
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
Beberapa kali bolpoin di putar pelan. Hampir beberapa kali anak berdarah Yakuza itu menguap bosan. Semua esai sudah di jawab tanpa terkecuali. Waktu masih sisa dua puluh lima menit lagi. Di samping meja miliknya, anak lelaki bermata biru itu terlihat menggaruk tengkuk belakang nya. Senyum tipis terbentuk di bibir Sean melihat bagaimana wajah bingung bercampur frustasi milik David. Anak yang selalu saja mengikutinya kemanapun ia pergi. Bahkan rela-rela membawa kan bekal ke sekolah. Padahal kediaman besar Miyaki sudah sangat sibuk. Ditambah ke dua orang tua David Miyaki adalah orang-orang sibuk.
Berbeda dengan nya. Memiliki ibu yang memang mengurusi rumah tangga. Memasak untuk nya dan memenuhi kebutuhan yang lain nya. Jika di lihat-lihat, David memang agak kekurangan kasih sayang. Mengikuti dirinya kemana-mana adalah kesukaan David. Meskipun lidahnya akan mengeluarkan kata-kata tajam. David akan hanya tersenyum bodoh. Seolah-olah apa yang di katakan olehnya bukanlah kata-kata kasar.
"Kau tidak belajar kemarin?" bisik Sean pada akhirnya.
David menoleh pada teman sebangku nya. Tersenyum bodoh.
"Kau tau kan, aku ini tidak sepintar mu. Sebenarnya sih aku sudah belajar. Membaca nya tapi sepertinya mereka yang sangat sombong tidak ingin menetap di otak ku. Aku bisa apa," keluh David nyeleneh.
Senyum segaris terlihat. David tersenyum lebar melihat Sean tersenyum. Teman nya ini sangat sulit tersenyum di sekolah. Selalu memasang wajah datar.
"Bodoh," cibir Sean pelan.
David masih memasang wajah sumringah. Bak anak kucing manis yang tengah butuh pertolongan.
Sean mengeleng pelan. Sebelum manik matanya menatap lembar jawaban David. Ada banyak yang kosong. Dasar David.
"Ini rumusnya. Sejak kapan soal Matematika di hapal. Kau benar-benar bodoh!" Cibir Sean lagi menyodorkan kertas corat coret nya ke meja David. Sebelum melirik guru di depan sana beberapa kali menutup mata.
Kelas yang sunyi kala mengerjakan ujian membuat sang guru terkantuk-kantuk.
Degan hati berbunga-bunga David menerimanya. Akan tetapi pupil matanya membulat sempurna melihat rumus-rumus yang ada. Apakah Sean mau melawak bersama nya. Yang benar saja, meskipun anak di samping nya ini memberikan nya bocoran rumus. Jika pemahaman orang tersebut tidak matang. Rumus hanya menjadi perias semata. Sean Yamato kurang asam.
"Teman. Kenapa kau lakukan ini pada ku?" tanya David dengan suara sendu.
Sean kembali mengembangkan senyum khas miliknya.
"Setidaknya, jika kau isi rumus yang benar saja. Aku yakin, pak Neji akan memberikan nilai usaha susah payah untuk mu. Meski jawaban nya salah. Aku sudah berbaik hati memberikan mu bocoran rumus. Ini sudah kebaikan yang tidak bisa di hitung kawan!" balas Sean begitu gampang nya.
"Ah! Bener juga ya. Setidaknya, kertas milik ku tidak kosong melompong kan ya. Dan ada nilai lah," balas David yang berubah ceria.
God! David benar-benar membuat Sean gemas. Ekspresi Sean kembali dingin kala merasa sepasang mata memperhatikan nya dengan pandangan intens. Sean memutar sedikit lehernya kebelakang. Senyum miring kembali menyapa nya. Ini sudah ke berapa kalinya anak baru itu menatap nya seperti ini. Dan memberikan nya senyum miring. Tidak mungkin anak itu suka padanya kan?
Willem Zhao adalah anak anak baru yang di gadang-gadang kan menjadi rival nya. Akan tetapi anehnya, Willem malam seakan tertarik dengan nya. Ugh! Sean Yamato merasa ngeri.
