
Ke dua mata coklat itu berkilat menatap enam ekor Buaya di dalam kolam. Matanya menatap penuh kekesalan pada ke duanya. Derap langkah kaki membawa bola mata Leo bergerak. Yeko mengerut kan dahi melihat ekspresi nelangsa Leo Yamato.
"Hei! Ada apa dengan mu?" tegur nya dengan mata menatap awas.
"Apanya?" balas Leo dengan nada dingin.
"Kau terlihat sangat ingin membunuh orang saat ini."
"Ya. Aku memang ingin membunuh saat ini!" balas Leo dengan aura kelam menguar dari tubuh nya,"Lebih tepatnya ke enam Buaya di depan sana!" Tunjuk nya pada Jumbo dan Jery yang tengah menikmati artinya surga dunia. Di manjakan kanan kiri oleh Buaya betina.
Sialan. Leo Yamato untuk pertama kalinya memaki kesal. Atas kejombloan dirinya. Bagaimana bisa Ayah dan Ibu angkatnya menyamakan dirinya dengan Buaya darat itu? Sungguh mengesalkan.
"Eh? Ada apa dengan mereka?" tanya Yeko menatap Leo dan si duo Buaya tua keladi.
"Gara-gara dia beristri dua aku ingin di nikahkan dengan dua wanita!" balas Leo dengan nada kesal.
"Apa?" Yeko berteriak keras. Membuat Leo mengusap ke dua sisi daun telinga nya.
"Terkejut boleh! Teriak dengan nada rendah dulu. Kita bukan lagi dalam audisi musik!" Semprot Leo masih mengusap ke dua telinga nya.
Yeko merasa ke dua sudut bibir nya berdenyut. Ingin menyuarakan suara tawa yang keras. Ia sama sekali tak menyangka jika tuan Zeo akan menikahkan Leo dengan dua wanita sekaligus. Wah! Sungguh surga dunia bukan?
"Bukan kah itu bagus?"
Leo menoleh ke samping kiri."Bagus dari Hongkong!" jawab Leo kesal.
"Hei! Tak semua pria bisa menikah dengan dua wanita. Anggap saja kompensasi atas masa jomblo yang panjang!" Ujar Yeko melangkah mendekati Leo. Menepuk pelan pundak Leo.
Leo menepis kasar tangan Yeko. Menatap tajam Yeko, langkah kaki terdengar jelas. Ke duanya menoleh ke ambang pintu. Terlihat Sean, David, Delta, Willem dan Vian melangkah masuk ke dalam kandang. Ke limanya melangkah mendekati ke dua pria dewasa itu. Sebelum berhenti.
"Kalian mau apa?" seru Leo menatap ke limanya berganti-gaantian.
"Kami ingin melihat Jumbo dan Jery lah, Om!" ujar David dengan semangat empat lima.
"Ada apa dengan Jumbo dan Jery?" tanya Leo menatap aneh Sean.
"Aku ingin memeriksa, apakah Jumbo dan Jery betah bersama pasangan mereka. Jika ia tak betah nanti tambah lagi. Sekalian mengenal mereka pada Abang Vian!" jelas Sean dengan eskpresi pongah khas miliknya.
Kontan saja Leo dan Yeko terkanga. Apa ini? Tidak cukup kah dengan kata poligami. Hingga jika kurang nambah lagi? God. Enaknya hidup Buaya Peliharaan Yakuza ini.
"Oh! Iya, ngomong-ngomong soal penambahan betina di kandang ini. Kenapa kau malah memberikan usulan gila Pada Kakek dan Nenek mu, Hem!" tegur Leo yang kebetulan ingat dengan kekesalannya yang malah bertambah.
Sontak saja orang-orang membelah diri. Yeko berdiri di samping Dera dan Willem. Sedangkan David menarik Vian untuk berdiri di sisinya.
"Vian kita akan melihat tontonan menarik!" bisik David dengan senyum evil. Sebelum menatap ke arah Paman dan kemponakan yang sedang beradu argumentasi aneh mereka.
Vian hanya diam. Menatap ke duanya.
"Kakek dan Nenek khawatir pada mu, Paman. Mereka memiliki pasangan masing-masing yang ingin di jodohkan dengan mu. Mereka sempat bertengkar kecil hanya untuk menentukan pasangan mu. Aku pikir, jika Buaya bisa punya dua pasangan kenapa tidak Paman juga begitu," jawab Sean dengan enteng nya.
"Apa? Kau samakan paman mu yang tampan ini dengan Buaya tua-tua keladi itu?" Marah Leo menunjuk ke arah kolam.
Ke dua mata reptil itu menatap kesal Leo. Ke duanya mengerti jika Leo tengah menghina mereka. Membuat mereka melenguh dan mengibaskan ekor panjang mereka.
"Tidak. Siapa bilang aku menyamakan Paman dengan mereka," jawab Sean enteng.
"Lalu kenapa kau mau menambahkan istri mereka lagi. Tadi kau bermaksud menyidirku bukan?" kesal Leo.
Sean merotasi kan ke dua bola matanya jengah."Aku tidak begitu Paman!" bantahnya.
"Paman itu benar. Sean bilang Paman Leo kalah sama Jumbo dan Jery karena masih menjomblo!" celetuk David membuat kepala Leo berasap.
