
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....ππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ€π€
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
"Bohong!" Vian membentak Adella dengan nada tinggi.
Anak perempuan itu menggelengkan kepalanya. Ia menolak kata yang di lontarkan oleh Vian setelah ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sumpah! Aku tidak pernah berbohong Vian. Kau pikir luka yang aku dapat karena kesalahan ku?" ujar Adella dengan mata kembali basah,"Dia sangat membenci Ibumu, setiap kali melihat diriku. Mirabel selalu berkata membenci wanita Indonesia." Lanjut Adella menyibak rambut hitam legam miliknya. Bekas bakar tercetak jelas menghitam. Kontras dengan kulit putih Adella.
Kepala Vian mengeleng. Anak lelaki itu menatap Adella dengan pandangan menakutkan.
"Aku pikir kau adalah anak yang baik Adella. Ternyata Mama ku benar. Kau bukan anak yang baik dan menakutkan. Mengarang cerita hanya sebagai pelampiasan dendam. Kau marah bukan karena bekas itu!" Tolak Vian menunjuk bekas yang masih terlihat di wajah Adella.
Benar. Adella keliru, ia pikir fakta ini akan membantu Vian untuk pergi jauh dari Mirabel. Agar teman nya ini tidak salah langkah. Kepalanya mengangguk cepat. Tangan kecil kasar itu melepaskan rambut yang ia tarik kebelakang. Hanya untuk memperlihatkan sisi wajah yang menakutkan.
"Maaf, seperti nya aku tidak sebaik itu di matamu. Pilihan ada pada mu, bagiku tidak ada gunanya mendendam pada Mirabel. Karena aku, cepat atau lambat akan tetap mati. Pergilah, aku tak punya hal yang perlu lagi aku bicarakan padamu!" Usir Adella sembari melangkah mendekati ranjang reyot dan kumuh itu.
Merebahkan dirinya. Vian masih menatap tajam punggung belakang Adella. Ke dua tangan nya mengepal, logika mengatakan itu tak benar. Namun hati tak dapat memungkiri ada perasaan ganjil pada dirinya. Vian membalikkan tubuhnya, melangkah cepat ke pintu keluar. Meninggal kan Adella di dalam kesendirian.
"Aku ingin cepat mati saja. Aku sudah letih!" Lirih Adella sembari mengigit keras bibir bawahnya.
***
"Chou!" Panggil Leo membuat pria itu menoleh menatap sang Bos.
"Bergerak sendiri bukanlah hal yang baik, Bos!" ujar Chou pelan.
Leo mengeleng cepat."Ini tidak akan berbahaya, selagi pergerakan nya teratur."
Chou mendesah kasar. Mata sipit itu menatap tak enak hati. Semuanya sudah di persiapkan oleh Leo. Leo Yamato, sudah bertekad. Tidak satu orang pun yang bisa mengoyahkan nya.
"Hari ini pernikahan Sari dan Carlos. Seperti nya telah kita rencanakan, pernikahan mereka di percepat untuk pengalihan," jelas Chou pelan,"Nyonya Dera menanyai dimana keberadaan Bos!" lanjut Chou menghentikan pergerakan Leo memasukan beberapa baju dan perlengkapan lainnya.
Pria itu tersenyum segaris. Dera mencarinya, mungkin terdengar seperti hal biasa. Namun bagi Leo itu bukanlah hal yang biasa. Baginya, itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dengan gerakan cepat Leo menarik dua buah memori card. Sebelum membalikkan tubuhnya.
"Ini berikan pada Hiro dan ini pada Dera. Kita tidak tau bagaimana takdir membawa jalan hidup seperti apa. Setidaknya, ada dua hal yang pasti untuk ku. Pertama berkorban untuk wanita dan Kakak, yang aku sayangi. Lalu bertemu dengan Mama ku," ujar Leo parau.
Pria China itu menggenggam erat memori card yang di berikan oleh sang Bos.
"Kembali lah dengan selamat Bos," pinta Chou dengan nada serak.
Leo hanya mengulas senyum. Sebelum menarik ponsel pintarnya. Jari jemari menari di atas layar. Nada sambung terdengar, sebelum suara wanita yang sangat ia cintai terdengar. Leo menempel kan ponsel ke telinga kanan nya.
"Hai! Dimana dirimu. Papa dan Mama menyaimu, Sari juga bertanya apakah kau tak bisa menghadiri pestanya?"
Dera mencrocos di seberang sana. Leo hanya mendengar suara Dera. Entah pria ini masih akan bisa mendengar nada suara indah ini untuk kedepannya atau tidak. Air matanya meleleh.
"Leo!" Dera memanggil sang pemilik Ponsel.
Leo menengadah kan wajahnya. Mencoba mengatur napas. Sebelum mengeluarkan suara.
"Aku menemui gadis cantik Kakak Ipar. Dia mirip seperti mu. Demi mengejar nya, aku tidak bisa menghadiri pernikahan Sari. Katakan pada Sari maupun Carlos. Maaf, kadonya akan segera datang!" ucap Leo dengan nada sebisa mungkin tak bergetar.
Di seberang sana terdengar nada takjub dari Dera. Wanita itu seperti nya bahagia mendengar Leo, jatuh cinta pada gadis lain. Tak masalah, toh bagi Dera. Bahagia Leo juga bahagia nya, meski tak bisa menjadi adik ipar nya. Sari telah mendapatkan pria yang mencintai. Dan Leo pun juga telah mendapatkan nya. Setidaknya itulah yang di pikiran oleh Dera.
"Oke, kau fokus saja pada gadis itu adik ipar. Aku akan mengurus jika ada yang menanyai di mana dirimu. Pokok nya jangan lupa bawa dia pulang, Hem!"
