
Mohon Vote, Like dan Comen nya ya all..☺️🙏
.
.
.
Beberapa lelaki berpakaian hitam membungkuk serentak menyambut ke dagangan lelaki berwajah tampan di usia tak lagi muda. Yeko, memberi hormat lebih dalam pada lelaki yang merupakan Ayah kandung dari sang Bos.
"Dimana dia?" seruan kata tanya di hempas kan dengan nada dalam dan berat.
Manik mata hitam tajam menyapu halaman depan rumah besar kala lorong terputus. Rumah besar yang begitu besar dengan bentuk gaya Eropa klasik.
"Bos berada di kamar Tuan Besar. Mari masuk terlebih dahulu!" Ujar Yeko, memimpin jalan.
Zeo melangkah dengan lebar. Tidak ada tatapan ramah yang di lemparkan oleh mantan Bos Yakuza ini. Meski melihat lurus tanpa memberikan tatapan acak. Ia masih dapat merasakan tatapan tajam dari beberapa arah. Tangan kanannya mengikuti Zeo dengan setia.
Tak jauh dari rombongan Zeo. Lelaki bermata tajam mengalir darah lelaki Jepang. Menatap dengan pandangan membunuh. Sudah sangat lama, pria bermata tajam dalam itu tidak melihat wajah yang masih memikat dengan pesona dingin. Dulu sekali, Ayahnya adalah seorang Ayah yang begitu hangat padanya dan sang Ibu. Pria yang selalu tersenyum dengan kebaikan yang begitu memukau. Namun kematian sang Ibu memberikan pukulan tak terhingga bagi Leo. Dimana kematian merenggut semua nya dari sisinya. Keluarga nya begitu bahagia hancur begitu saja. Ibu nya meregang nya di depan matanya. Tembakan yang di layangkan padanya, masih terasa nyeri di bahu kirinya. Anak yang tak tau apa-apa harus melihat ke hancuran yang mengerikan.
"Lama tidak melihat mu," serunya dengan nada pendek nan lirih.
***
Bibir merah merekah bergumam tak jelas. Rambut coklat terang terlihat berkilau kala angin menyapa, bermain bersama rambut indah gadis cantik yang tengah dilanda gelisah. Jari jemari lentik miliknya terlihat di gigit perlahan. Denting jam dinding apartemen mewah bilangan Jakarta pusat terlihat sepi.
"Tidak. Dia tidak boleh memilih Hiro. Hiro hanyalah milikku. Dia hanya akan memiliki anak bersama dengan ku buka wanita jelek itu!" Tutur Mirabel bergumam kesal sudah seperti setrikaan kusut.
Langkah kaki yang di ayunkan berhenti, kala ide gila melintasi otak cerdas nya. Garis bibir di tarik tinggi, tidak ada yang bisa menghalanginya melakukan apapun. Hiro memang tidak mencintai nya. Untuk saat ini, bukan untuk ke depannya. Ia yakin, Hiro hanya tersesat jatuh pada gadis jelek itu. Gadis bodoh yang seujung kuku tidak akan pernah bisa di banding kan dengan kecantikan nya. Di banding kekayaan, kejayaan, kekuatan dan kepintaran nya. Dera kalah jauh dari nya.
Sudah dari dulu. Mirabel sangat mencintai Hiro Yamato. Lelaki yang sudah di gilai sejak pertama kali bertemu dengan nya. Lelaki yang dengan dinginnya menolak pesona memukau dari seorang Mirabel. Tidak ada lelaki yang tidak terpukau dengan kecantikan wajah dan kekayaan nya. Mirabel adalah wanita cantik dengan seribu daya tarik. Namun kalah oleh gadis biasa yang tidak ada apa-apa nya di banding dirinya.
"Memiliki anak dengan lelaki yang aku cintai?" tuturnya dengan nada mencemooh,"Jangan harap akan hal itu gadis jelek!" lanjut nya dengan nada remeh.
Pelukan hangat memudarkan Mirabel dengan keadaan. Jika di dalam apartemen nya tidak hanya ada dirinya. Dengan kasar, Mirabel melepaskan belitan tangan kekar di perut rata nya. Dan mendorong keras dada bidang lelaki bermata hijau yang menatap nya dengan pandangan memuja.
"Hei! Apa yang kau lakukan?" kesal Mirabel dengan raut wajah tak suka.
Pria tampan berdarah campuran itu hanya memberikan senyuman hangat pada gadis cantik itu. Tidak ada rasa tersinggung di hatinya. Meski di perlakukan dingin oleh Mirabel.
"Jangan terlalu suka cemberut, Honey!" Ujar Sean dengan tangan terangkat. Bermaksud ingin mengusap perlahan puncak kepala gadis pujaan hati.
Sayang sungguh sayang. Yang di dapat kan oleh nya bukanlah sambutan hangat dari gadis di depannya ini. Melainkan tepisan kasar dan raut merenggut.
