
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
Gesekan telapak kaki dengan lantai dan benturan pedang Samurai membuat gaduh. Peluh menetes membasahi tubuh ke duanya. Betapa gagahnya, Hiro Yamato dengan pedang panjang yang begitu mengkilat. Wajah dingin mata madunya menatap lawan dengan pandangan yang nyaris membekukan. Gerakan memutar kala serangan di layangkan di tangkis. Bunyi gesekan senjata tajam sedikit mampu membawa kata ngilu di gusi. Manik mata coklat bening Dera menatap setiap gerakan yang di peragakan dengan intens. Sebenarnya, jika boleh jujur. Wanita satu ini entah benar-benar menatap dan memperhatikan gerakan untuk pelajaran berperang. Atau menatap dada bidang dengan otot keras, di lengkapi dengan kotak-kotak kokoh terlihat begitu hot. Ugh! Sial. Kemana larinya mata ibu satu anak ini. Bagaimana bisa ia malah menatap tubuh sempurna Hiro Yamato. Leo kewalahan baik dalam menyerang maupun menghindar. Stamina nya benar-benar terkuras habis melawan sang kakak. Leo Yamato tidak tau apa yang membuat Hiro Yamato bisa sekuat saat ini. Stamina yang benar-benar tiada duanya. Sudah satu jam mereka melakukan pertarungan dengan samurai. Ke dua telapak tangan Leo bahkan sudah memerah, ke dua sisi bahunya terasa sakit nyaris kebas.
SRAK!
TRANG!!!
Gerakan ringan Hiro membawa mata katana milik Hiro sampai menyapa permukaan leher Leo. Sedangkan Samurai yang juga di kenal dengan nama lain Katana itu telah tergeletak pasrah di lantai. Cukup jauh dari posisi mereka berada.
PROK!
PROK!
PROK!
Tepuk kan keras mengalun di dalam aula latihan. Hiro menarik kembali pedang panjang yang mampu membunuh orang itu sebelum menyarungkan kembali. Garis senyum lebar, hampir menghilangkan ke dua mata indah sang suami. Ah! Pria itu selalu saja bereaksi seperti saat ini pada Dera. Seolah-olah ia menyerahkan kemenangan nya pada sang istri yang duduk di tempat khusus menonton pertunjukan. Lucunya, ia terlihat bangga akan kemenangan yang ia raih. Padahal, dulu——sekali saat sebelum mengenal Dera Sandya. Kemenangan seperti saat ini tidak ada apa-apa nya. Saat menang Hiro akan memasang wajah datar tanpa ekspresi dan berlalu. Terkadang bisa saja ada darah yang berceceran di lantai jika Bos Mafia itu dalam suasana hati yang buruk. Sejak menikah ia tidak pernah bersinggungan dengan darah. Ia lebih memilih membersihkan pengkhianat dengan tangan anak buahnya. Tidak seperti dulu, Hiro Yamato sangat menyukai menebas kepala musuhnya dengan tangan nya sendiri. Menikmati saat-saat, lawan bersimbah darah mengelepar-ngelepar sebelum mati.
Dera berdiri dari posisi duduknya. Melangkah mendekati sang suami. Membawa handuk kecil dan air minum. Di ikuti oleh sang putra. Wajah dingin Sean menyapa Hiro. Entah kali ini apa yang membuat anak nya berwajah datar.
"Apa aku berlatih terlalu lama?" tanya Hiro lembut kala sang istri sampai di depan nya.
Dera mengeleng pelan. Satu jam bukanlah waktu yang lama untuk menunggu sang suami selsai berlatih. Jika dirinya tidak mendatangi tempat berlatih maka bisa-bisa waktu yang di habiskan oleh Hiro adalah enam jam dengan lawan yang berbeda di setiap jam nya.
"Tidak. Keringat mu banyak sekali Kak!" seru Dera menatap peluh yang membasahi tubuh sang suami.
Hiro terkekeh pelan. Menundukkan tubuh nya, mengingat tinggi Dera hanyalah 147 cm sedangkan dirinya adalah 184 cm bayangkan setinggi apa wanita satu ini.
