
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
Uap minuman teh hijau mengepul di udara. Dingin nya pagi hari di Jepang benar-benar membekukan. Manik mata hitam legam, menatap pemandangan di bawah sana. Begitu banyak orang-orang beraktivitas di pagi buta. Mengingat Jepang adalah negara sibuk. Orang-orang yang berdomisili di Negera Sakura ini selalu enggan melalaikan waktu yang ada. Tidak seperti Negera Indonesia yang terkesan santai.
"Hari pertama bekerja, aku berharap akan lebih baik dari pada di Indonesia." Monolog Bian menyesap perlahan air Teh milik nya.
Tidak tau kenapa ia memilih untuk menjadi kan Jepang sebagai tempat ia mengembangkan ilmu nya. Pria gagah ini, terlalu lelah dengan negara nya. Mengingat setiap hari masih saja memikirkan hal yang sama. Di saat waktu sibuk nya telah berhenti. Belum lagi masalah beberapa Minggu yang lalu membuat kepala nya serasa ingin pecah saja.
Bukan menghembuskan napas perlahan. Kala memori otaknya kembali memutar pada beberapa Minggu yang lalu. Sebelum ia memutuskan mengambil pekerjaan di Jepang.
Flashback on
Kaca mata yang membingkai hidung bangirnya di letakan perlahan di atas meja kerja nya. Jam kerja Bian telah habis beberapa menit yang lalu. Akan tetapi pria ini memilih tetap di tempatnya. Ia merasa malas pulang ke rumahnya. Punggung belakang nya di sandarkan di kursi senyaman mungkin. Sebelum tangan kanannya menarik laci meja. Mengeluarkan surat siapa saja yang bersedia mencoba bekerja di Rumah Sakit mewah Jepang. Untuk beberapa bulan. Mengembangkan kemampuannya lebih lagi.
Ketukan di daun pintu membuat pusat perhatian Bian terputus. Ia memilih menyimpan surat pemberitahuan tersebut kembali ke tempat semula. Sebelum kembali membuka suara.
"Masuk!" seru Bian lantang.
Kreat!
Pintu kayu berderit kala di dorong perlahan. Senyum hangat dari wanita cantik di depan sana terlihat. Jihan menutup kembali pintu, sebelum masuk semakin dalam keruangan khusus Bian. Jihan mengayunkan rantang yang ia bawa.
"Ayo, makan dahulu. Ini masakan Mama ku, aku bilang kau tidak selera makan. Karena itu, Mama ku membuatkan makanan ke sukaanmu!" Seru Jihan mengusap bekal yang ia bawa sembari mengulas senyum.
Bian membalas senyuman yang di lemparkan oleh sang sahabat. Pria ini berdiri dari kursi melangkah mengikuti Jihan duduk di sofa. Tanpa canggung, Jihan duduk di samping Bian. Membuka satu persatu penutup kotak bekal.
"Wah! Tante masak banyak ternyata," seru Bian mencoba ceria.
"Tentu saja. Saat aku bicara tentang kondisi mu pada Mama. Beliau sangat khawatir dengan kesehatan mu, Bi!"
"Aku jadi tidak enak dengan Tante!"
"Kalau tidak enak, kau harus menghabiskan makanan yang di buatkan oleh Mama ku!"
"Tentu saja."
Dokter tampan ini mulai meraih sendok dan garpu. Jihan menatap wajah tampan Bian dengan pandangan tak biasa. Wanita ini sangat ingin melakukan banyak hal untuk pria yang ia cintai. Membuat Bian kembali seperti dahulu lagi. Ceria dan begitu hangat. Tidak seperti sekarang. Pria ini cenderung lebih menutup diri. Dan hidup pada bayang masa lalu.
Apa kelebihan wanita itu? Sampai sahabat sekaligus pria yang ia cintai ini begitu mengilainya. Jujur, di hati Jihan terdalam ia sangat membenci Dera. Karena wanita itu Bian menjadi sangat jauh berubah. Sampai-sampai, Jihan tidak tau lagi apakah pria yang tengah menyantap makanan yang ia bawa ini masih orang yang sama.
