
Setelah beberapa waktu akhirnya kakek wuyu dan artcvic terlerai karena kelelahan.
Della menyilangkan kedua tangannya
"masih ingin lanjut lagi ? aku tunggu sampai kalian puas berdebat."
serentak mereka menggelengkan kepala.
"bagus jika begitu." Della bersandar di batang pohon.
"sekarang giliran ku mendengarkan penjelasan kalian" ia sembari duduk manis bersandar di batang pohon. "kakek wuyu kau pertama jelaskan semua yang kakek sembunyikan kepadaku"
kakek wuyu terlihat membuang nafasnya sedikit kasar. "Situa adalah teman seperjuangan ku. lebih tepatnya sahabat. kami bertaruh jika aku bisa menemukan muridnya em. lebih tepatnya penerus bunga bintang kehidupan" ucapnya sambil berbisik pada kalimat terakhir.
"Kau kenal dengan situa ? kalian sahabat ? tapi bagaimana bisa kau mengenali ku ?" tanya Della dengan kaget dan tak percaya.
"itu karena aura sihirmu terlihat, saat itu aku sedikit ragu karena auramu tapi setelah memeriksa denyut nadi mu aku bisa yakin bahwa itu kau. hahahaha" ucapnya dengan gaya sombong.
"cih, sudah ku duga kau ada maksud tertentu." jelas Della acuh tak acuh.
"tapi, bagaimana kau bisa mengenali artcvic bagaimana kalian bisa saling kenal ?" tanya Della sembari melihat bergantian.
"tuanku. siapa yang tak kenal dengan kakek kecil ini, dia adalah pemilik liontin bunga kehidupan sebelumnya dan kab.." belum selesai berbicara seketika kakek wuyu membekap mulut artcvic.
"emmm..emmm.emm" artcvic meronta.
cih dasar burung sialan. mengungkapkan identitas. memang dari dulu mulutmu itu mulut ember bocor.
"apa ?! jadi kakek wuyu kau adalah..."
"bukan. bukan. jangan dengarkan burung sialan ini dia memang suka bicara merancau perkataannya susah untuk di tepati." jelas kakek wuyu yang masih membekap mulut artcvic dengan kedua tangan.
"benarkah itu kakek wu ? kenapa aku melihat kalau kata-katamu yang susah untuk di tepati ?" sembari menaikan satu alisnya.
"ehem. bukan."
"hah. dia berbohong tuan" artcvic berhasil lolos dari bungkaman tangan kakek wuyu.
"kau diam lah burung telur bebek !"
"kau yang harusnya diam kakek kecil !"
wajah Della kembali suram.
"Diam kalian. aku tidak ingin mendengar perdebatan kalian !!" ucapnya dengan nada tinggi.
hah. susah sekali berbicara dengan mereka.
mereka terdiam.
"Ling Ling kecil jangan marah." bujuk kakek wuyu.
"siapa yang ling ling kecil ?!" Della menghembuskan nafasnya kasar.
"sudah lupakan. sekarang serius lah kalian. dan untuk artc kau diam lah dulu. oke" jelas Della.
Artcvic mengangguk.
"lanjutkan, kek. ingat aku tak suka kebohongan."
"ehem," kakek wuyu berdehem kecil. "ada beberapa hal yang belum tepat untuk di ceritakan. garis besarnya Situa dan aku kenal dekat, dan artcvic belum saatnya kau mendengar cerita ini.
waktuku tak banyak, dan untuk sementara waktu seminggu sekali kau harus menemui ku di toko obat pojok, aku akan menceritakannya secara berangsur."
"baiklah aku pegang ucapan kakek."
"baiklah, seturusnya kau bisa menanyakan sesuatu tentangku dengan dia" sembari melirik ke artcvic.
artcvic melengos. huh. jika ada maunya baru berkata santai.
"oke, oke, itu gampang." sembari menekuk jari telunjuk dengan jempol di satukan menjadi bundar 👌.
"O. ke ? apa itu ?" tanya kakek wuyu terasa asing dengan kalimat yang di ucapkan Della.
Della menepuk jidatnya pelan. "kata lain dari setuju."
kakek wuyu manggut-manggut paham.
"emt, Lingxiu ada suatu hal yang ingin aku tanyakan. kamu bagaimana aura sihirmu bisa keluar, bukannya Situa telah menyamarkannya ?"
"keluar ?" tanya Della tak mengerti.
"benar, apa jangan-jangan kau tak tahu ?"
Della menggeleng.
kakek wuyu menepuk jidatnya. ada kegundahan di sana.
"ada apa sebenarnya kek ?"
"aku tanya kepadamu, apa Situa telah memberitahumu ?"
"tentang sihir ? sudah, Situa sudah memberitahuku kalau sihir di tubuhku istimewa dan sedikit rumit" jelas Della.
"hanya itu ?" tanya kakek wuyu tak percaya.
Della mengangguk.
dan sekali lagi kakek wuyu menepuk jidatnya frustasi.
"apa dia tidak menyuruhmu menemuinya atau menjelaskannya secara detail ? apa kau tak coba untuk menemuinya ? kapan kau bertemu dengannya ?"
"emtt, terahir kali sewaktu pernikahanku dengan Jun jie, sekitar tiga bulan yang lalu, dan dia menyuruhku untuk segera menemuinya, tapi karena ada suatu insiden sampai sekarang belum terlaksana dan. aku hampir lupa jika kakek tidak menanyakannya tadi."
kakek wuyu terlihat frustasi dan sedikit mengacak rambutnya. ya dewa. ini anak kenapa bisa lupa dengan hal yang menyangkut nyawanya dan ketentraman negara ?!.
