Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 17




.


.


.


.


Banyak hal yang tak mampu diungkap oleh rasa, bungkam karena kata yang terbatas. Kebebasan bukan lagi miliknya, namun gadis itu mencoba untuk tidak mempermasalahkannya. Bertahan adalah naluri alami dari seorang manusia, begitu juga dengan Dera. Gadis itu akan bertahan semampu dirinya, garis senyum ditarik ke atas dengan paksa. Kala wanita cantik duduk di depannya dengan senyum yang sama namun, dengan arti yang berbeda.



Jika senyum yang ditebarkan oleh Dera adalah senyum canggung. Wanita cantik itu melemparkan senyum penuh makna tersirat.


"Minumlah! Tidak usah terlalu tegang," tuturnya dengan nada lembut.


Manik mata Dera menatap wanita di depannya itu dengan pandangan tak lepas daripada kata kagum, bagaimana bisa seorang wanita secantik ini. Apakah yang duduk di depannya ada seorang bidadari? Atau keturunan bidadari. Kulit yang putih mulus, mata indah bak galaxy bintang, hidung bangir, bibir merah merekah sangat cantik. Jangan lupakan otak yang dianugerahkan pada wanita di depannya ini, wanita cantik itu begitu pintar. Dalam hati Dera dengan tulus mendoakan agar Hiro mencintai wanita jelmaan bidadari ini. Karena mereka terlihat sangat cocok dan serasi. Sama-sama tampan dan cantik. Dan memiliki otak yang cerdas. Pasti keturunan yang mereka peroleh adalah keturunan bibit unggul.


Gerakan Mirabel menyesap teh hijaunya begitu anggun, tidak akan ada yang tahu jika wanita ini adalah keturunan mafia. Kala melihat sekilas dari caranya tersenyum, melangkah, dan berprilaku. Mirabel lebih terlihat seperti Nona muda kaya. Daripada putri dari seorang mafia.


Tangan mungil Dera menyelimuti seluruh sisi cup teh, sebelum menyesapnya pelan. Aroma asli dari teh hijau yang menenangkan. Disedu dengan air dengan suhu yang pas, menjadikan teh hijau yang mereka minum menjadi minuman terbaik. Tidak ada gula yang terkandung di dalamnya. Rasa sepat di dapati oleh lidah, meski dalam kadar yang wajar. Teh hijau akan menjadi minuman sehat yang bagus untuk kulit kala rasa manis tidak ikut serta di dalamnya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Hiro?" Mirabel bertanya kala meletakan cup teh di atas meja kembali.


Dera tersenyum lembut jauh lebih santai dari sebelumnya, ia mengembuskan napas pelan. Guna menghilangkan kegusaran di dalam dirinya, lelaki mafia itu sepertinya benar-benar mencintainya. Terlihat dari beberapa tingkahnya yang terburu-buru mencari perhatiannya, dan bagaimana cara lelaki itu menatapnya. Dera tidak tahu bagaimana perasaannya pada Hiro.


Jika boleh gadis ini jujur pada hati, Dera menyukai bagaimana cara Hiro memperlakukannya sekarang. Tidak ada kekasaran ataupun kata-kata yang menyingung. Dulu sekali, Hiro selalu mengatainya sebagai binatang peliharaan. Dan memperlakukannya seperti kucing peliharaan daripada seorang wanita. Namun, beberapa minggu ini berbeda Hiro tidak lagi seperti itu padanya.


Jika saja, Hiro bukan seorang mafia. Mungkin Dera akan membuka hati, padanya. Hiro adalah lelaki yang sempurna. Lelaki yang tak banyak mengumbar kata romantis pada semua wanita, lelaki yang tidak pernah menatap pada sembarang wanita dengan pandangan nakal. Lelaki itu cenderung menatap dingin, tanpa kata pada wanita yang dianggap tidak penting. Sifat hangat yang ia tunjukan hanya pada satu wanita setelah ibunya. Tentu saja di mana Dera bisa menemukan lelaki seperti itu? Ia tak yakin bisa menemukannya dengan mudah.


"Aku tidak tahu," sahut Dera pada akhirnya jawaban yang dinanti keluar begitu saja. Meski tidak sesuai apa yang diinginkan oleh Mirabel.


"Kau mencintai, Hiro?" tanyanya dengan nada berat. Seberat hati yang tak rela.


Dera menunduk, tidak tahu mau menjawab apa? Apakah dia harus berkata ya atau mengatakan jika dirinya tidak memiliki perasaan pada lelaki dingin itu.


"Kalau begitu kau mau menjadi istri keduanya? Aku akan memberikan izin sebagai istri pertama. Karena bagaimanapun dia dan aku akan tetap menikah. Karena hubungan kami bukanlah hubungan seperti orang pada umumnya. Banyak hal yang akan mendapatkan keuntungan dari pernikahannya kami. Sedangkan kau? Itu adalah kemustahilan. Jika Hiro menikahimu, maka ia akan memiliki banyak lawan dari pada kawan," tutur Mirabel dengan lugas dan tegas. "Kau tidak bisa memberikan apa yang Hiro butuhkan. Namun, tidak denganku. Aku bisa berbagi denganmu. Sebelum Hiro merasa bosan setelah mendapatkanmu," lanjutnya dengan penuh percaya diri.


