
Suasana pesta itu ramai, tamu yang berdatangan dari kolongan atas mereka berbincang-bincang entah apa yang mereka perbincangkan.
"Kita pulang saja oke," ajak Zhen kepada Della yang duduk di kursi. Della menggeleng pelan "aku masih ingin di sini," jawabnya sembari mengambil segelas wine, dan di tahan oleh Zhen.
"Apa sih," sahut Della saat tangannya ditahan.
Zhen mengambil wine di tangan Della, "Hei," protes Della saat wine itu diambil dari tangannya.
"minum ini," menyodorkan jus jeruk kepada Della.
"aku maunya itu," sembari menunjuk gelas yang ditangan kanan Zhen.
"No, jangan coba-coba, kau tak kuat meminum wine, jadi minum saja ini," tolak Zhen sembari memberikan sebuah jus,
"resek kau ini," gerutu Della sembari menerima jus yang diberikan kepadanya dan kemudian meminumnya.
Della sesekali melihat kearah tangga, di sana mulai terlihat pasangan pengantin yang menuruni tangga, hingga tanpa sengaja manik mata Della bertemu dengan manik mata Adarsya dan kemudian ia memalingkan wajahnya.
Zhen melihat semua yang terjadi, rasanya ada sedikit getir dihatinya "La," panggil Zhen lirih.
"Hem," sahut Della Tanpa menoleh.
"apa kau sadar," ucapnya terhenti sejenak.
"apa ?," tanya Della yang masih melirik kearah pengantin itu berada dan sesekali meminum jus di tangannya.
"sebenarnya ada seseorang yang sangat tulus sedang menantimu," lanjutnya sembari menatap Della kemudian memalingkan wajahnya dan meminum wine yang berada ditangannya.
Della menaikan satu alisnya, "apa maksudmu ?," Della kembali meminum jusnya hingga tandas. Lalu melihat Zhen yang meminum wine itu, Zhen menatap Della "maksud..." belum sempat ia melanjutkan kalimatnya namun telah di potong.
"apa maksudmu, kau melarang ku meminum wine itu dan kau malah meminumnya di hadapanku," gerutu Della.
Zhen sedikit terkejut dengan jawaban Della
"menyebalkan," Della merebut gelas di tangan Zhen dan kemudian langsung meminumnya.
"apa yang kau lakukan ?,"
Zhen terkejut dengan Della yang langsung menghabiskan wine tersebut.
Zhen melihat gelas yang sudah kosong itu "Ella,.." Della hanya acuh ia kembali menatap kearah pengantin dan manik matanya bertemu dengan Adarsya dan Zhenita.
"Kau diam disini, akan ku Carikan kau air mineral, jangan kemana-mana oke.," ujar Zhen sedikit panik dan segera mengambil air putih. Namun sayang saat ia berbalik badan Della sudah beranjak pergi dari tempatnya.
"Ah, Ella kau benar tidak bisa diam di tempat ya," ucapnya menggerutu lalu mengejar Della.
"Ella," panggilnya namun Della tak mendengar dan malah seseorang menahannya.
"Tuan muda Zhen, senang bisa bertemu dengan anda disini," orang beberapa orang berpakaian jas itu menahan Zhen. Dan mengajaknya berbicara dengan susah payah Zhen mengakhiri namun ada saja yang membuatnya tertahan. Hingga akhirnya dengan muka muramnya ia pergi dari orang-orang yang menahannya. Terlihat beberapa orang di sana sedikit terkejut dan ada juga yang merasa tak enak.
Zhen dengan langkah lebar mengejar Della, saat ia keluar dari ruangan terlihat mobil Della keluar dari gerbang.
Dengan bergegas Zhen mengendarai mobilnya dan menyusul Della pergi. "Kau mau pergi kemana Ella," gumam Zhen saat mobil itu melaju keluar kota. Zhen terlihat khawatir ketika mengejar mobil Della yang melaju semakin kencang membelah jalanan yang sepi dan apalagi jalan yang mereka lewati adalah pegunungan.
Firasatnya tambah buruk ketika ia melihat ke spion, karena sedari tadi ada mobil yang mengikutinya terus. Dan hal yang tak diinginkan pun terjadi saat berada di perbelokan tajam mobil yang berada di belakangnya mendadak mengeluarkan pistol dan.
