Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 9




.


.


.


.


.


.


Manik mata coklat terang itu menatap lekat wajah serius lelaki yang dipuja dengan penuh damba. Aroma Pinus menyeruak masuk ke dalam paru-parunya, kala udara dipompa masuk. Bian mengulas senyum lembut, tangan kokoh Bian melepaskan pergelangan tangan Dera. Gadis itu duduk dari posisi tidurnya, ia turun dari ranjang pemeriksaan. Sedangkan di bangku, tepat di depan meja konsultasi bersebelahan dengan ranjang pemeriksaan sudah ada yang menunggu.


Bian duduk terlebih dahulu disusul oleh Dera, lelaki asli Jakarta itu terlihat begitu cepat mencatat resep obat yang akan ditebus oleh Dera dan Clara. Manik mata bulan sabit Dera terlihat begitu memuja, hidung mancung, alis mata hitam tebal nan rapi, bulu mata lentik tebal, dan jangan lupakan bibir tebal yang terkesan hot.


Dokter Bian begitu sempurna. Dokter laki-laki, di depannya ini adalah satu-satunya lelaki yang sangat ia harap bisa menjadi suaminya kelak. Garis bibir terangkat tinggi, kala matanya tak sengaja beradu dengan manik mata hitam legam sang dokter. Diam-diam Clara memperhatikan dua orang yang terlihat curi pandang satu sama lain, sangatlah jelas ada rasa di antara mereka berdua. Namun, gadis Cina itu tak mau mengomentari tentang hati. Ia memilih diam, dan berlagak seolah tak tahu.


"Tidak ada penyakit yang serius pada Nona Dera. Nona Dera merasa lemas hanya karena kekurangan darah dan sedikit stres saja. Ini bisa di tebus di ruangan obat nanti," tutur dokter Bian dengan lembut mejelaskan kodisi Dera dan menyodorkan selembar kertas dengan tulisan yang tak bisa dimengerti oleh Dera.


Gadis berkulit sawo matang itu menerimanya dengan senyum lebar. "Terima kasih Dokter," tuturnya pelan.


"Sama-sama," jawab lelaki itu menatap lama Dera.


"Kalau begitu kami permisi Dok! Terima kasih telah memeriksa Nona Dera," ujar Clara sebelum berdiri dari posisi duduknya.


Dera ikut berdiri, Clara melangkah terlebih dahulu meninggalkan ruangan. Dera yang ingin melangkahkan kakinya namun terhenti kala suara husky itu mengalun menyapa rungu Dera.


"Jika tidak merasa nyaman kerja, kau bisa mengabari aku, De! Aku melihat kau tak seperti dulu lagi. Pandanganmu terlihat begitu sayu dan tertekan. Aku akan membantumu menemukan perkejaan yang pas untukmu," seru Bian.


Dera membalik tubuhnya, menatap lama wajah Bian. Sungguh! Bukan itu masalah pekerjaan yang membuat Dera merasa tertekan. Namun, karena insiden yang terjadi beberapa minggu lalu. Menyisakan trauma didiri Dera. Tapi, apa boleh buat ia tak bisa mengeluh dan berteriak jika ia ingin bebas dari Hiro.


Jika ia memberontak, maka ada banyak nyawa yang akan melayang. Ada banyak darah yang akan tumpah. Dera tak ingin itu terjadi, hingga sebisa mungkin menahan semuanya. Sampai Hiro merasa bosan bersamanya. Walaupun, ia sendiri tak tahu berapa lama kata bosan itu akan muncul di permukaan.


Bian berdiri dari posisi duduknya melangkah mendekati Dera yang masih diam menatap dirinya. Dera menengadah menatap wajah putih bersih sang dokter belahan hati.


"De," panggil Bian pelan.


"Jangan khawatir Kak! Aku baik-baik saja. Pekerjaan di sana tidaklah berat Kak Bian. Lagi pula teman-teman baruku di sana sangat baik padaku. Aku hanya saja yang terlalu banyak pikiran. Dan juga malas makan," bohong Dera.


Tak lupa gadis itu memberikan senyuman terbaik, seolah ia berkata bahwasanya ia baik-baik saja. Dan Bian tidak perlu khawatir akan hal itu. Dokter Bian menghembuskan napas lega dari mulut. Ia bersyukur, jika apa yang ada di otaknya tak sama dengan apa yang gadis ini alami.