"Di sini juga!" Seru Hiro menunjuk belakang lehernya. Kala ke dua dahinya di usap dengan handuk kering.
Dera bergerak mengusap peluh sang suami. Senyum Hiro mengembang sangat lebar. Sean berdecak kesal melihat tingkah manja sang ayah. Setelah memberikan handuk dan botol air minum pada sang paman. Anak lelaki itu malah berkacak pinggang melihat bagaimana sang ayah mencari perhatian sang ibu. Leo Yamato memilih mendekati bangku di pinggir aula. Dari pada menjadi figuran di antara keluarga kecil itu.
"Mama! Aku sudah lapar!" Rengek Sean menarik ujung lengan baju panjang Dera.
Rengekan Sean Yamato, membuat pergerakan Dera berhenti. Ia menoleh menatap wajah tampan sang putra. Jika tadi waktu Sean Yamato yang berdecak tak suka. Kali ini Hiro Yamato lah yang melakukan hal yang sama. Bagaimana bisa, putranya malah menghentikan kemesraan ia dan sang istri. Memasang wajah sok imut, padahal tidak ada imut-imut nya sama sekali bagi Hiro. Lihatlah! Bagaimana Dera menyerahkan tabung air minum padanya. Dan malah meladeni sang putra tampan nya.
"Sekarang aku tau apa yang di maksud oleh Yeko tentang anak akan menjadi pengganggu dalam kesempatan bermanja-manja pada istri!" monolog Hiro menatap punggung Dera dan Sean.
Dimana Sean menarik Dera menuju pintu keluar gedung khusus miliknya. Beberapa kali Yeko menggeluh jika putri pertama mereka selalu saja menganggu waktu Yeko dengan Clara. Tidak jarang setiap malam, anak perempuan itu selalu berada di tengah-tengah mereka. Saat ada waktu libur pun, anak perempuan mereka akan memanapoli Clara. Hingga perhatian Clara hanya untuk anak perempuan itu. Dan sekarang, Hiro Yamato tau bagaimana rasanya cemburu pada sang putra.
Ke dua pupil mata Hiro melebar kala mendapatkan cibiran dari Sean saat ia melihat kebelakang. Menatap sang ayah yang masih menatap ia dan sang ibu. Di bangku, Yeko tertawa keras bersama Leo. Reaksi yang di tunjukkan oleh Bos besar Yakuza itu benar-benar begitu lucu. Mau marah pun tidak bisa mengingat iblis kecil itu adalah putranya. Berakhir, dengan kemenangan di tangan Sean Yamato.
***
"Kau sudah sampai?" Seruan tanya melambung kala pintu ruangan khusus milik pria tampan itu terbuka lebar.
Wanita cantik itu mengulas senyum. Begitu menawan, sangat-sangat menawan. Di atas meja terletak rantang untuk pria berjas putih kebesaran.
"Ya, cukup lama. Aku hanya khawatir kau akan melewati makan siang lagi, Bi!" serunya masih memperhatikan gerak gerik Bian.
Bian Winata melangkah menuju meja besar milik nya. Membuka jas kerja nya, menggantungnya pada tempat khusus. Sebelum kembali melangkah mendekati sofa di ruangan itu.
"Terimakasih atas perhatiannya, loh Ji!" Balas Bian kala body nya menyentuh permukaan sofa.
Bian duduk di depan Jihan. Gadis cantik itu tersenyum dan mengangguk pelan. Sebelum bergerak membuka satu persatu penutup kotak bekal yang ia bawa. Makanan yang di bawa cukup menggiurkan.
"Sama-sama. Tante selalu berkata jika kau sangat jarang makan siang. Bahkan melewati waktu makan siang. Tidak jarang bahkan tidak makan sama sekali. Kau harus menjaga diri Bian. Tubuh mu kau bawa bekerja tapi tidak di beri nutrisi, bisa tumbang sewaktu-waktu!" nasehat Jihan dengan penuh perhatian.