"ada yang salah kek ?" tanya Della polos.
jelas kakek wuyu yang sudah frustasi dan tak tahu harus bagaimana.
"apa maksud kakek hidupku dalam bahaya ?"
kakek wuyu membuang nafasnya sedikit pelan.
ia melirik ke kanan ke kiri memastikan bahwa tidak ada orang di antara mereka. terlalu terbuka jika ia menjelaskan disini terlalu rawan karena aura sihir Lingxiu keluar.
"terlalu berbahaya jika ku jelaskan disini dan aku tidak memiliki waktu banyak, cucuku sendirian dirumah aku dan ada cucunguk kecil bersamanya.
ah. pokoknya aku tidak bisa terlalu lama dan meninggalkan mereka sendiri. malam ini segera temui Situa, paling lambat esok hari, aku tunggu kedatangan mu di kediaman Situa."
kakek wuyu melihat ke arah langit, terlihat matahari telah menyingsing kearah barat pertanda terang akan berganti petang.
"ku tunggu kau di rumah Situa" sembari menepuk bahu sebelah kiri Della.
"telur bebek, kau harus jaga dia, jangan sampai lalai" ucapnya sembari melewati Artcvic.
"aku bukan telur bebek ! dasar kakek kecil !"
gerutu Artcvic dan kakek wuyu hanya mengabaikannya.
mereka melihat kepergian kakek wuyu. setelah berjalan sekitar sepuluh meter kakek wuyu berhenti sejenak kalau memutar langkahnya kembali kearah Della dan Artcvic.
Della dan Artcvic : ? kenapa dia kembali ? apa dia salah jalan pulang ?. batin mereka.
saat berada di depan Della.
"kenapa kau kembali kek ?" tanya Della penasaran.
"ayo kembali ke kediaman jendral, aku lupa kalau mempunyai kuda baru" ucapnya sembari melewati mereka.
sedangkan Della dan Artcvic saling tatap dan : -_- '
sesampainya di kediaman jendral weizhe,
"kakak ipar... akhirnya kau kembali aku sangat kawatir," sambut xiuying yang entah sejak kapan di sana.
"xiuying ? kenapa kau tahu kalau aku tidak ada di dalam."
"itu nanti saja, sekarang ada hal penting yang harus kakak ipar tahu, orang yang menyerang kita telah sadar dan kini masih di interograsi oleh ketua hu jie," jelas xiuying panjang lebar.
Della menoleh ke arah kakek wuyu. "kakek wu istirahatlah dulu biar kami menjamu dengan teh"
kakek wuyu mengelus jenggot panjangnya.
"hemt.. hari sudah semakin sore, mungkin lain kali saja,"
"baiklah kali begitu kek." "ambilkan kuda kakek wuyu" perintah Della ke salah satu pelayan.
tak lama pelayan itu membawa kuda milik kakek wuyu.
"Ling Ling kecil, kau memang berbeda dan sangat pengertian," kakek wuyu lalu menatap ke arah xiuying. "nona xiuying, jujur lebih baik dari pada memendam perasaan" ucap kakek wuyu sembari tersenyum.
Deg.
seketika jantung xiuying seperti terlempar batu. ia melihat ke arah kakek wuyu dengan tatapan kaget. Apa kakek wuyu tahu itu ?
"perasaan suka kepada seseorang itu memang sesuatu hal yang membingungkan tetapi alangkah lebih baiknya jika kita jujur dengan perasaan dan mengungkapkannya, masalah dia terima atau tidak itu urusan ahir, hati akan lebih lega jika telah menyampaikannya dan hati itu bersifat elastis untuk menerima atau tidak" ucapnya sembari menaiki kuda.
"kalau begitu kakek ini pergi dulu ya, Ling Ling kecil jangan lupa perkataan ku tadi dan nona xiuying, sampaikan perasaanmu jangan takut" kakek wuyu melajukan kudanya dan melambaikan tangan Tampa menoleh ke belakang.
Della menatap kearah xiuying yang masih dengan muka tak percayanya jika kakak wuyu mengetahui jika dia memendam rasa kepada seseorang.
"xiuying, kau sedang jatuh cinta ?"
seketika xiuying menoleh.
"hah ?," ia sedikit gelagapan "e, em. i. itu ketua hu jie sedang mengintrogasi ayo ke sana" elak xiuying sembari berjalan mendahului della.
"xiuying siapa dia ?" tanya Della menggoda sembari mengikutinya.
"ti. tidak ada ada"
"benarkah ?"
"tidak ada...." elak xiying dengan muka yang sedikit memerah.
"apa dia ketua hu jie atau Gen ?"
"tidak mereka ! dia berbeda dari yang lain ! pange....." seketika ia terhenti.
"berbeda dari yang lain ?" ucap Della sembari menaruh telunjuk di bawah dagu.
"e. eh. Bu. bukan !" ucap xiuying yang baru sadar dengan ucapannya.
aduh... kenapa bisa keceplosan.
"kenapa kau tak lanjutkan bicaramu ? apa dia seorang pangeran ?"
Blusss...
seketika wajah xiuying memerah.
"bukan." sembari menolehkan wajahnya kesisi berlawanan.
"iya ?"
"bukan !" wajahnya masih memerah dan berjalan sangat cepat.
"xiuying..... " goda Della sembari mengikuti dari belakang.
"bukannnn" xiuying berlari menjauhi Della.
"bukan bukan bukan !!" sembari menutup kedua telinganya.