"Jika ada apa-apa hubungi aku ya, De!" Bian berucap sembari menyentuh puncak kepala Dera dengan sangat lembut.


Dera mengangguk antusias. Hatinya terasa lega. "Bolehkan aku memeluk Kak Bi! Sebentar saja?" tanya Dera dengan nada tak yakin.


Tanpa kata Bian Winata menarik tangan Dera, membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Mengusap pelan punggung belakang Dera. Aroma maskulin Bian semakin terperosok masuk ke dalam indra penciuman Dera. Gadis ini suka dengan aroma khas Bian. Terasa begitu jantan dan juga memenangkan.


KRET!


Bunyi pintu kayu terbuka membuat Dera dan Bian melepaskan pelukan mereka. Dan menoleh menatap gadis cantik yang hanya berdiri di ambang pintu. Dengan wajah terlihat datar.


"Mohon maaf menganggu, kita harus segera sampai di rumah De," peringat Clara masih dengan wajah datar dan nada terkesan dingin.


Dera mengangguk pelan, sedangkan lelaki ini hanya bisa menatap punggung Dera. Tanpa ia sadari hatinya mengeluh kala tak bisa menahan lengan Dera. Meminta agar gadis itu lebih lama bersamanya. Namun, melihat netra coklat Dera bergetar takut. Ia urungkan niatnya, mungkin lebih baik membiarkan Dera pergi.


...***...


"Sudah minum obat?" tanya Hiro pelan.


"Ya," jawab Dera seadanya.


Hiro menatap wajah Dera dengan pandangan tak terbaca, wajah Hiro selalu terlihat datar dan dingin. Sulit membaca dan menebak apa yang ada di otak Hiro. Bos Yakuza itu meletakan buku bacaannya di atas nakas di samping tempat tidur.Tubuhnya yang menyamping kini di hadapan dengan tubuh Dera. Gadis berambut sebahu itu merasa gugup, ia diam dan membeku kala manik mata tajam dingin Hiro menatap wajahnya.


Hiro tak menjawab, manik matanya masih menatap intens wajah Dera. Gadis itu merasa berkeringat dingin bahkan hanya untuk meneguk salivanya saja ia tak sanggup.


"T——uan," panggil Dera lagi dengan gagap dan bergetar.


Telapak tangan hangat Hiro menyentuh punggung telapak tangan Dera, gadis itu merasa seluruh tubuhnya mendingin dan menggigil. Seolah-olah, lelaki yang kini menyentuhnya dengan hangatampu menyalurkan hawa dingin masuk ke dalam tanah tubuhnya.


"Ayo, temani aku makan," balas Hiro pada akhirnya hampir membuat rahang Dera jatuh kelantai.


Hebat. Sungguh! Bagaimana bisa lelaki ini tidak tahu. Diamnya begitu berbahaya, tatapan matanya mampu membunuh orang-orang tanpa harus menyentuh. Hampir saja Dera mati karena ketakutan nya pada Hiro. Namun, apa yang terjadi? Hanya meminta untuk menemaninya makan saja. Dera merasa tersiksa.


"Eh!" seru Dera pelan. "Baik. Ayo Tuan kalau begitu," lanjutnya dengan mengumpulkan keberanian turun dari ranjang dan menarik tangan Hiro keluar dari kamar.


Bukankah lebih baik menemani lelaki gila ini makan? Dari pada ia yang harus menjadi santapan Hiro. Tidak ada yang tahu bagaimana senyum sangat tipis membingkai bibir Hiro, lelaki itu mengikuti Dera yang menariknya menuju tangga. Dua penjaga yang ditugaskan menjaga kamar membungkuk hormat kala Hiro dan Dera melewati mereka. Bahkan kala mereka berdua sampai di undak tangga terakhir pun ada dua orang bertubuh kekar dengan pistol di pinggang sebelah kanan mereka.


Rumah besar itu di jaga ketat oleh pengawal kepercayaan Hiro. Dera merasa semakin terkekang dan risih saja. Lagi-lagi ia tak bisa berbuat banyak menerima semuanya. Toh! Itu juga demi keselamatan dirinya juga.


...***...