Bian menarik napas pelan sebelum menghembuskan nya perlahan. Jihan memang sudah menjadi sahabat nya dari dulu. Dan wanita cantik ini begitu hangat padanya. Seperti dulu.
"Ya ya ya! Kau terlalu cerewet," ujar Bian sebelum melepaskan tawa lembut nya.
Jihan menyandarkan punggungnya senyaman mungkin di kepala sofa mahal. Bian Winata adalah pria yang sangat hangat dan tampan. Mulai dari SMP sampai mereka berada di bangku kuliah banyak gadis-gadis yang mengejar pria di depan nya ini. Meski pun Bian terang-terangan menolak. Gadis-gadis cantik itu tetap mengejar Bian. Jika mengingat masa lalu, maka akan ada segaris senyum yang terukir di wajah Jihan.
"Kenapa kau tersenyum aneh begitu?" Tanya Bian di sela kunyahan nya.
"Aku hanya mencoba bernostalgia pada masa lalu."
"Masa lalu?" Ulang Bian dengan nada beratnya.
"Iya. Saat para gadis mengejar-ngejar mu. Apa lagi saat kita SMA kau berada di WC pria selama dua jam karena banyak adik kelas kita yang mengajar mu seperti orang gila!" ucap Jihan membuat Bian terkekeh pelan.
Ya, pria ini ingat sekali. Kejadian gila itu. Bayangkan ia harus mencium bau Pesing hanya untuk bersembunyi dari para fans gilanya. Jika di ingat-ingat, dia dulu menjadi terkenal dan di gilai hanya karena bergabung dengan anak band. Menjadi vokalis band sekolah nya. Tidak jarang ia mendapat cakaran di punggung tangan nya hanya karena para gadis ingin menjangkau dirinya.
Beruntung ia memiliki wanita cantik berambut coklat ini. Jihan adalah sahabat wanita nya yang selalu ada di setiap waktu yang ia butuhkan. Tak jarang Bian mengatakan pada gadis-gadis yang tergila-gila padanya jika ia sudah berpacaran dengan Jihan.
"Itu kejadian yang menyeramkan!"
"Ya. Sampai kau selalu mengandengku ke mana jika ingin aman."
"Itu karena mereka menyakiti mu!"
"Hem. Karena terlalu agresif. Membuat aku trauma pada gadis yang agresif."
Jihan mengangguk pelan."Bian!"
panggil Jihan pelan. Membuat kegiatan Bian menyendok makan terhenti.
"Ada apa?"
"Kau———masih memikirkan dia?" tanya Jihan ragu.
"Ya. Aku masih memikirkan nya.
Jangan ikut mendesak ku seperti Mama ku Ji! Aku tidak bisa di desak begitu." Balas Bian meletakan sendok di atas bekal yang terbuka.
Jujur! Bian sudah bosan dengan desakan orang-orang di sekitar nya. Dirinya tidak suka ada yang terlalu ikut campur di dalam hidup apa lagi hatinya.
Jihan mengangguk pelan."Maafkan aku Bi! Aku merasa pertanyaan ini sedikit membuat mu tidak suka." Ujar Jihan mengulas senyum perih. Apakah perasaan nya tidak terlihat oleh pria ini. Padahal mereka sudah sangat lama bersamaan. Sungguh miris.
Benar yang orang-orang katakan. Tidak ada kata persahabatan antara wanita dan pria. Karena akan selalu ada yang menyimpan rasa di antara ke duanya. Sayangnya, Bian terlalu acuh akan hal ini. Tidak tau apa yang membuat Bian Winata tidak jatuh ke dalam pesona Jihan. Wanita cantik yang selalu di incar-incar oleh kaum adam. Bukan hanya cantik, Jihan adalah wanita berotak cerdas dan berasal dari keluarga kaya. Status sosial yang sama dengan Bian. Dan ke duanya di kenal sebagai persahabatan terbaik. Mengingat otak yang sama-sama cemerlang, visual yang begitu sempurna dan berasal dari keluarga kaya.
