
seketika della tersadar ia melihat posisinya.
Aaaaa ! apa yang terjadi ! bagimana bisa aku terjatuh dnmenindihnya ?! ini sanga memalukan !. ucapnya dalam hati menjerit.
ia gelagapan meihat posisinya yang sekarang. "ma.maafkan aku, ak.ku akan segera berdiri" ucap della yang sudah siap akan beranjak berdiri. namun tiba-tiba ia di tahan oleh junjie dan di tarik dalam pelukannya dan kini kepalanya berada tepat di dada junjie. hingga ia dapat merasakan detak jantung itu berdetak tak karuan. della terdiam dan menurut. jantung della berdetak tak karuan dan mukanya bersemu merah.
"jangan pergi. biarkan begini. sebentar saja." ucapnya sembari memejamkan mata.
mereka terdiam. menikmati keheningan malam.
"Ehem.." suara deheman itu mengagetkan dua insan yang tengah bermesraan di bawah langit berbintang. mereka menoleh dan terkejut. Kakek wuyu !. batin della. seketika suasana menjadi berantakan. mereka segera beranjak duduk. ada rasa malu dan kesal. junjie memasang wajah waspadanya. "Siapa kau ?" ucapnya digin dan masuih memeluk della, ia masih menyimpan rasa kesal karena telah menghancurkan suasana mesranya.
"dia, kakek wuyu," sahut della sembari menoleh ke arah junjie sejenak.
"kakek wuyu perkenalkan dia junjie suamiku dan junjie perkenalka dia kakek wuyu dia kakek yang pernah mengobatiku dan dia termasuk salah satu dari Situa" jelas della
"oh." jawab singkat junjie.
kakek wuyu tersenyum. "anak muda memang berbeda dengan yang sudah tua, masih tahan bermesraan di luar, kalau yang sudah tua seperti ini mungkin akan terkena flu berat selama seminggu" jelas kakek wuyu yang masih dengan senyumnya. ah... melihat mereka mengingatkan ku sewaktu muda dulu.
"kakek wuyu, kenapa kau bisa ada di sini ?" tanya della yang keheranan karena kedatangan kakek wuyu.
"anak muda, apa kau lupa ? bahwa ini tempat titik temu ?"
seketika della menoleh sekeliling. benar ini tempat titik kumpul. apa saatnya kita pergi ?.
"benar, ini titik kumpul. apa kita akan pergi sekarang kek ?"
seketika junjie menatap della. pergi ? dia akan pergi ? tidak. dia tidak boleh pergi !. seketika junjie mengeratkan pelukannya. dan tatapan matanya tajam ke arah kakek wuyu. jangan harap bisa membawanya pergi dari ku !.
kakek wuyu tersenyum. "tenang saja anak muda, ak tidak akan menambil dia"
della menatap junjie yang masih memeluknya erat. Dia..
"bisakah bicara sebentar dengan mu penerus kecil ? situa telah menunggu mu," kata kakek wuyu
seketika junjie menambah erat pelukanya dan masih menatap tajam ke arah kakek wuyu, ia tidak rela jika ia harus melepaskan della dari pelukannya dan ia takut kalau della akan di bawa pergi olehnya.
"adarsya, apa kau mau membunuh ku" ucap della karena ia hampir kehabisan nafas karena di peluk begitu erat.
"tidak. maaf" ucapnya sembari sedikit melonggarkan pelukannya.
"lepaskan tangan mu biar aku menemui situa."
junjie menggeleng.
"Situa mengguku,"
"tidak. kau tidak boleh pergi" ucapnya cemberut.
della membuang nafasnya pelan. kenapa dia menjadi posesif sekali. tapi wajah cemberutnya itu sangat lucu.
"biarkan aku menemui situa oke ? ini tak akan lama,"
junjie tambah menggeleng "tidak. kau tidak boleh pergi dari ku."
"adarsya.."
"tidak. jika kau ingin pergi kau harus pergi bersama ku"
della mebuang nafasnya.
"Anak jendral, tenang saja dia tidak akan pergi. kami semua akan teteap di sini untuk beberapa hari kedepan" sahut situa yang tiba-tiba muncul di dahan pohon. mereka menoleh. "jika kau tak percaya kau bisa ikut berbincang di sini"
junjie manatap della dengan tatapan memelas.
"hah... baiklah"
seketika junjie tersenyum bahagia. namun tidak melepaskan pelukannya.
akhirnya, mereka berempat duduk berunding. setelah beberapa saat.
"setelah perang selesai kia harus sudah memecahkan kutukan pedang erlac dan fire" jelas situa.
"baiklah. aku setuju." sahut junjie. "aku akan segera menuntaskan perang ini secepatnya dan menangkan perang ini"
"itu lebih baik. lebih cepat lebih baik." sahut situa "tapi kau harus berhati-hati terhadap pangeran ke tujuh. dia memiliki tujuan tertentu terhadap mu"
"itu masalah kecil buat ku" ucapnya sembari berdiri. "ayo kembali ketenda hari sudah semakin gelap" ucapnya sembari mengulrkan satu tanganya.
della mendongak. lalu menerima uluran angan junjie. lalu berdiri.
