
Mohon Vote, Like dan Komen nya ya All.. agar Author nya lebih semangat update tiap hari ☺️👉👈
.
.
.
.
.
Manik mata hitam legam itu tak berhenti menatap wajah tampan yang terlelap di samping nya. Hembusan napas teratur, bulu mata tebal lentik selalu menjadi perhatian lebih bagi Dera. Wanita itu menatap intens wajah sang suami. Raut wajah terlihat begitu lelah. Ia tak tau rasa itu hadir dari kapan, hingga menyelusup masuk ke dalam hati dan otaknya. Ia menyayangi sosok menakutkan ini. Dulu! Saat pertama kali ia bertemu dengan Bos Mafia ini. Yang terbenam di dalam pikirannya ada ketakutan dan ingin kabur jauh dari Hiro Yamato. Masih melekat di otaknya, bagaimana pedang samurai menebas kepala seorang lelaki perwira. Menggelinding sampai di depan mata kakinya. Hingga mencabut kesadaran Dera dari diri. Baru-baru ini, wanita ini tau. Apa yang membuat Hiro bertindak seperti itu. Lelaki yang di bunuh saat itu adalah abdi negara yang korupsi. Dan suka melecehkan perwira wanita yang memiliki status lebih rendah darinya. Pria tua itu mencoba mengambil keuntungan dari Hiro. Hiro Yamato bukanlah Bos Mafia yang bodoh. Lama terjun di dunia gelap, tak lantas membuat Indra perasaanya tumpul.
Jari jemari Dera mengusap perlahan bulu mata Hiro. Sebelum turun pada rahang tegas Hiro. Manik mata hitam kelam itu meredup kala ingatan pembicaraan mereka semalam. Kristal bening lolos begitu saja dari sudut mata Dera. Hatinya berdenyut nyeri kala tau bagaimana kehidupan yang suaminya ini jalani. Masa-masa kecil yang harusnya bermain di renggut begitu saja. Ibunya begitu tidak berperasaan, menjadikan Hiro sebagai senjata. Sebagai alat untuk bisa berada di tingkat yang lebih tinggi lagi. Masa-masa kecil yang lebih dari pada kata buruk. Yang di jalani oleh Hiro. Tidak ada keluhan ataupun bantahan dari Hiro kecil. Meski harus bergulat dengan binatang liar. Mendapatkan pukulan keras saat gagal dalam pertarungan. Meski ia mendapat kan kemenangan. Tidak ada pelukan hangat dan kecupan dari sang Ibu. Bahkan Tuan besar Yamato tidak pernah melirik nya barang sejenak. Suaminya itu kesepian, terpuruk dalam banyak luka. Hingga nada baik tidak pernah mengalun dari bibirnya.
Bibir merah tipis itu di gigit perlahan. Menahan isakan yang akan mengalun. Dua puluh dua tahun, Dera di besarkan oleh ke dua orang tua nya dengan penuh cinta dan kehangatan. Meski hidup dengan kesederhanaan di perdesaan terasa lebih baik. Bermain dengan lumpur, kelereng dan bermain petak umpet. Tidak ada siksaan dan darah. Ia hidup dengan senyum dan tawa. Meski kehidupan begitu berat dengan kemiskinan. Namun kemiskinan tidak merenggut kebahagiaan. Kesederhanaan yang terasa begitu hangat. Waktu yang begitu banyak untuk saling mengerti, memahami dan saling menyayangi. Itulah yang Dera rasakan. Pelukan kasih sayang dari ke dua orang tuanya adalah hal wajar.
"K—ak! Aku dan keluargaku akan memberikan mu kasih sayang yang baik. Ibundaku, akan menyayangi mu meski Ibumu tak begitu. Ayahku akan memujimu dengan senyum hangat mengantikan Papamu. Dan aku akan selalu memeluk mu. Jangan khawatir!" Tuturnya mengelus perlahan wajah lelah Hiro dengan nada serak.
Wajahnya masuk ke dalam dada bidang Hiro. Meski air mata terus mengalir. Ada senyum tipis di sana. Senyum hangat untuk Suaminya. Ia akan menyanyi Hiro dan belajar mencintai sang suami. Meski ia pernah mencintai lelaki lain. Namun di sini, ia sudah menikah dengan Hiro. Di sini bukan hanya hidup nya yang sudah terikat dengan Hiro. Namun juga hatinya, saat akad terjadi maka hati pun ikut di ikat. Sudah sepantasnya ia memberikan cinta pada sang suami yang lebih berhak akan hal itu.
Tidak ada yang bagaimana takdir bermain di antara mereka. Dengan janji yang telah di ikat. Untuk tidak akan pergi dari Hiro. Janji akan selalu memeluk nya dan memberikan Omelan pada Hiro Yamato. Siapa yang patut dan pantas di salah kan di sini. Haruskah menyalahkan lelaki tampan dengan wajah dingin itu atas sebuah kematian? Atau menyerahkan semuanya pada waktu dan takdir tanpa menyerahkan siapa-siapa? Entahlah.
***
Wajah pucat dengan polesan make up natural memancarkan kecantikan yang begitu menggoda. Senyum lebar di terbarkan begitu saja. Kendaraan di bawah sana terlihat begitu sibuk. Sesekali bunyi klakson mobil menjadi nada yang sudah biasa bagi penduduk asli Indonesia. Uap Kopi mengepul di udara. Dua wanita dengan usia yang berbeda duduk saling berhadapan. Gerakan anggun kala menyesap Kopi khas Indonesia dengan senyum yang luntur. Punggung di sandarkan senyaman mungkin di sofa.