Saat pertama kali bertemu, Jihan sudah merasakan ketidak sukaan nya pada Dera Sandya. Hanya saja ia tidak mungkin memperlihatkan nya secara jelas akan ketidak sukaan nya. Hingga menghasut adik pria ini, secara tidak langsung. Agar tidak menerima Dera yang tidak sederajat dengan keluar Winata. Dera yang tidak cantik dan berpendidikan tinggi tidak pantas bersanding dengan Bian Winata. Siapa sangka jika saat itu, Keyla ikut terhasut. Anak remaja yang memiliki emosi yang menggebu-gebu mampu mengusir Dera dari kehidupan Bian.
Meskipun, Jihan melihat kehancuran dari pria yang ia cintai. Ia berpikir, itu hanya akan sementara tidak akan berlarut-larut. Bian akan melupakan Dera, seperti yang sudah terjadi pada mantan-mantan kekasih pria ini. Bahkan Aurora, gadis sok yang kecentilan itu mampu ia depak dengan mudah. Meski atas nama sahabat. Ya, atas nama persahabatan yang di dalamnya ada hati.
"Apa yang kau lamun kan, Ji?" Seru Bian membuyarkan lamunan Jihan.
Wanita cantik ini tidak tau hanya karena mengingat kembali kisah masa lalu. Bian telah menyelesaikan acara makannya.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Jihan terlihat bodoh.
Bian tersenyum sembari mengeleng pelan melihat sang sahabat yang terlihat aneh hari ini. Terlihat begitu suka melamun. Bahkan beberapa kali pertanyaan yang ia keluarkan tidak di balas. Hingga ia selsai makan. Bian membereskan kotak rantang. Menyusun kembali, sebelum berdiri. Ia harus pulang sekarang seperti nya.
Hap!
Bian membeku kala mendapatkan pelukan dari belakang oleh Jihan. Meskipun, ia dan wanita di belakang tubuh nya ini telah lama bersahabat. Kontak fisik yang berlebihan tidak pernah ia lakukan. Begitu pula dengan mantan kekasih nya dahulu. Kontak fisik yang sering mereka lakukan hanya sekedar pegangan tangan tak lebih. Apa lagi dengan sahabat nya satu ini.
"Ji!" Seru Bian mencoba melepaskan pelukan Jihan.
"Tolong jangan lepaskan Bi! Aku sangat ingin memeluk mu dan menjadi wanita untuk mu." Pinta Jihan mengeratkan pelukannya pada perut keras Bian.
"Hei! Apa maksudnya?" Tanya Bian yang masih mencoba melepaskan pelukan Jihan. Wanita ini begitu aneh.
Pelukan terlepas dengan cukup kasar oleh Bian. Pria ini tidak tau apa keinginan Jihan. Bian membalik kan tubuh nya, hingga ke dua nya dapat melihat ekspresi masing-masing.
"Apa kurang aku di mata mu, Bi?" tanya Jihan parau.
"Memang apa kurang mu? Aku sama sekali tidak tau apa maksud mu di sini, Ji!"
"Kau tidak tau?" tanya Jihan tak percaya,"Atau berpura-pura tidak tau. Kau jelas tau perasaan ku pada mu Bian. Aku menganggap mu lebih dari seorang sahabat. Aku mencintaimu. Sangat mencintai mu Bian!" lanjut nya sangat pelan. Masih dapat di tangkap oleh rungu Bian.
"Jihan aku———"
"Apa lebihnya wanita jelek itu huh? Sampai kau sangat menggilai nya. Menolak apa yang aku bisa berikan pada mu. Dia tidak punya wajah yang cantik, tidak menarik, tidak punya pendidikan yang tinggi bahkan tidak sederajat dengan mu. Tidak seperti aku!" Jihan meledak sudah.
Bian Winata tercengang. Begitu hinanya kah Dera di mata sahabat nya satu ini.
"Kau.."
"Cinta tidak pernah melihat hal seperti itu Jihan. Dan cinta tidak pernah mengukur derajat seseorang yang ia cintai. Aku kecewa pada mu!" lirih Bian.
