Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 100 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


"V——vian!" panggil Hiro untuk pertama kalinya. Bibirnya bergetar air matanya meleleh begitu saja.


Vian diam. Anak ini menatap dingin Hiro. Kenapa baru sekarang! Kenapa baru sekarang Hiro tau akan dirinya? Kenapa? Hatinya telah terlalu letih. Bertahan dan bertahan. Manik mata coklat itu bergetar. Meski wajah masih terlihat datar dan dingin.


Vian tak tau apa yang harus ia katakan. Air mata terus meleleh dan waktu terus berjalan. Di luar sana pembantai sangat mengerikan. Suara teriakan menggema di malam yang sunyi. Salju yang biasanya putih tak lagi terlihat. Warna merah pekat anyir mengudara. Tidak peduli jika di salah satu perumahan mewah di Texas berubah menjadi lautan darah dan lubang kematian. Salju lebat terus bergulir menyapa tanah yang membeku.


"Apakah butuh waktu sepuluh tahun untuk hari ini?" tanya Vian dengan nada berat.


Hiro menatap wajah pias Vian dengan pandangan mengabur. Karena air mata terus bergulir. Moncong senjata api itu masih di todong pada nya.


"Ma——maaf," lirih Hiro dengan nada bergetar hebat.


Senyum miring khas andalannya terlihat. Apakah hanya kata itu yang mampu pria itu katakan padanya. Setelah semua yang ia lewati di sini?


"Kata maaf hanya menjadi penghibur tuan!" jawabnya sinis.


"Ak——aku, ah! Papa dan Mama tidak tau jika———tidak. Ini kesalahan ku," untuk pertama kalinya Hiro gagal dalam menyusun kalimat. Bos Yakuza ini tak mampu memberikan penjelasan dan pembelaan pada Vian. Ini memang kelalaian nya. Bagaimana bisa ia tertipu dengan mudahnya.


Ia lah yang membuat semua nya begini. Tak mampu menangkap musuh dalam selimut. Bahkan orang itu berada di samping nya. Sangat dekat. Meski begitu, bukankah ini tak sepenuhnya kesalahan dan kelalaian Hiro. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Sehebat-hebatnya manusia, tetap lah manusia. Tidak memiliki kelebihan kekuatan super yang langsung mengetahui ada penyusup. Adanya musuh dalam selimut.


"Ya. Ini salahmu!" tuding Vian.


Hiro hanya mengangguk. Sebelum sebelah tangannya mengusap kasar ke dua air mata yang mengenang di ke dua sisi pipinya dengan kasar. Hiro menarik napas panjang sebelum membuangnya perlahan. Ia harus waras! Dera menunggu nya di rumah. Sang istri menumpuk harapan pada diri nya. Harapan untuk membawa putra pertama mereka kembali ke sisi keluarga besar Yakuza.


Derap langkah kaki menaikkan satu persatu undak tangga menggema. Leo masuk dengan napas memburu, berdiri di samping Hiro. Ke dua matanya terbelalak melihat Vian menodong kan pistol pada Hiro.


"Kau baik-baik saja?" seru Hiro tanpa menoleh ke samping kanannya.


Leo masih menarik napas pendek sebelum mengangguk cepat."Yeah!" jawabnya.


Vian menatap ke duanya bergantian. Saudara satu ayah beda Ibu, itulah yang anak ini pikirkan. Apakah ia juga seperti ini jika bersama anak lelaki itu? Pertanyaan itu bergelayut di otaknya.


"Siapa Ibuku?" seru Vian menggema.


"Dera!" seruan serentak Hiro dan Leo menggema.


Vian tersenyum sinis."Kau tak percaya?" kesal Leo.


Pria ini tidak tau jika Vian lebih keras dari pada Sean. Sean masih ada kata lunak dalam dirinya. Apalagi jika Dera yang membujuk anak satu itu akan mengalah dengan senang hati. Tunggu! Dera Sandya. Wanita itu satu-satunya yang bisa di andalkan.


