
Deg.
Tangannya terhenti dan Seketika hati Yuan fu tersetrum oleh listrik. Apa yang harus aku jawab. Yuan fu tak mampu melihat ekspresi della yang sangat mengharapkan jawabanya itu, ia tak sanggup melunturkan senyum yang penuh dengan harapan itu, entah apa yang akan terjadi jika ia tahu kebenaran yang pahit ini. Yuan Fu sedikit gelagapan.
"e, Xiu, itu, bisakah kau ambilkan daun yang bersih di sana,"
"oke baiklah," Della beranjak berdiri, dan Yuan Fu sedikit menghelai nafasnya. dewa bantu aku. batinnya dalam memejamkan mata sejenak.
"ini," sembari meletakkan daun yang bersih di sampingnya "aku bantu, sini biar aku yang memotong dagingnya," lanjutnya meraih daging yang sudah di bersihkan.
dalam hati Yuan Fu tersenyum masam, ia tak suka situasi seperti ini, sakit yang dirasa, lalu bagaimana jika Della yang mengetahuinya. mungkin bukan rasa sakit lagi yang akan di rasa.
***
“kau ! masih saja sombong saat mau mati ?” ucpanya sat melihat situa menyeringai kepadanya. ukhuk. Situa terbatuk darah, ia mencoba mengangkat badannya agar bisa bersandar ke pohon.
"akhirnya kau keluar juga Dae san, bagaimana kabar mu ?," tanya Situa sembari memegang dadanya yang perih.
Dae san menyeringai mendengar perkataan yang keluar dari mulutnya itu. "ucapkan salam perpisahan mu tua," ucapnya sembari mengangkat tangannya mengeluarkan sihir dan siap menghantam lawan di depannya.
Hya !
Cras !
"Agrhh !"
darah bercucuran di sana. Dae san menoleh memegangi tangannya yang terluka. Cras ! serangan lagi pedang itu menggores badannya dan suara jeritan menggema di sana.
kakek wuyu menghampiri Situa dan membantunya berdiri. terlihat disana pangeran fang qi memegang pedangnya erat, pedang itu berlumuran darah dan menetes.
"kerja bagus pangeran," ucap Situa sembari menyeringai.
"Kau ! licik kau tua !" teriak Dae san yang terkapar tak berdaya badannya bersimbah darah. "ku bunuh kau !" drag ! duar ! dag. benturan sihir terjadi dan dengan cepat Situa menotok akunpuntur Dae san.
"sial kau tua !" teriaknya dalam hati, karena lidahnya kelu, ternyata Situa juga memainkan sihir saat menotoknya tadi.
bagaimana bisa ! bagaimana mungkin ! pedang itu melukai ku !
"cepat kita harus pergi dari sini," ucap Situa.
"aku bunuh dulu orang keji itu !" sahut pangeran fang qi yang memegang pedangnya kuat dan akan menggemaskannya ke leher dae san.
"berhenti pangeran, kau tidak akan bisa membunuhnya," henti Situa
"tapi,"
"akan ku jelaskan setelah kita pergi," pangeran fang qi mengangguk lalu membawa tubuh Mo Yan sesuai perintah dari Situa. dan setelah itu mereka menghilang dengan kekuatan mereka.
sesaat mereka sampai di rumah tengah hutan kakek wuyu, di sana dengan segera kakek wuyu mengobati Situa yang terluka lumayan parah. "anak muda tumbuk herbal kering itu di campur dengan batang merah," pangeran fang qi dengan cepat melakukan yang di katakan kakek wuyu. dan tak butuh waktu lama obat sudah tersedia.
Situa duduk bersila sembari memusatkan tenaga dalamnya. dan kakek wuyu menyalurkan tenaga dalamnya agar tenaga dalam Situa kembali normal.
Uhuk, Situa terbatuk darah warna hitam. dengan segera kakek wuyu menotok beberapa titik urat untuk menghentikan racun agar tidak menyebar dan mengenai organ tubuhnya. setelah beberapa saat kakek wuyu memberikan obat yang telah di tumbuk dan sudah di seduh dengan air.
Situa meraih obat yang di berikan kakek wuyu dan meminumnya dengan sekali tegukan. setelah itu ia kembali memusatkan tenaga dalamnya meniti setiap pergerakan urat dalam tubuhnya.
kakek wuyu beralih menuju pangeran Fang qi berada, di sana terlihat pangeran Fang Qi mengobati Mo Yan, "bagaimana keadaanya ?" pangeran fang qi mengambil obat tumbuk yang berada di sampingnya "tidak terlalu buruk, luka luarnya tidak terlalu dalam, Guru," jelasnya sembari menempelkan obat tumbuk ke luka Mo Yan.
ya, pangeran fang qi adalah murid satu-satunya kakek wuyu. lalu dengan huali ?, jika kalian ingat Huali adalah cucu angkat dan sudah ia anggap seperti cucunya sendiri dan tentu saja ia akan mengajarkannya ilmu pengobatan, bahkan keahlian huali dalam pengobatan lebih handal dari pada pangeran fang qi. ia cepat belajar tentu saja kakek wuyu sangat suka mengajarinya berbagai ilmu pengobatan.
kakek wuyu memeriksa nadi Mo Yan, Tampa sengaja ia melihat tanda di bahu Mo Yan, dengan mempertajam matanya kakek wuyu meniti tanda yang berada di bahu Mo Yan. lalu ia mengerutkan keningnya.
