Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 104 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


Krasak krusuk riuh di rumah besar Yakuza. Orang-orang tampak bergerak liar. Ke sana dan kemari, menyentuh ini dan itu. Rumah besar Yakuza di rias sebagus mungkin. Aroma makanan tercium menggoda Indra penciuman setiap orang. Dera terlihat tengah sibuk dengan ke dua putra tampan nya.


Empat bulan telah berlalu. Orang bilang di Musim Semi, adalah musim terindah bagi banyak orang. Termasuk bagi Keluarga Yamato.


"Pakai yang ini apa yang ini ya?" Ujar Dera sembari mendekatkan dua jas di tubuh Vian.


Sean malas meladeni sang Ibu. Wanita itu akan sangat plin-plan soal baju, apa lagi di saat hari kelahiran nya seperti saat ini. Biarkan sang kakak saja yang menikmati kegundahan Dera.


"Mama yang hitam saja," ujar Vian menatap bergantian jas hitam dan jas berwarna putih di tangan Dera.


"Tapi yang hitam agak gelap," jawab Dera meragu,"Sean! Jangan masukan tangan mu pada Laura!" tegur Dera kala ekor matanya melirik Sean yang berada di atas ranjang bersama si kembar.


Tubuh si kembar terperejat mendengar teguran keras Dera. Sean menarik jari telunjuk nya yang sempat di gigit oleh Laura. Balita perempuan itu melenguh dengan pandangan kecewa. Vian tersenyum tipis melihat raut wajah sang adik.


"Laura yang memasukkan nya," bantah Sean dengan memasang wajah imut.


Dera menggelengkan kepalanya. Sebelum beralih menatap Vian.


"Kalau begitu, yang putih saja ya, sayang!" Ujarnya menyodorkan baju jas putih pada Vian.


Sean Yamato terkekeh pelan melihat ekspresi lucu Vian. Beginilah Dera, merasa galau saat memilih pakaian. Bertanya pada nya lalu akan memilih pakaian yang sebaliknya. Bukan pakaian yang ia inginkan. Sean turun dari ranjang. Melangkah mendekati Vian.


"Harusnya Abang memilih yang warna putih. Agar mendapatkan yang warna hitam!" bisik Sean kala sampai di samping Vian.


"Aku pikir Mama benar-benar bertanya keinginan ku."


"Mama memang begitu," ujarnya sebelum melangkah menuju pintu.


"Eh? Mau kemana?" seru Dera menatap punggung belakang sang putra.


Sean membalik kan tubuh nya. Tersenyum miring."Seperti kesepakatan aku dan Papa. Hari ini akan ada wanita cantik di rumah ini. Karena itu, aku harus mendadani Papa. Untuk baju ku, samakan saja dengan Abang!"


Dera menepuk dahinya pelan. Ia lupa, anak satu itu benar-benar mendendam pada Hiro. Karena dirinya.


"Kenapa Ma?" tanya Vian melihat wajah lucu sang Ibu.


"Adik mu akan mendadani Papamu menjadi perempuan," ujar Dera sebelum terkekeh pelan.


"Eh?"


"Papa pasti akan cantik dari Mama!" ujar Dera membayangkan bagaimana cantik nya sang suami nanti malam.


"Tidak. Bagiku, Mama jauh lebih cantik dari siapapun!" ujar Vian membawa senyum lebar di wajah Dera.


Si kembar yang telah bisa duduk dengan baik di atas ranjang terlihat tak berulah. Launa dengan sifat kalemnya. Bermain dengan boneka kecil. Sedangkan Laura terlihat menatap Ibu dan sang kakak. Anak ini ingin mengigit apapun yang ia dapatkan. Sedikit kecewa melepaskan tangan sang kakak.


***


Mata bulat bersinar menatap tunas bunga yang baru muncul di permukaan. Rambut hitam legam sebatas paha melambai-lambai kala di tiup angin. Sudah empat bulan ia berada di Jepang. Meski sang Ibu sangat ingin bertemu dengan nya. Adella menolak akan pertemuan yang di janjikan. Anak perempuan ini merasa perasaan tak jelas. Ia merindukan Susi, tentu saja. Namun ia juga merasakan perasaan marah, kecewa dan sedih. Bagaimana Susi melihat separuh wajahnya yang rusak. Sang Ibu akan semakin menyalahkan diri.


"Kau!" Teriak keras dengan langkah kaki semakin mendekat.


Adella membalikkan tubuhnya. Pupil matanya melebar. Tangan nya di cekal kala ke dua kaki kecil nya ingin kabur. Sayangnya, anak seusianya itu lebih cepat dan tanggap.


"Tertangkap juga kau akhirnya!" Ujarnya dengan senyum lebar.


Adella menundukkan kepalanya dalam. Manik mata coklat gelap itu menelisik anak perempuan yang dibawa oleh sang ayah. Vian mengatakan jika anak perempuan ini adalah teman nya saat di Texas. Bernama Adella Putri, setidaknya hanya itu yang Sean dengar.


"Lepaskan!" seru Adella dengan nada dalam.


"Tidak. Kau selalu bersembunyi saat melihat ku. Saat itu juga begitu, kau kabur saat aku mendekati mu dan Bang Vian!" renggut Sean.