"Apa kau benar-benar bisa belajar saat ini?" pertanyaan dilemparkan oleh Leo membuat Dera menoleh ke sisi sebelah kanan.


"Ya." Dera menjawab sembari mengangguk.


Leo menatap lambat wajah Dera sebelum beralih pada buku paket. "Kalau tak suka belajar bahasa Jepang kenapa tidak berterus terang pada Hiro?" tanya Leo pelan.


Lelaki itu menyandarkan punggung belakangnya dengan nyaman di kursi besi. Angin berhembus pelan, membelai anak rambut Leo. Lelaki berkulit pucat itu sangat tahu, jika Dera bukan bodoh dalam pelajaran yang diajarkannya. Namun, gadis itu tak suka belajar bahasa Jepang.


"Lalu aku akan mati, begitu?" tutur Dera mencibir.


Leo terkekeh pelan, ia baru tahu jika Dera begitu berani padanya. Namun, takut pada Hiro meski sebenarnya ia dan Hiro itu sama. Yaitu, sama-sama berbahaya dan berhati dingin. Namun, gadis di sampingnya ini tahu betul siapa yang paling berbahaya.


"Itu tidak mungkin. Hiro akan mendengarkan maumu," balas Leo.


"Tidak, ah! Aku masih sayang nyawa. Aku tidak ingin coba-coba. Karena ini bukan tentang gosok-gosok berhadiah," bantah Dera.


Gadis berpipi chubby ini merasa Hiro tak bisa mendengar, tak bisa dibantah. Hiro Yamato adalah seorang bos yang harus dituruti. Apapun yang ia mau harus dilaksanakan dengan cepat. Jika tak mau nyawanya melayang.


Gelak tawa Leo membuat beberapa pasang mata menatap keduanya. Termasuk manik mata hitam tajam yang menatap keduanya dari balkon ruangan atas tempat kerjanya. Di belakang tubuh Hiro ada Yeko, yang selalu setia menemani.


"Apakah tidak apa-apa membiarkan Nona Dera belajar dengan Tuan muda Zhang?" tanya Yeko pelan.


Hiro tak memutuskan tatapannya dari wajah Dera, yang terlihat kesal sedang Leo masih tertawa lepas. "Tidak masalah. Selama kucing nakal tak menaruh hati padanya," jawab Hiro dengan nada berat.


Yeko mengangguk pelan namun, jauh di dalam hatinya, ia mulai yakin jika bosnya jatuh hati pada gadis di bawah sana. Secara kasat mata, Dera Sandya adalah gadis biasa. Tidak ada yang istimewa, Dera tak secantik gadis di luar sana. Tak seseksi gadis penghibur dan para model dewasa. Yeko tak tahu apa yang membuat bosnya jatuh hati.


Hiro Yamato adalah pria dingin dan tegas. Belum pernah terlibat asmara dengan gadis manapun. Meski tak bisa menutup mata, bagaimana para gadis melemparkan tubuh mereka di atas ranjang Hiro. Namun sayangnya, Hiro tak pernah peduli. Kepeduliannya jatuh pada Dera, pada gadis yang tak cantik itu tanpa alasan yang jelas.


"Bagaimana dengan kelompok kita di Jepang? Apakah ada masalah di sana?" tanya Hiro menyentak Yeko dari lamunannya.


"Tidak ada Bos. Hanya saja, ada beberapa pulau yang akan dialihkan atas nama Bos. Dan dijadikan Kasino terbesar di Okinawa," jelas Yeko.


Hiro mengangguk pelan, kekuatan dan kekuasaannya semakin membesar. Impian besar Hiro akan menjadi kenyataan, menaklukkan dunia dan bertahta dengan sempurna.


"Siapkan pesawat pribadi, untuk besok. Aku ingin mengecek pembangunan Kasino di Okinawa. Dan minta Clara mempersiapkan kebutuhan Dera. Ia akan ikut serta," titah Hiro menutup pembicaraan.


————————————————————————


Mohon Like dan Komentar nya, All😅😅


Biar Aku lebih semangat untuk bisa updatenya🤣🤣🤣 Jika banyak yang menanti dan suka 😊 tolong tunjukkan dukungan nya dengan semangat penuh agar ku bisa update gila-gilaan 😉😉😉😉


Aku tunggu loh... komentar dan Like nya😉😉😍😍😍😍🤭