Dor !
pistol itu menembak kearah mobil Zhen dan untungnya Zhen bisa menghindar namun sayangnya peluru itu melesat jauh ke depan dan menembus kaca mobil Della.
BRAKK !
"ELLAAAA !!," Teriak Zhen panik. Dan akhirnya firasat itu terjadi, Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, mobil itu masuk ke dalam jurang. Dengan segera ia keluar dari mobil namun.
DUARRR !!!!
"TI.TIDAK ! ELLAA !!" Zhen berteriak tak berdaya saat mobil itu meledak di jurang. Kakinya lemas ia berlari mendekati pinggir jurang. Tangisnya pecak ia memukul tanah, ia meraung tak karuan.
"Ella !, tidak !, Ella," Zhen terus menangis di pinggiran jurang. "Ella..."
Zhen masih menangis dipinggiran jurang hingga tanpa ia sadari dari arah belakangnya ada seseorang yang mendekat dengan setelan serba hitam.
Prok ! Prok ! Prok !
orang itu bertepuk tangan sembari tertawa. Zhen mendengar hal itu langsung menoleh matanya yang merah penuh peluh dan matanya yang tak terhindar rasa kehilangan yang sangat dalam.
orang itu tertawa "ah,.. aku senang sekali,.." ucapnya sembari mendekati Zhen.
"BEDEBAH KAU !!," Teriak Zhen. Ia masih tak percaya siapa orang yang berada di hadapannya sekarang.
orang itu semakin tertawa nyaring, "Ha Ha Ha,.. betapa senangnya diriku ini, akhirnya dia sudah pergi, aku puas,.. ah tapi sayang sekali maafkan diriku ini sepertinya kekasihmu harus aku ambil duluan.." ucapnya panjang lebar.
"ah, bagaimana jika kau temani saja kekasihmu itu, sepertinya dia akan kesepian pergi sendiri," jelasnya dan semakin mendekat kearah Zhen.
"Kau memang BEDEBAH ulung !, belum puaskan kau membuat menderita Ella !, dasar Tua Bangka !," Zhen mengepalkan tangannya kuat menatap orang didepannya itu penuh amarah.
orang itu adalah Assad Mura ayah dari Adarsya, kenapa Adarsya hanya menggunakan nama depannya saja dan menutupi nama keluarga ?, itu karena utusan dari ayahnya, rencana awal ialah untuk menutupi identitas aslinya dan menjebak Della dalam rencana keluarganya.
Karena dendam bisnis antar keluarga besar menjadi bumerang diantara penerus mereka hingga sekarang. Kalian tahu Assad Muara ialah dalang pembunuhan berencana keluarga Della dulu, yang membuat keluarga itu kehilangan sosok kepala keluarga Ayah Della. Sejak saat itu Ibunya Della menyerahkan hak waris kepada ayahnya dan sementara waktu pergi untuk menenangkan diri dan menutup identitas.
Namun sayang identitas itu terbongkar, dan perang antar bisnis itu tak terelakkan lagi.
Zhen menatap nanar dan menyerang Assad Mura. Assad Mura mundur dan ditangani oleh bodyguard nya perkelahian tak terhindari. Perkelahian tak seimbang jumlah dan membuat Zhen semakin melemah dan.
Bukkk !
Zhen terhempas ke jurang. Zhen terkuak lemas dan pasrah akan dirinya ia masih menatap sosok yang berada di pinggir jurang, mereka pergi, ia menutup matanya pasrah. Mungkin ini akhir hidupnya. dan Gelap.
-
-
-
-
-
-
-
-
Grap.
Zhen merasakan tubuhnya seperti melayang namun ia tak bisa membuka kedua matanya, ia mendengar samar-samar suara yang berbicara kepadanya. "Ella," gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian ia merasakan tubuhnya seperti sakit tak tertahankan dan ada sebuah cahaya menyilau matanya. Perlahan ia membuka matanya. Samar-samar ia melihat sosok berada disebelahnya sedikit demi sedikit semakin jelas. Orang itu berpakaian aneh sedang berdiri membelakanginya lalu membalikan badan
"Kau, sadar !," orang itu terlihat bersemangat.
