Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 81 (Season 2) Double update



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


Manik mata coklat terlihat kian sayu. Gerakan tangan nakal mengelus dada bidang nya terlihat begitu ringan dan lihai. Tangan Hiro bergerak perlahan, menyentuh telapak tangan Jihan. Yang bertengger indah di atas dada bidang miliknya. Wanita itu menyeringai nakal, pada sang atasan. Akhirnya, Hiro Yamato jatuh dalam perangkap nya.


"Apa yang kau isi pada minuman, ku?" Tanya Hiro dengan nada berat.


Jihan tersenyum lebar."Aku tidak mengisi apapun di minuman nya, Bos!"


Hiro menatap dalam. Sungguh sangat tampan, tidak ada satu wanita pun yang mampu mengalihkan pandangan mereka dari wajah sempurna Hiro. Pria gagah dalam balutan hot satu ini sangat-sangat sayang untuk di lewat kan. Banyak wanita yang mampu melemparkan tubuh mereka pada Bos besar Yakuza satu ini. Meski tanpa imbalan, sekedar berbagi kehangatan. Siapa yang tidak mau?


Menjadi simpanan atau sekedar pelepas kebutuhan biologis saja mereka rela. Meski tanpa tawaran status yang memuaskan. Itu, sudah lebih dari kata cukup.


HAP!


Tangan nakal berada di atas dada bidang Hiro satu lagi di tangkap oleh telapak tangan besar Hiro. Jihan tersenyum nakal, sial sekali. Gerakan cepat membuat keadaan benar-benar membuat Jihan Amelia merasa berdebar. Tolong jangan salah artikan kata berdebar di sini. Ini bukan masalah hati yang tengah dilanda asmara. Akan tetapi lantaran ke dua tangannya di kunci dalam satu gerakan. Sebelum bunyi tubuh menghantam kerasnya lantai marmer.


"Sudah cukup mainan-mainan!" Seru Hiro dengan nada berat nan menakutkan.


GLEK!


Kapan? Itulah yang menjadi pertanyaan di otak Jihan. Tiba-tiba moncong pistol telah di todong pada dirinya. Pria itu memperbaiki posisi duduknya dan ke dua kancing baju yang sengaja ia lepaskan. Kemana larinya pandangan mata sayu begitu mendambakan kehangatan?


Kenapa tiba-tiba saja Hiro Yamato memasang wajah menyeramkan. Wajah yang biasanya terlibat bak malaikat begitu lembut. Berubah berkali-kali lipat menyeramkan. Angel menjadi devil dalam hitungan detik. Lihat lah bagaimana manik mata coklat yang biasanya terlihat hangat berubah menajam dan dalam.


"B——bos!" panggil Jihan dengan nada terbata dan berat.


Bulir peluh menetes membasahi seluruh tubuh nya. Hiro menarik sebelah kakinya, menyilangkan nya ke atas kaki yang lain. Tersenyum miring pada Jihan.


"Kau begitu menjijikan. Kau pikir aku suka dengan wajahmu yang jelek itu. Berani-beraninya kau bermain dengan ku," ujar Hiro dengan wajah kesal,"Kita cukup kan saja permainan menggoda dan tergoda nya sampai di sini!" lanjut Hiro.


Jihan merasa debaran nya semakin menjadi. Kala merasakan aura kelam mengguar dari tubuh Hiro. Kini, Jihan dapat melihat wajah lain dari seorang Hiro Yamato. Bahkan seorang Dera Sandya saja tidak pernah melihat sisi ini di diri sang suami. Wajah psikopat yang benar-benar kental.


Tarikan platuk membuat tubuh Jihan mati rasa.


Door!!!


Tembakan menggema, lantai puncak kedap suara. Hingga tak perlu memancing kegaduhan di dalam gedung Perusahaan besar Yamato. Cipratan darah membasahi beberapa tempat.


Door!!!!


Akh!!!!


Tembakan ke dua membuat bunyi nyaring yang sangat di nikmati oleh Hiro. Percikan darah bertambah menodai beberapa spot. Termasuk sepatu pantofel hitam mahal miliknya.


BRUK!


Tubuh Jihan ambruk. Hiro berdiri dari posisi duduknya. Meraih tisu basah yang ada di atas meja. Dengan santai, sebelah tangannya menyimpan Pistol. Sebelahnya lagi menarik tisu basah. Mengusap tangannya berulang kali. Sungguh menjijikan. Telapak tangan yang sempat menyentuh tangan Jihan. Satu tisu basah lagi mendarat di atas permukaan kemejanya.


"Cih! Dia benar-benar virus busuk!" Kesal Hiro di sela kegiatan nya.


KLIK!


Pintu kaca terbuka lebar. Beberapa anak buah Hiro berdiri di belakang tubuh Yeko. Yeko dan yang lainnya menunduk pelan. Memberikan salam pada sang Bos sebelum memasuki ruangan luas.


