Mr. Mafia Is Mine

Mr. Mafia Is Mine
Bab 66 (Season 2)



Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???


.


.


.


.


.


.


.


Bola mata Sean berotasi melihat taman belakang rumah besar milik nya sangat ramai. Suara terlalu hiruk pikuk untuk hari Minggu yang harusnya di habiskan untuk bermanja-manja dengan sang Ibu. Malah hancur karena——siapa lagi, kalau bukan David. Teman satu bangku yang menelpon sang Ibu pagi-pagi jika ia dan ke dua teman nya yang lain akan datang berkunjung. Jangan tanya nya kan bagaimana David si cerewet mendapatkan nomor Dera. Ada ratusan bahkan ribuan cara untuk anak dari Media masa Jepang ini untuk bisa mendapatkan nomor Ibu Sean. Dengan lihainya dirinya membujuk.


Kekesalan Sean Yamato bukan hanya karena itu saja. Makhluk dengan telinga panjang berbagai warna meramaikan taman belakang. Bintang pencinta wortel itu tengah meramaikan suasana. Dan kalian tau bukan apa yang paling benci oleh seorang Sean Yamato. Yap! Perhatikan Dera yang teralihkan pada binatang-binatang yang di beli oleh David. Si pembujuk ulung. Sang Ibu tengah mengelus-elus si imut kelinci putih yang gemuk.


"Ada apa dengan muka masam mu, Sean?" seruan di samping tubuh membuat Sean menoleh.


"Bagaimana David bisa tau Mama ku suka pada kelinci?" tanya Sean menatap Willem yang memilih duduk di samping nya.


Membiarkan David bersamaan para wanita. Anak satu itu di keliling oleh Cleo, Delta, Dera dan Clara tentunya bersama sang bayi mungil Cherry di dalam gendongan. Mereka semua senang dengan makhluk yang di bawakan oleh David. Terutama Ibu hamil itu.


"Tadi pagi saat kami sampaikan di simpang sebelum perumahan mu. David bertanya binatang yang di sukai Mama mu. Dan tentunya Mama Dera menjawab. Tanpa banyak kata, anak itu memesan dua puluh ekor Kelinci. Semua nya sepuluh pasang. Katanya, ia ingin mengambil hati Mama Dera. Agar di izinkan sering main ke sini," papar Willem menatap David dengan intens sebelum terkekeh pelan.


Lihat lah bagaimana ekspresi Sean saat ini. Manik mata anak ini menajam menatap David yang terlihat tengah bercengkrama. Mencoba mengambil hati sang Ibu. Mau bersaing dengan nya? Huh! Jangan harap. Hiro Yamato saja, kalah saing dengan dirinya. Apa lagi David.


"Hei! Hati-hati dengan tatapan mu. Kau bisa membunuh tanpa menyentuh kawan!" Canda Willem menepuk bahu Sean.


Anak itu tersenyum miring membuat bulu tubuh Willem merinding.


"Seperti nya, David butuh sedikit pelajaran!" seru Sean semakin menaikan sudut bibirnya ke atas.


Habislah David. Anak lelaki cerewet itu akan benar-benar kapok jika berurusan dengan Sean. Sean sangat tidak suka ada yang mengalihkan pandangan sang Ibu darinya. Jika di bawah sana tengah gaduh dengan banyaknya kelinci lucu. Di balkon kamar, Hiro menatap bangku di taman belakang. Menatap Willem yang tengah bercengkrama dengan sang putra. Ke duanya tampak sama. Pandangan yang jeli dari mata Hiro terlihat jelas.


"Bagaimana menurut mu?" tanya Leo menyandar kan tubuh nya di dinding.


Manik mata coklat kelam itu masih tak beranjak menatap anak lelaki di bawah sana.


"Untuk saat ini kita awasi saja. Jika ada maksud tersembunyi untuk dia dekat dengan Sean. Maka habisi, tak peduli siapa ayahnya. Kita lebih besar dari pada Devil. Mafia satu ini masih sangat jauh di bawah kita," jawab Hiro dengan nada dingin.


