MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
life and death



"kenapa kau kemari ?" sahut Zen sinis,


semua orang menoleh,


ia tak merespon perkataan Zen,


"bagaimana keadaannya," tanya Adarsya ke pada mom fi,


"dia..." belum selesai mom fi berbicara, seorang dokter keluar "anggota keluarganya, bisa ikut ke ruangan saya,"


"baik, dok," mom fi menoleh sekilas ke arah Adarsya lalu, mengikuti dokter ke ruangannya.


tak lam seorang perawat keluar dari balik pintu, seketika mereka bergegas menanyai


"bagaimana keadaanya, sus,"


"pasien masih dalam pengawasan, di mohon untuk menunggu," ucap sang suster lalu beranjak pergi menyusul keruangan dokter.


terlihat Adarsya beranjak menjauh dari sana.


"weka !," ucapnya sembari berjalan.


"iya tuan," jawab weka sembari menyusul tuannya.


"pesan tiket sekarang, kita ke Negara B," ucapnya dingin, dan langsung menuju tempat dimana mobil berada.


Negara B ?. batin weka terkejut, lalu segera tersadar.


weka segera mengambil ponselnya dan menghubungi bawahannya,


"pesan tiket ke Negara B, setengah jam kemudian harus siap semuanya," ia mematikan ponselnya dan menyusul tuannya berada dan mengemudikan mobil.


mengapa tuan tiba-tiba ingin ke sana, apa yang terjadi ? bukankah ia paling menghindar bila berurusan di sana. batin weka sembari melirik sekilas ke kaca dalam mobil, terlihat tuannya memejamkan mata namun raut wajahnya berfikir keras.


gawat, sepertinya akan terjadi perang besar. weka kembali fokus menyetir.


setelah beberapa saat, mereka sampai di bandara, dan mereka bergegas menaiki pesawat eklusif.


"tuan muda, ini dokumen yang anda minta,"


Adarsya meraih dokumen yang di berikan padanya, ia mulai membuka dan membaca dokumen yang disiapkan itu,


"atur seseorang untuk berjaga Ruang inapnya," instruksi Adarsya ke weka.


"sudah, tuan muda,"


"kerja bagus, laporkan setiap perkembangan yang terjadi."


Sementara itu disisi lain dunia yang berbeda..


"Selamat datang Situa," sapa beberapa murid dari Situa.


"Hem, bagaimana penerus ku apa kalian mengurusnya dengan baik selama aku pergi,"


beberapa murid itu diam saling melirik antara satu dengan yang lainnya.


"ada apa diam ? apa kalian membuat kesalahan ?"


mereka terus melirik dan sedikit takut,


"tidak, Situa, penerus sedang berada di kamar dia sedang melakukan aktifitasnya," jawab salah satu di antara mereka, dengan sedikit gugup.


"apa dia mencoba kabur selama aku pergi ?",


"be,benar Situa, namun tenang saja, sekarang penerus tidak akan mencoba kabur lagi,"


Situa mengelus jenggot putihnya. tak seperti biasanya, kenapa dia bisa begitu patuh ? dengan karakternya yang seperti itu, seharusnya dia mempunyai bermacam cara untuk kabur,.


"Lapor Situa," ucap salah satu bawahan Situa yang tiba-tiba muncul dengan tergesa-gesa.


"katakan, apa yang terjadi,"


"ada dua kabar penting, pertama perang di wilayah Utara telah usai dan di menangkan oleh raja kita dengan kehilangan jendral Junjie dia terbunuh di Medan perang, sedangkan jendral weizhe ia terluka parah, yang kedua, kediaman Zhu, lebih tepatnya nyonya Zhu telah memecahkan kasus pembunuhan di keluarganya," tuturnya panjang lebar.


Situa terdiam, mencerna semua perkataan bawahannya itu,


Bagaimana dia bisa terbunuh di Medan perang ?.


Situa melirik ke sebelah kanan tempat beberapa murid wanita yang masih berdiri, lalu kembali menatap jauh ke cakrawala.


"kalian bisa pergi,"


"baik Situa," ucap para murid perempuan. setelah mereka pergi Situa, langsung membalikan badannya lalu menyeret bawahannya tadi pergi sedikit menjauh.


"katakan,.apa yang sebenarnya terjadi dengan jelas !" sembari menjewer kuping bawahannya.


"Aku ! sakit, sakit, sakit, ampun Situa.." keluh sang bawahan


"Katakan !" semakin keras menjewer telinga.


"ahhh ! baik-baik, lepaskan telingaku hampir putus."


bawahannya itu mengelus kupingnya yang memerah dan nyut-nyutan. hah. kena lagi, kena lagi. batin sang bawahan.


sang bawahan tengok ke kanan ke kiri,


seketika,


cetak.!