Adella mengigit bibir bawahnya. Ia memang menghindari Sean dan Vian. Anak ini meras tak ada lagi alasan untuk tetap menjadi teman. Mengingat, hutang dosa sang Ibu telah ia bayar.


"Ak——aku, tidak akan kabur. Tolong lepaskan tanganku dahulu!" cicit Adella pelan.


Sean meragu."Jika kau berbohong bagaimana?"


"Aku tidak berbohong!"


"Baiklah." Sean melepaskan tangan Adella perlahan."Kenapa membelakangi ku?" Lanjut nya melipat ke dua tangan di depan dada.


Adella membalik tubuh nya. Dengan tangan kanan memegang erat rambut hitam milik nya. Agar tidak berkibar, tidak memperlihatkan wajah menakutkan nya. Hanya wajah sampai kiri saja yang terlihat. Ia masih menunduk dalam.


"Apakah aku semenakutkan itu?" monolog Sean menatap Adella masih menunduk dalam.


"Tidak."


Adella mengangkat wajahnya. Menatap Sean dengan sebelah matanya. Vian menelengkan kepalanya. Ke sebelah kiri, ingin melihat jelas wajah Adella.


"Namamu Adella kan?"


"Iya."


"Kau tak ingin tau namaku?"


Adella mengeleng pelan."Tidak."


"Eh? Kenapa?" wajah Sean melongo.


"Karena kita tidak harus saling mengenal."


"Kau tak suka aku?"


"Eh?"


Jika tadi wajah Sean yang membodoh kini giliran wajah Adella yang membodoh.


"Maksudnya, kau tak ingin berteman dengan ku? Padahal aku sangat ingin berteman dengan mu. Seperti kau berteman dengan Abangku!" Ujar Sean menggaruk kepala belakang nya.


Adella memberanikan diri menatap inten wajah Sean untuk pertama kalinya. Manik mata coklat kelam dalam begitu tajam, senyum miring yang memukau dan aura misterius. Meski Sean Yamato terlihat bersahabat. Adella yakin, anak lelaki ini memiliki sisi iblis dalam dirinya. Yang tak banyak orang ketahui.


"Aku tidak berteman dengan nya. Aku dan Vian hanya membalas kejahatan Ibuku. Tidak kurang dan lebih!" jawab Adella pelan.


Bibir Sean terbuka sebelum terkatup kembali. Sean tak yakin harus berkata seperti apa.


"Sean!!!"


Seruan tiga teman nya. Membuat kepala Sean menoleh kebelakang. Kesempatan ini di pergunakan oleh Adella berlari.


Kepala Sean kembali menoleh ke depan. Anak itu terperangah melihat kecepatan lari Adella. Yang telah jauh darinya hanya dalam hitungan detik saja.


"Wah! Apa dia keturunan cheetah?" ujar Sean takjub.


"Hei! Kenapa malah membelakangi kami!" Kesal David menepuk pelan pundak Sean.


"Sean! Selamat ulang tahun!" Ujar Delta menyodorkan satu kado. Padanya.


"Terimakasih!" Jawab Sean menerima kado dari Delta.


"Ini!" Willem ikut meletakkan kadonya di atas kado Delta.


"Aku juga!" Ujar David mengikuti jejak ke dua temannya."Dan apakah jadi Papamu di dandan hari ini?" tanya David dengan kekepoan tingkat dewa.


Sean berdecak kesal."Kalian tau? Papa ku seperti nya kabur. Aku sudah mengelilingi rumah besar ini. Ke sana dan kesini. Tapi tidak melihat Papaku!" curhat Sean kesal.


Kontan saja ke tiga anak itu tertawa keras."Itu kado untuk Bang Vian?" Tanya Sean menatap satu kado di tangan Delta.


"Ya. Ini untuk Abangmu!"


Sean hanya mengangguk sebelum mengajak teman-temannya melangkah mendekati rumah besar yang telah di hias.


***


Rumah mewah dengan nyanyian selama ulang tahun mengalun. Hanya ada orang-orang yang Keluarga Yamato tau saja yang berada di dalam acara ulang tahun Vian dan Sean. Hingga acara bebas di berlakukan.


"Hai! Cleo!" sapa David dengan gaya sok cool nya.


Cleo tersenyum lucu. Delta mengeleng pelan."Jangan menganggu Cleo. Kau bisa di gantung oleh Bapaknya!" Ujar Delta mengode dengan matanya ke arah Yeko dan Clara yang menggendong Cherry.


Kontan saja David menoleh ke arah ke dua orang tua Cleo. Pandangan mata Yeko terlihat menakutkan.


"Astaga! Papa mu menakutkan juga ya Cleo. Matanya seperti mau tunpeh-tumpeh!" kelakar David.


Sontak saja anak-anak di sana tertawa keras. Hanya Sean saja yang wajahnya masih cemberut. Mata tajamnya masih menatap sang ayah yang mengering Laura. Di samping sang Ibu yang mengendong Launa. Sang ayah nampak gagah dengan balutan jas hitam. Tersenyum miring padanya.


"Wah! Aku akan membuat Papa menyesal karena telah mengkhianati ku!" monolog Sean dengan senyum miring. Mata anak-anak di sana menatap Sean dan Hiro bergantian.


Vian hanya menggeleng kan kepalanya melihat kelakuan aneh ayah dan adiknya.


.


.


.


.


Bersambung....


6 Bab lagi menuju ending Season 2^^


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???