MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Berlatih pedang bersama II



Trranggg !!


Benturan pedang menggema..


mereka sama-sama terlempar mundur tiga meter.


"Kakak !" teriak xiuying kawatir.


Hebat juga wanita ini.


batin lelaki yang di sebut ketua.


ia mulai menyerang ke arah Della.


Tring !.


Tring !


gesekan pedang saling beradu. mereka bertarung dengan begitu lihai tampak seperti tarian pedang yang sangat mengagumkan.


memutar, menyerang, menangkis, melompat. Della seakan seperti Dewi yang sedang bertarung.


permainan pedang mereka imbang, sangat sulit untuk menunjukan mana yang akan menang ataupun kalah.


Kini Mereka yang melihat seperti tersihir akan pertunjukan yang mereka lihat.


Mereka tidak tahu. Della saat ini tidak menunjukan Kekuatan sihirnya, jika mereka tahu jika ia memiliki kekuatan sihir mungkin mereka tak akan berani mendekatinya.


Apalagi bertarung. baru mengangkat pedang saja. mungkin pedang yang mereka pegang sudah berbalik arah menggores nyawa mereka dan melayang pergi ke sang pencipta.


Trang !


Pedang beradu. Della menahan serangan dari orang yang di sebut ketua itu.


"Ketua Hu jie."


Seketika orang yang di sebuat ketua itu menoleh mendengar suara yang begitu akrab di telingany. konsentrasinya terpecah.


dan


Trangg !


Brukk!


ketua Hu jie terpental tiga meter dan jatuh mencium tanah.


"aduh, wajahku ! wajah Tampanku !" umpat ketua Hu jie sembari berdiri.


mereka yang menyaksikan langsung tertawa melihat ketua hu jie kalah dan jatuh mencium tanah.


mereka juga tak habis pikir jika ketua hu jie dapat di kalahkan oleh seorang wanita.


"Ketua hu jie kau tak apa ?" Ucap Gen heran.


"tak apa. tak apa. kepalamu peang !" gerutu ketua hu jie. sial gara-gara kau aku di kalahkan oleh seorang wanita.


"Ada apa mencariku" ucap ketua hu jie sembari menyarungkan pedangnya.


"ada sesuatu yang penting yang harus di bahas."


Gen menoleh ke arah Della dan lainnya lalu menghampiri. dan memberi hormat.


"Nyonya, bisakah anda mengikuti kami." ucapnya sembari serius.


belum sempat ia menjawab. ketua hu jie menyahut.


"wah, aku sungguh kagum dengan permainan pedang anda Nona, baru kali ini saya di kalahkan oleh seorang wanita" ucap ketua hu jie sopan,


"terima kasih paman, permainan paman lebih lihai di bandingkan diri ini yang masih dalam tahap belajar"


Seketika ketua hu jie memegangi mukanya saat mendengar kata paman.


Apa aku setua itu hingga di panggil paman.


asalkan kalian tahu ketua hu jie masih lajang dan hanya terpaut 5 tahun lebih tua dari Junjie.


sedangkan yang lainya menahan tawanya saat mendengar sebutan paman di tujukan kepada ketua hu jie.


"Nyonya. bagaimana kepetusan anda ?" ucap Gen yang menantikan jawaban.


"Baiklah, ying, jinhai, aku akan pergi bersama Gen kalian bisa tinggalkan aku sendiri"


"Baiklah kakak," ucap mereka serempak.


sedangkan ketua hu jie masih fokus memegangi wajahnya dan pikirannya kalut dalam kata paman !.


Della dan Gen melangkahkan kakinya.


"ketua hu jie. apa kau akan terus berdiri memegangi wajah anda."


panggil Gen membuyarkan pikiran ketua hu jie dan ia segera menyusul della dan Gen.


Disisi Lain


mereka sedang sibuk menumbuk obat-obatan.


"Anak muda Zixin, tolong kau kemas obat-obatan yang ada di sana" ucap sang kakek Wuyu sembari menumbuk obat.


Zixin segera beranjak dari duduknya dan mengemasi obat-obat yang sudah siap.


"Kakek, istirahatlah biar aku saja yang menumbuk obat ini, simpan tenaga kakek untuk pergi ke kota" ucap Huali cucu kakek wuyu sembari mengambil alih tempat penumbuk obat.


