nya untuk semua Novel yang aku tulis di sini ya all..πŸ™πŸ™πŸ™ˆ


.


.


.


.


Udara dingin menyentuh permukaan kulit. Gadis remaja cantik terbaring dengan banyak selang melekat di tubuh kurus. Bibir pucat kering tanpa rona menjadi pemandangan biasa bagi para tenaga medis. Aroma obat-obatan menyentuh paru-paru dengan bantuan oksigen. Bunyi mesin pendeteksi jantung berdetak stabil dengan ritme yang pas. Frekuensi terlihat stabil di monitor. Tetesan demi tetesan cairan makanan mengalir melalui selang transparan. Jari jemari bergerak perlahan, di ruangan tertutup yang sengaja di jauhkan dari kebisingan dan juga begitu steril. Deru napas lemah tak lagi tampak. Helaan napas menjadi sedikit kasar dan kuat. Lelehan air mata di ke dua sudut ekor mata menampakkan diri. Seolah berkata jika mimpi buruk menghampiri. Baru beberapa detik lalu napas yang di tarik begitu pelan dan stabil. Namun kali ini terlihat berbeda, seperti yang di jelaskan oleh frekuensi monitor. Hingga bunyi nyaring membawa kata panik para tenaga medis. Dokter dan Suster berlari dengan tergesa-gesa menghampiri ruangan VIP.


"Apa yang terjadi?" Tanya sang Dokter kala masuk ke dalam ruangan dengan raut wajah panik pada Suster yang memang di tugaskan untuk menjaga Sari selama dua puluh empat jam.


"Tadi masih stabil Dok! Saat saya tinggal sebentar tiba-tiba saja seperti ini." Ujar sang Suster tak kalah panik dengan sang Dokter.


"Hubungi Tuan Yamato." Titah Dokter yang baru sampai di ambang pintu.


Tanpa banyak bantahan orang-orang yang sudah dulu sampai bergerak cepat. Biaya yang di keluarkan oleh Bos Mafia itu tidak main-main. Baik untuk keamanan, kenyamanan dan keselamatan Sari. Lelaki berwajah animasi itu merogoh kocek fantastis dalam hitungan jam. Sedang gadis remaja itu terbaring tak sadarkan diri lebih dari hitungan bulan.


Di lain tempat wanita yang berbagi darah yang sama tengah terlihat resah. Telapak tangan kecil itu menyentuh dadanya. Ada perasaan tak enak yang tiba-tiba menyapa hatinya. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia merasa perasaan gelisah dan tak nyaman. Dahi nya berlipat tebal, bahkan pangkal hidungnya mengerut.


"Ada apa, De?" Seru Clara menyentuh bahu kanan Dera dengan wajah khawatir.


Dera menoleh dengan wajah aneh. Wanita yang tengah hamil itu tidak tau apa yang sebenarnya ia rasakan. Ia juga merasa perasaan yang datang sungguh ambigu. Hanya untuk di paparkan dengan beberapa untaian kata. Wanita ini tak mampu bermain kata hanya untuk menjelaskan sebuah rasa yang ambigu oleh hati.


"Aku tidak tau, perasaan ku tidak enak." Jawab Dera di sertai gelengan kepala pelan.


Taman bunga mawar yang sengaja di tanam oleh Hiro untuk Dera memperlihatkan kecantikan nya. Warna merah darah terlihat begitu indah. Keindahan yang berbanding terbalik dengan yang hati kecilnya tawarkan saat ini. Semilir angin sore menerbangkan rambut sebahu Dera dengan perlahan. Clara hanya mampu memamerkan senyum lembut untuk wanita yang tengah dalam masa yang begitu sensitif.


"Ayo duduk sini dulu." Tutur Clara menarik lembut pergelangan tangan Dera. Menuju kursi besi yang memang sengaja di tempat kan tepat di depan kebun bunga. Hanya untuk wanita itu duduk menikmati ke indahan dan keharuman bunga Mawar merah.


Dera menurut. Ke duanya duduk di kursi menatap bunga yang bergoyang kala hembusan angin menyapa lembut permukaan kelopak bunga. Clara melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan Dera.


"Ibu hamil memang agak sensitif dan memiliki rasa takut tersendiri," ujar Clara mengingat Dera akan rasa yang di hadirkan kala kehamilan ia dapat kan.


Hembusan napas kasar di buang dari mulut. Bibir pink basah itu terlihat menipis. Kala kata-kata di beberkan oleh gadis di sampingnya ini.


"Benarkah begitu?" seru Dera seakan mencoba menyakinkan diri akan rasa yang tak seharusnya ia rasakan. Mungkin.


"Ya. Tidak akan ada yang terjadi selama kau bersama Bos Yamato," goda Clara dengan nada renyah.


Senyum yang awalnya tipis kini terlihat begitu jelas membingkai wajah manis wanita Yakuza ini. Derap langkah kaki kasar dapat di tangkap oleh indra pendengaran ke duanya. Wanita cantik tersenyum pada ke duanya. Sebelum menarik sebelah meja kecil di samping kursi, meletakan di depan Dera.


"Sudah saatnya meminum susu Ibu hamil dan buah-buahan segar, Nyonya." Ujar Mawar meletakan nampan yang ia bawa.