Leo menatap Sean. Keponakan nya terlihat tak canggung berbicara dengan Willem. Interaksi ke duanya terbilang normal. Seperti teman pada umumnya. Yang di pertanyakan oleh ke duanya saat ini adalah apakah Sean tau jati diri dari seorang Willem? Jika tau apa maksud anak ini untuk berteman bahkan membawanya ke dalam rumah besar Yakuza?


"Tapi aku melihat mereka tulus satu sama lain," ucap Leo pelan.


Hiro tak menampik akan fakta satu ini. Anak-anak memang cenderung tulus saat berteman. Apa adanya tanpa ada niatan lain. Namun berbeda dengan orang dewasa. Mereka cenderung memiliki maksud dan tujuan lain saat menjalani hubungan pertemanan. Apa lagi sesama dari dunia bawah. Akan cenderung berteman dengan kamuflase yang sempurna. Bisa benar-benar tulus atau ketulusan hanya sebuah topeng. Pertemanan di kalangan Mafia adalah kerja sama yang sempurna. Itulah yang di namakan pertemanan.


"Saat ini mungkin begitu. Kita tidak tau kedepannya seperti apa. Cukup awasi saja, Sean bukan anak yang bodoh untuk hal seperti ini," ujar Hiro.


Leo mengangguk mengerti. Sebelum menegakkan tubuhnya.


"Aku ingin turun kebawah. Menggoda Kakak Iparku dulu," ujarnya dengan candaan yang membuat Hiro melotot.


***


"Bagaimana Dokter dengan kondisi nona muda saya?" pertanyaan di lontar kan dengan cepat kala Dokter gagah ini selesai memeriksa wanita cantik yang terlihat sang pucat.


"Seperti nya nona terlalu letih dan juga banyak beban pikiran. Usahakan untuk istirahat yang cukup dan banyak mengonsumsi makanan dan minuman bergizi. Dan juga mengurangi stres, mungkin dengan mengonsumsi coklat hangat, satu jam sebelum tidur," nasehat Bian.


Gadis cantik itu menghembuskan napas pelan. Kekhawatiran nya berkurang, menatap sang nona muda yang tergolek lemas di atas ranjang.


"Terimakasih, Dokter!" Ucapnya menunduk pelan.


Bian tersenyum. Ikut menunduk pelan, mengikuti penghormatan khas Jepang. Sebelum Bian kembali menatap wajah cantik dari sang pasien. Ada rada iba melihat wanita satu ini. Entahlah, Bian tak tau kenapa ia tiba-tiba ia bisa merasa iba pada pasien cantik nya satu ini.


Bian kembali menoleh pada wali wanita cantik."Kalau begitu saya permisi." Ujar Bian menunduk kaku.


"Apa lagi kali ini?" kesal Bian kala berhenti di depan Jihan.


"Aku ingin bertemu dengan sahabat ku apa salahnya?" ujar Jihan dengan senyum lebar.


Dahi Bian berlipat. Apa yang terjadi? Kenapa suasana hati wanita satu ini berubah membaik.


"Langsung ke intinya saja. Aku sedang malas meladeni mu saat ini. Hari ini aku banyak kerjaan!" papar Bian dengan lugas.


Jihan mengandeng tangan Bian. Membuat mata Dokter gagah ini berotasi malas.


"Aku punya kabar baik," ujarnya dengan nada yang ceria.


"Apa?"


"Aku jatuh cinta untuk ke dua kalinya. Tapi pada pria lain," serunya.


Bian mendesah lega. Setidaknya, Jihan menemukan pria lain untuk ia cintai. Belum sempat bibir Bian melengkung tinggi untuk tersenyum lebar. Lengkungan itu patah kala mendengar kata lain yang keluar dari bibir Jihan.


"Aku jatuh cinta pada suami Dera," lanjut nya tanpa tau malu.