"baiklah cucuku,"


Selang beberapa menit kemudian Zixin telah selesai mengemasi obat yang akan di jual ke kota ia berdiri lalu menghampiri sang kakek wuyu yang telah siap dengan penutup kepala.


(Kakek, aku sudah selesai,) dengan bahasa isaratnya.


"terima kasih anak muda, kerjamu selalu cepat dan tangkas," sembari menaru obat yang sudah di kemas lalu memasukanya ke keranjang.


(sama-sama kakek,) sembari membantu memasukan obat ke keranjang. tak lupa senyumnya yang mengembang menambah wajahnya semakin manis dan tampan !.


"anak muda, ketika kau sudah sembuh kakek ini akan membawamu ke kota untuk melihat hal yang menajubkan yang belum pernah kau lihat"


(Benarkah kakek ?) ucapnya antusias dalam bahasa isyarat.


" jangan percaya sama dia ! kau hanya di manfaatkan oleh kakek. dia itu suka membual. " sahut huali mendengar ucapan kakeknya.


"hei cucuku aku tidak pernah membual."


"terus saja bilaang begitu tapi kenyataanya kebalikan dari yang di ucap."


sahutnya sembari merapikan bebrapa wadah yang telah di bersihkan.


"apa kau lupa kakekmu ini pernah menunjukan hal yang sangat indah dan menarik kepadamu ?"


Huali menghmpiri mereka.


"itu hanya kembang api yang meletus di udara. itu sudah sangat biasa. ini. (sembari memberikan kotak air dan bekal makanan) kakek cepatlah berangkat dan cepatlah kembali oh ya jangan lupa jangan lupa belikan aku kue bulan aku ingin memakanya" berbicara lembut di ahir.


"Dasar cucu durhaka. aku tidak akan membelikanmu kue bulan. Beli saja sana sendiri" sambil melangkah pergi.


"Kakek. Kau harus membelikanya !"


kakek wuyu tidak menyahut ataupun menoleh.


Huali manyun dengan kakeknya yang pilih kasih terhadap dirinya dan Zixin setelah kedatangan Zixin, Kakek wuyu sedikit lebih perhatian terhadap Zixin dari pada Huali dengan alasan bahwa Zixin itu anak yang manis, tampan dan sangat rajin. Ini membuat huali sedikit cemburu kasih sayang terhadap Zixin.


Huali menatap Zixin yang tersenyum.


"Jangan sok-sok senyum !" sembari menghentakkan satu kakinya dan berlalu pergi.


Zixin tampa sadar semakin menorehkan senyumnya melihat tingkah laku Huali yang menurutnya sangat imut. Ia segera menyusul Huali.


Terlihat disana Huali mengambil satu kerenjang. Zixin segera menghampiri dan bertanya dengan bahasa isyaratnya.


(Kau mau kemana ?)


"kehutan"


(Kehutan ? apa yang kau lakukan pergi kehutan ?)


"hanya mengambil buah persik, kau bisa tunggu rumah selagi aku pergi" sembari menggendong kerenjang di bahunya.


(aku ikut denganmu, berikan kerenjangmu biar aku yang bawa) sembari mengambil alih kerenjang .


"eh. apa yang kau lakukan"


(sudah aku bilang aku yang akan membawa kerenjangnya) Sembari menggendong kerenjangnya.


"Baiklah jika itu maumu"


mereka ahirnya masuk kedalam hutan. mereka menyelusuri aliran sungai dan tak cukup jauh hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit ahirnya mereka telah sampai tujuan.


Terlihat di sana ada satu buah pohon buah persik yang telah berbuah lebat dan ada juga pohon apel namun jaraknya sedikit jauh dari pohon persik.


(aku tak menyangka di hutan ini ada pohon persik yang begitu subur, apa kalian yang menanamnya ?)


"Tidak, ini memang tumbuh liar disini asal kau tahu buah persik ini sangat manis dan segar rasanya sungguh beda dengan yang lainya ini lebih enak" sembari memetik buah persik yang berbuah di bawah


"Cobalah." sembari memberikanya kepada Zicin.


Dengan senang Zixin menerima buah persik itu dan langsung menggigitnya.


seketika wajahnya berubah.