"tanda apa ini ?" ucapnya sembari mengerutkan keningnya. pangeran fang qi menoleh dan ikut melihat arah mata kakek wuyu, "tanda ? bukankah itu tanda lahir ?" beo nya kepada kakek wuyu.
"bukan, Mo Yan tidak mempunyai tanda lahir," ucapnya bergumam. kenapa ada tanda setengah liontin kehidupan di bahunya, sejak kapan itu muncul ?.
"itu tanda jika salah satu kutukan telah di patahkan," ucapnya membuat kakek wuyu dan fang qi menoleh,
"Situa, kau" belum sempat kakek wuyu melanjutkan bicaranya namun sudah di potong oleh Situa. Situa menghampiri Mo Yan yang terbaring lalu menekan tanda yang berada di pundaknya, lalu sebuah cahaya keluar dari pundaknya, dengan segera Situa menggenggam cahaya yang keluar itu.
pyas !
seketika cahaya itu lenyap.
"keluarkan pedangmu tadi," ucapnya kepada pangeran fang qi.
pangeran fang qi mengeluarkan pedang itu dan memberikannya ke pada Situa. Situa meniti pedang itu. "Pedang Fire, kutukannya telah di patahkan namun belum sempurna," ucapnya lalu memberikan lagi ke pangeran fang qi.
"belum sempurna ?" tanya pangeran fang qi yang tak tau maksud dari Situa. penjelasannya menggantung. "apa maksudnya ?"
"pedang Erlac, kutukannya belum di patahkan jadi dia belum sempurna, ketika kutukan sirna maka pedang itu akan mampu membunuh Dae san,"
"jadi, kau melarang ku membunuh Dae san karena pedang ini belum sempurna," ucap pangeran fang qi sembari menatap pedang yang berada di tangannya.
Situa mengambil nafasnya dalam, "kita harus menemui lingxiu membawanya kemari untuk mematahkan kutukan itu,"
"membawanya kemari ? apa itu tidak bahaya Situa ? disini terlalu dekat dengan kastil, dan Dae san akan mudah menemukan kita," sahut kakek wuyu panik.
"dia tak akan tahu, sekarang kita jemput dia di gunung bintang," ucap Situa sembari beranjak dari tempatnya.
"tunggu Situa, jika kita pergi ke sana Mo Yan tidak ada yang menunggunya," sahut pangeran fang qi menghampiri.
"benar Situa, dan juga bukanya jiwa mo Yan di kendalikan olehnya." kakek wuyu menyahut dan kahwatir dengan ke adaan sekitar.
"pengendalian itu sudah ku lepaskan jadi tidak perlu khawatir," Situa mengambil nafasnya. "biar aku sendiri membawanya kalian disini saja." ucapnya dan berlalu menghilang dengan sekejap mata.
tak lama Situa langsung berada di gunung bintang, tempat dimana selama ini ia berada.
ia menghirup udara di sekitar, wajahnya tersenyum menyungging senyum. dengan gagahnya ia berjalan sembari berbicara sangat keras hingga seluruh kediaman itu terdengar suaranya.
"Penerus ku ! aku datang ! ayo hari ini kita akan berpetualang, kau pasti akan senang ! penerus ku.."
para orang di sana terlihat terkejut mendengar suara Situa yang datang dengan tiba-tiba. ya mereka sudah tahu bahwa Lingxiu telah menghilang dari sana dan juga orang yang bertanggung jawab itu juga hilang di bersamaan. terlihat semua panik, wajah pasi mereka terpampang tambah jelas ketika Situa berada di depan pintu. Apa yang harus mereka katakan, sudah pasti kali ini mereka tidak akan bisa lari dari amukan Situa.
tangan Situa memegang hendel pintu dan..
"mohon ampun tuan," ucap salah satu dari mereka. terlihat mereka semua yang berada di sana menemui Situa dan menjatuhkan lututnya di tanah.
Situa mengerutkan keningnya "ada apa dengan kalian ?" tanya Situa yang heran dengan sikap mereka yang tak seperti biasanya.
"e.. itu, mohon ampun tuan, Nona penerus, dia, dia menghilang," ucap Wen mewakili semua orang. terlihat wajah pasi sudah menguasai mereka.
"Apa ?!" ucap Situa dengan terkejutnya. dan tentu saja kini wajah mereka sudah pucat pasi tak ada yang berani berkutik sedetik pun.
tekan tombol Jemponya😊