
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
.
.
.
Angin berdesir di sela hutan bambu. Napas terengah-engah terdengar samar menari dan menyatu dengan angin siang. Manik mata madu kelam nya terlihat begitu liar. Tubuh nya mendapatkan beberapa luka sobek. Ia tak peduli, serigala lapar yang di lepaskan di hutan buatan Yakuza sangat buas. Dan anak berusia sembilan tahun ini hanya berbekal Katana saja. Pedagang panjang yang kini ia genggam dengan erat. Di layar lebar monitor Hiro menatap sang putra. Sean baru saja membunuh lima serigala yang di lepaskan masih tersisa lima belas Serigala lagi.
"Bos!" seru Yeko menatap khawatir tuan muda nya.
Latihan kali ini naik level lebih tinggi lagi. Dan ini memang harus di hadapi oleh sang putra cepat atau lambat. Ia ingin mengasah ketangguhan Sean pada Medan perang yang sesungguhnya. Apa itu perjuangan? Pertahankan dalam diri. Dan bagaimana cara menyerang. Jika lawan nya manusia tidak akan ada peningkataan. Beda lagi Jika itu adalah hewan buas. Hewan buas punya insting berburu yang kuat dan tidak akan melepaskan mangsa mereka dengan mudah. Yang terpenting di sini adalah, hewan buas memiliki stamina yang sangat kuat. Inilah yang sangat di butuhkan Sean Yamato untuk berlatih.
"Tidak apa-apa. Kita harus mengevaluasi kekuatan dan ketangkasan Sean, Yeko. Tanpa ini Sean hanyalah Harimau tanpa taring. Aku tidak ingin putra ku begitu. Ia harus kuat, bukan kekuasan yang aku ingin kan dari putraku. Tapi kekuatan nya untuk melindungi orang terkasih dan dirinya!" ucap Hiro masih menatap layar monitor yang kini memperlihatkan Sean yang keluar dari balik bambu.
Yeko ikut kembali menoleh ke layar monitor. Beberapa anak buah Yakuza di letakan di beberapa titik hutan. Tentu nya untuk mengawasi lebih dekat. Jika ada sesuatu yang tidak di inginkan akan langsung ada antisipasi.
Serigala berbulu abu-abu mengeram dengan air liur meleleh. Insting buas nya menyala kala melihat darah segar di tubuh Sean. Tiga Serigala mampu melacak ke beradaan Sean. Sean tersenyum miring, game ponsel tidak ada apa-apa nya jika di bandingkan dengan hal yang real seperti saat ini.
Grrrrtttt!!
Erangan kembali terdengar. Gerakan lincah Sean menghindar. Pertarungan di mulai, Serigala bercorak coklat kehitaman mengaum. Auman memanggil kawanan. Sean memaki pelan sebelum kembali bergerak. Bunyi keras antara peda dan tubrukan Serigala terdengar jelas. Orang-orang yang menonton merasa ngilu sendiri. Melihat bagaimana Serigala berlari mendekati Sean dan tiga Serigala. Salah satu Serigala telah mati di tangan Sean. Kala lengah, manik mata Sean berubah semakin kelam. Aura membunuh dan nafsu akan kematian lawan terasa begitu kental.
"Habis kalian hari ini!" Seru Sean mengayun katana.
Yeko menajam kan pandangan nya kala melihat pergerakan Sean. Lincahnya anak itu menghindari serangan dan pertahanan saat Serigala buas itu mengingat tangan yang memegang erat samurai. Wajah Hiro terlihat datar, berbanding terbalik dengan di dalam hatinya. Pria ini berdebar keras melihat baju Sean lembab dan berwarna merah. Ia sengaja memakai kan Sean kaos dan celana panjang berwarna putih. Pria ini ingin melihat seberapa parahnya luka sang putra nantinya. Jika ia merasa tidak lagi seimbang. Maka ia akan memberikan kode untuk anak buah nya menangkap Serigala yang telah di lepaskan. Sebagai seorang Ayah, tentu saja pria ini tidak ingin sang putra kenapa-napa.
