
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.
.
.
.
.
.
.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya David pada Sean saat anak lelaki itu duduk di samping nya.
Sean menoleh. Dapat anak ini tangkap pandangan khawatir dari David. Teman satu bangku sekaligus sahabat nya ini tidak seperti biasanya. Anak yang penuh keceriaan dan selengehaan itu menatapnya dengan pandangan berbeda. Dan tumben juga Sean mengakui jika David adalah sahabat nya. Biasanya anak Yakuza ini tidak terlalu mengganggap David dengan baik. Setidaknya, Sean tau David begitu tulus.
"Lebih baik," jawaban seadanya.
Langkah kaki mendekati meja mereka. Willem mendudukkan body nya di ujung meja David. Menatap tangan kanan Sean yang di perban. Mereka hanya mendapatkan pemberitahuan jika Sean mendapatkan kecelakaan kecil saat bermain. Guru tidak mengatakan apa-apa untuk ke lanjutannya. Meskipun ada beberapa anak perempuan yang terkesan memaksakan sang guru untuk mengatakan di mana Sean Yamato di rawat. Sayangnya, sang guru memilih bungkam. Dan melanjutkan pelajaran, berturut-turut mereka memaksakan sang wali kelas untuk menjenguk Sean. Sayang, mereka kembali mendapatkan hal yang sama.
"Berikan kami nomor ponsel siapapun yang bisa di hubungi Sean. Saat kau masuk Rumah Sakit kami bertiga hanya bisa khawatir. Tidak bisa bertukar kabar ataupun menjenguk mu," seru Willem membuka suara.
Sean tersenyum tipis. Begini kah rasanya mempunyai seorang sahabat. Entah kenapa rasanya begitu hangat, tidak menganggu seperti dahulu. Entah karena mereka yang menjadi sahabat nya ini karena lantaran memang tulus. Atau karena telah terbiasa bersama. Hingga rasanya beda.
"Iya bener. Kami bertiga merasa pusing. Ingin menghampiri rumah mu. Tapi tidak tau alamat tepat nya rumah mu. Guru wali kelas terlalu tertutup. Apakah ini karena Papa mu yang terkenal itu. Sampai kita tidak bisa hanya sekedar bermain dari rumah mu?" ujar David menyerocos begitu saja.
Sean terkekeh pelan mendengar bagaimana David berbicara seperti bebek lepas. Nyorcos tak jelas. Menurutnya! Willem sangat tau di mana rumah Sean Yamato ini berada. Tentunya di rumah besar Yakuza. Rumah yang memiliki luas benar-benar akan membuat banyak orang merasa tak yakin. Apakah itu rumah atau istana. Melihat bagaimana luasnya Rumah Besar Yakuza.
Sebagai seorang anak Mafia, Willem sangat tau bagaimana mereka menyembunyikan tempat tinggal mereka. Meskipun ada yang tau, tidak sembarang orang bisa memasuki rumah besar milik seorang Mafia. Seperti nya saat di Sanghai-China. Willem hanya sendiri di rumah besar Devil. Menjadi tuan muda tidak bisa bebas bermain. Mereka di latih sangat keras. Luka di tubuh adalah hal biasa untuk para tuan muda Mafia. Menjadi calon selanjutnya yang akan memegang kekuasaan kelompok masing-masing. Tentu memiliki tingkat lelah yang berbeda. Sean di latih dengan keras. Di samping itu anak ini juga mendapat kan kasih sayang penuh dari Hiro dan Dera. Mendapatkan pendidikan yang benar-benar perfec untuk seorang penerus Yakuza.
Berbeda dengan Willem, anak ini hanya mendapatkan pelatihan keras tanpa kasih sayang. Karena sang Ibu telah lama meninggal kan nya. Sedangkan sang ayah terlalu fokus bekerja dan bekerja. Memperluas kekuasaan nya di China. Menjadi kan negara Tirai Bambu itu sebagai markas besar Devil. Membantu perusahaan Kevin menjadi lebih besar. Membersihkan tikus-tikus busuk di perusahaan ayah angkatnya. Dan menyokong Kevin dengan sangat baik. Melakukan pekerjaan kotor, hanya untuk tangan Kevin tetap bersih. Sebagai terimakasih karena Ayah Kevin telah merawat dan membesarkan. Memberikan pendidikan dan juga menyayangi nya dengan sangat baik. Hingga ke duanya meninggalkan Kevin. Sekarang Carlos lah yang menjaga Kevin dan seterusnya.