Pria ini membalikkan tubuhnya. Cukup sudah. Ia tak ingin berdebat lebih kala melihat Jihan menangis. Ia melangkah cepat menuju meja. Meraih kunci mobil milik nya. Pergelangan tangannya di cekal dan di tarik kembali menghadap ke arah Jihan. Bian memejamkan ke dua matanya. Pria itu tidak tau kapan Jihan membuka baju kemeja nya. Menampilkan tangtop buru laut yang kontras dengan kulit putih pucat nya.
"Lihat aku Bian! Apa aku tidak menarik di mata mu!" seru Jihan dengan nada pecah. Ia telah membuang jauh harga dirinya sebagai wanita.
Bian menghembuskan napas kasar. Sebelum membuka ke dua kelopak matanya. Sentakan keras membuat tubuh Jihan jatuh ke sofa. Bian meraih kunci mobilnya dengan gerakan cepat. Kedua rahangnya mengeras. Melangkah lebar menuju pintu keluar.
Flashback off
Bian kembali mendesah kasar. Ia pikir menjauh dari hubungan yang pelik lebih baik. Semoga Jepang mampu membuat nya lebih rileks lagi.
***
Dua orang duduk di mini bar rumah besar Yakuza. Memperjuangkan bagaimana gagahnya seorang Hiro Yamato yang kini tengah berkutat dengan peralatan dapur. Kemeja putihnya di lipat sampai siku, memperlihatkan betapa keras dan kokohnya lengan Hiro. Di perindah dengan urat-urat tangan yang menonjol kontras dengan kulit putih nya. Dua kancing di buka. Sungguh! Terlihat sangat gagah.
Bunyi desir dari wajan kala beradu dengan sedikit minyak dan saus bolognese di masak dengan api sedang. Hiro Yamato terlihat seperti chief hebat sekarang. Tiga piring berisi spaghetti telah terhidang di mini bar. Aroma gurih dan sedap menggoda cacing-cacing di perut untuk mulai demo. Hiro mematikan api kompor sebelum melangkah mendekati mini bar. Membawa tiga piring berisi spaghetti mendekati kompor.
Saus di tuang perlahan di atas spaghetti. Hiro tersenyum lebar kala melihat hasil makanan buatan nya telah selsai. Melangkah mendekati meja. Kelayakan dua piring sebelum satu piring menyusul. Dera dan Sean terlihat antusias turun dari kursi mini bar. Melangkah mendekati meja makan yang tidak jauh dari tempat memasak.
"Silahkan duduk My love dan my prince!" Seru Hiro menarik dua bangku kayu bergantian.
"Terimakasih Kak!"
"Terimakasih Papa!"
Dua seruan terdengar bersamaan. Hiro menyusul duduk di depan ke dua nya.
"Selamat makan!" Seru ke tiganya serentak. Sebelum mulai meraih sendok dan garpu yang memang sudah di sediakan di atas meja.
Hiro menunda acara makannya. Hanya untuk melihat reaksi ke dua orang berharga didepannya. Dera dan Sean terlihat sumringah menyantap spaghetti bolognese yang telah selesai di buat oleh Hiro.
"Wah! Enak sekali. Bagaimana bisa Papa bisa memasak. Aku pikir hanya Mama saja yang hebat dalam memasak!" Seru Sean di sela kunyahan nya.
"Telan dahulu sebelum berbicara sayang!" tegur Dera. Wanita tengah hamil itu terlihat gemas melihat kelakuan sang putra.
Ia meraih tisu di atas meja mengusap mulut Sean yang belepotan oleh Saus. Sang empunya hanya tersenyum lebar, senyum tak berdosa.
"Tentu saja Papa bisa memasak. Hanya makanan luar negeri saja. Untuk makan Indonesia Papa tidak bisa. Karena terlalu ribet dan banyaknya bumbu," balas Hiro sebelum menggulung spaghetti dengan garpu.
"Sean juga mau bisa memasak. Masa iya Papa saja yang hebat Sean tidak!" seru Sean penuh semangat.
Dera kembali menyantap makanan yang ia idam-idamkan. Makan dengan tenang. Membiarkan ke dua nya berbincang-bincang.