(kau benar, ini sangat enak ) sembati mengunyah.


"Lihatlah kau sepertinya sangat suka dengan buah persik itu"


Zixin tersenyum dan mengangguk. Ia segera menghabiskan buah persik. setelah selesai Zixin ahirnya langsung berdiri.


(ayo kita ambil buah persik itu. kau tunggu di bawah biar aku memanjat pohon persik ini) ucapnya semangat


"Apa kau yakin ?"


(itu hal yang kecil buatku)


tak menunggu lama Zixin segera naik keatas Dahan pohon persik dengan ilmunya. ia menatap kebawah dan memberi isyarat


(mudah bukan )


"Kau benar hebat, cepat ayo petik buah persiknya"


Dengan semangat Zixin memetik buah persik. setelah beberapa menit dan di lihatnya cukup ia segera turun.


(apa ini cukup ?) ucapnya sembari menunjukan keeenjang ke Huali.


"ini sudah lebih dari cukup" sembari mengangguk. "Kalau begitu ayo kita pulang" ajak Huali.


(Tunggu.) ucapnya sembari menarik lengan baju Hualli.


"ada apa ?"


(apa kau tidak ingin mengambil buah apel disana ?) bersyarat sembari menunjukan arah ke pohon apel.


"kau ingin buah apel itu ?"


Zixin mengangguk.


"Baiklah, ayo kita ambil apel itu" sembari melangkah menuju pohon apel.


sesampainya disana Zixin segera naik ke pohon apel yang tingginya lumayan tinggi. ia memetik beberapa buah apel dan segera turun dan memasukanya ke keranjang.


"Sudah ?"


Zixin mengangguk mengiyakan.


(Ngomong-ngomong kenapa kau tidak mengambil buah apel ini apa kau tak suka ?) ucap Zixin dengan bahasa isyaratnya saat perjalanan pulang.


"Bukanya tak suka, sebenarnya aku sangat suka dan ingin memakanya saat melihat apel itu Saat mengambil buah persik. Namun sayang pohon itu terlalu tinggi dan aku tidak bisa mengambilnya."


(kenapa kau tidak meminta ke kakek wuyu ? untuk memetiknya atau membelinya di pasar ?)


"Aku tidak ingin membenani kakek terlalu berat, dia sudah terlalu tua jika memenuhi ke inginanku"


(kau sungguh cucu yang berbakti, pasti kakek wuyu sangat senang mempunyai cucu sepertimu, dia sangat perhatian kepadamu)


"ya ku harap begitu terus"


(kenapa begitu ?)


"Semenjak kau datang kakek selalu mengabaikanku dan selalu mementingkan dirimu" ucapnya sewot.


Zixin tertawa (Apakah benar ? itu artinya kakek lebih sayang kepadaku)


Brauk.


Huali memukul Zixin.


"Terus saja kau berucap. kau sama saja menyebalkan !"


Zixin semakin menampakkan tawanya.


***


Di ruangan terdapat Tiga orang yang sedang berbicara serius.


"Nyonya Xiu, ini data yang tuan berikan kepada anda," sembari menyerahkan gulungan kertas.


"dan untuk Ketua hu jie, Tuan muda Junjie memerintahkan anda untuk menyelidiki Kediaman Sen" sembari memberikan gulungan kertas.


Della membuaka gulungan kertas itu dan membacanya. wajahnya menunjukan anggukan serius.


Wajah ketua hujie mengkerut serius.


Menyelidiki kediaman Sen ? Keluarga keturunan penyihir !


"Gen, apa kau yakin ?" ucap ketua Hu jie yang membaca gulungan kertas tersebut.


"Kenapa tidak ? apa kau tak berani ?"


"jangan meragukan keberanianku Gen. aku hanya penasaran kenapa Tuan ingin ikut campur di dunia penyihir yang mengerikan itu"


Seketika Della melirik tajam ke arah Ketua Hu jie.


Dan Gen ? meamandang bergantian kearah Ketua Hu jie dan Della. Ia menelan ludah kasar saat melihat tatapan tajam Della ke arah Hu jie.


"Kediaman Shen keturunan penyihir ?" tanya della tajam namun menuntut jawaban.