"Bagaimana dengan rencana kita selanjutnya Nyonya Yamato?" Kata tanya di hempas kan kala cup Kopi telah berada kembali di atas meja.
Kara menyilang kan sebel kakinya. Sebelum bibir dengan lipstik merah maron di tarik ke atas dengan senyum ganjil.
"Tenang saja menantuku. Sebentar lagi, kita akan menjalankan rencana kita. Kau akan bisa bersama putra tampan ku. Tidak ada yang bisa menghalangi mu. Wanita secantik dan sehebat mu, adalah wanita yang pantas berdiri di sebelah Putraku!"
Mirabel tersenyum lembut menatap calon Ibu mertua nya. Ya, hanya dia lah wanita yang sempurna untuk Hiro. Lelaki yang sudah lama memikatnya dengan pesona dingin dan tatapan mata dingin nan tajam itu.
"Aku sangat menanti jalan nya rencana kita ini Ibu mertua," balas Mirabel dengan nada penuh harap.
"Tentu saja. Kita akan melakukan nya dengan sempurna."
"Bagaimana dengan adik nya?"
"Tenang saja. Dia akan berada di dalam genggaman kita. Dengan begitu, Hiro bahkan akan menyembah untuk menikahi mu." Ucap Kara dengan tawa keras di ikuti oleh Mirabel.
Di waktu bersamaan dan tempat berbeda. Leo tengah berbincang kecil dengan bawahnya. Lelaki tampan itu terlihat menatap lama alamat Rumah Sakit yang di berikan oleh salah satu mata-mata yang sengaja di seludupkan di antara anak buah Hiro.
"Apakah ada yang aneh?"
"Tidak Bos. Untuk saat ini semua nya normal-normal saja."
"Awasi gerak-gerik Kara. Wanita iblis itu pasti akan melakukan hal gila!"
"Tentu. Ia harus mati di tangan Hiro. Sebelum Putranya mati di tanganku. Bukankah yang lebih menyakitkan adalah kala orang yang kita sayangi lah yang menusuk kita dari belakang!"
"Tuan!" Panggilan dengan pintu ruangan terbuka lebar. Lelaki paruh baya masuk dengan wajah aneh.
Dengan gerakan tangan. Anak buah Leo keluar dari ruangan. Chou membungkuk perlahan, memberikan hormat pada sang tuan muda.
"Ada kabar apa?"
"Tuan Zeo! Seperti nya dia akan menyusul ke Indonesia!" tutur Chou dengan wajah aneh.
Leo diam. Raut wajah nya terlihat kacau. Sudah sangat lama, Leo tidak melihat wajah lelaki itu. Lelaki yang sering tersenyum padanya. Lelaki yang menggendong nya dengan penuh kehangatan. Namun sekarang tak lagi sama. Leo bukanlah bagian dari Yamato. Setalah apa yang terjadi. Putra Zeo sudah lama mati. Bersama sang Ibu. Yang hidup saat ini adalah pria yatim-piatu tanpa keluarga.
"Akhirnya, dia keluar juga!" seru Leo dengan nada lirih.
***
Aroma makanan lezat memasuki Indra penciuman orang-orang. Dera membawa dua piring terakhir. Meski para Maid telah melarang. Wanita itu tak mau mendengar perkataan pembantu rumahnya. Ia tetap melakukan apa pun yang dia mau. Hiro tersenyum lebar kala Dera menghampiri nya dengan dua lauk pauk terakhir yang di tata di atas meja.
"Ayo makan," ujar Dera dengan semangat.
Hiro mengangguk tak kalah semangat nya. Sebelum Nyonya muda Yamato itu menarik kursi di samping Hiro. Ia memberikan kode pada Clara dan Yeko. Untuk bergabung bersama mereka. Tak butuh paksaan. Ke duanya duduk bersamaan. Saling berdampingan.
"Aku mau makan ini! Yang ini juga dan ini!" Ujar Hiro menunjuk satu persatu lauk pauk dan sayur yang terhidang.
Dera mengambil satu persatu yang di tujukan oleh sang suami meletakkan nya di atas piring. Ah! Clara merasa iri melihat hubungan Bosnya yang terlihat begitu mesra. Lewat ekor matanya, Clara melirik lelaki di samping nya. Sial sekali! Bagaimana bisa Yeko makan terlebih dahulu dengan wajah dingin nya.
Clara diam-diam mencibir. Benar-benar kutub es! Tidak punya perasan dan tidak peka. Dera dan Hiro sesekali tertawa pelan.
Clara menghembus kan napas letih. Sebelum mengalihkan pandangannya pada wanita yang tersenyum malu-malu pada Hiro.
"Aneh! Kenapa kau—eh! Maksudnya, Nyonya makan begitu banyak beberapa Minggu ini?" Ujar Clara meralat panggilan nya di depan Hiro. Jika di belakang sang bos ia bisa memanggil nama wanita itu. Namun di depan Hiro ia harus begitu formal.
Hiro menoleh menatap makan yang ada di atas piring sang istri. Benar juga, meski Dera memiliki nafsu makan yang lumayan besar. Namun beberapa Minggu ini, sang istri memang sering makan. Dan agak berisi.
"Kenapa? Apa ada yang aneh?" tanya Dera dengan wajah bingung.
"Nafsu makan Nyonya seperti orang yang sedang isi saja!" canda Clara.
**Huk!
Huk**!
Tiba-tiba saja Dera tersedak dengan perkataan Clara.
TBC
Jangan Lupa Vote, like dan Komen nya ya all.
☺️☺️☺️