Dera tak mengatakan apa-apa, masalah di sini bukanlah tentang siapa yang pas dan tidak untuk bersama Hiro. Dera bukanlah gadis yang ingin berbagi dengan orang lain. Meski Mirabel berbesar hati membagi untuknya. Namun, bagi Dera itu bukan hal yang akan ia pilih. Jika pun diberi pilihan bersama orang yang dicintai namun, dibagi atau bersama orang yang tidak di cintai akan tetapi tidak terbagi. Maka Dera akan memilih opsi kedua, lebih baik bersama orang yang tidak dicintai.


Sebelah alis mata Mirabel terangkat ke atas, menatap remeh Dera. Gadis kampung yang tidak tahu apa-apa itu begitu menyebalkan menolak niat hatinya. Sebelah kaki jenjang di silangkan ke atas kaki satunya. Dengan angkuhnya, wanita cantik itu berkata. "Harunya kau tidak perlu masuk ke dalam kehidupan Hiro. Kau tahu kau terlalu menyebalkan di mataku. Seperti kerikil yang begitu mengganjal di dalam sepatu mahalku!"


Dera meremas dress selutut miliknya, ia tersenyum hambar. Gadis ini pikir Mirabel memiliki hati secantik parasnya. Namun, Dera salah besar jika mengira wanita tersenyum angkuh itu memiliki hati baik. Benar kata orang! Kecantikan tidak menjamin kebaikan hati. Dan kebaikan hati sudah pasti menjadi kecantikan paras.


"Harusnya Nona menyingkirkan kerikil itu dari sepatu Nona. Jangan sampai kerikil kecil mengganjal itu mampu membuat Nona pincang dalam melangkah," balas Dera mengangkat wajah yang sempat tertunduk.


Netra coklat hangat miliknya bertabrakan dengan netra coklat dingin milik Mirabel.


"Lagi pula aku bukan aku yang ingin masuk ke dalam hidup Tuan Hiro. Tuan Hiro, lah yang menarik aku masuk. Jadi, sebaiknya Nona mengambil hati Tuan Hiro terlebih dahulu. Sebelum mengatakan bahwa aku adalah kerikil. Karena aku sama sekali tidak pernah memiliki niat untuk mendekati bahkan mengambil hati Tuan Hiro," lanjut Dera sebelum berdiri dari posisi duduknya.


Kedua tangan Mirabel terkepal di kedua sisi tubuhnya, ia tidak membalas kata. Hanya diam menatap kepergian Dera dari ruangan kamar hotelnya. Kala pintu tertutup, senyum menyeringai membingkai wajah cantiknya. Terlihat begitu menyeramkan.


"Alex!" seru Mirabel pelan.


Sosok yang dipanggil keluar dari balik dinding pembatas ruangan tamu dan kamar. Lelaki dengan wajah tampan keluar dari persembunyiannya.


"Ya, Nona!" seru Alex kala sudah berdiri di depan Mirabel.


"Ikuti gadis itu, karena obatnya akan segera bekerja lima belas menit lagi. Usahakan mendapatkan gambar yang baik," titah Mirabel.


"Baik, Nona!" Ujarnya sambil membungkuk hormat. Tato naga terlihat di lehernya kala ia memberikan hormat.


Mirabel tersenyum semakin lebar kala pintu kamarnya tertutup untuk kedua kalinya dari orang yang berbeda.


"Jangan salah kan aku melakukan hal licik," ujarnya sebelum tawa keras menggelegar mengisi ruangan kamar.


Di waktu yang bersamaan, Dera melangkah melewati lorong hotel mewah. Beberapa kali Dera mengibas pelan wajahnya yang terasa aneh. Langkah kakinya memberat, seakan ada sesuatu yang membuat ia merasa tak nyaman. Ia berhenti sejenak, berpegangan pada dinding lorong.


"Kenapa rasanya panas?" Dera bergumam kecil menyentuh dahinya, namun tidak ada rasa menyengat di kulit telapak tangannya kala ia menyentuh dahinya.


Kening Dera berlipat pelan, satu kata yang melintas di benaknya. Yaitu, aneh! Tidak panas namun, rasanya terbakar. Rasa aneh yang tidak mampu ia mengerti Dera menggeleng pelan, sebelum melanjutkan langkah kakinya. Beberapa kali Dera meringis tak nyaman.


BRUK!


"Maaf!" seru Dera pelan kala tubuh mungil itu menabrak tubuh kekar.


Lelaki membuka mulut sebelum kembali ditutup. Kala melihat siapa yang kini ada di depannya.


"Dera!" seruan tak percaya membuat Dera menengadah. Wajahnya semakin memerah dan panas.