
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
Lirikan mata tidak pernah beranjak pada anak lelaki yang begitu acuh melewati lorong-lorong gedung sekolah besar yang ia tempati. David melangkah beriringan dengan Sean. Anak perempuan terlihat curi-curi pandang ke arah ke duanya. Tentu, si tampan Sean yang menjadi sorotan lebih luas dari teman-teman nya. Wajah dingin dengan manik mata coklat gelap milik Sean selalu mampu menghipnotis orang-orang. Banyak yang mengaku gemas pada Sean Yamato. Baik dari guru-guru sampai teman-teman satu angkatan nya. Beruntung mereka tidak tau seperti apa kegilaan anak satu ini.
"Lihat lah bagaimana mereka melihat mu, kawan!" Ujar David di sela langkah yang di ayunkan.
Sean tak ambil pusing. Terus melangkah tidak perduli dengan mata para gadis. Ke duanya memasuki kelas yang di dekorasi dengan sangat bagus. David mengikuti Sean lagi, kala anak itu melangkah mendekati loker milik nya. Merogoh saku celana sekolah nya. Sebelum membuka kunci loker.
Kreat!!
Srak!!!!
Saat pintu loker di buka. Entah berapa puluhan surat melayang jatuh di lantai. Ekspresi yang di tunjuk kan oleh Sean tidak luput dari perhatian teman-teman nya. Sean Yamato berdecak kesal, tangan kanannya mengeluarkan surat cinta yang masih teronggok di lokernya. Membuang kebawah seperti biasa. Sungguh dingin. Anak ini tidak taukah jika ada banyak anak perempuan di kelasnya yang juga membuatkan surat untuk nya. Tapi di buang bak sampah saja.
Tangan kiri Sean bergerak memasukan kotak bekal yang memang sering ia bawa. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Sean Yamato selalu membawakan bekal ke sekolah. Ataupun pagi hari membuang surat-surat yang di buat untuk nya. Begitu juga saat pulang sekolah. Aneh nya, anak-anak kecil itu tidak ada kata jera. Meskipun surat yang yang mereka buatkan akan berakhir di tong sampah. Seolah mendekati Sean Yamato tidak ada kata menyerah.
"Kau akan membuang nya lagi?" tanya David yang telah selsai meletakan bekal milik nya di loker.
"Menurut mu?" tanya Sean dingin.
"Ya." Jawab David terkekeh pelan.
Sean Yamato meraih kantong plastik yang selalu ia sediakan di loker. Hanya untuk bisa membuang surat-surat menyebalkan ini. Ayolah, mereka masih siswa kelas empat Sekolah Dasar. Bagaimana anak-anak perempuan sudah puber seperti saat ini. Tidak ada menarik-narik nya sema sekali.
***
"Selesai!" ujar Hiro dengan lembut. Sebelum berdiri dari posisi jongkoknya.
Dera menatap kesal ke arah sang suami. Sebelum menundukkan kepalanya. Menatap gelang kaki yang baru, di buat khusus untuk nya. Sama seperti dulu lagi. Dera tidak tau apa yang membuat Hiro kembali memasangkan gelang pelacak ini di kakinya.
"Kenapa harus di pakai lagi?" tanya Dera tidak mampu menghilangkan nada kesal di suaranya.
"Ini untuk keamanan mu sayang. Bukankah ingin berbelanja bebas tanpa bodyguard?"
"Meskipun Kakak bilang begini tetap saja kan aku di awasi diam-diam," cibir Dera pelan.
Hiro terkekeh pelan. Sebelum memeluk Dera. Mengecup puncak kepala sang istri berulang-ulang kali. Garis senyum tersembunyi tercetak di wajah Dera. Ah, ibu satu anak ini suka sekali dengan perlakuan hangat dari sang suami. Meskipun Hiro terlihat begitu dingin dan menakutkan. Namun, saat bersama nya ia serasa menjadi orang yang berbeda.
"Aku akan ke Vietnam beberapa Minggu. Karena bisnis baru yang akan di buat di sana. Aku tidak ingin ada masalah selama aku pergi. Yeko akan ikut dengan ku, ini cukup membuat aku risau. Aku hanya bisa menepati Leo di sisi mu. Karena Leo sama tangkasnya dengan Yeko, aku sangat ingin tidak pergi. Hanya berada di sini saja. Bersama mu," papar Hiro lembut.
