Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 24



Dear my reader, mohon Vote, like dan Komen nya dongπŸ˜€


katanya mau cerita nya update setiap hari,🀭 Author butuh bukti nya, dengan cara memberikan dukungan, baik melalui Vote, like dan komentar nya^^



.


.


.


.


Manik mata hitam legam itu tak henti-hentinya menatap takjub sekeliling. Kota Tua di Shanghai memang mempesona. Kevin mengulum senyum, melihat bagaimana antusias nya gadis itu. Padahal tadi pagi ialah yang menolak untuk di ajak keluar apartemen. Namun saat ini malah dia yang terlihat antusias, ke sana kesini.


"Indah bukan?" tanya Kevin mendapatkan anggukan cepat dari Dera.


"Ya. Indah sekali," ujarnya takjub.


"Tentu, kota Tua Shanghai memang yang terbaik," ujar Kevin dengan nada banga.


Dera menengadah mengingat tingginya dan lelaki tampan ini berbeda jauh."Shanghai memang indah tapi tidak seindah apa yang di negaraku tawarkan," ujar Dera dengan penuh semangat.


"Ya ya ya! Aku tau Indonesia lebih Indah," ujar Kevin mengalah.


Negara dengan dua musim itu sangat Indah. Baik dari keindahan alam sampai flora yang mendiaminya. Dan Kevin akui itu semua.


Kevin dan Dera menatap orang-orang yang bersepeda. Membuat lelaki itu mendapat ide untuk menggonceng Dera.


"Dera! Kau tunggu di sini ya." Ujar Kevin menepuk bahu Dera.


"Kakak mau kemana?" Tanya Dera dengan dahi berlipat menatap Kevin.


Ke duanya sudah sangat akrab. Memang pada dasarnya, gadis ini adalah orang yang mudah bergaul. Membuat ia bisa cepat akrab dengan siapapun. Tidak terkecuali dengan lelaki yang awalnya arogan ini.


"Pokok nya tunggu saja di sini!" Ujar Kevin melangkah pergi.


Dera hanya mengangkat ke dua bahunya acuh. Mata hitam legamnya di manjakan dengan beberapa turis yang bersepeda. Dahinya berkerut dalam. Kala melihat Kevin tidak mengayuh sepeda. Malah mendorong sepeda itu dengan pelan ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Dera dengan wajah aneh.


Kevin tersenyum lucu. Sebelum menggaruk kepala belakang nya yang tak gatal. Dera yang mengerti bahasa tubuh yang di perlihatkan, hanya mendesah kecil.


"Jangan bilang Kak Kevin mau aku yang mengonceng dirimu, Kak!" tanya Dera dengan nada tak yakin.


Senyum tak jelas yang di lemparkan oleh Kevin membuat gadis ini mengerang pelan. Sungguh! Orang kaya benar-benar menyebalkan.


"Aku, tidak pernah membawa sepeda dari kecil De! Kau tau kan aku adalah Tuan muda dari kecil tidak pernah naik sepeda." Tuturnya dengan lugas seakan tidak masalah.


Bola mata Dera berotasi malas. Jika saja lelaki di depannya ini tidak baik padanya. Sudah pasti gadis ini akan memaki. Tangan Dera mengambil alih sepeda dari tangan Kevin. Lelaki itu meloncat kegirangan dengan pelan tanpa di ketahui oleh Dera. Gadis itu menoleh ke belakang dan menenggadah.


"Kenapa masih berdiri? Ayo naik!" serunya.


Tanpa di minta untuk ke dua kalinya. Kevin menaiki sepeda bahkan memeluk pinggang Dera dengan kuat. Orang-orang yang melewati ke duanya tertawa pelan. Bagaimana tidak? Selama mereka menatap pasangan yang berboncengan. Lelaki lah yang mengayuh sepeda. Sedangkan hari ini mereka malah melihat perempuan yang menggonceng.


"Jangan pegang terlalu kuat!" cegah Dera dengan nada lantang.


"Kenapa?"


"Kau akan membunuhku!"


"Baiklah! Ayo jalan!" Ujar Kevin penuh semangat dengan sebelah tangan di naikan ke atas sedang satu lagi melingkar di perut Dera.


"Ok! Let Go!" Teriak Dera tak kalah semangat. Gadis itu mengayuh sepeda dengan perlahan.


Angin yang di hadang memberikan rasa sejuk untuk ke duanya. Gadis itu tidak kepayahan mengayuh sepeda. Wah! Dera jadi rindu masa kecil. Saat tinggal di Manado tempat sang Ayah. Di sana ia pergi ke sana sini selalu dengan sepeda. Menggonceng adik-adik nya, bahkan teman yang bobot tubuh nya dua kali lipat dari tubuh kurusnya. Ia bonceng tanpa kesusahan.


Gelak tawa dari Kevin membuat Dera menggeleng pelan. Ia tak menyangka jika lelaki itu bisa sebahagia itu. Hanya karena di goceng.


"Kayuh lebih cepat lagi, De!" titah Kevin keras.


"Siap! Bos!" Seru Dera mengayuh lebih cepat.


Ke duanya mengelilingi kota Tua dengan penuh ceria. Sebelum berhenti di tempat makan. Dera memarkir kan sepeda kayuh di depan tokoh. Bersamaan dengan sepeda lainnya. Sedangkan Kevin sudah berdiri di samping tokoh.



Lelaki itu malah tersenyum jahil. Tidak beranjak dari tempat, kala Dera mendekat.