"ehem. memang anak muda itu memiliki karismanya sendiri." ucap kakek wuyu.
sedangkan Situa membuang muanya. "terus saja sana bermersaan sesuka kalian" setelah berucap ia naik ke dahan pohon.
"Situa, Kake wuyu kami pergi dulu," pamit della sembari tersenyum.
"hem. jangan lupa sihir penyamar mu" sahut situa tampa menoleh.
ahirnya mereka kembali ke tenda.
"Situa apa kau yakin akan pemuda itu ?" tanya kakek wuyu sembari melihat kepergian junjie dan della.
"kenapa ? apa kau kawatir akan penghianatannya ?"
"benar, dia pemuda yang sangat berambisus, pemikiranya, dan semangatnya sama seperti Shen. aku takut dia akan seperti Shen."
"itu tidak akan terjadi." ucap situa santai
"tapi kita juga harus berhati-hati kepadanya kita harus waspada."
"apa kau meragukan ku ? aku tahu semua tentangnya, asal usulnya. itu tak akan terjadi." ucapnya lalu sembari memejamkan mata.
"lebih baik kau segera istirahat dan memikirkan bagaimana besok. karena waktumu memancing pangeran ketujuh menunjukan dirinya itu tak banyak dan aku tidak ingin melihat kau gagal lagi"
sementara itu di mana junjie dan della berada. mereka kini baru saja masuk kedalam tenda. dari arah lain ada sepasang mata mengamati junjie masuk ke dalam tenda. ia tersenyum menyeringai lalu pergi.
"malam ini kau tidur di sini, jangan menunjukan diri keluar karena itu sangat berbahaya, jika ada sesuatu panggil diri ku" cicit junjie pangang lebar.
"baiklah, tapi aku belum mengantuk." della berjalan menuju kursi lalu ia duduk di sana.
junjie mengambil beberapa kertas lalu membawanya ke meja.
"apa kau tidak istirahat ?"
junjie duduk berseberangan dengan della. "masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan" ucapnya sembari memeriksa beberapa berkas.
"ternyata dirimu itu sangat berambisus dalam pekerjaan, pantas saja kau bisa bertahan di dunia bisnis"
"dari mana kau tahu ?"
"Zen.dan berita" jawabnya singkat.
"Zen ?" ucapnya sembari berhenti dengan kertas di tangannya. "siapa dia ?"
"hah ? apa kau sudah lupa ? dia yang menemaniku di atas kapal persiardan sebelum itu kamu juga pernah bertemu di acara .." belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya namun sudah di potong.
"oh. dia. sepertinya kau sangat dekat dengannya. apa dia pacar mu ?" ucapnya dingin. jujur dia sangat tidak suka jika della membicarakan lelaki lain selain dirinya.
"kebiasaan memotong perkataan orang." gerutu della.
"menurut mu ? bagaimana ? apakah kami cocok ?" tanya della sengaja dia kesal karena perkataannya di potong.
junjie terdiam. mukanya sudah mulai menghitam. "tidak."
della menaikan satu alisnya "benarkah ? apa kau tak mendengar rumor tentang ku bersamanya tuan adarsya ? padahal waktu itu kami menjadi topik utama mengalahkan tuan rumah [saat pernikahan andhika dan shella]"
junjie terdiam. ia memegang kertas itu erat.
"aku tidak ada waktu untuk mendengar berita yang tak penting" ucapnya sembari meletakkan kertas di meja dan membereskannya. "sudh malam sebaiknya kau cepat tidur" ia berdiri lalu mengembalikan kertas-kertas itu ke tempatnya.
"kau sudah selesai ?"
junjie tak menjawab ia berjalan keluar.
"hei. mau kemana kau ? apa kau akan pergi meninggalkan ku disini ? kemana kau akan tidir nanti ?"
junjie menghentikan langkahnya.
"bukuan urusan mu." ucapnya tampa menoleh lalu bergegas pergi.
"tukang ngambekan."
sementar itu saat junjie keluar dari tenda.
"tuan, apa ada sesuatu ?" ucap salah satu prajurit.
seketika junjie menatap tajam dengan aura suram. "pergi. jangan ganggu" ucapnya dingin dan menekan.
glek. prajurit itu menelan salivanya.
ada apa dengan jendral junjie ? sangat menakutkan. batin prajurit itu. lalu brpamitan berlalu pergi.
sedangkan beberapa prajurit yang menyaksikannya.
"apa yang erjadi dengan jendrl junjie ? kulihat tadi baru saja dia berwajah berseri dan kemudian berwajah murung"
"benar sekali,"
"jangan keras-keras. bisa ****** kalau dengar"
"benar, sebaiknya kita pergi saja.."
bisik-bisik para prajurit. menggema di area perkemahan.