Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 98 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


.


Dera menatap lama pantulan wajahnya cermin rias. Wajah nya tampak pucat, manik mata terlihat keruh. Dera menyinyisir cepat rambut nya. Sebelum mengikat rambut panjang nya. Bibir pucat nya, di oles dengan lipstik pink lembut. Sudah empat jam sang suami terbang ke Texas. Pria itu menjanjikan sebuah ke utuhhan keluarga. Ibu satu itu menjanjikan dirinya untuk tetap kuat. Dress merah terang selutut bergerak kala Dera berdiri dari posisi duduknya.


KLIK!


Kreet!!!


Pintu kayu itu terbuka, Clara dan Sari menatap Dera dengan pandangan aneh. Ke duanya memang berada di depan kamar utama menjaga Dera. Jika saja wanita ini membutuhkan sesuatu. Ke duanya akan cepat sedia membantu. Atau sang nyonya besar bertindak aneh mereka akan cepat tau.


"De!"


"Kak!"


Dua panggilan serentak membuat Dera mengembangkan senyum tipis. Ia tau ke duanya khawatir dengan keadaan nya. Ia sempat mengalami guncangan hebat.


"Aku ingin melihat nya," seru Dera dengan wajah dingin.


"Dia?" ulang Clara pelan.


"Siapa yang kakak maksud?" kini suara Sari terdengar.


"Mawar! Aku ingin melihat nya!" jawab Dera tegas,"Dimana dia?" lanjut nya.


"Mawar ada di ruangan bawah tanah di bagian barat," jawab Clara cepat.


Sari mengigit pelan bibir bawahnya. Menatap khawatir Dera, apa yang di inginkan oleh sang kakak sebenarnya. Manik mata hitam yang selalu terlihat ceria tak lagi tampak.


"Ayo, ke sana!" titah Dera. Sebelum melangkah menuju anak tangga.


Kontan saja Sari dan Clara saling adu tatap dengan mata membesar sebelum menyusul langkah Dera. Ke tiganya melangkah lebar menuju bagian barat. Penjara bawah tanah yang tak pernah wanita itu injak selama ini. Sedangkan Sean menatap lama pintu rumahnya. Hingga mata coklat terang itu menatap ketiga wanita keluar dari pintu belakang. Anak itu turun dengan cepat dari tempat pengintaian nya. Salahkan orang-orang yang tak mau memberitahu kan kepadanya apa yang terjadi. Hingga ia melakukan pengintaian sendiri. Langkah kakinya memelan, dengan ke dua mata menyipit memandang sang ibu.


Kerutan di dahi kecil nya terlihat. Ada yang berbeda dari sang Ibu. Wanita yang telah melahirkan nya tak terlihat seperti biasanya. Bahkan warna pakaian nya terlalu terlalu cerah dan terang. Sean melangkah dengan ringan, masih saja mengikuti ke tiganya. Sampai di depan pintu masuk gedung penjara bawah tanah.


"Apa yang ingin mereka lakukan?" monolog Sean dengan keheranan.


Terlihat Dera maupun Clara berbincang kecil dengan sang penjaga. Sebelum sang penjaga membukakan pintu besi lalu membungkuk cepat. Sean keluar dari tempat persembunyiannya dengan cepat.


"Buka pintunya!" seru Sean dengan nada tegas.


"Bos kecil! Saya———"


"Buka!" potong Sean dengan nada tak mampu di bantah.


Pria itu hanya mampu meringis dengan bulu kuduk berdiri. Meski Sean belum mendapatkan pengakuan sah sebagai seorang putra mahkota Yakuza. Namun, fakta bahwa dia yang akan menjadi penerus tak dapat di hilangkan. Mau tak mau, pria ini membuka kan pintu besi.


Sean masuk dengan cepat. Ia tak boleh kehilangan jejak sang Ibu. Pergerakan Sean sangat cepat, meski ada banyak pintu dan lorong di gedung tua ini. Anak lelaki Yakuza ini sangat hebat. Telinga nya sangat tajam dalam mendengarkan langkah kaki yang bergema di lorong yang bercabang. Setengah berlari ia menyusul Dera. Beberapa anak tangga turun cukup menyusahkan pergerakan nya. Hingga bau pengap, amis dan busuk menusuk hidung.


