MAGIC PRINCESS

MAGIC PRINCESS
Ini hanya mimpi



"apa maksudmu ?," tanya Adarsya. Zhenita masih mengalihkan pandanganya. "apa maksudmu dengan pernikahan kita ?," tanyanya lagi. Zhenita menatap Adarsya "Aku sungguh sedih Ade, kamu melupakan hal penting itu," ucapnya lalu tersenyum getir.


Adarsya menatap tak paham, lalu Zhenita membuang nafasnya, "begitu rupanya, baiklah besok pagi aku akan pergi dari sini, ku harap kau segera sadar," ucapnya lalu beranjak meninggalkan kamar Adarsya.


"Nita," seruan itu tak dihiraukannya, Zhenita langsung masuk ke kamarnya dan membereskan barang ke dalam koper.


"Nit, apa maksud mu kembali besok ?, katakan dengan jelas, jangan tiba-tiba begini, apa kata mereka ? katakan padaku," ucap Adarsya yang menyusul kedalam kamar Zhenita, namun lagi-lagi Zhenita tak menggubrisnya ia sibuk memasukan barang dengan menahan tangis yang hampir pecah.


"Nita !," ucapnya dengan nada yang meninggi sembari mencekal satu tangan Zhenita.


"Lepas ! Ade !," teriaknya nanar.


"katakan dulu apa yang terjadi ?,"


Zhenita mengambil nafasnya dalam "lepaskan tangan ku Ade, kau menyakitiku" ucapnya membuat Adarsya melepaskan cengkramannya. Zhenita memegang lengannya yang terasa sakit, lalu ia menutup kopernya.


"jika kau benar peduli padaku seharusnya kau tanyakan saja pada mereka, apa kau tahu Ade hal yang paling menyakitkan adalah bergantung pada hal ketidak pastian, padahal ia tahu bahwa itu akan sia-sia saja," ucapnya langsung pergi meninggalkan Adarsya.


Adarsya terdiam mendengar perkataan Zhenita, ia terasa tertusuk akan apa yang ia dengar. ia mengambil nafas lalu mengacak rambutnya kemudian berlari keluar mengejar Zhenita.


"Nita !," panggilannya tak di hiraukan Zhenita telah pergi menggunakan taxi.


"ah, sial !," umpatnya lalu ia bergegas ke bagasi dan menyetir mobilnya mengejar Zhenita.


** **


ruangan berarsitektur kuno itu terlihat elegan, ditambah seorang gadis duduk di kursi sembari melihat keluar jendela serta di temani dengan secangkir teh dan beberapa kue kering, tangannya memainkan sebuah pensil bergerak tak beraturan, rambutnya di sanggul dengan membiarkan beberapa helai rambut terurai.


matanya memandang ke depan tapi sorot air matanya pergi ke berkelana, entah apa yang sedang ia pikirkan.


"apa kau baik-baik saja ?," suara itu membuyarkan pandangannya ia langsung menoleh ke samping dan hanya memberikan senyuman simpulnya.


orang itu kemudian duduk dan bersandar. "Katanya kau baru saja mengalami kecelakaan," ucapnya sembari bersedekap tangan.


"apa kabar itu sampai seheboh itu, hingga kau sampai dengar ?," tanyanya balik.


lelaki itu tergelak mendengar jawaban dari Della. "sadarlah, kau kan selalu membuat sensasi dunia Maya dan dunia nyata, tapi yang aku heran kenapa kau menyembunyikan identitas aslimu dan bersembunyi di balik nama desainer dari anak pengusaha kecil," tuturnya membuat Della meliriknya sembari mengangkat sebelah alisnya.


"Candra," ucap Della lalu menyesap tehnya yang mulai dingin.


ya, dia Candra sepupu Della, mereka dekat sendari dulu hingga sekarang. Selama ini candra berada di luar negri mengurusi perusahan cabang di sana dan baru pulang beberapa hari ke Indonesia.


"ada beberapa hal yang memang tak harus untuk diungkap dan ada beberapa hal yang memang harus diungkap, kau paham kan ?," ucapnya karena sedikit malas untuk berbicara, dan alasan itupun sudah menjadi rahasia umum di dalam keluarga.


"aku sempat kaget dengan konferensi press beberapa hari lalu," ucap Candra terhenti sejenak "sejak kapan kau berurusan dengan dia ?," tuturnya menuntut jawaban.


Della terdiam mendengar pertanyaan dari sepupunya itu, ia bingung mau menjelaskan bagaimana. jujur saja akhir-akhir ini kepalanya merasa ngelu karena sebuah memori-memori berputar di kepalanya selayaknya sebuah ingatan yang pernah ia alami, dan di ingatan itu ada Adarsya juga di sana. ah, rasa kepalanya sekarang ingin pecah !.


"entahlah, aku tak tau mengapa bisa begini, ini seperti mimpi," gumamnya namun samar-samar bisa di dengar oleh Candra.


"apa maksudmu, mimpi ?,"


Della menceritakan semuanya dari rencana mendatangi undangan pernikahan dan Samapi ia terjatuh ke laut dan sadar dari koma. Candra terlihat sedikit terkejut dengan apa yang dialami Della. "rupanya kau sedang bermimpi," ucapnya membuat Della geram. "Candraaa !!," teriak Della gemas.


"Kenapa kau marah ?, benarkan apa yang ku katakan," ucapnya membuat Della menahan dongkol tapi ada benarnya juga yang dikatakan Candra, itu terjadi saat ia tak sadarkan diri. Hal itu membuat Della diam sembari berpikir.


"lalu apa yang harus aku lakukan ?, sepertinya dia juga mengalami hal yang sama, dan ia juga bertemu, mana mungkin itu hanya mimpi ?," tutur Della.


"entahlah, mana aku tahu," jawabnya membuat Della kesal.


"Candraa !,"


"kenapa kau marah lagi ?,"


Della mendengus,


"apa kau menyukainya ?," tanya Candra membuat Della terdiam.


"apa maksudmu ?,"


Candra mengangkat kedua bahunya, "aku hanya tanya, jika memang kau mencintainya, ku sarankan kau harus menghentikan rasa sukamu itu,"


"kenapa ?," Della tak paham yang dimaksudkan oleh Candra.


"apa kau yakin ingin mendengar alasannya ?," ucap Candra memancing, ingin melihat ekspresi Della.


"ya," ucapnya singkat.


"meski itu akan menyakitkan," tanyanya lagi.


"ya," jawab Della singkat.


Candra tersenyum sangat tipis.


Aku suka kegigihan mu dan berani mengambil resiko, kau tak pernah berubah. ucapnya dalam hati.


"besok adalah hari pernikahannya,"


Deg.


tangan Della terhenti saat akan meminum tehnya. jawaban dari Candra seperti meriam yang meledak disisi dirinya. Ia menatap Candra tajam.


"A.apa maksudmu,"


.


.


.


jangan lupa Like, komen and vote !