"Will!" Panggilan dari ke duanya membuat Willem terkejut. Tersentak dari lamunannya.
"Ah? Eh?" ujarnya bodoh.
David terkekeh melihat Willem yang terkejut.
"Apa yang kau lamun kan Will?" nada lembut mengalun membuat Willem membalik tubuh nya.
"Kenapa kau ke sini dan kapan kau berada di kelas ini?" tanya Willem melihat Delta tersenyum lima jari.
"Aku sudah beberapa menit yang lalu di sini. Mungkin tepat nya saat kau mulai melamun," balas Delta.
"Ya benar. Apa yang kau lamunkan Hem?" goda David.
"Tidak. Hanya saja merasa letih saja," balas Willem pelan.
"Apa kau masih kecewa dengan Papa mu?" ucap Sean membuat ke dua teman nya menoleh menatap Willem.
"Kecewa? Entahlah. Itu telah biasa. Papa ku memang lebih sulit untuk memperhatikan ku," jawab Willem dengan nada rendah.
Tepukan di bahu membuat Willem menoleh ke samping. Senyum hangat dari anak perempuan terlihat.
"Tidak apa-apa, Will! Orang tua memang begitu. Papa dan Mama terkadang juga begitu. Tapi meskipun begitu. Aku yakin mereka menyayangi mu, Will." Tutur Delta masih menepuk pundak Willem.
"Benar. Meskipun Papa dan Mama ku selalu membicarakan gosip hot di meja makan. Terkesan cuek pada ku, tapi aku percaya mereka sayang aku," timpal David.
Serentak Delta, Sean dan Willem memutarkan bola mata mereka jengah mendengar perkataan yang di nilai tak jelas oleh ke duanya. David tersenyum slengean melihat bagaimana cara teman-teman nya menatap dirinya.
"Biasa saja dong memandang wajah ku. Aku tau aku sangat tampan, kalau di lihat seperti itu aku akan sangat malu kawan!" canda David mendapatkan tatapan jijik dari Sean dan Willem sedang Delta pura-pura mau muntah.
Samar-samar anak-anak yang ada di kelas menatap iri pada Delta. Bagaimana tidak? Ia baru beberapa bulan saja pindah ke Jepang. Sudah menjadi teman dari ketiga lelaki tertampan di sekolah mereka. Tidak tau kenapa Delta bisa akrab dengan Sean yang notabene nya mamang anak yang dingin. Sampai Willem anak yang baru masuk.
Tawa canda ke empat nya terdengar. Lebih tepatnya semua orang mencoba mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
***
Dera dengan telaten nya memandikan Cherry. Bayi mungil yang beberapa hari ini baru lahir. Sedangkan Clara menatap bagaimana telaten nya Dera memandikan sang putri. Jujur saja, meskipun Clara sudah pernah melahirkan bayi pertama nya Yeko. Untuk urusan memandikan bayi, perempuan cantik ini angkat tangan. Ia terbiasa dengan kekerasan untuk urusan yang begini ia tidak bisa. Clara takut salah dalam memandikan bayi. Tubuh lembut dan lunak itu jika berada di tangan nya. Takut patah atau jatuh dari genggam nya. Sungguh lucu.
"Melihat mu memandikan Cherry rasanya sangat mudah dan gampang Dera. Tapi kenapa saat aku mencoba nya sangat sulit. Apa lagi membalikkan tubuhnya untuk menggosok punggung nya," curhat Clara yang berada di samping tubuh Dera.
Dera terkekeh pelan. Dengan telaten Dera membalikkan tubuh Cherry, menciptratkan air perlahan ke punggung Cherry. Bayi satu ini sangat enteng. Tidak menangis saat di mandikan. Tidak ada tangisan kencang saat air menyentuh permukaan kulit putih kemerahan Cherry. Hanya sedikit mengeluarkan suara kecil sangat kecil. Mata sipit itu masih terpejam seolah-olah air hangat itu tidak akan pernah menganggu nya.
"Nanti akan bisa. Pelan-pelan saja, Clara." Ujar Dera masih asik dengan kegiatan nya.