***


Perusahaan Yamato terlihat sangat sibuk saat ini. Mengingat perusahaan besar yang telah di bangun genap sepuluh tahun. Perusahaan satu ini akan merayakan nya besar-besaran. Hotel besar di Osaka menjadi tempat perayaan yang tentu nya akan di liput oleh banyak media masa. Mengingat Yamato Group merupakan Perusahaan yang bergerak di segala bidang. Baik dari bidang properti, Impor dan ekspor barang, sandang dan Pangan. Membuat Yamato lebih besar lagi kala Hiro mampu masuk dalam bidang robotik. Merancang banyak alat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Termasuk robot dalam pembangunan. Yang mampu membuat sebuah rumah dalam megah dalam hitungan Minggu mengunakan robot dalam pembangunan nya.


Dengan biaya yang efisien dan hasil yang sempurna. Inilah yang menjadi hal yang paling di perlombakan oleh orang-orang di era modern seperti saat sekarang ini.


"Presdir!" seru Jihan dengan nada pelan.


Hiro membalikkan tubuhnya. Menatap sang sekretaris dengan pandangan datar.


"Untuk nanti malam apakah saya perlu mempersiapkan gaun untuk Nyonya besar?" pancing Jihan dengan nada mendayu-dayu.


"Tidak perlu," balas Hiro singkat.


Jihan tersenyum lebar. Ah! Dera seperti nya tidak akan ikut dalam acara. Langkah kaki Jihan mendekati Hiro dengan lambat. Di buat seksi mungkin. Dua langkah lagi, bunyi gesekan pintu kaca menyapa rungu. Jihan berbalik cepat ke arah pintu masuk. Ia sempat menggerutu dalam hati karena ada yang kurang aja membuka pintu tanpa mengetuk.


Pupil matanya melebar sempurna saat melihat Dera masuk bersama Yeko. Pria itu membawa bekal di tangannya. Hiro melangkah melewati nya dengan acuh. Memeluk tubuh sang istri, meski pelukan yang tercipta tidak sempurna. Mengingat ada pemisah antara kedua nya. Kandung yang terlalu besar, membuat Hiro tak bisa lebih rapat memeluk sang istri.


Jihan membalikkan tubuhnya. Tidak! Ia tidak boleh bertemu dengan Dera sekarang. Ia harus bertemu dengan Dera saat wanita itu menangis darah karena di tinggal kan oleh Hiro.


"Hei! Kau! Ayo keluar!" seru Yeko dengan dingin.


Jihan menunduk pelan membuat rambut panjang nya menutupi ke dua sisi wajahnya. Hiro tak abil pusing. Ia langsung menarik sang istri duduk di sofa. Yeko meletakkan bekal di atas meja.


Yeko menunduk pelan. Sebelum membalikkan tubuhnya. Pergelangan tangannya di cekal oleh Hiro. Dera terlihat membuka satu persatu kotak bekal yang ia bawa.


"Singkirkan sekretaris itu! Aku tidak suka dengan nya. Sangat menganggu mata!" titah Hiro dengan nada pelan dan tenang.


"Baik Bos!" Seru Yeko. Hiro melepaskan pergelangan tangan Yeko. Merubah ekspresi jijik nya menjadi ceria. Kala Dera tersenyum padanya.


Yeko keluar menutup pintu. Meninggalkan ke duanya.


.


.


.


.


Bersambung...


Terimakasih atas doa dan dukungan nya ya kakak²☺️☺️☺️🙏🥺🙏 Author udah kembali membaik setelah tiga hari terserang sakit🥺🥺🥺 sekali lagi terimakasih doanya kakak-kakak ☺️🙏🙏🙏


Mohon dukungan nya dengan cara Vote Poin, Like dan komentar nya ya Kakak-kakak^^


Tunjukkan seberapa cinta nya Kakak pada cerita satu ini....🙏💌❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤭🤗


Mana nih, Bucin nya Dera-Hiro???