
Lelaki itu menatap Della intens, lalu mengerutkan kedua keningnya. “kau, tidak di takdirkan hidup disini, bagaimana kau bisa kesini,” ucapya masih menatap Della intens.
“dan kau, jiwamu sama seperti ku buan ?, lalu bagaimana kau bisa disini ?” sahut Della tak kalah intens menatap lelaki itu.
Lelaki itu tersenyum sebelah, “pulanglah, tempat mu bukan disini, jangan terjebak dalam dunia yang mengerikan ini,” tuturnya santai.
“jika itu mudah sudah ku lakukan sendari dulu, siapa juga yang mau hidup seperti ini, di ikat tampa tahu kesalahan, di buru hanya iri akan kekuatan, cih, manusia macam apa itu,” cicit della.
“aku bisa membuat mu kembali,” ucap Mo Yan.
Della sedikit mengeutkan keningnya. “benarkah ?”
Mo Yan tersenyum menatap della.
***
Mereka telah selesai makan dan beristirahat di bawah pohon, mereka tertidur setelah kenyang. Singa itu bangun
dari istirahatnya ia berdiri menatap ke dua orang itu yang tertidur di bawah pohon, setelah memastikan mereka tertidur lelap ia mengubah wujudnya menjadi manusia yang sangat tampan.
“hah,” ia menggerakkan badanya melemaskan otot-otonya. Setelah itu mendekati mereka, mulutnya tersenyum
menatap huali yang tertidur pulas. Ia berjongkok di samping huali tangannya menyibak beberapa helai rambut yang menutupi wajah huali.
Terlihat Huali menggerakkan wajahnya karena ia mereasa geli di area wajahnya,
“hus, hus jangan ganggu,” ucapnya masih memejamkan mata. Ia sedikit kaget dengan reaksi huali lalu tersenyum
setelah huali tenang kembali.
Terlihat zixin mengerjabkan mata, lelaki itu segera merubah wujudnya menjadi singa, Zixin menguap dan mengusap matanya. “Aaaa, berapa lama aku tertidur ?,” ia meregakan ototnya, lalu melihat ke sebelah kiri dan,
“AAAA ! Macan ! eh Singa !” teriaknya kaget saat melihat sosok singa yang berada dekat dengan mereka.
Seketika Huali ersadar karena teriakan Zixin yang begitu keras. “Diam berisik ! kau berisik ! bisa tidak sih kalau tidak teriak, kau hampir membuat telingaku pecah !,” gerutu huali.
“Singa di dekatmu, !” teriak Zixin yang belum sadar. Huali menoleh ke samping, “Oh, Singa,” ucapnya setengah sadar. “eh. Singa ?” ia kembali menoleh dan “AAAAA! Singa !” teriaknya lebih kencang dari pada Zixin dan
Brukk !
Huali menendang kepala singa hingga singa itu terhempas ke tanah dan kepala singa itu muncul bintag-bintang
berputar-putar di atas kepalanya. Kenapa aku mendapat tendangan maut darinya. Batin singa itu.
Nafas huali naik turun karena kaget. Dan kemudian ia tersadar. “ Singa ?. ehhh. Aduh.. maafkan aku Singa,,, aku tak sengaja…” ucap huali sembari mendekati singa yang terkapar di tanah, lalu mengelus tempat dimana yang ia tending tadi.
“maaf, aku tak sengaja, apa ada ini sakit ?” Singa itu menggeleng. Ah, enaknya dielus olehnya. Batin singa itu mapan di panguan Huali.
Zixin membuang nafasnya lega, ia setelah menyadari jika mereka sendari tadi berjalan bersama singa itu. ia
melihat ke langit meihat matahari yang semakin condong ke arah barat. “Huali, ayo kita lanjut pergi, sepertinya kita terlalu lama beristirahat,” ajaknya sembari menggendong keranjang.
Huali menoleh, “benar, kita harus segera pergi,”
“baiklah, aku harus segera pergi, terimakasih atas semuanya ya singa,” ucapnya mengelus kepala singa itu lalu ia
beranjak berdiri melangkahkan kakinya, namun saat akan melangkahkan kakinya salah satu kakinya di tahan oleh singa. Tatapanya memelas, tersirat tak rela jika di tinggal oleh huali.