"LingXiu !," orang itu bergegas keluar.
Zhen bangun dan memegang kepalanya yang terasa sangat pusing. "Zhen !," panggil seseorang yang mendekatinya. Zhen mendongak dan betapa kagetnya dirinya "Ella," ucapnya beranjak dan langsung memeluk Della.
"Ini benar dirimu ?, aku tak bermimpi kan ?," ucapnya masih memeluk Della erat takut Della akan pergi lagi.
Della mengangguk "benar ini aku Zhen," ucap Della dan Zhen semakin mengeratkan pelukannya dan mengeluarkan air mata.
"Jangan pergi lagi, jangan pergi Ella," ucapnya lirih.
Della mengangguk, ia mencoba melepaskan dirinya yang nafasnya semakin sesak "Zhen," panggil Della, dan Zhen melepaskan pelukannya. Della menghapus air mata Zhen.
"Heh, dasar lelaki Cengeng," ucapan itu membuat suasana hancur !. Zhen langsung menoleh ke asal suara. Terlihat di sana ada seorang Kakek-kakek berjenggot putih dengan pakaian aneh.
"Siapa Anda ?," tanya Zhen yang suasana hatinya hancur gara-gara orang itu, Zhen melihat kakek tua itu dari atas Samapi bawah dan kembali ke atas lagi.
"orang aneh," gumamnya melihat pakaian yang digunakan aneh dan jenggot putih itu dan juga seseorang wanita yang berpakaian aneh ditambah lagi lelaki yang terlihat seperti seumurannya rambutnya panjang disertai baju yang aneh.
"Hei, anak cengeng, yang tak sopan, beraninya kau menyebutku aneh," ya. Dia adalah Situa, Yuan Fu dan pangeran Fang Qi.
Zhen tak menggubris ia kembali menatap Della meminta penjelasan.
"Em, Zhen perkenalkan Dia Situ, Yuan Fu dan pangeran Fang Qi," ucap Della memperkenalkan sembari menunjukan orangnya.
"Akan ku jelaskan tapi setelah kau minum obat ini dulu," ucap Della sembari memberikan mangkuk berisi obat.
"Apa ini ?," tanya Zhen heran dan merasa ragu.
"Obat, kau minum dulu lukamu akan segera sembuh," jelas Della sembari memberikan obat itu.
Zhen menatap ragu, "Ini obat ?, Kau yakin ?, Bukan racun kan ?," Ucapnya masih ragu meminum obat itu namun diminum juga.
"Itu racun mematikan dari jamur langka," ucap pangeran Fang Qi saat Zhen meminum obat itu dan seketika Zhen tersedak.
"Kau !," Umpat Zhen.
"Tenang saja itu bukan racun, aku yang jamin," ucap Della, namun Zhen menatapnya memelas
"minum saja, itu bukan racun, dia hanya bercanda," sambungnya Della membuat Zhen menatap pangeran Fang Qi dengan tatapan tajamnya lalu menghabiskan obat itu.
Waktu berlalu dan kini malam mereka berada di sebuah rumah tengah hutan di atas perbukitan. Terlihat Yuan Fu, pangeran Fang Qi dan Situa sedang membakar Ayam mereka tampak sangat antusias.
Karena mereka mendapatkan barang yang menurutnya sangat aneh dari dunia Della berada ditambah bumbu masakan yang membuat tambah harum dan lezat.
Terlihat Zhen dan Della duduk di bawah pohon menatap pemandangan kota yang terlihat sangat jauh. Dan dari tempat kecelakaan itu juga lumayan jauh.
Della telah menceritakan semuanya apa yang terjadi awal mula Zhen tak percaya namun ketika melihat langsung apa yang dikatakan Della ia mulai percaya walau sedikit syok.
"kau tahu, betapa terpukulnya diriku saat mobilmu masuk jurang dan meledak ?," Ucap Zhen masih memandang jauh ke cakrawala.
Della terkekeh, "aku tahu," ucapnya membuat Zhen sedikit tercengang. "Aku bahkan tahu semuanya adegan saat kau berkelahi bersama Assad Mura," ucapnya membuat Zhen tercengang.