Situa membuat perlindungan kedap suara di sekitar area yang mereka tempati, sehingga tak terdengar orang yang lewat di dekat mereka.


"katakan !,"


"berita yang saya sampaikan memang benar Situa,"


"bagaimana bisa !," Situa terlihat gusar, "bagaimana dia bisa mati ?!, ini ada yang tidak beres !, kau, bagaimana dia bisa mati begitu saja ?!,"


"pangeran ketujuh, menjebak dirinya sewaktu dalam peperangan, mereka bersekutu dengan musuh mereka mengincar jendral junjie sudah sejak lama, dari pangeran ketujuh yang ingin merekrutnya dalam pemberontakan tapi jendral junjie selalu menolak dan membuat pangeran ketujuh geram, sedangkan dari pihak musuh mereka merasa kahwatir dengan kemampuan jendral junjie di luar batas kemampuan mereka, pangeran ke tujuh mengetahui akan hal itu dan memanfaatkan mereka untuk ikut berunding, mereka membuat sebuah kesepakatan dan akhirnya terjadilah penjebakan di Medan perang, dalam artian peperangan tersebut memang sudah di rencanakan," jelas bawahan Situa panjang lebar.


Situa mengerutkan kedua alisnya, "ini kabar buruk," gunanya sembari menghilangkan perlindungan kedap suara.


sementara itu,


Della terbaring di kasur, ia mencoba beranjak duduk dengan sekuat tenaga,


"agh.. kenapa keadaanku semakin parah, kondisi tubuhku sangat lemas,"


"penerus, kau sudah bangun ? lihatlah aku membawa sup ayam, makanlah selagi hangat," tutur murid yang di tugaskan menjaga Della.


"terima kasih, taruh saja di meja," sahutnya terdengar suaranya lemas.


"kenapa tidak di makan sekarang saja, selagi hangat, lihatlah dirimu sepertinya tidak sehat,"


Della melirik sekilas kepada murid itu dan tersenyum kecut.


"heh, aku lagi tak bernafsu makan, tinggalkan saja, dan jangan ganggu," ucapnya sembari menyilangkan kedua tangannya.


"hah, sudah tau raga semakin melemas masih saja sombong, makanlah, selagi hangat aku tak ingin di marahi Situa, lalu tidak merawat mu dengan baik,"


Della memejamkan matanya sejenak,


"katakan kepada Situa aku ingin menemuinya !, baru aku akan makan !," ucap Della.


"sudah ku bilang Situa sibuk tak bisa menemui siapapun,"


Della berdecak, "terserah, aku tidak akan makan sebelum Situa menemui ku !," ngotot Della masih dalam pendiriannya.


terlihat murid itu terlihat kesal dan mengepalkan kedua tangannya.


keras kepala sekali dia, jika begini terus maka akan ketahuan !. ucapnya dalam hati.


"makanlah, makanan akan datang nanti sore," murid itu beranjak pergi dan menutup pintu.


setelah murid itu pergi. Della memastikan kondisi setelah dipastikan aman ia beranjak berdiri dari ranjang, ia mengambil mangkuk berisi sup lalu membuangnya.


"hah, kau kira kau bisa menjebak ku seperti itu. kau kira aku tak tau maksud dirimu itu, lihat saja, apa yang akan terjadi kepadamu karena telah memainkan trik kepadaku." ucap Della sembari tersenyum devil. setelah itu ia kembali meletakkan mangkuk ke meja.


"berapa lama aku bisa keluar," sembari mondar mandir di dalam kamar.


tuk.tuk.tuk.


seketika Della menoleh ke arah jendela lalu membukanya.


terlihat burung Pipit mengetuk jendela kayu dan bertengger di sana.


"burung Pipit ?," ia menoleh sekeliling.


burung itu masuk lalu Della menutup jendela nya rapat menyusul dimana burung itu berada.


Sring !


seketika burung Pipit itu berubah menjadi manusia. lalu memberi hormat kepada Della.


"hormat, penerus.."


"Wen ? kenapa kau hormat kepadaku seperti itu ?, bangunlah."


Wen berdiri tegak,


"katakan apa yang terjadi," ucap Della menanti jawaban dari Wen.


"Situa mengatakan dua hari, dan kau akan mengetahui kebenaran," setelah berucap seketika Wen berubah menjadi burung Pipit kembali,


"hei kenapa kau begitu cepat berubah,"


Wen menggeleng dan terbang ke arah jendela, ia mematuk jendela pertanda untuk membukakan jendela.


Della segera membuka jendela dan seketika wen pergi terbang menjauh.


"mengetahui kebenaran ? apa maksudnya ?"