
"kau memaksaku ?" sahut huali sembari meletakkan tanaman obat secara kasar.
(tidak, aku hanya menagih janjimu yang akan menceritan semuanya)
"ihhhh" Huali menggerang kesal, "awas kau potong saat aku cerita ! kau tak bisa makan buah persik dan apel !" acam Huali.
(Baiklah-baiklah jika kau tak cerita aku tak akan membantumu membersihkan tanaman obat ini )
Huali menatap tajam Zixin menantang. "Siapa takut !"
(Langsung saja, bagaimana bisa kau dan kakek wuyu bisa tinggal di tengah hutan ini ? kenapa kalian tidak memilih tinggal di kota ?) tingkat ke kepoan Zixin meningkat.
(dan hutan apa ini ? apa begitu jauh hingga tak ada yang bisa menemukanku disini ?)
Huali menghelai nafasnya lembut.
"kita berada di Hutan Hening, tepatnya kita berada di perbtasan utara dan hutan Hening ini berbatasan langsung dengan hutan kabut, kau bertanya kenapa disini tidak ada yang lewat sekitar sini ? karna tepat sekitar 20 kilometer dari sini sudah termasuk hutan kabut.
dan kau tanya kenapa aku dan kakek tinggal di tempat seperti ini ?
asala kau tahu, Dulu sebenarnya kami tinggal di kota, hidup bahagia bersam kedua orang tua, kakak dan kakek wuyu, namun kebahagiaan itu sirna ketika para penyihir menyerang kami, mereka mencari sebuah benda yang yang sangat keramat yang di bawa oleh kakek wuyu, namun mereka tidak tahu bahwa benda itu sudah berpindah tangan karna kakek wuyu tak mampu melindungi benda yang sangat keramat dan di incar semua orang, para penyihir itu tidak terima saat mengetahui bahwa benda itu sudah tidak ada di kediaman kami, lantas para penyihir itu membantai habis keluarga kami, kedua orang tuaku meninggal saat penyerangan tersebut, hanya kakek, aku dan kakak yang selamat dari tragedi itu, saat kami melarikan diri kami sempat di kepung kakak terpisah dari kami dan menghilang, kini tinggal aku dan kakek terus berlari dari kejaran para penyihir, hingga saat itu kami kelelahan dan tak mampu untuk berlari para apenyihir itu mengepung kami, saat itu kami hanya pasrah dan berharap semogga Dewa mengirimkan orang untuk membantu kami,
yaa saat kami hampir putus asa, dan para penyihir itu sudah hampir membunuh kami pertolongan datang, seorang kakek tua mampu membekukan serangan mereka, dan tak lama pertempuran antara kakek tua dan para penyihir itu terjadi.
kakek tua itu sangat sakti, tak begitu lama peperangan satu lawan puluhan orang penyihir dapat ia atasi dengan mudah. kakek tua itu segera menghampiri kami yang sudah terkuai di tanah dan membawa kami ke rumah ini. ia mengobati kami yang terluka. karna kelelahan dan banyak luka di tubuhku, malam itu aku tak sadarkan diri setelah di obati.
dua hari setelahnya aku terbangun dan hanya ku dapati kakek wuyu di sampingku, dan kakek tua yang menolong kami sudah tak ada disana.
mulai saat itu kami tinggal disini sampai sekarang."
Zixin mendengarkan dengan cermat ia melihat sorot mata huali yang menyiaratkan kepedihan yang mendalam, ia terkejut dengan kisah Huali, ternyata di balik sifatnya yang ceria itu, ia mengalami kehidupan yang sangat memilukan.
(maafkan aku aku, aku tak tahu jika kau hidup dengan kesulitan ini) ucap zixin dengan isyarat. ia merasa bersalah telah membuka rasa pedih di hati Hualli.
"tak apa, itu sudah berlalu" ucapnya sembari mengangkat obat yang sudah bersih untuk di jemur.
(biar aku saja,) ucap Zixin dengan isyarat lalu mengambil alih tanaman obat yang akan di jemur.