“aku akan pergi, tidak bisa menemani mu disini terlalu lama,” singa itu semakin menggeratkan kedua kakinya merangkul kaki Huali.
Huali menoleh kea rah Zixin, “bantu aku,” ucapnya dalam isyarat mata. Namun Zixin tak mau tau ia hanya membalikan wajahnya pura-pura tak tahu, sebenarnya ia masih takut dengan singa besar itu. Huali membuang nafasnya jengah, ia tersenyum yang penuh menyimpan arti.
“apa kau tidak mau aku tinggalkan ?,” Singa itu mengangguk, seketika Huali semakin tersenyum lebar. Bagus. Ucapnya dalam hati. “kalau begitu ikut kami saja ke kota bagaimana ?,” mata singa itu berbinar mendengar tawaran dari Huali seketika ia mengangguk semangat, sedangkan Zixin ia langsung menoleh ke arah Huali dengan tatapan
terkejut.
Huali menoleh dan tersenyum yang penuh arti kepada Zixin, "tidak, tidak. tidak. Huali, jangan macam-macam. kita akan ke kota, tidak mungkin kita akan membawa singa sebesar ini, kau akan menakuti semua orang," Huali mendengus,
"tidak, pokoknya aku ingin membawa Singa ini ke kota,"
"Aku, menolak, kau akan menakuti semua orang !," tolak Zixin
"pokoknya aku bawa," masih ngotot dengan keinginannya.
"kita akan ke kota ! jika masih di hutan tak masalah, ayolah huali berpikirlah !," sembari mengacak rambutnya.
"kenapa mereka harus takut ? kan aku yang mengurusinya,"
Terlihat Zixin mengacak rambutnya frustasi "bukan itu masalahnya ! singa itu binatang buas, dan tidak bisa bila hidup berdampingan dengan manusia, mereka akan lariketakutan bila melihatnya !," sembari menunjuk ke arah singa berada.
sang singa itu berdiri, "Groarr" seketika sang singa itu berubah menjadi manusia. "jika berpenampilan begini tidak ada yang takut lagi bukan ?" ucapsang singa yang membuat mereka berdua menoleh, dan terkejut akan singa yang berubah menjadi manusia yang sangat tampan, sorot matanya yang tajam, rahang yang tegas dan senyumnya
"kenapa kalian diam ? ada yang salah dengan penampilan ku ?," ucap sang singa itu menyadarkan Huali dan Zixin.
"Ka.ka. kau !" "Si, siluman !"
ucap mereka bersamaan,
*****
di kediaman keluarga Zhu tepatnya dibagian kamar quan Zhu. “Sial, sial, sial !” umpatnya marah “Zixin, Zixin ! bocah ingusan itu selalu menjadi penghalang !”
"cepat cari keberadaan anak itu, jangan biarkan dia masih hidup !," ucap quan zhu memerintah anak buahnya.
“bukankah anak itu telah anda bunuh tuan ?” Tanya anak buah quan zhu
“diamlah ! cepat cari jasadnya !” bentak quan zhu dan seketika anak buah quan zhu mengilang.
"kau, sampaikan pesan ke tuan Shen, jika aku membutuhkan bantuannya !,"
"baik tuan," Seketika anak buah yang lainya pergi sesuai perintah quan zhu. Quan zhu terlihat gusar, ia mondar mandir di kamarnya.
“Sialan ! kenapa dulu tidak aku buang sekalian jasad anak itu ! bocah yang merepotkan ! jika sampai ia masih hidup, semuaya akan menjadi kacau ! jika benar ia masih hidup, lalu siapa yang menyelamatkannya ?!” Quan zhu duduk dengan gusar,
“seharusnya aku membersihkannya dulu, dan kenapa aku bisa lupa jika istrinya itu anak dari detektif kerajaan ! dia pasti meminta bantuan dari ayahnya itu !”
Sementara itu tampa ia sadari seseorang telah mendengar perkataanya dari luar dan berlalu pergi tampa sepengetahuan siapapun,
Kereta kuda berhenti di depan kediaman keluarga zhu, seseorang turun dari kereta dan seseorang menghampirinnya, “Zian,” sapa lelaki yang menghampiri.
“kau. Pengawal pribadi Junjie,”ucap zian,
“ada yang perlu aku bicarakan,” ucap Gen serius, seketika Zian menoleh ke samping mengisyaratkan orang yang mengikutinya untuk pergi. “kita bicarakan di ruanganku,” ucap Zian memimpin jalan.