"Saat ini fokuslah untuk sekolah dan perdalami ilmu beladiri dan menembak Sean. Untuk memasak ini adalah hal yang mudah. Papa ingin kau bisa melakukan dua hal itu terlebih dahulu," jawab Hiro tegas.
Pria ini sangat ingin Sean Yamato, sang putra mampu menguasai ke duanya. Jika bisa ia ingin Sean menjadi seorang penembak jitu. Karena bagaimanapun posisi sebagai tuan muda Yakuza tidak lah mudah. Apalagi selama ini, Hiro tidak pernah keras pada Sean. Pria ini ingin, Sean yang berinisiatif melakukan semuanya. Karena menjadi tuan muda Yakuza belum menjamin anggota akan mengakui dan menjadi kan sebagai penerus Yakuza. Bisa saja, posisi ini di rebut dengan mudah. Jika pengganti nya adalah lelaki yang lemah.
Berbeda dengan Dera sang istri yang ingin Sean Yamato menjadi orang biasa. Hiro tidak begitu. Pria ini ingin sang putra serba bisa. Hidup di dunia yang keras akan membuat banyak rasa sakit. Jika orang tersebut tidak mampu bertahan di tengah kekerasan dunia. Meskipun, saat ini dirinya yang menduduki jabatan tertinggi di Yakuza. Bukan berati jabatan yang ia peroleh dengan mudah.
"Baik Pa!" seru Sean pada akhirnya.
Sean bukan anak yang bodoh. Tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh sang ayah. Banyak bahaya yang mengintai baik dirinya sendiri atau pada sang Ibu. Dan Sean harus menjadi pria yang kuat dan tangguh untuk bisa melindungi apa yang berharga bagi nya.
"Sean bisa menjadi apa yang ia mau, Kak!" Dera membuka suara.
Dera tidak ingin Hiro terlalu menekan Sean. Meski tau apa yang di maksud kan oleh sang suami. Menjadi penerus Yakuza bukanlah hal yang mudah. Seperti yang pernah di katakan oleh sang suami. Latihan seperti apa yang ia jalani. Kegilaan apa yang telah di lalui oleh Hiro.
Dan Sean tahun besok akan berusia sepuluh tahun. Di usia itulah yang akan menjadi puncak dan awal mula seorang tuan muda Yakuza akan mendapatkan Irezuki atau yang di kenal sebagai tato di beberapa negara. Tentu saja ini bukan sembarang tato saja. Pembuatan dan lambang dari kelompok ada di dalamnya. Saat Sean mampu membuktikan diri jika ia layak menjadi penerus Yakuza. Maka saat itulah ia akan mendapatkan Irazumi di tubuh nya.
Hiro mengulas senyum lembut."Tentu sayang. Putra kita akan menjadi apa yang ia inginkan!" Seru Hiro meraih telapak tangan sang istri yang berada di atas meja. Mengusapnya perlahan. Memberikan sang istri ketenangan.
Hiro tidak ingin wanita ini terlalu banyak berpikir. Hiro bukanlah ayah yang kejam. Namun itu bukan berarti, ia akan membiarkan putra nya larut dalam lindungan nya.
"Benarkan Sean?" tanya Hiro beralih pada Sean sang putra.
Sean mengangguk pelan."Tentu Pap!" Balasnya tersenyum.
Ayah dan anak ini sama-sama tau kebohongan apa yang mereka ucapkan. Sean tau cepat atau lambat ia akan mengemban tanggung jawab yang besar. Anak lelaki yang selalu terlihat polos dan lucu di mata Dera sang Ibu. Bukanlah anak yang seperti itu sesungguhnya. Anak ini! Lebih berbahaya dari pada yang terlihat. Lihatlah senyum miring yang ia keluarkan pada sang ayah. Dan Hiro tau siapa dan seperti apa sang putranya. Anak yang akan sama seperti nya.
Biarkan Dera dengan ketidak tauan nya akan sifat asli sang putra yang selalu di katakan lucu ini. Dan jika bisa biarkan begitu.
.
.
.
.
Bersambung......
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???