Jadi ia melihat saat aku meraung dipinggir jurang ?!,. Ucapnya dalam hati dan seketika ia memalingkan wajahnya yang memerah menahan malu.
"Dan aku juga melihat kau.."
"shuttt.. jangan dilanjutkan, Aib.," tahan Zhen membungkam mulut Della.
"ap.mmm" Della melepaskan tangan Zhen. Dan tertawa lepas.
"Ella," peringati Zhen.
"Baiklah, baiklah.." ucap Della lalu mengambil nafasnya.
"Zhen," ucap Della lirih
"Hem, apa ?," Jawabnya menatap Della.
"Di pesta tadi kau bilang ada yang menanti ku dengan tulus, boleh kutahu siapa dia ?," Ucapnya dan membuat suasana menjadi berbeda.
Zhen terdiam mendengar ucapan Della.
Ku kira kau tak mendengarnya. Ucapnya dalam hati.
Zhen berdehem, lalu menatap Della, "apa kau benar ingin tahu ?," tanyanya dan diangguk i oleh Della.
"Apa yang akan kau lakukan ketika tahu siapa orangnya ?," Tanyanya lagi.
"Kau kenapa ?, Kenapa wajahmu memerah apa kau sakit ?," Ucap Della sembari memegang kening Zhen dengan telapak tangannya mengecek suhu. Zhen terdiam kaku dibuatnya.
"Ap.apa yang kau lakukan," tanya Zhen gugup ia melihat wajah Della yang dekat dan masih mengecek suhu tubuhnya.
"Diam lah, aku sedang mengecek suhu tubuhmu," ucap Della memperingati Zhen.
Zhen memegang tangan Della, "aku baik-baik saja," ucapnya sembari menjauhkan tangan Della dari keningnya.
"Tapi,.."
"Aku baik-baik saja, Ella," jelas Zhen terhenti sejenak lalu menatap kearah Della dengan tatapan kaget.
"Oh iya Ella, ngomong-ngomong,.. sudah berapa lama aku tak sadarkan diri ?," tanyanya membuat Della meringis,
"Emt.. tiga hari,"
"Apa ?," Ucapnya kaget dan panik,
"Selama itu, Kita harus segera kembali, Ella, pasti mereka sangat panik dengan berita ini," ucap Zhen, ia berpikir hanya tak sadarkan diri beberapa jam saja namun ternyata tiga hari !. Zhen mengusap kepalanya.
"Zhen, tenanglah, semuanya sudah teratasi kau tak perlu panik," jelas Della menenangkan Zhen yang panik.
"Bagaimana bisa Ella ?,"
"Apa kau lupa kan ada mereka," ucap Della sembari menunjukan tiga orang yang sedang asyik membakar ayam. Zhen menaikan alisnya.
"Apa maksudmu ?, Ini perihal keluarga kita Ella, Mereka pasti kebingungan,"
"Tenang Zhen, selagi ada mereka semuanya beres," ucap Della membuat Zhen terdiam sembari mengerutkan keningnya.
Della menepuk pundak Zhen, "aku kan sudah bilang, jangan terlalu kaget,"
"Tapi Ella, ini masalah serius,"
"Tenanglah Zhen, semua sudah di atasi, aku sudah mengirimkan informasi ke pada keluarga, dan kita tidak akan bisa di temukan oleh Assad Mura," Jelas Della santai.
Zhen menatap tak mengerti kepada Della,
"Kau tahu, mereka" Della menunjuk ke arah Situa, Yuan Fu dan Pangeran Fang Qi.
"Mereka memiliki kekuatan super, jadi tidak usah khawatir,"
Zhen masih menatap tidak yakin. "Bahkan mereka mendengar percakapan kita," ujar Della dan seketika Zhen menoleh menatap mereka bertiga yang ternyata telah menatap mereka berdua.
Zhen tersenyum kikuk lalu kembali membelakangi mereka. Della tertawa melihat Zhen yang kikuk dibuatnya.
"Kau membuatku takut La," ujar Zhen membuat Della tertawa nyaring.
Semua terdiam, Zhen maupun Della, mereka jauh menatap langit atas kota dari perbukitan yang mereka tempati.
