
.
.
.
.
Gaun putih berbahan brokat polos membalut tubuh mungil Dera. Gadis itu terlihat manis untuk malam hari ini, dengan rambut hitam legam ditata rapi. Make up tipis menambah kesan ayu pada wajahnya. Bian mengandeng tangan Dera memasuki perkarangan rumah mewah milik keluarganya yang terletak di bilangan Jakarta Barat. Beberapa pembantu rumah Bian menyapa sang tuan muda dan juga gadis di sampingnya. Bian, begitu ramah dan hangat, baik pada pembantu rumah serta juga pada orang-orang luar. Tidak salah jika Dera menjatuhkan pilihannya pada lelaki yang menggenggam hangat tangannya.
"Nyonya dan Tuan Winata sudah menunggu di ruangan makan," seru wanita paruh baya memberi tahu sang tuan muda.
Bian tersenyum lembut, sebelum mengangguk pelan. Dituntun oleh wanita tua melangkah terlebih dahulu, manik mata coklat hangat Dera menyapu mulai dari ruangan tamu sampai berbelok masuk ke dalam ruangan makan. Rumah luas dengan gaya, Eropa klasik itu tampak megah dengan perpaduan warna putih dan emas.
"Sayang! Akhirnya kau datang juga!"
Seruan dari suara wanita yang tampak awet muda menyambut kedatangan mereka berdua, Dera melepaskan tangannya dari genggaman Bian. Ia tahu ibu lelaki itu pasti sangat merindukan putra tercintanya. Bian menerima pelukan sang ibu dan mengecup pipi kedua sisi wajah sang ibu tercinta dengan penuh kasih sayang. Ah! Dera rindu sang ibu, gadis ini menjadi ingat sosok sang ibu yang jauh di Padang, sana. Ia ingin pulang dan memeluk ibunya, pelukan yang selalu terasa hangat dan menyenangkan.
"Ma! Kenalkan ini Dera, dan Dera ini mamaku!" Bian berseru menunjuk mereka berdua berganti-gantian. Dera bahkan tak tahu kapan mereka melepaskan pelukan hangat nan manis antara ibu dan anak itu.
"Malam Tante, saya Dera." Dera menyodorkan tangannya.
Citra tersenyum lembut menyambut uluran tangan Dera gadis itu mencium telapak tangan calon ibu mertuanya. Di belakang tubuh Citra telah berdiri tuan Winata dengan dua orang gadis cantik, gadis berambut coklat keemasan itu tersenyum lembut di belakang tubuh tuan Winata dan Citra. Namun, satu lagi tidak begitu. Terlihat merenggut, tak suka pada kehadiran Dera. Seakan kedatangan Dera adalah hal yang tidak ia inginkan, Dera melepaskan tangan calon ibu mertua sebelum menyambut tangan calon ayah mertuanya.
"Ini adalah Adik bungsuku, namanya Keyra Winata," ucap Bian.
Dera menyodorkan tangannya pada Keyra. Namun, gadis berambut hitam legam itu mengangkat dagunya acuh setelah memindai Dera dari ujung rambut ke ujung kaki. Jelek dan kampungan, dua kata yang langsung ia dapatkan. Tersenyum sinis tak ingin menjabat uluran tangan Dera.
"Key!" seru tiga orang menegur gadis remaja itu.
"Namaku Jihan Amelia! Kamu bisa memanggilku, Jihan. Aku teman Bian saat SMA. Senang berkenalan denganmu Nona Dera!" Seru wanita berambut coklat itu menjabat tangan Dera.
Gadis cantik itu tersenyum lembut, Dera merasa agak malu. Kala Keyra tidak mau menjabat tangannya. Wanita di depannya ini sungguh cantik, dan baik. Setidaknya itulah kesan pertama yang Dera rasakan terhadap Jihan.
"Senang juga berkenalan dengan Kakak Jihan," jawab Dera di setau senyum lembut.
Keduanya melepaskan tangannya. Dapat Dera dengar sayup-sayup, Citra menegur putri bungsunya. Bian mengusap punggung tangan Dera membawanya menuju kursi di meja makan. Kedua orang tuan Bian telah duduk begitu juga dengan adik Bian dan juga Jihan. Bian menarik kursi kayu kebelakang. Untuk gadis itu duduki, sangat beruntung. Jika Dera bisa menikah dengan Bian. Keluarga lelaki ini begitu hangat. Kedua orang tua yang begitu baik. Meski adik perempuan lelaki ini agak menjengkelkan dengan aura kesombongan yang kental.
"Kami senang Bian membawa kekasihnya ke rumah ini. Karena Bian sangat jarang membawa seorang wanita ke rumah," ujar Citra membuka pembicaraan.
Dera tersenyum malu, sedangkan Bian terlihat membuang muka. Bisa dipastikan lelaki itu juga malu. Membuat kepala keluarga tersenyum menggoda.
"Ah, begitukah Tante, aku pikir Kak Bi akan membawa banyak wanita ke rumah. Karena Kak Bi begitu digilai oleh wanita-wanita cantik," goda Dera membuat Bian langsung menoleh ke arah Dera.
"Tidak. Bi tidak suka membawa wanita ke rumah. Setahuku, Bi hanya agak anti pada wanita. Apalagi kalau wanita itu agak yah! Tidak selera Bi!" timpal Jihan.