Hembusan napas kasar dari mulut merah merekah itu terdengar jelas. Bola mata indah itu berotasi kala mendapatkan ekspresi ceria dari Sean. Lelaki tampan itu tak pernah menggubris apa yang ia katakan. Seakan apa yang di katakan olehnya tak pernah ia dengar. Hanya lewat masuk ke telinga kanan keluar ke telinga kiri. Uh! Sungguh mengesalkan bagi Mirabel.
"Oh! Ayolah. Aku tidak akan mempan dengan apa pun yang kau lakukan. Penolak kan mu adalah hal biasa, sayang. Aku akan menyerah jika kau juga bisa menyerah pada Hiro!" Ujarnya dengan senyum lembut.
Oh! Sialan. Yang benar saja. Bagaimana bisa Mirabel menyerang pada cinta pertama nya. Tidak akan pernah!!! Kecuali dia mati.
"Terserah kau saja, aku tak peduli!" Putus Mirabel melangkah pergi menuju kamarnya.
Iris mata Sean menatap punggung belakang Mirabel dengan mata sendu. Tidak bisakah wanita itu melihat nya? Melihat ketulusan cinta nya yang tak kalah dengan Hiro. Pemuda ini juga memiliki apa yang di miliki oleh Hiro. Meski tak sesempurna Hiro Yamato. Ia juag berjuang untuk Mirabel. Sayang nya, Mirabel hanya menatap ke arah Hiro. Tanpa mau melihat perjuangan nya juga.
"Aku akan tetap mencintai mu dan menunggumu. Membalas semua rasaku," tuturnya lirih.
Di waktu yang bersamaan tempat yang berbeda. Dera dengan telaten menyusun makanan di atas meja besar. Di bantu Clara dan beberapa Maid. Di dua sisi yang berlawanan, Hiro duduk dengan tampang dingin khas milik nya. Bersama dengan lelaki yang memberikan nya kehidupan. Tak kalah dibanding nya dengan sang putra. Tidak ada pertemuan yang indah antar Hiro dan Zeo. Ayah dan anak itu terlihat begitu kaku dan agak— aneh. Tidak ada pelukan hangat yang di perlihatkan pada Dera. Hanya ada sapaan bisa, tak lebih dan tak kurang.
Yang berbeda saat ini adalah tatapan mata. Di mana Zeo menatap sang menantu dengan tatapan teliti. Mengintai setiap gerak gerik Dera. Cara wanita itu merapikan piring-piring di atas meja. Dan mengatur seberapa banyaknya makan yang di letakan di atas meja. Wanita berdarah Padang-Manado itu tak sungkan tersenyum pada Maid yang melayani mereka. Tidak terlihat sikap otoriter dan penguasa dari Dera. Wanita itu begitu lembut dan penuh kehangatan. Ah! Zeo merindukan wanita yang dulu begitu di cintai olehnya. Wanita yang begitu lembut dan hangat sama dengan menantu nya saat ini. Jika saja, wanita itu masih hidup. Apakah mereka akan menjadi keluarga yang hangat? Zeo sangat ingin membawa Hiro masuk ke dalam kehangatan keluarga barunya. Namun mengingat bagaimana Kara membuat nya muak seketika. Wanita gila itu lah yang membuat nya kehilangan semuanya.
"Mari kita makan," seru Dera meruntuhkan lamunan Zeo.
Hiro tampak tak peduli dengan apa yang di pikiran oleh sang Ayah. Senyum lebar terukir kala centong nasi berada di atas piring makan nya. Telunjuk tangan nya tak segan-segan menunjuk ini dan itu. Makanan yang ingin di makan. Sedangkan Dera melayani sang suami dengan kalem.
"E——Papa mau makanan yang mana?" Tanya Dera kala meletakan beberapa sendok nasi di atas piring Ayah mertua nya yang irit bicara itu.
"Samakan saja dengan Hiro!" jawab nya singkat, padat dan jelas.
Dera mengangguk pelan. Mengambil beberapa lauk pauk di atas meja dan meletakkan nya di atas piring Zeo. Gerak gerik sang istri di pantau tajam oleh Hiro. Seakan tak suka dengan perhatian Dera pada sang Ayah.
"De!" Panggil Hiro menarik lengan baju Dera kala sang istri akan duduk di kursi di samping kanan Hiro.
"Ya?" Tanya Dera dengan dahi berlipat kecil.
"Ambilkan aku yang itu!" Pinta Hiro dengan nada manja.
Nada yang di keluarkan tak pernah ia dengar. Senyum malu dapat di lihat di wajah Clara. Melihat tingkah aneh sang Bos, membawa rasa geli tersendiri di hati Clara. Tidak ada bantahan di bibir Dera. Wanita itu menuruti permintaan Hiro. Diam-diam, senyum tipis menyentuh permukaan bibir Zeo. Tak di sangka, jika putranya cemburu pada dirinya?! Sungguh lucu!
**TBC
Jangan Lupa :
Like, Vote dan Komentar nya All..
☺️☺️🙏🙏 Mohon dukungan nya selalu 🥺🥺🥺🥺😊❤️**