Clara tersenyum lucu."Tidak. Aku takut mematahkan tulang-tulang putriku yang masih lunak itu," tolak Clara.
Kembali tersenyum. Dera memberikan kode pada Clara untuk meraih handuk kecil ekstrak lembut untuk kulit bayi yang sensitif.
"Ini!" Seru Clara menyodorkan handuk pada Dera.
Wanita manis itu meraihnya. Membungkus tubuh si kecil dengan handuk.
"Cherry lebih kalem dari pada Cleo ya, Clara. Saat Cleo kecil suara tangisannya mampu membangunkan seluruh orang-orang karena suara nya yang begitu melengking!" Dera kembali mengingat saat ia memandikan Cleo saat bayi.
Clara tertawa pelan. Mengangguki perkataan Dera. Putrinya satu itu memiliki suara yang keras. Sudah besar saja ia lebih lembut jarang tes vocal. Tidak ada orang yang membuat nya menangis. Anak perempuan itu hanya sering merajuk. Itupun karena Yeko memanapoli perhatian sang Ibu.
"Seperti nya anak ke dua memang begitu Dera. Lihat lah, kau saja hamil sekarang tidak banyak ulah. Tidak merepotkan Bos," goda Clara.
Ya. Dera mengakuinya. Ia memang tidak banyak keluhan untuk hamil anak yang ke dua.
Di lain tempat. Adu mulut kembali terjadi. Bian mengusap kasar wajah tampan nya. Jihan! Wanita itu benar-benar membuat nya jengah.
"Tolonglah Jihan. Aku sangat letih dengan masalah ini lagi! Ini lagi!" kesal Bian.
"Kau meminta waktu untuk masalah ini. Namun saat di bicarakan kau selalu menghindar Bian!" balas Jihan mencoba mengontrol intonasi nada agar tidak terkesan membentak.
"Aku tidak bisa merubah perasaan ku pada mu, Jihan."
"Lalu kau ingin bilang kau hanya mencintai nya, huh!"
"Tolong jangan bawa-bawa Dera di sini Jihan."
"Cukup sampai di sini!" Seru Bian berdiri dari duduknya. Ia ingin perang kata dengan wanita.
Karena perang kata dengan wanita akan membuat semua nya serba salah. Jihan ikut berdiri mencekal pergelangan tangan Bian. Menghentikan langkah kaki Bian.
"Kau selalu begini. Mengindari masalah," kesal Jihan.
"Jika aku menjawab aku tidak bisa mencintaimu. Atau kembali seperti dulu lagi, itu akan menyakiti hati mu," balas Bian tanpa membalikkan tubuhnya.
"Setidaknya berikan aku kesempatan untuk membuat mu jatuh cinta," pinta Jihan mencoba menahan kristal bening yang kini mendiami ke dua mata nya.
"Kita telah bersahabat selama bertahun-tahun. Tapi, aku masih tidak bisa merubah perasaan ku pada mu!"
"Bi! Aku mohon. Tidak bisakah sekali saja, ini untuk terakhir kalinya. Tolong berikan aku kesempatan," bujuk Jihan.
Memberikan kesempatan? Entah lah. Pria satu ini merasa hatinya tidak akan berubah. Apa lagi, hati yang tengah terluka saat ini. Kehadiran dan desakan Jihan seperti ini semakin membuat hatinya kacau. Ia butuh menenangkan diri.
"Maaf!" Lirih Bian melepaskan cekalan tangan Jihan di tangan nya.
Air mata mengalir jatuh pada akhirnya. Menatap punggung belakang Bian. Lagi-lagi ia di abaikan. Isak tangis mengalun, tubuh Jihan terasa begitu lemah. Ia terduduk membuat ke atas sofa menatap punggung belakang yang semakin terlihat kabur. Karena genangan air mata menyapa retina.
Ia tidak akan lagi diam dan menunggu. Sudah sangat cukup lebih dari sembilan tahun ia bersabar. Ia akan menghancurkan wanita jelek itu. Tidak perduli, jika bisa ia akan merusak kebahagiaan Dera. Sama seperti Dera merusak kebahagiaan nya. Siapa suruh Dera membuat pria yang sangat ia cintai mencintai nya. Jika Jihan tidak bisa bahagia. Maka Dera Sandya juga tidak boleh bahagia.