Ia kembali menatap lurus ke depan. Cih! Melihat nya saja Sean merasa sudah menyebalkan.
***
"Berapa yang sudah tertangkap?" Seru Hiro menatap anak buahnya.
"Ada tiga puluh orang Bos. Dan yang hidup hanya tersisa lima orang dari tiga puluh orang itu. Mereka lebih banyak tertembak karena mencoba kabur," lapor Yeko dengan wajah letih.
Pemburuan besar-besaran mereka lakukan untuk menangkap orang-orang yang mencoba kabur. Hiro Yamato mengangguk pelan. Pakaian mereka terlihat kumuh dan di penuhi noda darah yang mengering.
"Kita interogasi sekarang!" Ujar Hiro melangkah mendekati pabrik terbamgkalai di hutan jauh di selatan Vietnam.
Yeko mengangguk. Mengikuti langkah sang Bos. Jeritan dan erangan kesakitan berserta bau anyir menerpa dua Indra tubuh sekaligus. Bagi Hiro ini adalah pemandangan bisa di matanya. Sebelah tangan Hiro terangkat anak buahnya mengehentikan penyiksaan. Terlihat tiga orang telah terkapar tidak berdaya. Besar kemungkinan jika mereka telah mati.
"Kau! Katakan di mana Bos mu itu!" Seru Hiro menginjak kepala pria berkepala plontos yang terdapat beberapa luka di tubuh nya.
"T—tidak, ak..u tidak.. tau!" Ujar nya menarik napas beberapa kali.
"Kau tau bukan aku bukanlah Bos Mafia yang berbaik hati pada lawan?" ancam Hiro dengan wajah dingin,"Berikan Katana!" Seru Hiro mengulurkan tangan kanannya pada Yeko.
Buru-buru Yeko meraih pedang panjang ke tangan Hiro. Mata pedang langsung di hunuskan ke leher pria tak berdaya itu.
"Aku hanya dapat mengulang satu kali lagi di mana dia?" Tuntut Hiro penuh tekanan di setiap nada yang ia ucapkan.
Teman di samping nya yang tergeletak tak berdaya terlihat begitu lemah mengeleng pelan ke arah teman yang berada di kaki Hiro. Mereka, setiap anggota Mafia selalu mengambil sumpah setia pada majikan dan kelompok mereka. Janji setia adalah harga mati bagi setiap orang. Begitu pula dengan orang-orang yang lari dan mati saat ini. Mereka lebih memilih mati dari pada membuka mulut atas keberadaan sang bos besar.
"Cih!" Decak Hiro pelan. Muak sudah pria ini.
Slass!!!!
Slass!!!!
Dua kali tebasan memutuskan dua leher sekaligus. Darah bak air mancur mengenai wajah dan tubuh Hiro. Aura membunuh menyebar, meski sudah biasa dengan kematian orang-orang. Namun, aura yang di keluarkan oleh Hiro sangat menakutkan. Dua kepala menggelinding bersama darah yang merembes. Sungguh sangat mengerikan.
Yeko diam tanpa kata. Ia tau ketidak berhasilan adalah keburukan di mata Hiro. Pria ini akan mendapatkan mood yang buruk saat operasi besar seperti ini berbuah kegagalan. Dua hari mencari di Vietnam, satu malam berburu tanpa tidur menyebar ikut mengejar anak-anak Dragon. Tapi tidak ada hasil yang pria ini dapat kan.
Ke dua kelopak matanya tertutup perlahan. Menekan keinginan untuk membunuh membabi buta. Bayangkan sembilan tahun bukanlah waktu sebentar Hiro mencari keberadaan Mirabel. Berserta anak-anak Dragon. Meskipun suami-istri Bos Mafia Dragon mati di tangannya. Bukan berarti kemenangan berada di tangannya. Mirabel berserta kelompok Dragon yang belum musnah adalah ancaman baik untuk istri maupun anak-anak nya di kemudian hari.
"Lakukan pencarian informasi baru. Mereka harus di tangkap cepat atau lambat kali ini tidak ada kegagalan lagi!" seru Hiro dengan nada dingin membuat para anak anggota Yakuza lainnya kalang kabut keluar dari pabrik terbangkalai.