Della tersenyum, melihat Zhen yang menatap bintang di langit, sembari tersenyum, terlihat sangat tampan dan manis, ditambah hidungnya yang mancung menambah pahatan yang sempurna "Zhen, kita nikah yuk," ucapnya membuat Zhen menoleh menatap Della. Kemudian Zhen tertawa.
"Ayok, kapan ?, Sekarang," Jawab Zhen seperti biasa selalu menimpali candaan Della.
"Aku serius," ucapnya lagi membuat Zhen terdiam dan menata dalam Della. Ucapan itu seakan tidak nyata.
Zhen masih menatap dalam ke netra Della, ingin ia berucap namun ada suatu hal yang membuatnya tertahan saat menatap dalam ke netra Della.
langit malam itu berbintang, bulan bersinar terang, angin malam yang berhembus tipis menyelimuti kulit mereka.
Dan jangan lupakan tiga orang yang diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka, ikut terdiam, seakan menyaksikan drama kehidupan seorang insan.
Zhen menghembuskan nafasnya, ia belum menjawab, malah ia mengambil rumput yang memanjang, dan membuatnya menjadi lingkaran. Della melihat tak paham dengan apa yang dilakukan olehnya.
Setelah beberapa saat Zhen menatap Della, "Berikan tanganmu," ucapnya. Lalu Della memberikan tangannya, kemudian Zhen memasangkan cincin dari rumput itu ke tangan Della.
"Seharunya saat kau melamar seseorang buatlah cincin terlebih dahulu," ujar Zhen.
"Ini cincin, tanda pengikat kita, setelah turun dari gunung kau harus menggantinya dengan yang asli," ujar Zhen kembali.
"Kau menerima ku ?," Tanya Della masih menatap Zhen.
"Tentu, kenapa tidak," jawab Zhen sambil tersenyum menatap Della yang menatap Zhen tak terbaca.
"Sekarang gantian, kamu harus membuat cincin untuk ku bukan ?," Ujar Zhen kembali mengajukan tangan kirinya.
Della segera tersadar dan mengambil rumput panjang lalu membuat cincin di jari Zhen. Zhen mengamati Della yang fokus membuat cincin di jari manisnya dengan tatapan dalamnya.
"Sudah selesai," ujar Della sambil tersenyum lebar.
Zhen tersadar lalu melihat jemarinya, "Ingat sekarang kita sudah bertunangan, seharusnya kita mengabadikan momen yang langka ini," ujar Zhen seraya melihatkan jemarinya ke Della.
"Apa kalian perlu benda kotak seperti ini ?," Sahut pangeran Fang Qi sambil melihatkan ponsel di tangannya.
Zhen tercengang melihat benda yang di tunjukan pangeran Fang Qi.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan benda itu ?,"
Della menahan senyum ketika teringat beberapa waktu lalu saat meninggalkan Zhen sendirian dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Di sebuah bangunan yang sangat besar di situ banyak sekali orang yang menggunakan pakaian aneh," jawab pangeran Fang Qi menjelaskan tentang mall.
"Saat kau tidak sadarkan diri, kami berempat mengunjungi tempat dimana Lingxiu tinggal," Jawab Yuan Fu
"Dan juga menaiki kereta kuda, tapi tidak menggunakan kuda, hanya dengan roda yang berputar dan seseorang memegang kendali dengan bentuk bulat di tangan, seperti ini," jelas pangeran Fang Qi seraya mempraktekkan orang menyetir mobil.
"Tidak hanya itu, orang-orang tidak menggunakan kuda saat berpergian melainkan menunggang seperti kuda tapi tidak kuda, ia memiliki dua roda yang berputar sendiri," jelasnya kembali.
"Aku sangat suka dengan ruangan yang bisa bergerak sendiri mengantarkan ke atas dan kebawah, tapi sayangnya tidak bisa berpindah tempat lain hanya bisa di bangunan itu saja," Sahut Situa.
Zhen mengangga mendengar penjelasan dari mereka, lalu menatap Della. Tidak habis pikir, ternyata di saat dia tidak sadarkan diri mereka jalan-jalan meninggalkan dirinya sendiri di tengah hutan seperti ini.
Della mendelik, "Sorry," ucap Della sambil meringis.