***
Dera mengeleng kan kepalanya kala baik sang suami maupun sang putra berebut tiduran di pahanya. Setelah perang mulut antara Sean Yamato sang putra tampan dan Hiro Yamato suami tampan nan mempesona di memenangkan oleh Dera Sandya. Lucu bukan? Yang bertengkar siapa yang menang siapa. Pada akhirnya posisi yang lucu terlihat.
Dimana Sean menjatuhkan kepalanya pada paha Hiro, sang ayah. Meski cemberut Sean tetap melakukan nya. Hiro duduk di atas ranjang dengan wajah cemberut. Setelah tadi siang Sean merebut istri nya. Sekarang malah anak setan itu yang harus ia manjakan.
"Buka mulutnya suami ku!" Seru Dera menyuapi buah Apel yang sudah di kupas. Sebelum melakukan hal yang sama pada sang putra.
Dera terkikik geli melihat wajah bayi besarnya. Wajah ke duanya benar-benar lucu.
"Mama aku ingin tidur di paha Mama!" rengek Sean menatap sang ibu dengan pandang memelas.
"Hei! Dia itu istri ku. Harusnya aku yang di manjakan!" bantah Hiro tak suka.
"Tapi aku ini putra tampan nya. Jadi pantas aku yang di manjakan Papa!" protes Sean.
"Tapi ini giliran Papa. Tadi pagi itu kan sudah!" balas Hiro.
Oh! God! Bagaimana bisa ke duanya mulai lagi. Kembali kepala Dera mengeleng pelan.
"Gak mau!" bantah Sean.
"Makanya sana cari istri. Jangan memanapoli istri ku!"
"Aku ini masih anak kecil tidak boleh cari istri!"
"Siapa bilang! Malam ini detik ini Papa bisa membawakan istri untuk mu!"
Sudah cukup. Kedua nya sudah terdengar aneh di telinga Dera.
"Hem! Hem!" dehem Dera membuat ke duanya menoleh menatap Dera,"Seperti nya malam ini Papa dan Sean harus tidur satu kamar dan berbicara banyak ya. Karena kesepakatan kita bertiga harus di ingat! Jika bertengkar Papa dan Sean harus tidur berdua dan saling berpelukan agar cepat membaik!" lanjut Dera. Membawa pekik kan keras dari ke duanya tak terima.
Dera tertawa keras sebelum berteriak. Kasur bergoyang keras kala Hiro dan Sean mengukung tubuh Dera bak banyak guling. Ke tiganya rebah di kasur king size kamar utama. Hiro Yamato memeluk Dera sebelah kanan dan Sean Yamato memeluk di sebelah kiri.
"Mama harus tidur bersama Sean!"
"Tidak malam ini tidur dengan Papa!"
"Astaga! Mulai lagi!" kesal Dera pasrah,"Kita tidur bersama!!" putus Dera pada akhirnya.
Ke tiga nya sama-sama mendengus sebelum tawa geli mengalun mengisi kamar mewah itu. Sungguh mereka benar lucu. Menarik perhatian Dera. Selalu saja seperti saat ini. Saat kecil pun Sean selalu seperti saat ini. Meskipun begitu, Hiro maupun Sean mereka saling menyayangi satu sama lain. Menang ayah dan anak ini sangat lah unik. Sekali bertengkar tapi selalu berbaikan.
"Sean sayang Mama!" Seru Sean mengecup pipi kiri sang Ibu.
"Papa juga sayang, my love!" Hiro tak mau kalah mengecup pipi kanan istri setelah tawa mereka bertiga mereda.
Senyum Dera mengembang lebar. Sangat hangat, memiliki keluarga kecil yang begitu membahagiakan.
"Mama juga sayang Sean!" Balas Dera mengecup pipi Sean sebelum menoleh ke samping kanan mengecup pipi sang suami.
Kembali hening setelah acara lucu ketiganya. Tidak lama, Hiro berulah. Pria itu melepaskan ikatan paksa belitan Sean pada tubuh sang istri. Memeluk dari belakang tubuh Dera. Kegaduhan kembali terdengar saat Sean mengerang dan menyerang tangan sang ayah untuk melepaskan sang ibu dari pelukannya. Ah! Dera pasrah.
.
.
.
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???