"baiklah, terimakasih" sembari mengikuti zixin.
mereka mengeringkan tanaman obat di bawah terik matahari.
"kau tolong yang sebelah sana di jadikan satu, aku akan menaruh yang sudah kering kedalam"
(baiklah, nona cerewet nan suka memerintah) ucap Zixin dalam isyarat.
"kau bilang aku cerewet dan suka memerintah ?!"
(Hei, aku hanya bilang kenyataan saja, blwek) sembari menjulurkan lidahnya.
"Kau !, Awas kau ! " huali kesal lalu mengambil sebelah alas kakinya dan melemparkanya ke arah Zixin.
puk !
Sayang sekali huali tidak tepat sasaran karna Zixin menghindar dan tambah mengejeknya.
"beraninya kau mengejekku ! Awas kau ! rasakan pukulanku !" Huali kembali mengambil alas kakinya yang ia pakai lalu mengejar zixin yang sudah berlari.
"dasar, pecundang ! kalau berani sini kau jangan lari !"
Huali terus mengejar Zixin yang berlari dan mengejeknya.
Zixin sangat senang karna ia menemukan orang yang bisa ia jahili. dulu saat di rumahnya yang menjadi kejahilan zixin adalah Lingxiu kakak perempuanya (Della) tapi sekarang yang menjadi sasaran kejahilannya ialah Huali dan menurutnya Huali lebih asyik di jahili dari pada kakaknya yang terkadang sangat galak terhadapnya.
sementara itu di lain tempat..
beda tempat beda pula situasanya, Della kini masih bersama Gen dan ketua hu jie,
Della mendengarkan penjelasan Ketua hujie tentang Kediaman Sen,
"Jadi yang kau maksud, mereka mengincar sebuah benda keramat ? benda apa itu ?" tanya della penasaran.
"sebuah liontin giok putih, menurut isu yang beredar orang yang mempunyai benda itu akann menjadi paling kuat di dataran bumi, kekuatan di dalamnya sangat besar, dari dulu hingga sekarang benda itu masih menjadi incaran semua orang dengan maksudnya sendiri."
"dimana benda itu berada ?"
"dulu Benda itu di jaga oleh kakek wuyu, dan para penyihir itu menyerang kediamannya, namun sayang mereka tidak menemukanya yang ia temui hanyalah kenyataan bahwa liontin itu sudah berpindah tangan dan tidak lagi berada di kediaman wuyu, karna marah para penyihir hitam itu menghabisi semua orang yang berada di kediaman wuyu." jelasnya dengan nada sedikit getir yang ia ucapkan pada kalimat terahirnya.
Della tercengang.
Ternyata ada kisah yang tragis di balik ini semua.
benar kata junjie, masalah ini tidak sederhana.
tapi liontin apa yang di maksud ? apakah Liontin bunga kehidupan ??
"Gen apa kau tahu siapa orang yang menyerang waktu di padang rumput itu ?" Della sembari menatap Gen.
"belum nyonya,"
Della menghelai nafasnya. ia yakin bila orang yang menyerang dirinya pasti ada sangkut pautnya dengan penyerangan 10 tahun yang lalu saat penculikan Lingxiu.
"Ketua hu jie, kau tau yang harus kau kerjakan, setelah tuan kembali semuanya harus sudah beres" ucap Gen.
"Nyonya kalu begitu saya undur pamit," ucap Gen sembari memberi hormat.
"baiklah," sahut Della menimpali.
ketua hujie tersenyum girang. ahirnya Dia pergia aku bisa lebih lama-lama dengan Nona ini.
"Ketua hujie, kau ikut denganku" Seketika Gen menyeret ketua hujie.
ketua hujie patah harapan.. kenapa harus begini !
"jangan macam-macam ketua hujie" ucap gen sembari menarik kerah baju belakang ketua hujie.
Tidakk ! aku tidak mau pergii !!
ketua hujie masih diseret wajahnya tak rela bila ia harus meninggalkan Della..
Tidakkkk!! biarkan sedikit lama aku memandangnyaaa!!!