Kontan saja mata orang-orang menatap Leo dengan pandangan beragam. Ke dua tangan nya terkepal di kedua sisi tubuh nya. Leo membalik kan tubuh nya ke arah kolam berenang.
"Sialan! Kalian berdua harus mati di tanganku!!!!" Teriak Leo keras sembari melangkah ke arah kolam.
"Eh?" semua orang di dalam sana berseru tak mengerti.
***
Aroma masakan memenuhi rumah besar Zhao. Sari meletakkan piring terakhir di atas meja. Pelukan hangat menyapa perut datarnya. Hembusan napas hangat terasa menggelitik leher jenjang wanita cantik itu. Membuat Sari terperejat karena terkejut dengan kehadiran tiba-tiba sang suami.
"Kakak sudah pulang!" Ujar Sari sembari mengusap dadanya perlahan.
"Hem!"
"Mau mandi dulu atau makan?" Tanya Sari menarik ke dua garis bibirnya ke atas. Mengusap pelan punggung tangan Carlos.
Carlos Zhao menoleh menatap wajah Sari yang merona."Mandi dulu," jawabnya,"Tapi di mandiin ya?" lanjut nya menggoda Sari.
Kontan saja wajah sang istri merona. Hingga menjalar ke daun telinga. Sari memukul pelan punggung tangan sang suami. Sebelum melayangkan cubitan kecil membuat Carlos mengaduh.
"Hem! Hem!" deheman keras di belakang tubuh ke duanya. Membuat pelukan dari Carlos terlepas.
Ke duanya membalikkan tubuh mereka. Tersenyum canggung pada Willem. Anak lelaki itu hanya menggeleng kan kepala nya. Dengan wajah masam.
"Hentikan acara mesra-mesraan nya. Aku sudah sangat lapar, sehabis menolong keponakan mu, Bunda!" curhat Willem.
Sari tersenyum malu. Melangkah mendekati Willem. Mengusap pelan puncak kepala Willem. Carlos memasang wajah cemberut. Lihat lah, jika ada Willem maka perhatian Sari akan teralihkan. Wanita itu mengiring Willem duduk di meja makan.
"Apa yang terjadi?" tanya Sari pelan.
"Ah!" Willem menghembuskan napas perlahan,"Bunda tau, tadi siang Sean dan Paman Leo berdebat masalah Buaya peliharaan Sean!" ujarnya dengan nada berat.
Sari duduk di samping Willem. Carlos mau tak mau seperti nya, pria ini harus makan malam dulu baru mandi. Dari pada Sari mendamping Willem makan di meja makan. Membiarkan ia sendiri di dalam kamar. Pria gagah satu ini memangku wajahnya. Ia jadi ikutan mendengar curhatan sang putra.
"Masalah Jumbo dan Jery?"
"Tidak Bun! Ini masalah Paman Leo sih sebenarnya. Kakek dan Nenek Sean mengatakan akan menikahkan Paman Leo dengan dua orang wanita sekaligus. Usulan ini dari Sean, panutan nya adalah Jumbo dan Jery. Karena itulah, Paman Leo tak bisa meluapkan kemarahannya pada Sean. Hingga berakhir ingin membunuh ke dua Buaya betina," curhat Willem mendapatkan tawa keras dari ke dua orang dewasa.
Carlos baru tau seasik ini mendengar kan keluh kesah putranya. Di sela tawa yang melambung Carlos mengucapkan banyak kata syukur. Willem memiliki sisi lucu dan polos dirinya. Yang dapat ia lihat.
Di waktu yang bersamaan rumah besar Yakuza tengah makan dengan khidmat. Meski dapat di lihat bagaimana raut wajah masam dari Leo.
"Hei! Wajahmu sungguh mengesalkan, Son!" tegur Zeo mendapatkan dengusan kesal dari sang anak.
"Seperti nya Paman masih kesal kakek dengan apa yang terjadi," seru Vian. Zeo menoleh ke arah Vian.
Pria tua itu tersenyum lucu. Ia tau apa yang di hebohkan oleh Leo dan Sean tadi siang. Yang lebih membuat Zeo bahagia di sini adalah Vian sudah mulai bisa terbuka dan mau berbicara dengan leluasa.
"Benar Kakek, masa Paman menyalah aku!" celetuk Sean memasang tampang polos seolah-olah ia adalah seorang korban.
Dera dan Hiro terkekeh pelan. Wanita manis itu meletakan lauk pauk di atas piring Vian dan Sean. Nomi mengeleng pelan. Yeko hanya menjadi pendengar yang baik. Sedangkan Clara, wanita itu sibuk menyuapi Cleo.
"Apa menikah dengan Buaya saja! Biar semuanya puas!" kesal Leo.
"Kenapa tidak jadi Buaya darat saja sekalian Paman Leo? Kata Papa Kalau jadi Buaya darat bisa mengencani banyak wanita yang berbodi boh——eeeppppzz!" Yeko membekap mulut Cleo.
Kontan orang-orang yang berada di meja makan menatap Cleo dengan pandangan beragam. Bulu kuduk Yeko berdiri kala mendapatkan tatapan mematikan dari sang istri. Sungguh! Cleo adalah titisan burung Beo. Ia bisa merekam dengan baik omongan nya.
"Heheh!!! Aku tidak bilang begitu sayang!" Ujar Yeko dengan wajah meringis.
.
.
.
.
Bersambung.....