***
"Berpencar!" titah Leo sebelum masuk ke dalam Supermarket Asia. Dimana menjual bahan-bahan makanan khusus Asia tenggara.
Mereka mengangguk dan menyambar. Memakai pakaian biasa untuk mengintai pergerakan Isteri sang Bos. Leo masuk dengan santai. Di depan sana Dera menarik keranjang besar. Langkah kaki Leo terlihat cepat. Mendekati Dera, meraih keranjang yang Dera dorong.
Wanita manis itu tersenyum pada adik iparnya.
"Terimakasih," seru Dera sebelum melangkah mendekati rak bumbu dapur Indonesia.
Leo tersenyum lembut sebelum mendorong keranjang. Beberapa pasang mata memandang kagum Leo. Wajah tampannya benar-benar mampu membius banyak orang-orang. Ada yang terang-terangan mengedipkan sebelah mata mereka pada Leo. Ada juga yang berbisik-bisik, mengatakan pasangan yang beda paras. Bak langit dan bumi. Sayangnya, Dera tidak ambil hati. Sudah biasa dan terbiasa. Orang-orang banyak berharap jika pasangan pria tampan dengan wanita yang cantik akan jadi pasangan yang serasi. Ada juga yang akan berbisik-bisik apa yang di berikan gadis asal Padang ini pada pria yang berjalan beriringan dengan nya. Saat di Indonesia dulu, bahkan ada yang terang-terangan bertanya padanya kemana ia mencari dukun pelet sampai bisa mendapatkan pria setaman Hiro Yamato. Atau ada juga yang bertanya apakah harta nya banyak sampai pria setampan dan sesempurna Hiro Yamato jatuh hati padanya. Dan wanita satu ini hanya tersenyum masam.
Mereka terlalu resek untuk bertanya hal seperti itu. Jika bertanya pada dukun mana ia menuntut ilmu, yang benar saja. Wanita ini belum satu sekali pun pergi ke dukun. Punya niat sih iya dulu, saat ia menilai Dokter tampan Indonesia itu. Tidak ada yang tau seperti apa pria yang di takdir kan untuk kita nikahi bukan?
"Ada apa?" tanya Leo kala kaki mereka berhenti.
"Aku melupakan satu bumbu lagi!" balas Dera tersenyum lembut.
"Ayo, kita ambil!"
"Tidak usah. Kamu di sini saja, aku akan mengambil nya sendiri. Lagi pula hanya satu bumbu saja yang lupa. Teruslah ke kasir duluan."
"Tapi.."
Dera telah melangkah dahulu. Meninggalkan Leo sendiri, pria itu mendesah pelan. Manik matanya mengedar, ada beberapa anak buah Yakuza yang pelan-pelan mengikuti langkah Dera. Leo melanjutkan langkahnya menuju kasir. Ia yakin, Dera akan aman. Mengingat ada banyak anak buah Yakuza di sini.
Mata Dera tampak liar menatap bagian bumbu kembali. Segaris senyum tipis terlihat. Kala mata indah milik nya menatap bumbu Sajiku Nasi Goreng. Mau masak Nasi Goreng tidak akan terasa nikmat tanpa bumbu turun temurun itu. Dera mendekati rak bumbu Sajiku.
"Ah! Tinggi nya!" keluh Dera pelan.
Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak tampak ada tanda-tanda orang yang bisa di minta pertolongan. Kembali Ibu satu anak ini mendesah kasar. Sebelum mengapai-gapai. Tak jarang ia meloncat-loncat pelan guna menggapai bumbu yang ia inginkan. Sungguh menyebalkan jadi orang pendek. Selalu seperti ini. Saat berbelanja akan kesulitan meraih benda yang tinggi.
Aroma permen karet bercampur bunga mawar menguar memasuki paru-paru. Punggung belakang Dera terasa hangat, kala bersentuhan dengan tubuh lain. Telapak tangannya bergesekkan dengan tangan kekar. Seorang pria! Ia meraih bumbu yang ingin Dera ambil.
"Anda membutuhkan bumbu berapa pack?"
Sura Bariton menyapa pendengaran Dera sangat berat dan dalam.
"Satu kotak!" balas Dera pelan. Bak cicitan.
