Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 107 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


Grasak-grusuk, bunyi sirine tanda bahaya mengaung keras. Rumah besar Yakuza begitu ribut. Di dalam kolam, air hijau pekat berubah merah kecoklatan. Buaya besar Jumbo dan Jery yang awalnya berlari ke sana kemari kini telah tenang. Ke duanya sempat kalang kabut karena tindakan gila Leo Yamato. Empat Buaya betina telah tewas dan sang tersangka terduduk di tepian kolam dengan napas memburu. Baju kaos biru telah berubah warna. Pria gagah itu mengusap pelan pipinya yang terkena percikan darah. Pandangan mata tajam, tak lagi terlihat.


"Maaf! Mari——ah, kita sama-sama——singel!" Seru Leo di sela tarikan napasnya. Menatap ke dua Buaya di ujung sana.


Tidak ada bentuk kemarahan pada ke dua Buaya di sana. Seolah-olah ke duanya tersenyum sinis pada Leo. Bukanlah masalah, mati satu tumbuh seribu. Dapat perawan tingting lagi.


"Hei! Apa-apaan——dengan wajah kalian!" Tunjuk Leo masih dengan napas yang memburu."Jangan bilang kalian tidak mempermasalahkan kematian istri-istri kalian?" Tanyanya dengan pandangan tak percaya.


Serentak Jumbo dan Jery mengayunkan ekornya berenang. Mendekati Leo. Wajah nya tampak santai. Ayolah, ke duanya sudah terbiasa berganti pasangan. Bukan hanya Sean saja yang membuat pasangan mereka mati. Dulu——sekali, Hiro Yamato juga melakukan hal yang sama. Saat berlatih ketangkasan. Itulah, kali pertama mereka kehilangan pasangan. Yang terpenting di sini adalah nyawa mereka.


Derap langkah kaki orang-orang terdengar jelas. Pintu pagar masuk di buka lebar-lebar. Beberapa anggota masuk ke dalam dengan pandangan beragam. Tak lama langkah kaki lain ikut menyusul. Ayah dan anak menatap Leo dengan pandangan tak tergambarkan. Tuan besar Yamato juga datang, memakai pakaian kimono tidurnya.


Zeo berkacak pinggang menatap Leo."Apa-apaan ini Leo?" tanya Zeo dengan nada berat.


Hiro memberikan kode pada bawahan nya untuk meninggal kan area kolam Buaya. Yeko menggeleng pelan kepalanya. Sean memilih menatap empat ekor Buaya mahal yang ia beli. Ke empat nya gak lagi bernyawa. Lucunya, sang tersangka pembunuh malah menghentak kan ke dua kakinya. Masih dengan posisi duduk di lantai.


"Aku tidak mau menikah, Papa!!!" Kesal Leo seperti anak-anak berusi tujuh tahun.


Hiro, Sean dan Yeko mengangga melihat ekspresi dan tingkah ke kanak-kanak kan dari Leo. Kini, Hiro tau dari mana sifat sok Imut Sean berasal. Seperti nya di turunkan oleh sang adik.


"Aa——apa?" bahkan Zeo tergagap.


"Enak saja kalian ingin menikahkan aku dengan dua gadis kembar? Apa katanya kemarin?? Bisa tidur satu ranjang bertiga!!! Aku tidak mau!!!!" Cerocos Leo masih dengan wajah lucu.


"Bukankah bagus seranjang bertiga Paman. Jumbo dan Jery aja satu tempat dengan empat orang wanita!" celetuk Sean.


God! Lagi-lagi Leo di samakan dengan Buaya.


"Hai! Kau jahat sekali keponakan ku. Padahal dulu aku yang menimang-nimang mu. Di saat Papa mu membuangmu untuk bermesraan dengan Kakak ipar yang aku cintai. Kau malah menyudutkan ku," balas Leo dengan nada kesal.


Sontak saja mata tajam Sean berpindah pada Hiro. Lucunya, Hiro malah membuang muka asal. Adik gilanya ini bagaimana bisa ia membuka kartu as nya. Mata coklat tajam Sean terlihat ingin mencicang nya saja.


"Bahkan aku setiap malam rela di kencingi oleh dirimu. Papamu setiap malam mengetuk pintu ku hanya untuk bisa bersama Mama mu!!! Tega nya kau pada Paman, Sean!" Sekali lagi Leo membuka kartu ke dua.


Pandangan tajam berkali-kali lipat terlihat. Hiro mengeset tubuhnya. Berdiri di belakang Zeo. Tangan nya menggoyang kan tangan kanan sang ayah.


"Papa hentikan putramu. Aku tidak ingin tidak dapat jatah satu bulan karena Sean akan merecoki Dera dan aku!" bisik Hiro.


Yeko memangku tangan. Ke dua sisi bibirnya berkedut ingin memecahkan tawa keras. Di balik sifat lembut dan penyabar seorang Leo Yamato ada sifat iblis dingin. Mampu membunuh empat Buaya hanya dalam waktu lima menit saja. Di balik sifat lucu Sean ada sifat posesif tingkat dewa. Dan di balik sifat tegas dan dingin Hiro ada ketakutan di ganggu oleh Sean. Keluarga Yamato yang lucu.


"Kau tau lagi Sean, saat it——"


"Papa!!!!!!"


Hiro berteriak keras pada sang ayah. Memotong laju pengaduan Leo apa Sean. Zeo bingung. Sean menatap dengan pandangan membunuh. Mendengar ia di depak saat kecil oleh sang ayah. Membuat jiwa ketidak terimaaan dan posesif dari Sean bangkit.