Setelah beberapa saat mereka samapi di ruangan Zian. Mereka terdiam sesaat, Zian tiba-tiba membuang
nafasnya, “aku telah mendengar tentang yang terjadi pada dirinya, aku tak menyangka dan masih belum percaya apa yang terjadi padanya,” ucapnya pelan terdengar suaranya mengandung rasa belum menerima. “bagaimana itu bisa terjadi padanya. Sebenarnya apa yang terjadi !,” ia sembari mengacak rambutnya.
Gen mengambil nafas dalam, sebenarnya ia juga tak menyangka dengan yang terjadi pada tuannya itu, ia
segera menetralkan perasaanya agar tak terlalu kalut.
“ada hal penting yang harus aku sampaikan ke padamu,” ucap gen serius. Zian mengangkat wajahnya, “apa itu ?,”
Tanya zian penasaran karena gen berbicara serius. Gen mengeluarkan sebah kotak kayu kecil lalu memberikannya kepada Zian.
Zian membuka kotak yang di berikan kepadannya, disana terdapat sebuah kertas dan batu giok berbentuk bulat
dengan ukiran setengah bintang berwarna biru tua bertuliskan Wang. Lalu ia membuka selembaran kertas yang di lipat, “segel pelepas kutukan, satukan yang terpisah, katakan ke jujuran,” ucapnya lirih namun masih bisa di dengar oleh Gen.
“jendral jie mempercayakan itu kepada anda, untuk membantu nona Xiuying membuka segel pedang Erlac,” jelas
Gen. “pedang erlac ? kutukan ?, apa maksud semua ini ? aku tak mengerti,” Gen mendekat, ia menjelaskan semua ke pada Zian.
“jadi, aku harus menemui pangeran Fang Qi di hutan kabut ?,” ucap zian sembari menaruh jemarinya di dagu. Jika
kalian lupa siapa pangeran Fang Qi, ia pernah di bahas di bab awal, pangeran yang tingal di hutan kabut, setiap saat junjie menjenguknya hanya untuk melihat keadaanya atau hanya melatih ilmu pedang kepadanya.
“tenang saja, anda tidak perlu kawatir ntuk memasuki hutan kabut itu, karena jendral junjie telah memberi pengaman anti racun, dan memastikan anda akan selamat,” ucap Gen dengan sedikit merasa pahit mengatakan hal itu, karena ia teringat tuannya yang begitu perfec dalam suatu hal, bahkan ia bisa menebak apa yang akan terjadi.
Zian menatap jauh sembari sediit megerutkan keningnya. “junjie,dari dulu hingga sekarangpun aku tak bisa menebak jalan pikiran mu, bahkan setelah kamu tak ada kau memberikan teka-teki yang rumit,”gumannya sembari tersenyum kecut.
Gen membuang nafasnya sedikit kasar, “besok malam anda tunggu di danau belakang, dan jangan sampai ada orang yang tahu, kalau begitu aku harus pergi sekarang,” ucapnnya berbalik pergi namun baru saat ia memegang pintu ia terhenti dan membalikan badan dengn ekspresi sedikit kaget, sepertinya ia mengingat sesuatu yang penting
“Ada apa lagi ?” Tanya Zian heran.
“Apa Zixin telah di temukan ?,” ucap Gen yang balik bertanya.
“belum, ada apa ?”
“sepertinya Anda harus berhati-hati dengan orang yang berada di dekat anda, karena tampa senaja aku mendengar seseorang memerintahkan untuk mencari dan melenyapkan Zixin, dari percakapan dan nadanya berbicaranya orang itu adalah dalang di balik hilangnya Zixin,” tutur Gen.
Terlihat wajah zian kaget mendengar tutur gen kepadanya, seketika ia beranjak dan mendekat kea rah gen,
“apa kau tahu wajahnya ? siapa dia ?”Tanya Zian beruntun.
“tidak, namun aku mengenali tempat dimana aku mendengar percakapan mereka, sisi selatan setelah patung
elang,” Zian terdiam mendengar perkataan Gen terlihat wajahnya terkejut. Patung elang ? hanya ada di depan samping pintu kamar paman Quan. Batin Zian. Lalu menatap kearah Gen.
“Apa kau yakin ?!” ucapnya tak percaya.