Senyum miring tercetak di wajah Hiro kala satu persatu Serigala mati di tangan Sean. Putranya mengila, seperti ini lah ternyata wajah Sean yang sesungguhnya. Sangat menakutkan bagi orang-orang awam. Namun sangat menakjubkan bagi mereka para Mafia. Melihat keturunan mereka sangat kuat. Yeko bahkan berdecak takjub melihat bagaimana kemampuan Sean lebih dari pada dugaan nya. Mungkin inilah alasan kenapa Sean dari kecil suka sekali bermain di kandang Buaya. Jangan-jangan anak ini bergulat dengan Buaya besar itu. Untuk berlatih, karena terlalu sering. Membuat para Buaya tak lagi ingin bermain dengan Sean. Mengingat bergulat dengan Sean malah membuat kulit mereka mengelupas.
Ke dua mata orang-orang membulat saat tangan kanan Sean di terkam. Satu Serigala yang tersisa, besar kemungkinannya Serigala terakhir adalah pemimpin Serigala lainnya.
"Papa percaya kau bisa putraku!" lirih Hiro sangat pelan hingga tidak mampu di tangkap oleh Indra dengar Yeko tepat di belakang tubuh nya.
Kembali ringisan kembali terdengar. Kala Sean tanpa kata ampun memindahkan Samurai dari tangan kanan ke tangan kiri. Menusuk tepat ke jantung Serigala. Membuat terkamman keras terlepas dan Serigala terakhir tergelak di tanah. Tepukan tangan keras mengalun di ruangan kontrol. Hiro tersenyum lebar. Sean terduduk membuang asal Samurai yang ia genggam.
Darah merembes semakin banyak pada pergelangan tangannya. Beruntung hanya terkaman, Serigala itu tidak sempat menarik kulit Sean. Jika itu terjadi maka kulit anak ini pasti robek. Akan sangat berbahaya jika itu benar terjadi. Dera akan kehilangan kesadaran jika tau apa yang terjadi. Tidak, Sean mengeleng kan kepala nya. Dera tidak boleh tau apa yang terjadi. Ibunya akan menangis berhari-hari. Paling gilanya lagi, mungkin surat cerai akan melayang pada wajah ayahnya.
Wajah tampan nya tampak sangat kotor. Beberapa bagian bajunya robek, begitu juga dengan celana yang ia pakai. Derap langkah kaki mendekati nya dapat di tangkap oleh rungu. Hiro dan beberapa anggota Yakuza datang dengan wajah khawatir namun tidak menampik ada kebanggaan yang terselip di tatapan mereka semua. Sean Yamato benar-benar keturunan Yakuza yang sesungguhnya. Besar kemungkinannya jika Sean akan menjadi putra Mahkota. Yang akan menjadi penerus sah dari Yakuza. Melihat bagaimana berbakat dan kehebatan Sean dalam percobaan kali ini. Meskipun, saat ujian sesungguhnya akan di lakukan saat anak ini tepat berusia sepuluh tahun. Mereka tidak perlu lagi risau bukan? Melihat bagaimana bakat tuan muda Yakuza satu ini.
"Bagaimana Son?" Seru Hiro melangkah mendekati sang putra yang masih duduk di tanah dengan mengatur pernafasan yang tak stabil. Akibat pergaulan mengerikan.
"Lumayan! Mereka lebih kuat dari biasanya. Tapi, aku pasti bisa mengalahkan mereka. Terimakasih Pa! Permainan hari ini sangat menyenangkan." Seru Sean tersenyum lima jari dengan wajah polos nya.
Para anggota lainnya membereskan Serigala-serigala yang telah mati. Hiro berjongkok dan membelakangi Sean.
"Ayo naik Son! Papa akan membawa mu ke markas kita!" Seru Hiro menoleh kebelakang.
Tanpa banyak bicara, Sean bergerak. Menaiki punggung sang ayah. Beberapa pasang mata menatap ke duanya. Mereka tau, sekejam dan sejahat apa pun seorang Mafia. Akan tetap menjadi lembut dan penuh kasih pada orang tersayang seperti saat ini. Hiro mengendong Sean di belakang. Melewati Hutan buatan yang sangat luas. Di ikuti oleh Yeko di belakang.
"Seperti nya aku akan merindukan Mama!" keluh Sean pelan.
