Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 72 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


"Geser sana!" Kesal Sean menggeser David.


David cemberut. Ah, Sean benar-benar menyebalkan kalau soal Dera. Delta menepuk tempat duduknya saat ini. Dera terkekeh pelan melihat bagaimana posesif nya Sean padanya. Bukan hanya karena Hiro saja, pada teman-teman juga begitu ternyata. Seperti saat ini. Setelah pembantu rumah besar Yamato membentang tempat tidur di lantai berbaris panjang. Ke empat anak-anak itu mengambil tempat. Ke empat nya tidur di kamar yang sudah di rombak untuk ke empat. Tentunya atas perintah nyonya besar Yamato.


"Mau Mama cerita kan kisah apa?" tanya Dera mengalun di ruangan kamar temaram dengan cahaya berbentuk bintang yang menghiasi langit-langit kamar.


"Tentang Domba dan Serigala," seru David antusias.


Dera tersenyum melihat keceriaan David yang begitu menggemaskan seperti sang putra. Dera tak tau saja bagaimana anak tampan bermata hijau itu di bully oleh Sean yang di anggap lucu. Padahal anak satu ini tidak ada lucu-lucu nya sama sekali. Itu menurut beberapa orang yang melihat wajah lain dari seorang Sean Yamato.


"Cih! Anak-anak sekali," decak Sean menolak.


David hanya cengengesan mendengar perkataan Sean.


"Ayo, ambil posisi tidur dulu. Baru putuskan apa yang ingin kalian dengar!" titah Dera yang berstandar di dinding kamar.


Sean dengan cepat melakukan apa yang sang Ibu ingin kan. Di ikuti oleh ketiga nya. Mereka merebahkan tubuh masing-masing. Tersenyum lebar, menarik selimut sampai dada.


"Mama Dera bagaimana kalau me cerita kan kisah Mama Dera dan Papa Hiro?" usul Willem tiba-tiba.


Sontak saja kepala tiga anak di ikuti oleh Dera menoleh pada Willem.


"Bukankah itu akan lebih menarik. Aku pernah mendengar kan kisah Papa yang jatuh cinta pada Mamaku. Dan aku penasaran apakah kisah orang dewasa selalu sama?" jelas Willem kala mendapatkan tatapan serentak.


Dera terkekeh-kekeh pelan. Sean meraih tangan sang Ibu. Menengadah menatap sang Ibu. Anak ini sebenarnya sih penasaran dengan kisah ke dua orang tuanya. Hanya saja, mengingat kematian ke dua orang tua sang Ibu yang di sebabkan oleh Kara. Membuat Sean engan bertanya jauh bagaimana Dera dan Hiro bisa bersama. Yang Sean ketahui adalah Hiro Yamato tergila-gila pada Mama nya. Cukup itu saja.


Mendengar penuturan Willem, anak satu ini merasa khawatir dengan sang Ibu. Apakah sang Ibu akan terluka, meskipun kisah ke duanya mungkin——tak sepenuhnya banyak luka. Usapan di punggung telapak tangannya membuat manik mata coklat kelam Sean lebih tenang. Usapan dari tangan sang Ibu seolah-olah berkata. Jika Dera baik-baik saja.


"Baiklah Mama akan menceritakan kisah kami dahulu," putus Dera pada akhirnya.


Delta dan David seolah memasang pendengaran masing-masing. Dera mulai menceritakan kisah ia dan Hiro. Tentu nya menyembunyikan beberapa fakta yang tak bisa ia beberkan dengan mudah. Menukar beberapa hal yang menakutkan. Suara tertawa terdengar pelan saat Dera menceritakan kisah ia dan Hiro.


***


Red Wine di tuang perlahan mengisi setengah gelas. Mini bar yang sengaja di bangun terlihat sepi. Perlahan Carlos meneguk minuman memabukkan dengan senyum miring. Sang putra tak di rumah, entah untuk beberapa hari. Carlos tentunya tau apa yang membuat Willem memilih keluar. Berada di rumah Hiro Yamato, sang putra terlalu terikat pada keluarga Yakuza Jepang satu itu. Entah itu adalah hal yang baik atau tidak.


"Letih sekali." Racau Carlos kembali menyesap cairan merah.


Derap langkah kaki membuat Carlos menoleh menatap wajah tampan sang adik angkat.


"Jika lelah henti kan saja!" Seru Kevin menuangkan air mineral ke dalam gelas. Sebelum meneguknya perlahan.


Carlos mengeleng pelan."Aku tidak bisa Kevin."


"Kenapa?"


"Karena ada hal yang berharga yang harus aku lindungi."


"Apa itu aku?"


Kevin menatap sang kakak. Menarik bangku duduk di samping Carlos. Pria bermata tajam itu mengangguk cepat.


"Kau harus aku lindungi!" jawab Carlos lirih.


"Jangan lakukan itu. Kau bebas dengan hidupmu. Jangan memikul tanggung jawab yang ada. Sudah cukup semua yang kau lakukan!"