Pelukan nya mengerat, Dera Sandya dapat merasakan keengganan sang suami untuk pergi meninggalkan nya.
"Tidak apa-apa, pergi lah. Aku di sini akan baik-baik saja. Karena di sini adalah kawasan Yakuza. Siapa yang berani menyentuh aku, hem?" balas Dera pelan teredam peluk kan Hiro.
Senyum segaris dari Hiro terlihat sebelum ia melepaskan pelukannya dari sang istri. Ke dua telapak tangan besar kasar milik nya membingkai ke dua sisi wajah Dera. Membuat bibirnya mengerucut seperti bebek.
"Lucu sekali!" Seru Hiro mendapatkan delik kan tak suka dari sang istri.
Sebelum keduanya terkekeh pelan. Di anak tangga Leo hanya menatap hambar. Kenapa bisa sesekali ini sebuah rasa. Jatuh cinta pada wanita yang menjadi istri kakaknya sendiri. Padahal di luar sana banyak gadis-gadis cantik yang mengejarnya. Atau sekedar melempar tubuh mereka hanya untuk Leo Yamato. Sayang, hati nya masih milik Dera Sandya. Beruntung rasa terlarang itu tidak di ketahui oleh kakak satu ayahnya ini. Jika sampai tau entah seperti apa hubungan mereka saat ini dan kedepannya.
"Leo!" panggil Hiro keras.
Leo mengulas senyum menuruni satu anak tangga melangkah mendekati ke duanya. Berdiri di samping tubuh Dera.
"Tolong Jaga Dera dengan Sean selama aku tidak ada. Aku mengandalkan mu, adik ku!" Ujar Hiro menepuk-nepuk bahu Leo dengan pelan.
"Tenang saja Kak. Aku akan menjaga Kakak ipar dan keponakan nakal ku itu. Jangan khawatir!" Balas Leo tersenyum.
"Bagus lah!" Ucap Hiro menurunkan telapak tangannya dari bahu Leo.
"Bos! Helikopter nya sudah siap!" Seru Yeko melangkah mendekati ke tiganya.
Hiro Yamato menoleh kebelakang. Sebelum menoleh ke depan. Dera melangkah mendekati sang suami. Menautkan jari jemari mereka, saling mengisi ruas tangan masing-masing. Menarik Hiro melangkah menuju taman belakang luas memilik mereka. Kepergian Hiro dengan Helikopter pribadi nya sudah biasa. Saat di bandar udara nanti akan di tukar dengan pesawat pribadi milik Yakuza.
Leo hanya mengekori sesekali mencuri pandang pada Dera yang berbincang ringan dengan kakaknya. Kedua nya memang sangatlah harmonis. Pertengkaran yang mewarnai rumah tangan ke duanya hanyalah pertengkaran bisa saja. Saat Dera merasa tidak mampu mengontrol emosinya. Hiro lah yang akan membujuk wanita manis itu. Begitu pula sebaliknya, Leo iri. Sungguh iri dengan hubungan ke duanya. Tidak butuh wanita cantik dengan tubuh aduhai untuk membuat seorang suami betah di rumah. Namun pria-pria butuh istri yang mampu memberikan kenyamanan saat di rumah. Anak yang menjadi penghibur di saat letih. Cara Dera melayani Hiro patut di contoh. Wanita manis itu akan menyambut ke datangan Hiro dengan senyum manis. Bertanya seberapa lelah nya Hiro. Membuatkan nya sekedar makanan kesukaan dan juga tak jarang memijat Hiro. Mendengarkan keluh Hiro pada pekerjaan nya dengan sangat baik. Tidak banyak menutut hal ini dan itu. Kesederhanaan wanita mampu mengalahkan kecantikan.
***
"Aku dengar dia sangat kaya Ayahnya baru membeli saham perusahan yang hampir jatuh dan membuat nya kembali bangkit. Bukan kah Ayahnya hebat!" ujar David membeberkan informasi yang baru saja ia dapat kan.
Sean menoleh menatap anak lelaki seangkatan dengan nya. Dan kebetulan menjadi rival nya, ah! Tidak juga. Karena di sini Sean Yamato tidak menganggap anak itu rival nya sama sekali. Teman-teman nya saja yang suka bergosip jika anak baru itu akan menjadi rivalnya. Dan berbicara banyak omong kosong.
"Kau seperti anak perempuan saja suka bergosip kawan!" cibir Sean pelan.
David mendesah pelan."Aku tidak bergosip kawan. Kau tau sendiri kan siapa ayahku. Seorang pengendali media masa. Dan tadi pagi Ayahku membicarakan nya dengan Ibuku. Mereka terlihat begitu bersemangat tentang berita baru. Sama-sama dari dunia media masa. Membuat ke duanya meributkan masalah ini di meja makan. Salahkan saja mereka yang membuat aku membiarkan info ini padamu!"
Sean memutar malas ke dua bola matanya.
"Lihat! Dia di kelilingi anak perempuan yang memberikan nya surat dan juga coklat!" David melingkari leher Sean."Seperti nya benar. Dia akan merebut popularitas mu kawan!" Lanjut nya dengan kedipan mata.
"Lepaskan!" titah Sean dengan nada berat.
David tersenyum masam. Teman nya satu ini sangat tidak suka di pegang-pegang membuat nya selalu seperti orang bodoh. Manik mata coklat kelam miliknya berbenturan dengan manik mata hitam legam milik anak lelaki di seberang sana. Senyum miring tercetak jelas di wajahnya.
Meski melenguh kecewa karena yang keluar dari ke mudi bukanlah pria Yamato yang mereka tunggu-tunggu. Akan tetapi teriakan tertahan terdengar lambat. Kala pintu di belakang terbuka. Senyum lembut dari wajah tampan membawa gaduh. Sialan! Sean dan David hampir merasa menjadi tuli dalam hitungan jam saja. Leo tersenyum lembut memutari mobil. Supir pribadi Dera membuka pintu untuk sang tuan muda.
"Maaf telat menjemput mu," seru Leo dengan nada pelan,"Oh, ada David. Lama tidak bertemu David!" sapa Leo pada anak lelaki yang selalu bersama sang keponakan.
"Lama tidak berjumpa juga Paman Leo!" seru David tak lupa ia membungkuk memberikan salam.
Telapak tangan besarnya mengusap pelan rambut coklat tua milik David. Sang pemilik tubuh tersebut cengengesan.
"Ayo pulang!" Seru Sean menyelonong masuk ke dalam mobil meninggalkan teman dan Pamannya.
Sang supir ikut masuk ke dalam mobil.
"Kau mau pulang dengan kami?" tanya Leo menatap David belum ada jemputan.
David mengeleng pelan."Sebentar lagi supir pribadi ku akan sampai. Paman pergi lah!" ujar David menolak ajakan Leo.
Ia harus pulang bersama supirnya. Jika tidak ingin ke dua orang tuanya khawatir.
"Baiklah kalau begitu! Paman pergi dahulu ya!"
"Ya."
Leo melangkah memutari mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil sedan hitam itu melaju meninggalkan gedung sekolah.
"Kita pulang tuan muda!" seru pria berpakaian serba hitam di belakang tubuh anak lelaki tampan itu.
"Baiklah. Lagi pula aku sudah melihat seperti apa dia!" Ujarnya sebelum membalikkan tubuhnya.
Sebelum melangkah tak lupa ia menyerahkan kardus kecil surat pada bawahan ayahnya. Masuk ke dalam mobil sedan hitam yang sudah menunggu beberapa jam yang lalu.
***
Ruang tengah begitu gaduh. Televisi besar menayangkan kartun ke sukaan anak-anak. Sebenarnya, tidak anak-anak juga sih yang menonton nya. Karena di sana ada wanita yang sudah berumur juga.
"Kenapa rambut Upin-Ipin itu tidak tumbuh-tumbuh Bunda? Padahal kan ini sudah satu tahun!" tanya Cleo di samping Clara.
Clara terkekeh pelan begitu juga dengan Dera mendengar pertanyaan polos dari putri pertama pasangan Clara-Yeko ini.
"Kenapa ya rambut nya tidak tumbuh-tumbuh, apa Abang Sean tau kenapa?" Clara melemparkan pertanyaan pada Sean yang terlihat merdeka. Bermanja-manja pada sang Ibu. Tanpa harus di singkirkan oleh sang ayah.
Anak Perempuan berusia enam tahun itu menoleh menatap Sean dengan pandangan berbinar.
"Karena dia tidak suka main sama Jumbo mungkin," jawaban nyeleneh Sean membuat Clara dan Dera mengeleng pelan.
"Jadi, kalau Upin dan Ipin main dengan Jumbo akan tumbuh rambut ya, Abang?" tanya Cleo polos.
"Ya," jawab Sean asal. Sebelum kembali menatap layar televisi.
Dimana film kartun kesukaan sang Ibu masih tayang dalam teks bahasa Inggris. Sean tidak tau apa yang mengasikan menonton film kartun asal Malaysia itu. Bagi Sean Yamato lebih asik bermain dengan Jery atau Jumbo. Buaya senior itu, karena mereka akan kalang kabut jika ia datang.
"Kenapa Upin dan Ipin itu tidak bisa berbahasa Jepang ataupun Indonesia, Bang Sean?"
Sean memutar ke dua bola matanya. Inilah yang ia tidak suka dengan Cleo. Anak perempuan ini terlalu banyak tanya.
"Tidak tau Abang!" jawabnya pelan.
Dera mengusap pelan rambut tebal Sean."Apakah tidak ada tugas dari guru di sekolah?" tanya Dera pelan.
"Tidak ada Ma. Lagipula kalau ada pun aku akan mengerjakan nya di sekolah."
Dera mengeleng pelan. Anak lelaki nya ini memang di nilai santai dalam sekolah. Toh, nilainya selalu sempurna. Beruntung Sean Yamato tidak menuruni otaknya yang pas-pasan. Sean lebih cekatan, cepat tanggap dan juga teliti. Beberapa kali mengikuti kejuaraan. Sedari kecil memang sudah cerdas. Membuat Dera tidak terlalu khawatir.
Sebenarnya, Dera tidak akan terlalu memaksa Sean untuk belajar keras. Dera akan mendukung impian Sean kedepannya. Menghormati ke ingin sang putra. Tentunya juga dengan pengawasan yang matang. Sean Yamato di nilai santai oleh teman-temannya. Karena tidak belajar dengan gila. Siapa sangka, anak satu ini akan bangun di jam setengah lima pagi hanya untuk meluangkan waktu nya untuk membaca buku. Dan dua jam sebelum tidur membaca lagi.
Ia gemar membaca, hingga ada perpustakaan pribadi di rumah besar Yakuza ini. Untuk kegemaran membaca ia dapat kan dari Dera. Wanita manis itu juga gemar membaca. Hanya tidak bisa membaca buku yang terlalu berat. Seperti buku yang ada angka-angka nya. Ia akan langsung K.O saat di hadapi dengan buku-buku begitu. Namun Sean, anak ini sangat ahli dalam hitung menghitung.
Jika di Jepang keluarga Yamato ini tengah dalam kehangatan. Maka di luar sana, Hiro Yamato berlari cepat. Bersama beberapa anak bawahannya. Memburu sisa-sisa anggota Mafia Dragon yang masih hidup. Beberapa kali tembakan menggema di hutan Vietnam. Beberapa kali bidikan Hiro mengenai buruan nya.
"Dapat kan mereka hidup atau mati!" Titah Hiro keras.
"Baik Bos!!" Seruan serentak di dalam hitam mengalun.
Hiro Yamato tidak menyangka jika kelompok Mafia satu itu bangkit kembali. Harus di musnahkan, agar keluarga nya baik-baik saja. Hiro berbohong mengatakan ingin membangun bisnis di Vietnam. Pria ini datang ke Vietnam hanya untuk bisa memusnahkan anggota yang lari dahulu. Ataupun anggota yang tersisa. Mafia Dragon tidak boleh kembali bangkit. Tidak boleh!
.
.
.
Bersambung.....
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???