Sempat Yeko melirik tubuh bersimpah darah. Dua tembakan di layangan ke ke dua bahu Jihan. Sungguh kejam. Ke depannya, Jihan sudah pasti akan mendapatkan penyiksaan dari Hiro. Mengingat Hiro tidak memberikan kematian pada wanita itu.


"Bos!" panggil Yeko pelan.


"Baik Bos!" Jawab Yeko mengangguk kecil.


Yeko memberikan kode pada bawahannya membawa tubuh Jihan. Ke empat pria berpakaian hitam itu bergerak cepat. Hiro masih terlalu sibuk dengan kegiatan mengelap kemeja dan tangan nya. Dengan wajah jijik ia bergerak.


***


"Sari?" panggil Dera pelan. Kala kuris rodanya berhenti mini bar.


Sari yang duduk di kursi menoleh. Dan membalik tubuh nya ke belakang. Tersenyum tipis pada sang kakak yang tengah menatapnya dengan pandangan khawatir.


"Kau baik-baik saja?" tanya Dera dengan nada ragu.


Sari turun dari kursi. Melangkah mendekati sang kakak. Mempersempit jarak di antara mereka. Sari menekuk satu kakinya, guna menyamakan tinggi tubuh nya dan Dera. Manik mata indahnya menatap wajah Dera dengan intens. Kakaknya terlihat sangat manis dan bahagia. Sangat membuat nya iri.


"Kakak bahagia hidup dengan suami mu, kak?" tanya Sari lirih.


Dera tak tau kenapa sang adik terlihat sangat berantakan. Ke dia matanya terlihat sedikit bengkak. Dera tau jika Sari habis menangis, namun Dera takut bertanya lebih pada Sari. Ia tak ingin Sari terpaksa menceritakan keadaan nya. Dera ingin, saat Sari siap untuk menceritakan masalahnya.


"Tentu. Kakak sangat bahagia dengan kak Hiro."


"Sebenarnya apa itu perasaan mencintai kak?"


Dera menarik garis senyum."Mencintai adalah perasaan di mana kau merasa benar-benar yakin menghabiskan seluruh hidup mu dengan satu orang Sari."


"Pernahkah kakak mencintai seseorang tapi tak bisa memiliki nya?" tanya Sari lagi.


Dera diam sejenak. Untuk pertanyaan satu ini tentu saja ia pernah bukan? Kisah nya cukup pelik namun manis untuk di kenang.


"Ya. Pernah!" jawab Dera jujur.


Sontak saja Sari syok. Bagaimana bisa? Ia tak tau jika sang kakak pernah mengalami hal seperti itu.


"Kapan?"


"Saat usiaku dua puluh dua tahun. Aku mencintai pria yang sangat tampan dan sederhana. Namun ia terlalu sempurna untukku yang biasa," ucap Dera mencoba mengenang hal yang telah terjadi.


Dera mencintai Bian Winata. Saat itu, adik pria itu menolaknya mentah-mentah. Dan mengatakan ketidak pantasannya dengan Bian. Meskipun saat itu rasa mereka tidaklah bertepuk sebelah tangan. Ia menikah dengan Hiro, bukan lantaran adanya rasa cinta. Akan tetapi karena keterpaksaan.


Jodoh selalu memiliki kisah tersendiri. Tak tau bagaimana kata jodoh mampu membuat kisah yang tak di pikir kan bisa terjalin.


"Jangan bilang saat itu, Kakak tidak mencintai Kak Hiro?" tanya Sari tepat sasaran.


Dera tersenyum lebar sebagai jawaban. Kontan saja Sari merasa benar-benar takjub. Bagaimana bisa? Ia pikir saat itu kakaknya memutuskan menikah dengan Hiro lantaran mencintai pria itu.


Dera mengusap pelan pipi chubby sang adik nya yang cantik.


"Menikah tidak selalu tentang pasangan yang saling mencintai Sari. Terkadang kita berpikir itu tak adil. Kenapa kita bisa menikah dengan lelaki yang tidak kita cintai. Tapi, percaya lah Sari, jodoh tak pernah mengecewakan. Hati bisa berubah kapan pun. Banyak orang yang menikah atas nama cinta namun kehilangan cinta itu sendiri saat bersama. Lucunya, mereka yang tak saling cinta malah menerima cinta yang besar dari ke dua belah pihak saat di jalani dengan baik." Papar Dera dengan lugas dan jelas sembari mengusap pelan pipi Sari.


Sari tersenyum kecil. Hatinya sedikit merasa lebih baik. Ternyata kisah cinta yang tak manis tak hanya ia sendiri yang mengalaminya. Ia mengerti dengan apa yang sang kakak katakan.


"Terimakasih kak!" jawab Sari lembut.


Dera mengusap pelan pipi Sari kembali. Sebelum membawa tangan Sari dan menggenggam nya.


"Apapun keputusan mu. Kakak akan selalu mendukung mu. Kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. Jika dia memang untuk mu, dia akan membalas rasamu. Sebaliknya, jika ia tidak untuk mu. Tentu pria yang baru akan hadir menawarkan cinta dan ikatan serius padamu!" nasehat Dera.


.


.


.


.


Bersambung...