Hiro terkekeh pelan."Bersabar lah satu Minggu untuk pemulihan luka-luka dan bekasnya. Kau tidak ingin bukan Mama mu membuang Papa mu yang tampan ini jika tau putra kesayangannya luka separah ini?" Balas Hiro di sela langkah lebarnya.
Sean mendengus pelan."Ini bukanlah luka yang parah Papa. Ini hanya luka kecil saja. Aku tidak selemah itu," bantah Sean tak suka dengan perkataan sang ayah.
"Ok, luka nya kecil. Tapi butuh waktu lama untuk ini Son!" goda Hiro.
Sebelum ke duanya terkekeh bersama. Sangat lucu melihat ke duanya berdebat hal aneh ini. Dan Yeko menjadi pendengar yang baik.
***
Dera tak henti-hentinya tersenyum melihat bayi merah yang ada di box bayi. Di temani oleh Cleo di samping Dera. Ke duanya terlihat antusias dengan bayi yang baru lahir. Sedangkan Clara hanya tersenyum di atas ranjang Rumah Sakit, melihat ke antusiasan ke dua nya.
"Imut sekali," seru Dera sangat gemas ingin mengecup bayi lucu itu.
"Tapi masih imuttan Cleo kan ya, Mama Dera?" seru Cleo.
Dera mengangkat pandangan nya tersenyum pada anak perempuan nan cantik itu. Cleo memang anak yang sangat manja. Seperti anak-anak lain nya, seperti nya Yeko dan Clara tidak akan membiarkan Cleo masuk ke dalam dunia hitam. Mengikuti jejak ke dua orang tuanya.
"Cleo mah tidak imut sayang!" balas Dera membuat Cleo cemberut dan kecewa,"Karena Cleo sudah besar. Cleo lebih tepatnya itu cantik bukan imut. Kalau imut itu untuk anak bayi seperti adek Cleo," lanjut Dera.
Senyum lebar terbit di wajah Cleo. Di atas tempat tidur Clara mengeleng kepala nya melihat bagaimana tingkah sang putri.
"Benarkah Mama Dera, kalau Cleo cantik?" tanya nya antusias.
Dera mengangguk kan kepala nya. Membuat Cleo semakin senang saja.
"Tentu sayang!" Seru Dera mengusap puncak kepala Cleo penuh kasih sayang."Oh iya, Siapa nih nama si kecil satu ini Clara?" Tanya Dera menatap menatap Clara di atas tempat tidur.
Clara menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin di dasbor ranjang.
"Cerry! Karena dia terlihat begitu manis dan kemerah-merahan," balas Clara lembut,"Bukankah itu sangat cocok. Bagaimana menurut mu, De?" Clara melempar pertanyaan pada wanita yang tengah hamil ini.
Dera melangkah mendekati ranjang Clara. Duduk di bibir ranjang, mengangguk pelan. Nama yang pas melihat bagaimana manis dan warna merah di ke dua pipi anak perempuan yang di namai dengan nama Ceryy itu.
"Namanya sangat cocok. Kau selalu bisa mendapatkan nama yang pas untuk anak-anak mu, Clara!" balas Dera.
Clara terkekeh pelan. "Lalu kau tidak begitu?" balas Clara,"Nama Sean kan juga sangat bagus De!" lanjut Clara mengingat kan nama putra Yakuza. Tuan muda Yakuza.
Dera hanya terkekeh."Aku berharap anak kali ini perempuan yang manis. Meskipun Sean sangat manis dan imut di depan Ku. Tetap saja, rasanya beda jika itu anak perempuan!" Ujar Dera mengusap perut yang masih tidak terlihat.
"Amin! Semoga saja ya. Agar rumah besar lebih ramai dan juga sangat ceria," ucap Clara mengaminkan permintaan Dera.
Ke duanya tersenyum dan mengobrol banyak hal tentang anak-anak mereka. Sedangkan Cleo, anak perempuan itu terlihat masih betah bermain dengan adik bayinya.