"Tidak juga. Kak Bi membawa Kak Luna ke rumah. Kak Luna begitu cantik dan modis. Tidak terlihat seperti—"
"Key!" untuk ke sekian kalinya Keyra mendapatkan teguran dari ke dua orang tuanya.
Dera hanya mengulas senyum. Bian menggeleng pelan, ia tahu jika Keyra hanya mendukung hubungannya dengan Luna. Namun, saat ini Bian tidak ingin dan tahu mau membahas gadis itu lagi.
...***...
"Bos! Makanlah sedikit. Dari kemarin Bos masih belum makan apapun," bujuk Clara setelah berganti dengan Yeko dengan wajah khawatir.
"Bagaimana aku bisa makan? Di saat dia belum ada kabar. Aku merasa hatiku sungguh tidak tenang." Hiro menjawab sembari menyentuh dadanya.
Ada perasaan tidak enak di hati lelaki itu wajah dingin nya semakin terlihat berantakan. Baru tiga hari saja, gadis itu tak tampak di matanya, Hiro sudah sangat kacau. Apalagi jika hitungan bulan bahkan sampai hitungan tahun. Tidak tahu apakah lelaki ini masih bisa terlihat baik-baik saja.
"Jika Bos seperti ini. Maka akan mempersulit untuk bisa mencarinya. Bos harus sehat agar bisa mencari Dera. Jika hal buruk terjadi dengan Bos. Bagaimana caranya, jika nanti bertemu dengan Dera?"
"Aku——sangat merindukannya," ujar Hiro lirih.
Mulut Clara terbuka sebelum tertutup kembali, kala ketukan di daun pintu terdengar jelas di ruangan kerja Hiro. Lelaki itu masih berada di perusahaannya. Ia enggan pulang ke rumah. Kala bayang-bayang Dera menyulitkannya untuk bernapas.
"Hiro!" seruan kala pintu terbuka lebar.
Clara menggeser posisi berdirinya yang tadinya berada di depan meja kerja Hiro. Kini berada di samping kanan meja kerja Hiro. Di atas meja terlihat dua kotak makanan yang sama sekali tidak di sentuh. Dahi Leo berlipat kala melihat wajah kusut Hiro, oa tidak tahu apa yang terjadi. Karena beberapa hari ini ia di sibukkan dengan bolak balik China-Indonesia.
"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Leo dengan nada berat.
"Kau datang," ujar Hiro tanpa mengindahkan pertanyaan Leo.
"Ya. Aku kesini mau mengatakan bahwa aku mungkin untuk beberapa bulan ini tidak bisa mengajar Dera. Karena mau membuka perusahaan baru di sini. Aku menelponmu dan bahkan datang ke rumahmu. Tapi kau tak menjawab dan tak ada di rumah," papar Leo menjelaskan.
Deru napas berat Hiro membuat kening lelaki tampan ini semakin mengerut. Tidak pernah ia melihat lelaki ini sekacau ini. Namun, yang menjadi pertanyaan di benak Leo adalah apa yang membuat seorang Hiro Yamato kacau? Clara hanya menjadi pendengar yang baik. Ia tidak masuk ke dalam pembicaraan keduanya. Memilih diam dan menjadi pengamat.
"Aku kehilangan Dera," tutur Hiro nyaris tanpa nada. Sungguh sangat pelan bak bisikan angin lalu.
"Apa?" ulang Leo yang tak dapat menangkap perkataan Hiro.
"Ada masalah? Dan aku kehilangan Dera. Gadis itu tidak terlihat dimana pun," sahut Hiro sebelum menyandarkan tubuhnya di kursi singgasananya.
"Apa? Dera hilang?" ujar Leo tak percaya.
Hiro hanya mendesah kasar. Ah! Kini Lelaki berdarah Cina ini tahu apa yang membuat Hiro kacau. Tak disangka, jika seorang bos mafia bisa kacau karena seorang gadis biasa. Tidak ada kata istimewa di gadis itu. Namun, mampu membuat bos mafia ini terlihat seperti anak ayam kehilangan induknya. Miris sekali. Tapi tunggu! Bukankah tadi siang dia melihat seluet Dera dari jauh. Gadis itu bersama seorang Pria. Ia bahkan menarik pria itu pergi kala melihatnya. Lelaki ini pikir Pria itu adalah anak buah Hiro.
"Tapi aku tadi siang melihat Dera bersama seorang lelaki di mall," gumam Leo membuat Hiro dan Clara langsung menatap dengan pandangan mendapatkan pencerahan.
"Benarkah?" Hiro bertanya langsung berdiri dari posisi duduknya dan melangkah mendekati Leo.
Leo mengangguk, dan menjawab, "Iya, aku sangat yakin kalau yang aku lihat itu adalah Dera."
"Di mana dan jam berapa?" Hiro bertanya menyentuh pundak Leo dengan energi penuh membuat Leo meringis pelan saking kuatnya cengkraman Hiro.
"Jam empat di Mall Pejaten Village!" ujar Leo. Langsung mendapat wajah cerah Hiro.
"Clara! Cepat kabari Yeko. Langsung lacak jejaknya!" titahnya.
Clara langsung keluar dari ruangan kala perintah diberikan, Hiro tersenyum lega. Ia tidak akan kehilangan Dera. Tidak akan! Apapun yang terjadi dan apapun kondisinya. Hiro Yamato akan tetap mencintai Dera.