Leo mengangguk cepat. Meski tak akan di lihat oleh Dera."Aku akan membawanya pulang apapun yang terjadi. Agar keluarga Yamato bahagia. Tidak masalah, jika aku berjuang sampai titik darah penghabisan. Kehilangan nyawa pun aku rela," ucap Leo sebelum mengigit pelan bibir bawahnya menekan isak tangis yang akan pecah.
"Wah! Wah! Aku baru tau seperti inilah Leo Yamato jika jatuh cinta, ya! Sangat puitis sekali."
Leo diam sejenak. Chou membuang muka, pria tua itu ingin berteriak mengatakan untuk Leo menghentikan pembicaraan yang menyakitkan itu.
"Dera!" panggil Leo pelan.
"Aku mencintaimu!" ujar Leo dengan pelan.
Kekehhan dari Dera semakin menjadi. Wanita itu berpikir Leo hanya ingin menggoda nya. Seperti yang sudah-sudah.
"Ayo, jawablah!" desak Leo dengan nada berat.
"Kau mau aku jawab apa, Hem?"
"Jawab perasaan ku. Biar aku yakin gadis itu juga akan mengatakan hal yang sama," bohong Leo.
"Baiklah," jawabnya menjeda kata,"Aku juga mencintaimu, Leo Yamato," lanjutnya.
Air mata yang turun semakin deras. Leo tersenyum lebar, jantung nya berdebar. Tanpa kata ia menekan tombol merah. Pria ini sudah tak lagi bisa menahan desakan isak tangis yang ia tahan. Ponsel mahal itu di turunkan perlahan.
***
Pernikahan yang di adakan di Jepang sangat sederhana. Sari bersikeras ingin mengadakan nya di Indonesia. Namun ada daya jika tenyata pernikahan malah tak bisa di laksanakan di Indonesia. Carlos tak banyak kata, pria itu hanya beralaskan jika di tunggu satu bulan lagi maka akan membuat pekerjaan menumpuk.
Dera meringis pelan. Tubuh nya terasa sangat lelah. Kepala nya pusing, mengingat banyak hal yang harus ia atur. Belum si kembar yang satu harian ini berulah. Merengek terus, membuat ia semakin merasa pening.
Pintu kamar terbuka lebar. Sean masuk dengan langkah lebar. Sang Ibu berada di atas tempat tidur dengan mata masih terbuka. Sang ayah masih di sibukkan dengan pesta Sari. Clara tak bisa banyak gerak, mengingat wanita itu mengurus sendiri di gembul Cherry. Urusan kini di lemparkan pada Mawar. Mawar lah yang menangani banyak hal.
"Mama!" Panggil Sean sembari duduk di pinggir ranjang. menatap sendu pada sang Ibu.
Dera mengulas senyum tipis."Kenapa?" tanya Dera pelan.
"Mama sakit kepala lagi?" tanya Sean dengan nada khawatir.
"Ya. Kepala Mama rasanya sakit lagi, tapi jangan khawatir. Sakitnya cuma sebentar kok," jawab Dera pelan.
"Apa perlu aku menarik Mawar pulang untuk bisa mengobati sakit Mama?" tawar Sean pada sang Ibu. Mawar hanya wanita itu yang bisa membuat sakit kepala sang Ibu berkurang.
Dera mengeleng pelan."Sean saja. Urut dahi Mama pelan, bisa tidak?" tanya Dera dengan lembut.
Sean bergerak cepat. Ia duduk di pinggir bantal. Mengurut ke dua sisi dahi sang Ibu. Membuat Dera memejamkan matanya.
"Mama tidur saja. Sean akan mengurutnya pelan!" titah Sean dengan semangat.
Tanpa membuka mata. Dera tersenyum. Ibu jari kecil itu bergerak pelan, memberikan kenyamanan di kepala Dera. Hatinya sedikit terasa tenang. Beberapa menit Dera masuk ke dalam alam bawah sadar. Sean masih di sisinya. Menemani Dera dengan mengurut pelan dahi Dera.
Di lain Negera dengan waktu berbeda. Leo bergerak perlahan setelah mendapat markas besar Dragon. Pergerakan lincahnya tak mampu terbaca. Pria tampan ini memasuki ruang bawah tanah markas. Foto yang di kirimkan oleh Mirabel pada Susi lima tahun lalu adalah ruangan bawah tanah. Pria ini hanya berharap bisa menemui Adella terlebih dahulu sebelum merancang rencana hal lain.
Bola matanya bergerak cepat. Mencari tempat persembunyian kala derap langkah kaki di tangkap oleh Indra dengarnya. Pria ini bersembunyi di tumpukan besi rongsokan. Sesekali mengintip melihat siap yang melewati lorong.
Ke dua matanya membulat sempurna kala melihat anak perempuan Asia yang melewati lorong. Pria ini keluar perlahan dari persembunyiannya. Mengikuti anak perempuan itu dari belakang. Sesekali bersembunyi kala anak itu berhenti beberapa kali. Sebelum membuka pintu besi berkarat. Dan menutup nya perlahan. Lorong temaram itu terasa sangat menakutkan dan bau apek. Bagaimana bisa anak itu tinggal di ruangan semakutkan ini.
"Aku harus masuk menemuinya!" Monolog Leo menatap pintu berkarat itu.
Derap langkah kembali terdengar. Pria itu kembali bersembunyi memanjat pilar kumuh untuk bersembunyi di atas. Leo memicing menatap siapa yang datang. Pupil matanya lebar-lebar menatap siapa yang kini ia lihat.
"Dia??" Tanya Leo semakin memicingkan matanya di cahaya remang-remang. Mencoba melihat dengan jelas.
.
.
.
.
.
Bersambung....
πππsaatnya asik tenggang dan berdarah di mulai....πππππ
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....ππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπ€π€
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???