****
Sungguh tidak di sangka. Sudah satu jam ke duanya duduk berhadapan. Diam, seolah-olah tengah menyelami pemikiran masing-masing. Pertemuan yang tidak terduga, sempat membuat Dera syok. Saat berpapasan tak sengaja di lorong Rumah Sakit di mana Clara berada. Bian Winata, dokter tampan pujaan hatinya dahulu. Bahkan pria ini sempat ingin menjadi kan nya seorang istri. Dan Dera Sandya yang sangat mencintai pria ini dulu nya. Jika di tanyakan sekarang bagaimana isi hatinya pada pria di depannya ini.
Entahlah. Dera tidak merasakan apa-apa. Kecuali rasa terkejut yang sempat menghantam diri. Saat untuk pertama kalinya ia merasa kan kembali pelukan Bian. Setelah beberapa tahun tak pernah bertemu. Hingga pria ini meminta sedikit waktu Dera. Di sinilah pada akhirnya mereka berakhir. Di cafe masih di gedung Rumah Sakit. Duduk di temani dua cangkir kopi dingin dan Cleo. Anak perempuan itu, tengah asih dengan kue dan es krim miliknya. Hingga tidak menghiraukan pembicaraan orang-orang dewasa.
"Bagaimana kabar mu, De?" Bian mengawali pembicaraan. Setelah beberapa menit terdiam.
Dera mengulas senyum lembut. Bian merasa kan debaran keras. Wanita di depan nya terlihat semakin mempesona. Wajah nya terlihat begitu bersih, kulit yang dulu nya sawo matang terlihat lebih bersih dan berwarna kuning Langsat. Pembawaan yang sangat tenang dan matang dari Dera Sandya. Semakin membuat Bian tak mampu berkedip. Wanita di depan nya ini memang bukan wanita pertama yang ia cintai. Namun, ia merasa tidak bisa melepaskan bayang Dera di benak dan hatinya.
"Baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana kabar nya?" seru Dera.
Bian mengulas senyum cerah. Senyum yang telah lama hilang. Bagaimana ini? Senyum yang begitu hidup apakah akan mati redup lagi jika tau Wanita satu ini telah menikah dan memiliki satu orang putra, bahkan tengah hamil saat ini. Sungguh! Ini akan sangat sulit untuk Bian. Pria ini sangat mencintai Dera. Tapi akan patah begitu saja begitu tau fakta pahit yang harus ia telan mentah-mentah.
"Tidak terlalu baik. Sejak kehilangan mu," balas Bian tak dapat menyembunyikan nada sedih.
Dera diam. Apa yang harus ia katakan pada pria ini. Kisah mereka sudah menjadi masa lalu. Dan sekarang ada yang harus ia prioritas kan.
"Maaf kak!" lirih Dera.
Bian mengeleng cepat."Tidak, De! Kau tidak salah apa-apa. Harusnya aku yang meminta maaf atas perkataan dan perlakuan adik ku pada mu. Sembilan tahun aku memendam rasa sesal ini Dera. Mencari mu ke sana dan kesini. Tapi tidak dapat menemukan mu. Hingga rasanya aku sangat putus asa Dera!" jelas Bian panjang lebar.
Dera tersentuh dengan ketulusan Bian. Pria di depannya ini tidak berubah sama sekali. Sedikit pun tidak berubah. Wajah tampan nya masih sama. Hanya pembawaan nya saja yang berbeda. Bian Winata yang duduk di depannya saat ini lebih dewasa dan matang.
"Tidak masalah kak. Toh itu hanya masa lalu yang harus di biarkan berlalu. Karena saat ini kita hidup di masa depan. Aku pun sudah memiliki keluarga yang membuat ku tetap kuat dan tidak akan bisa mengulang untuk sekedar mengingatkan tentang masa lalu. Aku berharap kakak juga begitu," ujar Dera begitu saja.
Bian membeku. Apa maksudnya? Bian bodoh seketika.
.
.
.
.
Bersambung....
Kasihan ya, Dokter tampan nya🥺🥺 sini Dokter. Ada banyak kakak-kakak cantik yang masih jomblo kok. pilih aja,😉😉😉
Terimakasih nya kakak-kakak atas Vote Poin yang mulai dari puluhan, ratusan bahkan ada yang ribuah... 🙏🙏🙏🙏🙏🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺🥺❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️lope dari author...
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???