Langkah kakinya memelan kala mendapati sang Ibu dengan dua wanita lain nya berhenti di salah satu pintu penjara. Pria penjaga penjara membuka kan pintu. Sari terlihat berdiri di depan pintu. Wanita itu tak ingin masuk. Langkah nya terlihat lagi kala Dera dan Clara telah masuk ke dalam ruangan.


"Astaga! Sean!" cicit Sari terkejut dengan kehadiran Sean di depan nya.


"Ssssttt! Diamlah Tante. Aku hanya ingin melihat Mama ku." Seru Sean pelan sembari menempelkan jadi telunjuk di depan bibirnya.


Sari menghembus kan napas kasar. Ada apa dengan Ibu dan anak ini. Kenapa ke duanya terlihat berbeda di hari ini. Sari hanya mampu menuruti perkataan Sean. Anak lelaki itu mengintip di balik Kosen pintu. Sang penjaga berada di samping Mawar. Ke dua matanya terbelalak melihat keadaan mengenaskan Mawar. Wanita yang sangat di percaya oleh orang tuanya terlihat mengerikan. Dengan pipi yang membengkak, bibir pecah, sebelah mata yang membengkak. Wanita itu adalah orang ke dua yang bisa mengontrol rumah besar Yakuza setelah Clara.


Kesalahan apa yang membuat Mawar terlihat seperti itu. Hingga masuk ke dalam penjara khusus. Tidak ada yang memberitakan hal ini pada Sean.


Indra dengarnya di pertajam. Guna mendapatkan informasi baru.


"Siapa kau sebenarnya?" Dera menatap dingin Mawar.


"Bukankah nyonya sudah tau?" tanya Mawar dengan senyum sinis.


PLAK!


Tamparan keras dari pria di samping tubuh Mawar menampar dengan keras. Membuat wanita itu terjerembab ke samping kanan. Bibirnya yang memburu terlihat berdarah kembali. Sean menatap raut wajah sang Ibu. Sean tau, Dera sangat membenci kekerasan. Anehnya, raut wajah sang Ibu tak berubah. Masih dingin.


"Kau benar-benar menipu kami semua?" tanya Dera berat. Meski pun wanita itu tau jelas dengan jawaban yang akan keluar dari bibir Mawar.


"Ya," jawab Mawar cepat.


"Apakah kematian ke dua orang tuaku juga kau yang menyusun rencana itu?"


Mawar kembali menarik ke dua sudut bibirnya yang pecah untuk tersenyum. Clara mengeleng tak percaya dengan fakta ini. Ke dua sisi tangan Dera mengepal.


"Hebat sekali!" puji Dera dengan nada datar,"Kau tak takut mati di tangan ku?" lanjut Dera.


"Mati? Tidak juga. Tapi kau berhutang nyawa dua kali padaku nyonya. Jika bukan karena aku sudah pasti kau mati malam itu. Dan anak mu Sean tak akan bisa lahir tanpa bantuan ku. Dan karena itulah Tuan Hiro tak bisa membunuhku," jawab Mawar percaya diri.


Dera tersenyum menyeringai."Percaya diri sekali kau ternyata!" ujar Dera sebelum merubah ekspresi senyum nya kembali dingin.


Mawar membalas senyuman itu. Bagi Mawar, sebagai anggota Mafia. Kematian tak pernah menakutkan. Semua nya telah terjadi. Tidak ada yang bisa di rubah. Masa lalu telah berlalu.


"Kau tersenyum?" tanya Dera tak percaya.


CRAS!!


BRUK!!


SLUR!!!!


Orang-orang menahan napas. Gerakan menebas Dera sangat cepat. Kepala Mawar putus menggelinding di dingin nya lantai berdebu. Cipratan darah segar membasahi wajah berserta baju Dera. Wanita itu tetap tegak. Tubuh Mawar menggelepar.


JLEB!!


JLEB!