"Dera kau tunggu pembalasan ku. Karena aku tidak bisa bersama Bian. Maka kau tidak akan bisa berbahagia selama hidup mu," ucap Jihan di sela tangis nya.
Manusia cenderung menyalahi orang-orang. Meskipun di sini dia lah yang bersalah. Mereka lah yang salah dalam mencintai. Namun melimpahkan kesalahan pada orang lain. Sungguh lucu.
***
"Ada apa dengan tampang kusut mu, my brother?" seru Hiro menatap Leo yang baru beberapa jam di rumah.
Leo Yamato kembali ke Jepang. Padahal belum dua Minggu di sana ia sudah kembali ke Rumah Besar Yakuza. Sudah sangat di pastikan jika Leo kesal dengan acara kencan buta yang di usung oleh ke dua orang tua mereka. Melihat wajah khusus Leo duduk di sofa. Menengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruang tengah.
"Kau jelas sangat tau apa yang terjadi, Bang!" kesal Leo tanpa mengangkat kepalanya. Sekedar menatap ekspresi sang kakak.
Wajah Hiro terlihat datar. Seperti biasanya."Kau tidak mendapatkan apa yang di cari di sana?"
"Apa yang bisa aku dapat kan di sana?"
"Wanita cantik!"
"Cih!" Leo berdesis menegakkan tubuhnya. Mengangkat kepala nya menatap sang kakak dengan pandang letih."Tidak ada yang sesuai dengan selera ku," lanjut nya asal.
"Memang tipe mu seperti siapa?"
Leo tersenyum miring menatap sang kakak."Seperti kakak ipar mungkin," balasnya sebelum melesatkan tawa.
Bruk!
Banyak kursi terbang ke arah nya. Leo menghindar cepat. Sebelum kembali tertawa keras. Melihat ekspresi kesal Hiro.
"Jika Abang bisa mencarikan wanita seperti Kakak Ipar aku akan menikahi nya. Atau jika Abang mau berikan saja Kakak Ipar untuk aku nikahi!" godanya lagi.
Bruk!
Bruk!
Dua bantal melayang dan itu mengenai dirinya. Ruang tengah terdengar gaduh. Dera hanya mengeleng pelan mendengar gelak Leo yang begitu besar. Dan suara Hiro yang terdengar lantang. Wanita manis ini di temani beberapa Maid menata makan malam. Langkah kaki menuruni tangga terdengar jelas.
Sean menatap sang ayah dan sang Paman yang terlihat masih gaduh. Mengeleng kan kepala nya. Meskipun sudah sangat tua dua orang kakak-adik itu masih seperti anak kecil saja. Sean menoleh menatap ke arah meja makan. Sebelum beralih ke ruangan tengah. Tangga yang terletak di tengah-tengah membuat ia bimbang. Apakah ia akan menghampiri Paman dan Ayahnya. Atau malah menghampiri sang Ibu. Jujur, Sean ingin menganggu sang ayah dan sang paman. Tapi, melihat sang Ibu rasanya juga sangat menyenangkan. Apa lagi mencium aroma makan.
"Ke dapur saja lah!" putusnya.
Kembali Sean melangkah. Beberapa Maid membungkuk hormat pada sang tuan muda. Sean Manarik kursi di meja makan. Duduk dengan baik.
"Mama hari ini suapi aku lagi ya, tanganku masih tidak bisa memegang sendok!" pinta Sean pada sang Ibu.
Dera melangkah mendekati Sean mengusap pelan puncak kepala Sean."Tentu saja sayang!"
"Aku juga mau di suapi. Tangan ku patah karena Leo," seruan di belakang tubuh Sean dan Dera membuat mata Leo berotasi.
"Cih! Modus,"desis Leo.
Begitu juga dengan Sean mencibir. Sang ayah sangat ahli dalam memanapoli sang ibu. Dan Sean tidak suka. Yang harus bermanja-manja adalah dirinya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Minal Aidzin wal Faidzin
Mohon maaf lahir batin ya kakak-kakak 🙏
Maaf ya kalo selama ini Author ada salah yang di sengaja maupun tidak disengaja, baik lisan maupun perbuatan🙏
Semoga kita bisa lebih baik kedepannya, Amiin😇
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu
Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^
Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗
Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???
.