Sial sekali. Bagaimana bisa pria ini terlalu mepet padanya. Pria itu meraih satu kotak bumbu Sajiku tanpa merubah posisi nya.
"Apa hanya cukup satu kotak saja?" tanya dengan bahasa Jepang yang fasih.
"Ya," jawab Dera cepat tentu dengan bahasa yang sama,"Tuan tolong mundur sedikit tubuh Anda terlalu dekat dengan saya!" lanjut Dera memperingati ke adaan mereka.
Senyum miring tercetak. Aroma sampo strawberry perlahan menghilang kala ia memundurkan tubuh nya.
"Ah, maaf kan saya." Ujarnya terkekeh pelan.
Dera membalikkan tubuh nya. Ia hanya mampu tersenyum canggung.
"Ya, tidak apa-apa. Bisakah tuan memberikan bumbu itu pada saya?" Tanya Dera menunjuk ke arah kotak bumbu yang masih pria itu pegang.
Kembali lagi pria itu terkekeh pelan.
"Ini bumbunya!" Ujarnya menyodorkan satu kotak bumbu Sajiku pada Dera.
Dengan cepat Dera meraihnya. Dan membungkuk sedikit sebagai ucapan terimakasih. Kebiasaan orang Jepang, China dan Korea adalah membungkuk sebagai salam ataupun penghormatan.
"Terimakasih!" Ujar Dera menegakkan tubuhnya dan melangkah pergi.
Mata hitam legam milik sang pria memperhatikan punggung belakang Dera dengan senyum ganjil.
"Perempuan yang jual mahal!" serunya sebelum terkekeh pelan.
***
Meja makan terdengar sangat ramai meskipun yang duduk tidak terlalu banyak. Mengingat ada dua anggota keluarga yang tidak di rumah. Keributan berasal dari anak perempuan berusia enam tahun dan anak lelaki yang berusia sembilan tahun. Ke dua nya meributkan masalah sepele. Apa lagi jika bukan seputar bintang kesayangan Cleo dan Sean.
"Nanti akan Abang belikan kelinci baru," pada akhirnya Sean mengalah.
Cleo memonyongkan bibirnya. Anak dari Yeko dan Clara menangis tersedu-sedu karena kelinci putih nya mati di tangan Buaya besar Yakuza. Meski Clara sudah membujuk akan membeli yang baru seperti nya anak perempuan pertamanya ini masih enggan. Sampai di bawa masalah di meja makan. Meski Cleo sudah berhenti menangis.
"Tapi tidak akan ada yang seimut kelinci putih ku," bantah Cleo dengan nada kesal.
Sean meletakan sendok dan garpu di atas piring. Mengusap puncak kepala Cleo lembut, meskipun Sean Yamato terlihat dingin dan menakut kan. Dan sering menjahili Cleo tapi anak lelaki ini sayang pada Cleo. Mengingat ia juga ikut menjaga Cleo saat masih bayi. Sekarang Cleo akan memiliki seorang adik dalam hitungan bulan.
"Nanti Abang belikan lima. Yang sama persis dengan Kelinci mu. Kalau kau tidak suka nanti Abang belikan Beruang lucu untuk di bawa tidur," bujuk Sean membuat mata Clara dan Dera membulat sempurna.
"Sean!" tegur Dera.
Sean menoleh menatap ke depan. Ia terkekeh pelan menatap wajah marah sang Ibu.
"Becanda Ma!" kilah Sean. Meski sebenarnya Sean mau-mau saja membeli kan Cleo anak beruang madu untuk di pelihara.
"Kalau begitu anak panda saja," balas Cleo yang kini berubah semangat.
"Tidak boleh. Itu berbahaya!" cegah Clara pada sang putri.
"Tapikan lebih berbahaya si Jumbo dan Jery Bun," protes Cleo dengan kesal.
"Tidak berbahaya. Karena mereka sudah tua Cleo. Kau tidak lihat jangankan untuk membunuh orang mengejar orang saja ia malas. Karena sudah tua," celetuk Sean.
Leo tertawa pelan mendengar kan perkataan Sean. Dera mengeleng kan kepala nya. Clara merasa pening seketika. Jika putri nya bermain dengan Sean bisa-bisa otaknya juga rusak.
.
.
.
.
Bersambung....
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???