Clara menutup mulutnya cepat. Dera dengan membabi buta menusuk ujung katana pada tubuh Mawar. Sebelum membuang asal katana di lantai. Darah segar membanjiri lantai. Pria yang berada di dalam sana menegang. Di luar sana pupil mata Sean melebar begitu pula dengan Sari. Gadis itu berlari cepat mencari tempat untuk mengeluarkan isi perut nya. Tubuh nya bergetar hebat.


"Beraninya kau mengatakan tentang hutang nyawa pada ku setelah kau membuat tiga nyawa keluarga ku melayang?" ujar Dera dengan nada kaku dan dingin,"Harusnya kau dari dulu mati di tanganku," lanjut Dera dengan mata tajam dan dingin.


Hembusan napasnya tak teratur. Menatap tubuh dan kepala yang berada di lantai.


"Cincang tubuh nya. Buang pada lautan yang terpisah!" Titan Dera sembari mengusap kasar wajahnya yang terkena darah Mawar.


"Ba—ba—baik, nyonya!" ujar sang pria dengan tergagap.


Sean bergerak cepat kala melihat sang Ibu membalikkan tubuhnya. Ia berlari menuju ruangan penjara yang tak terkunci. Dera melangkah cepat, di ikuti oleh Sari. Ke duanya tak berbicara apapun. Suara Sari muntah di lantai masih mengalun.


***


"Ini!" Seru Vian menyodorkan roti yang ia bawa.


Adella tersenyum lembut. Sebelum menerimanya, Leo bersembunyi di balik pintu.


"Aku akan segera pergi dari sini. Ayo pergi bersamaku," ujar Adella membujuk Vian.


"Aku tak bisa."


"Apakah kau masih tak berubah pikiran?"


"Tidak."


"Kau sangat gigih, Vian!"


"Kau juga begitu. Begitu gigih membujuk ku."


Adella mendesah frustasi."Aku sama sekali tidak berbohong Vian!"


"Pergilah. Aku akan mengecoh orang-orang untukmu. Setelah ini kita tak punya hubungan apa-apa," ucap Vian dingin.


"Vian!"


Anak itu membalikkan tubuhnya. Sebelum melangkah kan ke dua kakinya.


"Kau tak ingin melihat wajah Mama mu yang asli. Dia pasti ingin bersamamu. Kembaran mu dan adik-adik mu juga pasti menginginkan mu!" ujar Adella cepat.


Vian mengehentikan langkah kakinya."Jangan memancing ku, Dell!! Pergilah. Kami akan melakukan penyerang tiga Minggu lagi. Jangan sampai kau berada di Jepang. Aku akan memberikan mu uang dan identitas baru. Gio akan membantumu," ujar Vian tegas.


Adella tak melanjutkan pembicaraan. Di ujung matanya ia menatap wajah Leo. Pria itu hanya mengangguk pelan.


"Vian!" panggil Adella berat.


Vian membalik kan tubuh nya."Bisakah kita berpelukan untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku tau kau tak akan mau menemui ku lagi," pinta Adella pelan.


Vian mendesah pendek. Sebelum melangkah mendekati Adella. Anak lelaki itu meraih tubuh kurus Adella memeluknya. Tangan kecil itu bergerak merongrong saku celana jins belakang nya. Sebuah suntik berisi cairan bius terlihat. Adella dengan cepat mengayunkan tangannya. Leo menatap lekat Adella.


HAP!


BRUK!


Tubuh Adella terjatuh ke belakang. Kala tangan kurusnya di cekal dan di dorong. Tabung suntik tergeletak di lantai. Mata Leo terbelalak menatap bagaimana cermat nya Vian Yamato. Gila! Leo lupa siapa anak itu hingga rencana nya terhalang.


"Keluarlah. Aku tau kau di belakang pintu!" seru Vian tanpa membalikkan tubuhnya.


GLEK!


Leo meneguk air liur nya cepat. Senjata api di todong oleh beberapa orang yang masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Vian menatap Adella dengan pandangan kecewa.


"Kau mengecewakan ku, Dell!" seru Vian berat.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Gila😳😳😳😳 ini gila gak sih?🤣🤣🤣🤣🤣


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???