"Papa hentikan dia!" pinta Hiro mendesah Zeo.


"Sean——"


"Kau tak usah menikah!" potong Hiro cepat.


Gila saja. Masih banyak aibnya pada Leo.


Senyum miring terbit di wajah Leo."Itu masih kurang!" jawab Leo cepat.


"Lalu kau mau apa lagi?"


"Aku ingin menikahi kakak ipar!" Jawabnya dengan senyum lebar. Ke dua alis matanya di naik turunkan.


Sontak saja Hiro dan Sean memasang tampang sangar.


Beberapa saat——tawa mengelegar. Kelima pria di dalam kolam tertawa keras. Entah mengapa rasanya perdebatan mereka terlalu aneh untuk di lanjutkan.


***


"Gila. Paman Leo ternyata sadis juga!" seru David mendengar kan akhir cerita Sean,"Padahal kita sudah susah-susah mencari kan calon pengantin untuk ke dua Buaya tua-tua keladi itu," lanjut David mendesah di akhir kata.


"Kenapa kalian memanggil Buaya tua itu seperti itu?" Vian buka suara. Anak satu ini tak mengerti pangilan aneh teman-teman nya.


"Itu kata khas dari Indonesia untuk orang tua mata keranjang!" jawab Delta.


"Lalu bagaimana, apakah kita akan mencari pengganti baru lagi?" tanya Willem penasaran.


Sean mengembangkan napas kasar. Menyandarkan tubuhnya di punggung kursi.


"Kita tunggu saja Paman Leo dapat jodoh."


"Lah! Kenapa begitu?"


"Papa tak ingin Paman Leo membunuh Buaya betina lagi. Bisa di bilang kesepakatan Papa dan Paman," jawab Vian.


Serentak ketiga nya mengangguk kan kepala mereka. David menyumpit udang tepung. Mencelupkan nya ke saus sambal. Sebelum memasukkan nya ke dalam mulut. Kelima nya makan enak dengan menu berbeda. Tentunya, makanan enak dari Dera dan Sari. Untuk Delta dan David. Ke duanya tidak membawa makan. Hanya menumpang pada ke tiga temannya.


"Jodoh itu terdengar rumit," ujar David membuka suara setelah mereka tak punya bahan obrolan.


"Kau sok dewasa, bung!" cibir Willem.


Delta terkekeh, mendapatkan tatapan kesal dari David. Si kembar hanya menjadi pendengar yang baik.


"Kau tidak tau, Mama dan Papa ku selalu saja mengosipkan tentang jodoh. Pernikahan dan perceraian," curhat David,"Aku ini seperti nya akan dewasa sebelum umur ku matang," lanjut nya.


"Tampang bule memang cepat tua kawan!" goda Sean.


David berdecis. Kenapa ke empat temannya suka sekali membulynya.


"Kalian berempat jahat. Suka membully ku. Nanti aku adukan pada Mama!" tukasnya.


"Kami gak takut tuh," cibir Willem.


"Benarkah?" tanya David dengan wajah tak yakin.


"Hem! Tentu saja!" Angguk Willem.


David tersenyum setan.


"Hei! Jangan bilang kau mengadu pada Mama Dera?" tebak Delta tepat sasaran.


"Tentu!"


"Dasar setan!" Seru ke empat nya serentak tak lupa. Cemilan ringan dia tas meja melayang pada David.


Anak itu mengaduh. Sayangnya, ke empat nya tak peduli. Terus menerus menghadiahi David si mulut ember dengan keripik kentang.


***


Belitan di perutnya. Membawa kepalanya menoleh kebelakang sedikit menengadah. Senyum lebar terbentuk.


"Aku merindukan mu." Seru Hiro meletakan dagu runcingnya di atas bahu Dera.


Dera tersenyum lembut. Tangannya terangkat mengusap pelana rangsang tegas sang suami. Ke dua balita cantik itu telah tidur siang dengan lelap. Terlihat sangat lucu.


"Kita setiap hari selalu bertemu. Apa yang membuat mu merindukan ku, kak?"


"Apa ya?" Hiro mencoba mencari alasan kerinduan nya,"Tidak ada alasan sebenarnya. Hatiku saja yang terlalu tak bisa tahan jika jauh darimu meski hitungan detik," lanjut nya.


Dera tak dapat menyembunyikan rona di ke dua pipinya."Gombal lagi."


Hiro menarik lebar garis senyum nya."Ini kejujuran sayang. Mungkin orang-orang menganggap nya sebagai gombalan semata. Kau tau bukan aku bukan pria yang romantis. Aku cenderung blak-blakan. Dan kata-kata itu pun sama."


Pelukan di perut Dera terasa mengerat. Hembusan napas berbau mint menerpa pipi kanan Dera.


Tidak ada jawaban. Debaran jantung terdengar jelas. Bersautan dengan denting jarum jam. Hiro melepas kan belitan tangan nya. Menegakkan tubuhnya, sebelum menarik tangan Dera menuju ranjang di sudut ruangan. Ke duanya duduk di atas ranjang. Dengan kepala Hiro jatuh di atas bahu Dera. Sebelah tangannya memeluk pinggang Dera.


"Terimakasih telah menjadi Ibu dari anak-anakku sayang!" Bisik Hiro lembut kala menenggak kan kepalanya.


Dera menoleh ke samping."Terimakasih juga telah menjadi ayah dari anak-anak ku, suamiku!" jawabnya.


.


.


.


.


Bersambung....


Tersisa 3 bab lagi ya all...


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???