"Papa dan Mama mencintai mu dengan tulus. Mereka tak meminta kau menjadi tameng ku selama nya. Kau lupa pada Will. Dia juga berharga. Jangan biarkan dia menderita dengan kebodohan mu. Ak——u, aku menjadi sombong dan mengesalkan agar kau muak mengurus ku. Dan fokus pada hidupmu, Bang!" pada akhirnya Kevin kembali memanggil nya seperti dulu.


Setelah kematian ke dua orang tuanya. Kevin berubah sangat banyak hanyalah untuk Carlos. Membuat Carlos muak padanya, Kevin tak ingin Carlos menelantarkan hidupnya. Hanya untuk hutang budi. Jelas-jelas ke dua orang tuanya benar-benar menyayangi Carlos. Mereka membawa Carlos dari kegilaan pada jalan yang benar dan hangat. Sayangnya, kematian ke dua orang tuanya malah membuat Carlos berubah semakin menakutkan.


Carlos tak segan-segan membunuh hanya untuk menyingkirkan apa yang menjadi halangan untuk Kevin.


Sejak Kevin tau bagaimana Carlos membawakan dirinya pada singgasana yang kokoh. Kevin tak lagi berbicara hangat pada Carlos. Ia cenderung memberontak dan pongah. Lucunya, Carlos masih menyayangi nya dan melakukan apapun yang Kevin minta.


"Will tentu berarti untuk ku. Tapi kau jauh lebih berarti Kevin, kedepannya Will akan menjadi pelindung keturunan Zhao untuk selanjutnya," balas Carlos pelan,"Dan aku sangat senang karena mendengar kan kau memanggilku dengan panggilan itu. Sudah sangat lama aku tidak mendengar nya. Atau apakah pendengaran ku bermasalah?" lanjut nya.


Kevin mendesah pelan. Carlos kembali menyesap Red Wine miliknya. Sebelum meletakkan nya di atas meja. Kevin baru dua jam sampai di Jepang. Mengunjungi Carlos dan Willem. Pria ini sebenarnya meragu, apakah benar niatnya hanya mengunjungi Carlos dan Willem atau——hanya ingin mengintip wajah wanita yang ia cintai? Entahlah.


"Jangan lakukan itu, aku tidak akan menikah dengan wanita manapun. Hati ku terlanjur patah. Willem yang akan menjadi penerus selanjutnya," ujar Kevin pelan.


"Kenapa begitu?"


"Dia telah menikah memiliki putra. Aku tak ingin membuat dia tersakiti."


"Kau mau aku rebut dia untuk mu secara paksa?"


Kevin mengeleng cepat."Aku tidak ingin kebahagiaan nya hancur hanya karena hatiku yang patah. Bukan berarti aku ingin mematahkan hati yang lain."


"Kau terlalu puitis, bung!" Goda Carlos menuju pelan bahu Kevin.


Kevin terkekeh berat."Aku baru tau jika aku setulus ini pada nya. Dan baru padanya," ucap Kevin lirih.


"Aku penasaran wanita seperti apa dia."


"Jangan bertemu dengan nya. Kau akan ikut terpikat!" canda Kevin.


Ke duanya tersenyum lebar. Sudah sangat lama pembicaraan dari hai ke hati tak lagi mereka lakukan. Entah kapan terakhir kalinya.


***


Secangkir coklat hangat terhidang di atas meja kerja Hiro. Pria satu ini memutuskan untuk tidak ke kantor hari ini. Mengingat ada kerjaan yang lebih mendesah. Membiarkan Yeko menangani laporan kantor.


"Terimakasih sayang!" seru Hiro pada sang istri.


Dera tersenyum lebar. Melangkah kebelakang tempat duduk Hiro. Memijat pelan punggung sang suami.


"Bukankah melelahkan mengerjakan dua pekerja sekaligus, Kak?" Tanya Dera di sela kegiatan nya.


"Tidak lelah sayang. Jangan khawatir, asalkan kau di sisiku tidak ada hal yang meleleh kan bagiku De!"


"Menggombal saja terus!" Cibir Dera sebelum tersenyum lebar.


Hiro terkekeh."Biarkan saja. Yang terpenting aku hanya berkata begini pada satu wanita saja!"


Dera diam ke dua pipi Ibu hamil satu ini merona. Hiro menyentuh telapak tangan sang istri. Sebelum menarik pelan Dera. Membawanya duduk di pangkuan.


"Kakak ini berat!" cegah Dera.


Hiro malah memeluk bahu Dera. Agar istri nya tidak berdiri dari duduknya.


"Kau tidak berat sayang. Yang berat itu kalau kau pergi dari hidupku!" Ujar Hiro.


Dera memukul pelan dada bidang sang suami. Dari mana suami nya ini belajar hal seperti ini. Meski agak malu, tapi Dera suka.


.


.


.


.


Bersambung.....