Hiro meronggoh saku celananya membuat Vian menatap nyalang Hiro. Leo membulatkan pupil matanya.


"Berbicara lah dengan nya, jika kau tak percaya!" Ujar Hiro dengan jari jemari bergerak di layar.


Ponsel canggih itu memperlihatkan layar Video Call yang terhubung. Vian berdiri dari kursinya. Masih dengan tubuh awas. Leo menoleh ke samping, menatap layar ponsel yang telah di alihkan pada Vian di depan sana. Ia melirik arloji yang melingkar di tangan nya. Waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat lima puluh menit. Berarti sekarang jam dua siang. Perbedaan Jepang dan Texas adalah empat belas jam lebih cepat Jepang dari pada Texas. Layar mulai berubah. Wajah manis di layar ponsel terlihat. Manik mata coklat kelam itu menatap wajah di depan sana. Bohong jika ia bilang jika jantung nya tidak berdebar.


"Vian?" Seru Dera di seberang sana.


Ke dua mata Vian berkedip cepat. Bergetar, nada yang mengalun dalam rungu membawa getaran tersendiri. Berbeda dengan hati kala bersama Mirabel.


"Ya!" jawab Vian tanpa sadar menurunkan perlahan Pistol di tangannya.


Dera tersenyum di layar. Bulir bening mengalir deras menyatu dengan isakan keras. Dera tak mampu menahan rasa sesak di dalam dadanya.


"Vian! Ini Mama! Ini Mama mu." Ujar Dera di sela tangis.


Sakit. Sakit sekali rasanya, Vian merasa hatinya sakit. Anak ini mencoba mempertahankan raut wajah dingin nya. Akan tetapi, rasanya tak mampu.


"Vian! Mama merindukan mu. Mama ingin kau kembali. Maaf baru tau keberadaan mu sekarang. Mama mohon maaf, Mama ingin memeluk mu. Vian! Cepat pulang!" lanjut nya lagi sebelum suara tangisnya mengeras. Sederas air mata yang mengalir sekuat itu Dera di seberang sana menghapus air matanya. Ia ingin melihat wajah sang putra dengan jelas. Namun air mata menghalangi pandangan nya. Bibirnya terisak-isak.


"Vian!" Dera kembali memanggil nama Vian.


Hati keras itu luluh. Air mata yang di tahan tumpah. Meski ia mencoba meyakini ini adalah penipuan. Hati tak pernah menyesatkan, hati tau yang mana kebenaran dan ketidak benaran.


Hiro melangkah lambat. Mendekati Vian, anak itu tak sadar. Matanya masih menatap layar ponsel mahal Hiro. Melihat wajah sendu dengan mata penuh rindu Dera.


Hap!


Brak!


Tubuh Vian masuk ke dalam pelukan Hiro. Senjata yang di genggaman Vian tergeletak di lantai. Kala kehangatan yang tak pernah ia rasakan tersalurkan. Leo membuang muka, air mata meleleh. Sebelum menatap haru ke duanya. Hanya suara tangis mengalun memenuhi ruangan. Tidak ada lagi suara tembakan menggema dan pekikkan mengalun.


Semuanya telah usai. Di mobil anggota Yakuza untuk pertama kalinya menangis. Kematian yang menyakitkan tak membuat mereka gentar. Namun layar monitor yang memperlihatkan keadaan sang Bos membawa kata haru. Gio yang di amankan oleh Yakuza di dalam mobil khusus ikut meneteskan air mata. Gio tau, hati Vian telah berubah. Kala Adella terus menyakinkan nya. Pria ini turut memberikan nasehat. Gio ingin Vian, anak didiknya bahagia. Bukan terus menderita dalam tuntutan tak wajar dari Mirabel. Para ahli racun saja tak pernah melakukan pengetesan pada manusia. Namun Mirabel malah menjadi kan Vian sebagai kelinci percobaan. Berdalih jika itu akan membuat Vian terus kuat dan kebal.