"Tidak ada gunanya bagus-bagus. Lagipula kan Fotomu akan akan kirim ke pasar gelap. Untuk menanyakan berapa harga jika organ-organ mu di jual!" canda Kevin mendapatkan pukulan keras di dada oleh Dera.


"AW! Sakit!" Seru Kevin mengusap tempat yang mendapat tinju dari Dera.


Gadis itu terkekeh pelan. Sebelum menarik tangan Kevin masuk ke dalam restoran. Kevin yang di seret terlihat tak keberatan. Beberapa pasang mata menatap terpesona ke arah Kevin. Ada yang terang-terangan menggoda dengan mengedip kan mata nakal. Sedangkan Kevin malah memasang wajah arogan dan dingin khas milik nya.


***


Ruangan apartemen terasa begitu mencekam. Dua orang pria dengan aura yang mampu membuat orang-orang merinding. Sejak ke datangan lelaki Jepang itu ke apartemen mewah Kevin. Lelaki itu terlihat tak senang. Beda dengan Dera, gadis itu malah minum jus Jeruk dingin dengan ekspresi biasa.


"Jangan saling menatap seperti itu, Tuan! Kak!" seru Dera membuat ke dua lelaki tampan itu sontak menatap ke arah Dera yang duduk tepat di tengah-tengah ke duanya.


Ke duanya sama-sama membuang muka kesal. Clara duduk di depan ke tiga orang. Sedangkan Yeko, lelaki itu berdiri di depan pintu apartemen dengan beberapa orang berjas hitam rapi.


"Ayo kembali ke Indonesia!" titah Hiro dengan nada berat.


Dera menoleh ke samping kanan. Begitu juga dengan Kevin. Lelaki berdarah Cina itu menatap Hiro dengan ketidak sukaannya. Sedangkan Dera menatap wajah Hiro dengan ekspresi khawatir. Saat di perhatikan dengan seksama, wajah lelaki di samping nya ini terlihat pucat, bibir yang biasanya merah terlihat kering dan pecah-pecah. Wajahnya semakin tirus saja.


"Tidak, Dera akan kembali dua hari lagi bersamaku!" bantah Kevin dengan nada tak suka.


Dera melirik Clara. Wanita cantik itu terlihat memelas dengan kode mata. Dera menghembuskan napas dengan kasar melalui mulut.


"Aku akan kembali dengan Tuan Hiro ke Indonesia, Kak. Ku mohon mengerti lah," ujar Dera pelan.


Kevin cemberut. Dera menoleh ke arah Kevin. Membawa lelaki itu berdiri dan menyeret nya menuju arah dapur yang bersekat. Memisahkan antara dapur dan ruangan tamu. Lelaki itu menurut saja tanpa memberontak. Sampai ke duanya berdiri di meja samping mini bar.


"Aku harus pulang Kak," ucap Dera dengan serius.


"Kau kan bisa pulang dengan ku!"


"Ingat! Aku berada di sini tanpa keinginan ku," bantah Dera.


Kevin mendesah pelan."Tidak bisakah kau tinggal di sini. Pulang bersamaku saja?" Pinta Kevin memelas.


Kepala Dera menggeleng pelan."Tidak bisa. Apartemen mu bisa hancur jika aku tetap di sini," peringat Dera dengan nada berat.


Benar bukan? Hiro tidak akan membiarkan Dera di sini bersama lelaki di depan nya ini. Beruntung, Hiro tidak menghajar Kevin. Mengingat lelaki Mafia itu tidak dalam keadaan sehat.


"Baiklah," ujarnya pada akhirnya.


****


Kepala Dera menggeleng pelan. Gadis itu baru selesai memasakkan makanan untuk Hiro. Lelaki di samping nya itu, tidak makan selama beberapa hari. Beruntung tidak tumbang. Daya tahan lelaki itu cukup di acungin jempol. Ia masih kuat berdiri dan beraktivitas tanpa makan berhari-hari. Jika yang tidak makan adalah orang awam. Mungkin sejak kemarin sudah berada di ruangan mayat.


"Pelan-pelan saja!" ujar Dera dengan nada pelan.



Namun Hiro tidak mengindahkan perkataan Dera. Ia sudah beberapa hari berpuasa. Entah kenapa bagi Hiro makanan yang gadis itu masak tiada duanya. Dera terkekeh pelan, mengusap butiran nasi yang menempel di bibir samping kanan Hiro.


Sedangkan lelaki itu masih makan dengan lahap. Diam-diam Yeko dan Clara menatap sang Bos dengan wajah lega. Bedanya wanita cantik itu terlihat jelas bagaimana ekspresi leganya. Sedangkan Yeko, lelaki itu terlihat masih kaku. Tidak ada ekspresi lebih di wajah dingin itu. Kecuali manik mata yang terlihat bergetar.


"Aku senang melihat bos kembali makan," ujar Clara.


"Ya. Seperti nya Dera tak akan bisa kemana-mana lagi," balas Yeko pelan.


"Tidak masalah. Asal kan Bos kita baik-baik saja sudah lebih dari cukup," tutur Clara pelan,"Awalnya aku pikir jika Bos bisa hidup tanpa Dera. Tapi saat melihat bagaimana ketakutan dan khawatir nya, Bos. Saat itu aku tau, Bos tidak bisa hidup tanpa Dera," lanjut nya.


"Ya. Seperti nya seperti itu," jawab Yeko pelan.


Keduanya kembali menatap ke arah meja makan. Hiro menyewakan sebuah Villa di Shanghai sebelum kembali ke Indonesia nanti malam.


Don't forget!!


Vote, Like dan komet nya all.


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰ Aku tunggu^^