Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 18




.


.


.


.


.


.


Tubuh gadis mungil itu gelisah di atas ranjang, manik mata hangat itu terlihat sendu. Tubuhnya tidak henti-hentinya bolak balik. Bibir seksi itu di gigit pelan. Gadis itu mengerang pelan, tubuhnya sungguh panas.


"Kak," panggilnya dengan erangan.


Bian menoleh ke arah ranjang, matanya sayu, tidak tahu bagaimana bisa gadis itu mengonsumsi obat perangsang. Dan siapa yang berniat jahat padanya.


"Kak!" Dera untuk ke sekian kalinya dengan sebelah tangan mengawang sedangan sebelah lagi digunakan untuk meraba tubuhnya.


"Sial! God!" geram Bian.


Ketukan pintu di luar kamar, membuat langkah lebar Bian terlihat. Telapak tangannya membuka cepat pintu seorang pegawai hotel mengantarkan beberapa cup susu hangat, Bian menerimanya sebelum memberikan tips. Dokter tampan itu masuk kembali dengan langkah lebar. Betapa terkejutnya, Bian! Melihat tubuh gadis itu. Pengaruh obat perangsang membuat Dera kehilangan akal. Gadis itu membuka dress selututnya. Hanya menyisakan, anak baju dalam dan hotpants. Bian melangkah lebar, meletakan dua cup susu hangat di atas meja. Ia duduk di tepi ranjang, tangan Dera menggapai dengan mata berkabut.


"Sabar, susu hangat bisa menetralisir obat itu. Aku tidak membawa obat bius ke hotel. Maaf, ini akan membuatmu menderita," seru Bian dengan ekspresi pias.


"Kak! Rasanya sakit!" seru Dera bahkan air mata mengalir di kedua sudut matanya. Meski tak mengurangi kabut gairah.


"Ya, Kakak tahu. Ayo minum dulu!" Bujuk Bian menyodorkan bibir gelas pada mulut Dera.


Dera mengerang keras. Meski napsu menguasai, ia mencoba mengendalikannya sekuat mungkin. Mulutnya terbuka, menyesap habis isi susu hangat. Sebelum gelas yang kedua berpindah pada tubuhnya. Rasa panas masih menyengat di tubuhnya.


Bian memeluknya dengan erat. Tidak bergerak, hanya memeluk. Bian tak tahu apakah yang terjadi jika dia tidak datang ke hotel sebagai pembicara wakil kesehatan. Maka sudah pasti gadisnya ternodai. Erangan perlahan mulai pelan. Mata coklat hangat itu terlihat nanar. Berbulan-bulan ia merindukan gadis ini. Namun, tidak bisa bertemu dengan Dera. Namun, takdir kembali membawanya bertemu. Dengan keadaan yang mampu membuat Bian merasa hancur.


Di waktu yang bersamaan, Yeko dan Clara terlihat kalang kabut mencari Dera. Hiro menatap nyalang ke arah wanita cantik yang terlihat santai.


"Dimana dia?" tanya Hiro dengan wajah tenang. Namun, nadanya serat akan amarah.


"Mana aku tahu," seru Mirabel acuh.


Clara masuk dengan wajah cemas. Ia mendekati sang Bos, menunduk berbisik pada daun telinga Hiro. Membuat raut wajah Hiro mengeras, Clara menembakan tubuhnya dengan mata tajam menatap Mirabel. Ia salah sangka pada Mirabel. Ia berpikir wanita itu secantik parasnya.


"Kau masih berbohong padaku? Dera baru saja dari tempatmu. Dan belum keluar dari hotel ini sialan! Apa rencanamu, huh!" Hiro berteriak keras menggelegar. Ia bahkan berdiri dari posisi duduknya.


Wanita itu tidak memiliki getar takut di dalam tubuhnya. Darah mafia hebat mengalir di dalam tubuhnya. Dibentak bukanlah hal yang luar bisa melainkan hal biasa.


"Lalu kenapa kalau dia baru saja dari kamar hotelku?" tanya Mirabel dengan nada remeh.


"Jangan membuat aku muak padamu! Aku hanya menghargai ayahmu, jadi jangan bertingkah! Sialan," tutur Hiro tak mampu mengontrol emosinya.


Rahang Hiro mengetat ingin rasanya tangan Hiro melayang di wajah cantik Mirabel. Jika tidak Ingat jika ia tidak akan melakukan kekasaran pada wanita dengan tangannya. Keangkuhan Mirabel, membuat lelaki ini muak, sungguh muak.


"Tahu apa kau tentang aku. Jika terjadi sesuatu padanya, kau dan aku bukan lagi teman. Bahkan hubungan kerja sama kita cukup sampai di sini," tutur Hiro setelah menutup kedua kelopak matanya. Meredamkan emosi yang tersulut.


Hiro membalikkan tubuhnya diikuti oleh Clara dari belakang. Seruan lantang di belakang tubuh Hiro membuat langkah kaki kokoh tertahan.


"Sayang sekali, gadis itu sudah pasti menjadi wanita beberapa jam tadi. Dia bukan lagi gadis," teriak Mirabel membuat manik mata Hiro mengelap.


Clara membalikkan tubuhnya sigap. Menatap tak percaya pada wanita yang menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Aku menerimanya apa pun keadaannya. Dan untukmu, kau tunggu hadiah terima kasih dariku," tutur Hiro sebelum kembali melangkah.


Clara membalikkan tubuhnya di depan pintu terlihat anak buah Hiro berbaris. Sedangan di ujung lorong di depan lift terlihat Yeko sedang berbincang-bincang dengan manejer hotel. Hiro melangkah dengan tegap, hatinya terasa nyeri. Ia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu apa maksud dari perkataan Mirabel. Wanita itu benar-benar menguji kesabaran Hiro.


Menyentuh apa yang tak harusnya ia sentuh. Hati kecil Hiro bersumpah, akan memberikan hadiah setimpal bagi mereka yang berani menyentuh apa yang tak harusnya tidak mereka sentuh.


...***...


Gerimis di pagi hari membawa bau anyir menyebar di permukaan, udara dingin menyebar menusuk ke dalam tulang. Rasa hangat menyelimuti bahu Dera. Gadis itu menoleh ke samping. Selimut tebal menutupi bahunya di mana lelaki berlesung itu tersenyum lembut. Di balas senyum yang sama. Keduanya menatap ke depan. Menatap rintik menyapa permukaan kolam ikan koi. Membuat kulit air tenang berriak.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Bian lembut.


"Lebih baik, terima kasih atas pertolonganmu, Kak!" seru Dera pelan.


Kedua sudut bibir Bian tertarik ke atas lelaki itu menoleh ke samping. Menatap wajah Dera, gadis itu cantik di mata Bian. Tidak peduli jika orang-orang tidak sejalan dengannya. Bagi lelaki ini, cinta itu hadir karena kesederhanaan dan kenyaman. Bukan kecantikan. Meski cinta datang dari mata turun ke hati. Namun, bagi Bian cinta itu datang dari hati dan dan mengendap di sana.


"Sama-sama De!" jawab Bian dengan nada berat. "Apakah kau tidak punya rencana pulang ke Padang De?" tanya Bian masih menatap wajah Dera yang terlihat asik menatap mahkluk beringsang di bawah sana. Entahlah karena terlalu asik atau menghindari tatapan lelaki itu.


"Punya, hanya saja aku belum tahu kapan Kak!"


"Aku mungkin bisa pindah dinas ke Padang De! Jika kau mau ikut denganku."


Dera menoleh. Netera coklat Dera dan Bian berbenturan. Membawa getaran tersendiri. Tidak ada yang mau memutuskan kontak di antara mereka. Seakan keduanya menyelam rasa yang belum mampu di ungkapkan dalam kejelasan.


"Kak!"


"De!"


Dua seruan bersamaan membuat tawa melambung pelan. Keduanya sama-sama membuang muka. Sebelum kembali membawa indra lihat menghujami wajah masing-masing.


"Kau duluan," tutur Bian.


"Kakak saja!"


"Hem!" dehem Bian mencoba membasahi kerongkongannya. "Maukah kau mempertemukan aku dan kedua orang tuamu?" tanya Bian penuh harap. "Aku ingin kau bertemu dengan ke dua orang tuaku besok malam. Kau mau?"


Oh! Ini bukan mimpi? Apa maksudnya? Jangan bilang lelaki ini juga ingin melamarnya? Jantung Dera berdebar keras. Bahkan untuk membasahi kerongkongannya saja ia tak mampu.