Adella di samping Gio tersenyum di sela air mata. Ia merindukan Ibunya. Meski membenci kesalahan Susi. Mendengar kan kata Dera pada Vian. Adella merindukan sosok Ibu pula.


Yeko mengusap kasar air matanya. Mirabel di bekuk dengan mudah. Jujur, wanita gila ini bukanlah tandingan mereka. Jika bukan karena Kara, wanita gila ini tidak akan bisa seperti ini. Wajah nya lebam, tidak satupun anak buah Dragon yang selamat dalam pembantai.


***


Malam telah menyelimuti Jepang. Wajah manis Dera terlihat cerah. Ke dua matanya tak bisa terpejam. Sean berada di pangkuan nya. Ke duanya menunggu ke datangan Vian. Sepanjang hari yang telah di lalui. Hari ini adalah hari paling melegakan sekaligus menyedihkan bagi Dera. Dan hari yang sangat di tunggu-tunggu. Bibirnya tak pernah lepas dari senyum.


"Mama bahagia?" seru Sean menatap wajah sang Ibu.


Dera mengangguk cepat. Tangannya tak berhenti bergerak mengusap pelan puncak kepala Sean. Sean Yamato merasa terkejut dengan fakta baru yang ia dapatkan dua hari yang lalu. Tangis keras tadi siang membuat Sean tak tau harus berbuat apa. Nada lain di ponsel yang kamera layar menatap langit-langit ruangan dengan Isak tangis terdengar jelas. Sang Ayah menangis di seberang sana bersama kembarannya.


Sean bersyukur, atas ketidak adaan nya luka dan kematian di sini. Yang terpenting sang Ibu kini terlihat bahagia. Rumah mewah di sulap dengan indah dalam hitungan jam, guna menyambut kedatang Vian.


Sean bangkit dari posisi tidur nya. Memeluk sang Ibu dari samping.


"Mama!" panggil Sean pelan.


"Hem!"


"Mama akan tetap mencintai ku bukan meski ada dia?" tanya Sean pelan. Anak lelaki ini ternyata memiliki rasa takut pada dirinya.


Bukan takut ke hilang posisi sebagai pewaris sah Yakuza atau sebagai anak sulung. Tapi takut kasih sayang sang Ibu berubah. Sean bahagia tentu saja, namun wajar anak ini merasa takut kehilangan cinta sang Ibu.


Dera mengembangkan senyum sebelum mengecup cepat pipi sang Putra.


"Mama tetap cinta Sean. Karena Sean anak Mama dan Papa. Sebesar cinta Mama pada si kembar dan juga Abang mu," seru Dera,"Di sini Mama meminta bantuan Sean untuk menerima Abang Vian. Tolong ikut bersama Mama dan Papa untuk mengobati luka nya. Sean mendapatkan semua kasih sayang Mama dan Papa. Sedangkan Vian tak begitu. Tolong berikan cinta dan kehangatan juga pada Abang mu, ya?" lanjut nya.


Dera harus menanamkan kasih sayang pada Sean. Bagaimana pun, Vian tidak hanya butuh kasih sayang darinya. Namun juga dari kembaran nya. Dera tak ingin terlihat berbeda di mata Sean. Sebaliknya, ia ingin tetap sama di mata sang putra dan juga ingin Sean membantu menyembuhkan luka Vian. Agar Vian tau mereka semua membutuhkan Vian dan menyayangi Vian.


Sean mengangguk cepat. Tersenyum.


"Ya, Mama!" jawab Sean cepat.


Beberapa jam lagi Pesawat pribadi Yakuza akan mendarat di lapangan di rumah Yakuza. Dan hal ini sangat di nantikan oleh Dera berserta yang lain nya, wanita ini tak sabar.


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....


Udah ya, Author udah tepati tidak ada yang mati di sini. Yah, kecuali Mirabel. Tapi nanti.. di next bab☺️☺️


Ayo... Bayarannya mana?🤑🤑 untuk Happy ending???


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???