"Bukankah kalian akan berfoto, cepatlah biar aku yang mengambil gambar kalian," ujar Pangeran Fang Qi.
"Cepatlah, berdiri di sana, aku hitung sampai tiga. Satu, dua, tiga,"
Situa menggunakan sihirnya, membuat suasana di penuhi dengan kunang-kunang, dan hujan bunga.
Zhen terkejut kemudian menatap Della.
Cekrek, suara kamera yang belum di mode selent.
gambar terambil,
"Wow, sangat bagus, sekali lagi,"
Cekrek,
"Bagus, lagi,"
Cekrek,
Cekrek,
Beberapa kali pangeran Fang Qi mengambil foto, sedangkan Della dan Zhen berpose dengan lihai.
Di tengah tengah pemotretan tiba-tiba baju Della dan Zhen berubah menjadi pakaian seperti milik mereka bertiga kenakan, tapi dengan model yang berbeda.
Tidak hanya Zhen saja yang tercengang namun Della juga.
Mata Della terbelalak, melihat penampilan Zhen, hatinya seakan berhenti berdetak.
Begitu pula dengan Zhen, tatapan mereka terkunci,
Cekrek,
"Gambar yang sangat bagus,"
"Sungguh pasangan yang serasi sekali, aku menjadi terhura,.." ucap Situa sembari menghapus air mata yang tak keluar.
"Terharu, Situa, Lihatlah gambar yang aku ambil sangat bagus, dari aslinya" sahut pangeran Fang Qi menatapnya datar, dan masam, maafkan dia permisa diakan jomlo. wkwkwk
Yuan Fu mendekat kearah Della dan Zhen.
"kalian tunjukan tangan kalian," ucap Yuan Fu kepada mereka, Zhen dan Della menunjukan tangannya.
dan cling.
jari kelingking mereka bercahaya tepatnya di cincin rumput yang mereka buat seketika cincin itu berubah menjadi sebuah cincin yang indah, berwarna perak dan berhiaskan batu safir.
mereka tercengang, "Itu hadiah dari saya, semoga kalian bahagia selamanya," ucap Yuan Fu.
"Terimakasih," ucap mereka masih bersamaan.
pangeran fang Qi mendekat dan memberikan sebuah pedang kepada mereka.
"Hadiah pertunangan kalian, ambilah maaf hanya ini yang aku berikan aku tidak bisa memberikan perhiasan ataupun koin, karena aku tak tau kalau kalian akan bertunangan," ucapnya sembari memberikan pedang.
"Terimakasih pangeran," ucap Della dan Zhen yang masih terlihat aneh melihat pedang yang mereka terima.
"Ah, ayolah kita makan ayam yang sudah masak kita rayakan ini bersama," ucap Situa dan memimpin ketempat makanan itu berada.
"Situa kau tak memberikan selamat atau hadiah kepada mereka ?," ucap Yuan Fu memeringati Situa.
"Anggap saja tadi hadiah dari ku, aku sudah tua dan tak punya apa-apa untuk di berikan, dan sepertinya mereka sudah mempunyai segalanya disini," ucapnya lalu duduk.
"tapi anak muda bolehkah aku meminta permintaan ?," ucapnya kembali sembari berbinar kepada Zhen
"Apa itu kakek ?," ucapnya penasaran.
"kemari lah," ucapnya lalu membisikkannya ke telinga Zhen "buatkan aku cucu yang menggemaskan, tenang saja, saat nanti hari pernikahan mu aku akan pasti memberikan hadiah yang sangat bermanfaat untuk mu," ucapnya membuat ia menatap kearah Della sejenak dan wajahnya memerah.
Zhen sedikit terbatuk.
"Soal itu sudah pasti kakek," jawabnya sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Apa yang kalian bicarakan ?, Beritahu aku," tanya Della penasaran.
"emt.. bukan apa-apa hanya rahasia seorang lelaki, kau akan tahu nanti bila sudah waktunya" jawab Situa lalu memulai makan makanan yang tersedia.
"Ih menyebalkan, kau pasti berkata yang tidak-tidak ya Situa," sahut Della tak terima. dan mereka hanya tertawa.
.
.
.
.
...~"TAMAT"~...
...~Sesason 1~...