"Aku jadi ingin menikah," tutur Mawar dengan nada penuh harap kala tusukan pertama garpu pada buah apel oleh Dera.


Dera membalas dengan senyuman. Sedangkan Clara terlihat aneh, seakan ia juga merasakan hal yang sama dengan Mawar.


"Kenapa ingin menikah? Nikmati saja masa mudamu Mawar," ujar Dera sebelum mengangkat buah yang sempat itu tusuk.


"Aku ingin mempunyai lelaki yang begitu mencintai ku. Dan juga hamil seperti Nyonya Yamato. Ah! Aku membayangkan sebuah rumah tangan yang manis," ucap Mawar begitu saja.


"Terdengar menyenangkan. Namun sayangnya kita masih belum melihat pintu pernikahan kan terbuka bukan?" kini giliran Clara yang buka suara.


Mawar mengangguk cepat. Ke duanya memang tidak terlihat memiliki lelaki spesial di sisi ke duanya. Namun ada perbedaan yang terlihat jelas di sini. Jika Mawar, gadis asli Indonesia ini memang belum memiliki tambatan hati untuk ia ajak masuk ke dalam jenjang yang lebih serius. Beda halnya dengan Clara. Gadis beradab Cina ini tentu sudah memiliki seseorang yang spesial di dalam hatinya. Lelaki yang ingin ia ajak masuk ke dalam hubungan yang lebih serius dan jelas. Hanya sayangnya di sini, lelaki itu terlalu dingin dan tidak peka akan rasanya. Atau malah ia tau perasaan yang mendalam dari Clara. Hanya tak ingin menjalin hubungan dengan gadis cantik ini.


Dera hanya menggeleng pelan. Dengan menguyah buah yang masuk ke dalam mulutnya.


****


Selalu ada pengorbanan di balik janji setia. Tidak ada yang tidak bisa di janjikan kala harga mati telah menjadi hak milik orang tertinggi. Wajah datar terlihat tak selalu utuh menyentuh permukaan wajah cantik Nomi. Wanita yang selalu mendampingi Kara itu terlihat berwajah keruh. Bulir salju melayang jatuh ke atas kursi ayunan kayu.


"Maafkan Ibu, Nak!" Seruan tak bernada dan bersuara menjadi pengganti semilir angin malam. Langit begitu kelam tanpa bintang kala salju pertama menyapa Tokyo Jepang. Rumah dengan nuansa kuno menjadi pemandangan biasa oleh wanita yang terlihat begitu cantik itu. Nomi adalah bawahan Nomi sejak usia sepuluh tahun. Ia adalah budak yang di beli oleh keluarga Kara. Bersumpah darah setia pada Kara. Harus rela menjadi alas kaki Kara. Harus rela menahan apapun demi Kara.


Semilir angin menerbangkan anak rambut yang tak terikat. Rambut coklat gelap yang tak di ikat terlihat menari-nari kala di belai angin malam. Semilir angin yang menghampiri seolah bermain-main dengan ingatan masa lalu. Dua puluh sembilan tahun yang lalu. Saat Nomi, di tuntut akan kesetiaan dan pengorbanan nya oleh Kara.


Wanita berwajah dingin itu di minta tidur dengan Zeo Yamato dengan rencana yang matang. Menjadi rahim pengganti, yang awalnya menjadi rencana terbesar di balik rahasia kelam. Sayang sekali, saat hamil. Rahim Kara tak bisa menampung benih. Kara di vonis mandul. Rasa cinta dan obsesi membawa kegilaan. Mulai dari pura-pura hamil, dan melahirkan Hiro Yamato.


Yang lebih sadis bagi Nomi bukan tentang putra yang telah ia lahir kan menjadi putra wanita lain. Namun, di saat putra yang ia cintai dalam diam di tembak di depannya. Di depan ke dua matanya. Ia tak boleh menangis di depan Zeo. Tidak boleh meraung dan berlari pada tubuh penuh darah. Ia hanya bisa di perbolehkan berdiri dengan tubuh gemetar.


Meski hati seorang Ibu menjerit dan menangis pilu. Ia harus tetap memang wajah datar dan dingin. Meski hatinya hancur redam. Melihat betapa kerasnya Hiro kecil berlatih dengan banyak benda tajam. Di kurung di dalam ruangan gelap. Bahkan harus tidur di dalam sangkar binatang buas.


Tetesan air mata menjadi saksi betapa rapuhnya wanita yang telah melahirkan darah Yakuza ini. Pukulan di dada terdengar kasar. Sakti! Sungguh sakit. Ia ingin memeluk Hiro dengan hangat. Ingin di panggil Ibu oleh putranya. Namun semuanya hanya sebuah harapan semu. Selama Kara masih hidup dan bernapas.


"Hiro! Iβ€”β€”ibu, menyayangi mu!" Tuturnya di sela Isak tangis yang mengudara di udara nan dingin.


.


.


.


Jangan Lupa Like, Vote dan Komentar nya all..πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ


Jika suka dengan genre Kerajaan Mandarin bisa baca Novel ku yang berjudul "Legenda Ratu Perak"


Aku berani jamin alur setiap cerita yang aku tulis selalu menantang dan asik di bacaπŸ˜…πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ€­πŸ€­